Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Perasaan Apa Ini ???


__ADS_3

Sesaat tersadar Keina menjadi salah tingkah. Dirinya bingung harus melakukan apa. Bahkan ucapan selamat yang di tujukan padanya pun tak terjawab. Mulutnya hanya bisa diam seolah terkunci.


Hanya tangannya yang terulur menerima buket bunga pemberian pria yang selalu menjadi topik perbincangan jika sahabat Mommy nya datang. Entah mengapa tubuhnya terasa begitu kaku. Keina juga bingung harus bahagiakah atau harus bersedih.


Zio membawa tubuh Keina yang begitu kaku lebih mendekat ke arahnya. Keina hanya diam menatap dalam manik matanya begitupun pria di hadapannya. Zio pun menjauhi dua insan yang telah di jodohkan orang tuanya sejak lama. Ya, pria tersebut adalah Daren.


"Kok ga di peluk kaya Zio?" Pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Daren.


Blush...


Entah kenapa pertanyaan itu membuatnya tersipu. Sangat berbeda ketika dulu saat dirinya mengantarkan Daren dan Zio pergi. Daren melihat perubahan mimik wajah Keina yang begitu mencolok. Kulit putih Keina berubah menjadi merah.


"Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Daren ketika melihat wajah Keina memerah.


Di ulurkan tangannya menyentuh kening Keina memastikan keadaan Keina.


Deg...


Entah apa yang terjadi pada keduanya. Tak pernah sekalipun terucap dari keduanya jika mereka saling menyukai bahkan menerima perjodohan orang tua mereka. Tapi, entah perasaan apa yang muncul kali ini saat setelah bertahun-tahun tak bertemu.


"Kak." Panggil Daffin membuyarkan keduanya.


"Hah! Iya kenapa Daff?" Tanya Keina salah tingkah.


"Itu sudah di tunggu oleh semuanya untuk makan." Daffin.


"I..iya. Ayo." Ajak Keina merangkul bahu Daffin.


Daren menyunggingkan senyumannya melihat kegugupan Keina. Dan ternyata orang tua Daffin pun sudah berada di taman belakang bergabung dengan yang lainnya. Bahkan Zayn pun sudah berada di sana.


Semua menikmati makan malam dengan tenang. Kehangatan tercipta di halaman rumah utama. Namun, kegugupan dari dirinya Keina masih menjalar. Entah apa yang terjadi padanya. Tita menangkap kejanggalan pada putri pertamanya.


"Kak," Panggil Tita lembut.


Dan benar saja Keina memberi reaksi kaget.


"Hah! Kenapa Mom?" Tanya Keina.


"Ikut Mommy." Ucap Tita berjalan memasuki rumah.


Keina pun mengikuti langkah Mommy nya masuk kedalam rumah. Entah apa yang akan di bicarakan oleh Mommy nya.


Tita duduk di sofa ruang keluarga. Kemudian menepuk ruang kosong di sampingnya.


"Ceritakan pada Mommy ada apa?" Tita.


"Hah! Kenapa Mommy bertanya itu?" Keina.


"Mommy lihat ada sesuatu yang Kakak tutupi." Tita.


Keina langsung memeluk Tita dari samping dan mendaratkan kepalanya di bahu Tita. Keina tak dapat membohongi Tita karena walau di tutupi bagaimana pun Tita akan tau juga.


"Kenapa? Ada hubungannya dengan Daren?" Tebak Tita. Keina pun mengangguk sebagai jawabannya.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" Tita.


"Entahlah Mom." Keina.


"Maksudnya?" Tita.


"Entah perasaan apa yang Kein rasakan sekarang setelah bertemu kembali dengan Abang." Keina.


"Kakak memiliki perasaan untuk pria lain?" Tita.


"Tidak Mom. Kein selalu menghindari teman pria karena Kein juga bingung dengan status Kein. Apalagi jika Mami Mel datang dan menyebutkan menantu rasanya ada perasaan yang lain di hati." Keina.


"Marah? Kesal atau bahagia?" Tita.


"Entahlah Mom. Bahkan Kein dan Abang tidak pernah bertukar kabar selama abang di LN." Keina.


"Apa! Kakak yakin?" Tita.


"Yakin Mom." Keina.


"Lakukanlah apa yang sesuai dengan hatimu. Jangan merasa terpaksa dengan ucapan Mami Mel yang selalu menyebutkan kata menantu pada Kakak. Bicarakan baik-baik dengan Abang. Kalian sudah dewasa dan Mommy yakin kalian akan bisa menyelesaikan ini dengan baik." Tita.


"Terima kasih Mom." Keina.


"Ayo kita kembali bergabung." Ajak Tita.


Saat keduanya di ambang pintu keluar. Keduanya berpapasan dengan Daren yang juga akan masuk mencari Tita dan Keina.


"Ren, mau kemana?" Tanya Tita.


"Baiklah. Terima kasih Ren." Ucap Tita meninggalkan Daren dan Keina.


"Kein.." Panggil Daren.


"Ya Bang." Keina.


"Ikut abang yuk.." Daren.


"Kemana?" Keina.


Disini saja." Tunjuk Daren pada sofa di dekat pintu.


"Kein ga seneng ya abang pulang?" Daren.


"Hah! Mm... nggak kok." Jawab Keina gugup.


"Yakin?" Daren.


"Emang kenapa?" Keina.


"Kayanya cuma Abang yang ga Kein peluk. Zio sama Zayn semua dapat pelukkan Kein." Daren.


"Eh, kok. Iiih... Apaan sih Abang." Ucap Keina menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Kein, Abang minta maaf ya." Daren.


"Kenapa?" Tanya Keina mengangkat wajahnya menatap manik mata Daren.


"Abang minta maaf saat abang di LN abang tidak pernah menghubungi Kein. Bukan abang ga kangen sejujurnya abang kangen tapi Abang takut pengen pulang terus." Daren.


Deg...


"Kenapa begitu?" Keina.


"Karena kamu satu-satunya alasan abang untuk cepat menyelesaikan kuliah abang." Daren.


Blush...


"Maksud Abang?" Keina.


"Abang tidak tahu bagaimana perasaan Kein untuk Abang. Abang juga ga tau bagaimana tanggapan Kein tentang perjodohan kita. Tapi, jujur sejak Mami bilang kita di jodohkan Abang selalu berusaha menjaga hati Abang dan menjadikan Kein sebagai prioritas Abang." Jujur Daren.


"Abang tidak keberatan tentang perjodohan ini. Tapi, jika Kein ada hati lain Abang ikhlas. Seperti yang Mommy dan Daddy bilang kita tidak perlu memaksakan apa yang menjadi keinginan orang tua kita." Jelas Daren lagi.


"Bang, Kein minta maaf." Ucap Keina.


"Kein tidak perlu meminta maaf. Abang hanya ingin kita bisa tetap menjadi saudara." Daren.


"Abang,,," Panggil Keina manja.


"Kenapa?" Tanya Daren lembut.


"Kein belum selesai ngomong." Rajuk Keina.


"Hah! Eh, iya maaf." Daren.


"Jujur, Kein ngga tau perasaan apa yang Kein rasakan sekarang dan setelah Mami bilang kita di jodohkan. Tapi jujur Kein rindu Abang saat Abang jauh di sana. Tapi, Kein juga gengsi untuk menghubungi Abang lebih dulu." Keina.


"Terus..." Daren.


"Abang Zio yang selalu memberi informasi tentang kabar Abang. Dari sanalah Kein merasa sedikit terobati. Tapi, Kein juga ga tau apa itu hanya perasaan rindu biasa atau ada yang lain. Jujur, saat ini Keina gugup di dekat Abang." Keina.


Daren terus menyunggingkan senyumannya mendengarkan penjelasan Keina. Ada terselip rasa bahagia di hatinya karena sepertinya apa yang dia rasakan berbalas. Daren merasa tak sia-sia dirinya menjaga hatinya untuk Keina.


Daren terus menatap Keina yang masih bercerita tentang kesehariannya tanpa Daren. Dan tanpa terasa tangan Daren menggenggam tangan Keina. Keina begitu nyaman menikmati genggaman tangan Daren.


"Lihat tuh anak lu." Bisik Olla pada Melan.


"Astaga! Ga boleh di lewatkan." Ucap Melan mencari benda pipihnya dan segera membidik putra sulungnya dan Keina.


"Astaga! Gw fikir lu bakal tegor anak Lu." Ucap Olla geleng-geleng.


"Ceh, biarin aja mereka kan bakal gw nikahin." Melan.


"Yakin Ken sama Tita kasih." Olla.


"Kalo udah kaya gini mana bisa menolak." Tunjuk Melan pada hasil bidikannya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2