Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Daffin Intan


__ADS_3

Setelah Intan selesai menghabiskan makanannya Daffin memberikan obat yang tadi di berikan oleh Tita. Dengan terpaksa Intan pun meminumnya. Walaupun sebenarnya Intan paling tidak suka meminum obat. Saat sakit pun Intan akan membiarkannya saja tanpa meminum obat.


Intan sangat trauma dengan rumah sakit. Karena Ayahnya meninggal saat harus di larikan ke rumah sakit begitu juga dengan adiknya. Kini hanya menyisakan dirinya dan sang ibu yang berjualan nasi demi mencukupi k butuhan mereka.


Intan selalu menyempatkan diri membantu sang ibu sebelum dirinya pergi ke sekolah. Dan pagi tadi Intan harus segera pergi ke sekolah karena kebagian jadwal piket. Namun, sialnya saat dirinya berjalan menyusuri jalanan demi segera sampai di sekolahnya malah tertabrak motor yang di kendarai oleh Daffin.


"Kamu istirahat saja dulu di kamar tamu. Saat jam sekolah usai aku antarkan pulang." Ucap Daffin kemudian mengangkat tubuh Intan.


Intan tak banyak berbicara dirinya hanya diam menuruti setiap perkataan Daffin. Dirinya terlalu takut dengan Daffin. Tatapannya begitu tajam membuatnya tak kuasa menjawab setiap pertanyaannya.


Setelah mengantarkan Intan Daffin segera menemui Tita yang berada di taman belakang.


"Mom, Daff ke kampus dulu." Pamit Daffin.


"Mommy fikir kau tak ada kelas." Tita.


"Ada Mom 15 menit lagi. Daff titip Intan." Daffin.


"Hah! Dimana dia?" Tita.


"Di kamar tamu." Daffin.


"Kau hutang cerita pada Mom Daff." Tita.


"Nanti saja Mom. Daff sudah terlambat." Daffin.


"Baiklah. Hati-hati. Jangan sampai ada Intan yang lain yang kau bawa ke rumah." Tita.


Daffin tak mengindahkan perkataan Mommy nya. Daffin pun segera pergi ke kampus dengan menggunakan motor besarnya lagi. Kali ini Daffin melajukannya dengan kecepatan sedang dan dengan konsentrasi penuh. Daffin pun tak ingin kejadian yang sama menimpanya kembali.


Hanya butuh waktu 10menit bagi Daffin untuk sampai di kampusnya dengan kecepatan motornya di atas rata-rata. Tak banyak basa-basi Daffin segera menuju kelasnya. Teriakan wanita pemujanya tak di hiraukannya.


Daffin memiliki teman satu kelas yang begitu terobsesi padanya. Namun, hingga saat ini Daffin selalu saja bersikap dingin terhadapnya. Daffin semakin tidak menyukai perempuan yang terus mengejarnya.


Sementara di mansion. Bersamaan dengan kedatangan Laras, Burhan dan Marni. Intan keluar dari kamar dengan jalan yang sedikit tertatih. Marni, Burhan dan Laras saling pandang ketika melihat gadis SMA di hadapannya.


"Kamu siapa?" Tanya Laras.


"Hah!" Ucap Intan melihat kiri kanan.


"Kamu, saya bertanya pada kamu." Laras.


"S...sa...saya Intan Kak." Jawab Intan gugup.


"Siapa kamu dan sedang apa di rumah anak saya?" Burhan.


"Sa....sa....saya...." Ucapan Intan menggantung karena gugup.


"Ayah, Ibu..." Panggil Tita.


"Sayang, siapa gadis ini?" Marni.

__ADS_1


"Dia teman Daffin Bu. Kenalkan namanya Intan." Ucap Tita lembut mengusap lengan Intan.


Intan benar-benar gugup dan takut. Tita menangkap ketakutan dan kegugupan Intan. Tita pun segera membawa mereka ke ruang utama. Dan meminta bibi membawakan minuman dan makanan untuk mereka.


"Lantas, dimana Daffin?" Tanya Laras dan itu pula yang ingin di tanyakan oleh Intan.


"Daffin pergi ke kampusnya. Mungkin siang nanti dia pulang." Tita.


"Kamu kenal dimana sama keponakan saya?" Tanya Laras masih dengan mode jutek.


"Di jalan." Jawab Intan lirih.


"Kenapa rok kamu robek?" Tanya Marni.


"Itu yang membuatnya ada di sini Dek, Bu. Daffin membawanya ke mari karena luka di lututnya cukup serius." Tita.


"Kenapa ga di bawa ke rumah sakit?" Burhan.


Dan seketika wajah Intan memucat kala mendengar kata rumah sakit. Dan Tita kembali menangkap ekspresi wajah Intan.


"Daffin meminta Tita merawatnya Yah. Karena Daffin lebih percaya pada Tita dari pada orang lain. Daffin yakin Intan disini akan aman dan tidak kabur tentunya." Jawab Tita dengan senyum yang mengembang.


Intan hanya bisa diam menunduk. Jujur Intan memang benar-benar ingin kabur dari sana. Karena menurutnya luka di lututnya tak seberapa. Dirinya bisa mengobatinya dengan cara apapun. Tapi, mendengar ucapan Tita sepertinya dirinya tak akan bisa pergi dari rumah itu.


Setelah berbincang cukup lama dan Intan hanya diam Tita pun merasa kasian. Tita meminta bibi untuk membantu Intan masuk kedalam kamar. Karena Tita melihat Intan kelelahan.


Setelah Intan masuk ke dalam. Burhan pun baru membuka suara.


"Kau tak mencari tau siapa gadis itu?" Burhan.


Hingga jam makan siang berlalu satu jam lebih Daffin belum menampakkan batang hidungnya juga. Intan sudah gelisah karena ibunya pasti akan mencemaskannya. Intan memiliki ponsel tapi tidak dengan ibunya. Jadi, bagaimana Intan memberitahukan pada ibunya.


Sore hari Daffin baru datang. Daffin masuk begitu saja ke dalam rumah langsung menuju kamarnya tanpa peduli ada siapa.


"Daffin..." Panggil Burhan.


Daffin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Kakek." Jerit Daffin kemudian langsung berlari menghambur kedalam pelukkan Burhan.


"Dari mana? Kok baru pulang?" Burhan.


"Dari kantor Kek. Daff menggantikan Bang Daren sementara hingga beliau pulang." Daffin.


"Daff, kau melupakan sesuatu." Ucap Tita memberi kode melalui tatapannya.


"Astaga!" Ucap Daffin menepok jidatnya.


"Daffin mandi dulu setelah itu baru Daff menemuinya.


"Segeralah. Kasian dia." Tita.

__ADS_1


"Ya Mom." Daffin.


Daffin segera naik menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi Daffin membersihkan dirinya. Daffin turun menggunakan pakaian santainya. Kemudian menghampiri Marni yang tengah bersantai di sofa bersama Burhan.


Daffin merebahkan kepalanya di atas pangkuan Marni kemudian memeluk pinggang Marni dengan manjanya. Marni memeluk Daffin dan mengusap lembut kepalanya.


"Jangan manjakan dia Bu. Dia masih memiliki tanggung jawab yang lain." Burhan.


"Owh! Iya. Segera selesaikan sayang." Marni.


"Apa?" Daffin.


"Kekasihmu belum kau antarkan Daff." Burhan.


"Hah! Kekasih." Jawab Daffin bangkit dari tidurnya.


"Astaga!" Ucap Daffin bangkit dan segera menuju kamar tamu.


Tok... Tok....


Ceklek...


"Maaf. Aku melupakan mu." Daffin.


"Tidak apa-apa Kak." Jawab Intan tersenyum.


Blush...


"Astaga! Kenapa dia manis sekali." Batin Daffin.


"Kak Daffin lebih tampan dengan pakaian rumahan." Batin Intan.


"Ehem... Mm.... Ayo aku antarkan pulang." Daffin.


"Iya Kak." Intan.


Kemudian Daffin akan mengangkat tubuh Intan tapi Intan menolaknya halus. Karena dirinya baik-baik saja dan masih bisa berjalan walau sedikit ngilu dan sakit. Daffin pun membantunya berjalan.


"Mom, Kek, Nek. Daff antarkan Intan dulu." Pamit Daffin.


"Ya. Hati-hati." Jawab semuanya.


"Gunakan mobil saja. Kau akan membuatnya kesulitan menggunakan motormu Daff." Tita.


"Iya Mom." Daffin.


"Permisi Tante, Kakek, Nenek. Terima kasih." Intan.


"Tidak perlu sungkan Nak." Tita.


Kemudian Intan dan Daffin pun pergi meninggalkan mansion. Daffin menggunakan mobilnya untuk mengantarkan Intan.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2