Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Rahasia Daffin dan Intan


__ADS_3

Sore hari Angga datang untuk memeriksa keadaan Keina. Setelah selesai Angga meminta Suster untuk melepas infus yang terpasang di lengan Keina. Suster pun melepaskan infus tersebut.


Hanya ada Tita dan Angga di dalam ruangan itu. Beberapa kali suster terlihat mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu. Dan sayangnya itu terlihat oleh Keina dan juga Tita. Bukan hanya mereka ternyata Angga pun memperhatikannya.


"Jika semua sudah selesai. Segera bereskan bawaan kamu dan kembali bertugas di rumah sakit." Angga.


"Baik Dokter." Suster.


Untuk pembayaran kamu nanti akan di kirim lewat administrasi rumah sakit." Angga.


"Iya Dok. Terima kasih." Suster.


"Hm... Terima kasih suster. Saya rasa sudah selesai silahkan Suster membereskan barang suster. Suami saya tidak di sini jadi saya mewakilkan suami saya ucapkan terima kasih." Ucap Keina langsung.


"Hah! Ah, iya Nyonya. Saya permisi." Pamit Suster tersebut kikuk ketangkap basah oleh Keina.


Suster pun keluar dari kamar Keina dengan rasa kecewanya pasalnya sejak kedatangannya ke mansion Daren lah yang selalu ingin di lihatnya. Akan tetapi Daren begitu sulit di temui. Bahkan saat dirinya mendengar suara Daren dan terburu-buru untuk melihatnya Daren sudah tidak berada di tempatnya.


Daren keluar dari ruang kerjanya menuju kamarnya karena di beritahu jika Suster telah selesai. Namun, saat Daren beberapa langkah berpapasan dengan Suster tersebut. Karena memang Suster tersebut melambatkan langkahnya.


"Sore Tuan." Sapa Suster menundukkan kepalanya.


Sialnya Daren tidak membalasnya. Daren hanya berpura-pura memainkan ponselnya dan begitu suster menyapanya Daren berpura-pura mengangkat telfon.


Bertambahlah kesal Suster tersebut. Namun, Daren terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Saat suster melangkahkan kakinya dengan kesal Daffin mendekatinya.


"Ada apa suster?" Daffin.


"Hah! Eh, ngga ada apa-apa Tuan." Suster.


"Yakin?" Daffin.


"I iya Tuan." Suster.


"Jangan Anda fikir saya tidak melihatnya suster. Bahkan keluarga saya pasti lebih tau isi di kepala Anda." Daffin.


"Ma maksud Tuan?" Suster.


"Jangan main-main dengan keluarga kami Sus." Daffin.


Suster diam terpaku mendengar ancaman dari Daffin. Dirinya tak menyangka jika keluarga Daren sangat menakutkan. Dia fikir akan mudah masuk kedalam keluarga tersebut.


"Sayang,,," Panggil Intan dengan manjanya karena telah bersekongkol sebelumnya dengan Daffin dan Ayumi.


Karena Ayumi, Daffin dan Intan mendengarkan apa yang di bicarakan Keina pada Suster tersebut saat akan masuk kedalam kamar Keina. Mereka pun bersembunyi saat Suster akan keluar.


Dan kebetulan sekali Daren keluar dari ruang kerjanya dan membuat Suster tersebut bertambah kesal.


"Kenapa sayang?" Jawab Daffin memeluk pinggang Intan.

__ADS_1


"Iih,, ga jaga mata ya?" Tanya Intan melirik Suster.


"Tidak ada yang lebih menarik dari pada melihat kamu sayang." Gombal Daffin dari hati.


"Gombal." Intan.


"Bukan gombal sayang. Kenyataan. Untuk apa batu kerikil jika permata lebih indah." Daffin.


"Daffin, Intan. Kalian di cari-cari malah mesra-mesraan. Cepet bantu Buna." Ayumi.


"Iya Buna. Abang nih genit." Manja Intan.


""Sudah sana cepat. Eh, suster. Masih di sini? Gimana Keina sudah di lepas infusnya?" Tanya Ayumi berbasa-basi.


"S...sudah Nyonya. Ini saya mau pamit pulang." Jawab Suster terbata.


"Owh! Iya silahkan Suster. Hati-hati di jalan dan terima kasih ya Suster." Ayumi.


"Iya Nyonya. Permisi." Suster.


Setelah kepergian suster tersebut mereka bertiga pun tertawa dan saling bertos ria. Tapi, Ayumi melihat pemandangan yang lain. Daffin tak melepaskan pelukkannya dari pinggang Intan.


"Hm... Ada yang mendalami peran atau memang nyata ya." Sindir Ayumi.


Bukannya melepaskan pelukkannya pada Intan Daffin malah mempererat pelukkannya membuat Intan malu. Sementara Daffin acuh dan malah semakin memamerkan kemesraannya pada Ayumi.


"Abang... Iih..." Protes Intan.


"Buna,,," Rengek Intan.


"Daffin." Ayumi.


"Buna kepo nih. Ayo sayang kita pergi." Ajak Daffin pada Intan dengan sengaja.


"Daffin,,,, Intaaan..." Teriak Ayumi.


Tita yang mendengar teriakan Ayumi pun segera menghampiri Ayumi.


"Ada apa Kak?" Tita.


"Anak kamu tuh. Kayanya ada yang dia sembunyikan." Ayumi.


"Daffin?" Tita.


"Siapa lagi. Masa Kein." Ayumi.


"Memangnya dia buat apa?" Tita.


"Huh... Ayo Kakak ceritakan. Tapi, Kakak mau lihat Kein dulu." Ajak Ayumi masuk ke kamar Keina.

__ADS_1


"Ada apa Bunda?" Angga.


"Huh... Sebentar. Gimana Kein udah baikan?" Tanya Ayumi lembut.


Sementara Angga menatap Tita meminta jawaban tapi Titah mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti apapun.


"Alhamdulillah Kein sudah baikan Buna. Hanya masih sedikit lemas saja." Keina.


"Syukurlah." Ayumi.


Kemudian Ayumi duduk di sofa yang ada di kamar Keina kemudian menghela nafas panjang.


"Sepertinya ada yang di rahasiakan Daffin dan Intan." Ayumi.


"Maksud Bunda?" Angga.


Terus Ayumi menceritakan kejadian tadi yang membuat mereka bertiga bersandiwara. Dan mereka pun sama-sama berfikir bahwa Intan dan Daffin menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Mas Ken...." Teriak Tita berlari keluar.


"Tita kenapa?" Ayumi.


"Abang,. coba lihat Mommy kenapa?." Keina.


Daren, Ayumi dan Angga pun berlari mengejar Tita sementara Keina hanya tertawa melihat tingkah Mommy nya. Karena Keina tau pasti Tita akan mengadu pada Ken karena tingkah Daffin.


Sementara Ken terkejut ketika melihat Tita yang berlari di tangga.


"Sayang, apa yang kamu lakukan. Stop!" Teriak Ken memperingati Tita yang berlari menuruni tangga.


Abi, Rehan dan Andre yang berada di bawah pun terkejut. Karena mereka semua baru saja datang dan tengah berbincang serius. Begitu juga dengan Marni, Melan dan Zizi.


Ken berlari mendekati Tita kemudian membawa Tita kedalam pelukkannya. Tita bisa merasakan detak jantung Ken lebih cepat karena mengkhawatirkannya. Dan detik itu juga Tita merasa bersalah telah membuat suami tercintanya khawatir.


"Ada apa?" Tanya Daffin yang datang karena mendengar teriakan Ken.


"Maafin Tita Mas huaaa..." Tangis Tita pecah.


Ken mengusap lembut kepala Tita. Ken pun berusaha menetralkan emosinya. Abi bisa melihat betapa besar cinta Ken untuk Tita. Dan Abi sangat bangga pada Ken yang mampu bersikap tegas namun lembut kepada Tita.


Karena terkadang Abi saja masih selalu terpancing emosi pada Melan. Namun, Melan bisa dengan lembut memperlakukannya. Sementara Ken tak pernah sedikit pun marah pada Tita. Teriakannya barusan bukan karena marah tapi karena rasa khawatirnya.


"Sssttt... Tidak sayang. Mas tidak marah. Hanya Mas khawatir kamu berlari menuruni tangga. Itu sangat bahaya dan Mas tidak mau terjadi sesuatu pada kamu. Ada hal apa yang membuat kamu berlari menuruni tangga". Ucap Ken dengan lembut.


Daren sangat mempelajari sikap Ken pada Tita. Dan hal itu juga yang Ken praktekan pada Keina. Sikap lembut dan tegas mertuanya. Daren begitu mengaguminya.


Begitupun dengan Daffin yang selalu mengagumi Daddy nya karena tak pernah sedikitpun Daddy nya memarahi Mommy mereka.


"Semua gara-gara Daffin." Tita.

__ADS_1


"Hah!" Daffin.


🌻🌻🌻


__ADS_2