Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Pulang


__ADS_3

Kini tinggallah Tita dan Ken berdua. Ken naik ke atas tempat tidur du samping Tita. Tita merebahkan kepalanya di dada bidang Ken. Ken mengusap lembut punggung Tita dan beberapa kali mendaratkan kecupan hangatnya di puncak kepala Tita.


Hening...


Tak ada suara sedikitpun. Keduanya sama-sama menikmati lamunan masing-masing. Sampai Ken tersadar jika dadanya terasa basah. Ternyata Tita menangis dalam diamnya.


"Sssttt..." Ucap Ken mengusap lembut puncak kepala Tita.


"Maafin Tita Mas..." Lirih Tita.


"Untuk apa sayang?" Ucap Ken lembut.


"Tita ga bisa jaga anak kita." Adu Tita.


"Sssttt... Semua atas kehendak Tuhan sayang. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Sekarang Mas hanya ingin melihat kamu sehat kembali. Jika Tuhan masih memepercayai kita Mas yakin Tuhan akan memberikan pengganti yang luar biasa." Ken.


"Makasih Mas." Ucap Tita nengeratkan pelukannya pada Ken dan Ken membalasnya.


"Tidurlah sayang. Istirahat. Kamu pasti lelah telah berjuang untuk anak kita." Ucap Ken mendaratkan kecupan hangatnya di puncak kepala Tita.


Tak lama keduanya pun telah terbuai oleh mimpi masing-masing. Berada dalam pelukkan Ken adalah tempat paling ternyaman bagi Tita. Tidak ada obat selain pelukkan suami tercintanya.


Berawal dari keraguan untuk membuka hati untuk Ken hingga dirinya berpasrah menerima kehadiran Ken memantapkan hati menerima pinangan Ken dan tak disangka Ken tempatnya pulang ternyaman.


Bahkan Tita terkadang merasa cemburu pada Keina jika Keina tengah bermanja pada Ken. Tapi, semua mampu ditepisnya karena Keina pun sama membutuhkan kasih sayang darinya dan Ken.


Pagi hari Tita sudah terbangun lebih dulu. Dirinya menatap lekat wajah tenang suaminya. Pemandangan yang begitu menenangkan bagi Tita. Ken merasakan pergerakan Tita hanya saja dirinya masih berpura-pura tidur tidak ingin mengganggu lamunan sang istri.


"Tita masih bisa kuat saat kehilangan anak kita Mas. Tapi, untuk kehilangan kamu Tita tidak sanggup. Tetaplah disamping Tita apapun yang terjadi Mas." Bisik Tita.


Setelah berbisik Tita kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Ken. Ken membuka matanya perlahan.


"Begitu juga Mas sayang. Walaupun pedih tapi Mas masih bisa tegar karena kamu. Tapi, untuk kehilangan mu Mas tidak sanggup lagi." Batin Ken.


Ken mengeratkan pelukannya pada Tita. Tita terkejut tapi dirinya berusaha diam tanpa pergerakan. Ken mendaratkan kecupan hangatnya di kening Tita.


"Pagi sayang, apa sudah bangun?" Bisik Ken.


"Hmm... Mas sudah bangun?" Tanya Tita lagi.


"Baru saja." Ken.


"Mas, apa Tita boleh pulang pagi ini?" Tanya Tita lagi.


"Kenapa?" Ken.


"Tita kangen Keina." Tita.


"Asalkan kau berjanji untuk tidak banyak bergerak di rumah kita pulang setelah dokter visit." Ken.


"Hm... Baiklah Tuan." Ucap Tita.


Saat keduanya masih berpelukkan terdengar suara ketukan di pintu dari luar. Dengan malas Ken mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.


"Selamat pagi, maaf mengganggu." Ucap Dokter Rini masuk bersama satu orang perawat.


"Pagi Kak. Waw! Sepagi ini Kakak sudah visit?" Tanya Tita.


"Aku tau kau pasti tidak betah berlama-lama disini." Dokter Rini.


"Kau selalu tau yang aku inginkan Kak." Tita.


"Dan kalian masih tetap ingin berdua disana? Tidak kah kalian lihat kejombloan perawat ini meronta-ronta?" Sindir Dokter Rini.


"Astaga! Maaf." Ken.


Dokter Rini dan satu orang suster menahan tawanya. Sedangkan Tita sudah melayangkan pukulannya di lengan kekar Ken.

__ADS_1


"Baiklah. Ku pinjam istrinya ya Ken." Dokter Rini.


"Hah! ya Kak silahkan." Ucap Ken gugup.


Dokter Rini pun memeriksa keadaan Tita dengan seksama di bantu satu orang perawat. Setelah memeriksa keadaan Tita yang cukup baik Dokter Rini pun menawarkan Tita untuk pulang.


"Apa kau sudah sangat tidak sabar untuk pulang?" Dokter Rini.


"Tentu saja Kak. Aku merindukan Keina." Tita.


"Baiklah. Kau boleh pulang setelah suami mu membereskan administrasinya." Canda Dokter Rini.


"Apa? Apa rumah sakit ini sudah mulai bangkrut sehingga tidak bisa menggajimu Kak?" Ken.


"Si al! Tentu jika kalian mencabut investasi kalian." Dokter Rini.


"Haist.. Sudahlah. Tidakkah kalian lihat suster begitu tak mengerti dengan ucapan kalian?" Tita.


"Hehehe... Maafkan suster. Mereka adalah pemilik rumah sakit ini." Dokter Rini.


Suster tersebut hanya mengangguk dan tersenyum.


"Astaga! Untung saja aku tidak membuat kesalahan." Batin suster tersebut.


"Baiklah. Bereskan barang kalian dan pergilah." Usir Dokter Rini.


"Lihatlah sayang, Dokter ini sudah berani mengusir kita." Ken.


"Hm... Baiknya kita kirim dia kemana ya Mas?" Tita.


Keduanya menampakkan wajah seriusnya sehingga membuat suster gemetar karena takut. Dia fikir berani sekali Dokter Rini berkata seperti itu pada pemilik rumah sakit.


"Huh! Kalian tidak perlu berfikir biar aku saja yang mengajukan. Dan ku pilih jepang." Dokter Rini.


Deg...


"Baiklah. Pergilah sore nanti. Dan ingat satu hari saja jangan terlalu lama. Rumah sakit membutuhkan dirimu Kak." Tita.


"Ah, kau memang adik ku yang paling pengertian." Ucap Dokter Rini memeluk Tita.


"Apa! Ada apa ini. Dokter Rini yang berlaku tidak sopan saja bisa jalan-jalan ke jepang. Apa seperti itu peraturannya?" Batin suster tak mengerti.


"Sudah ku kirim ke nomer rekening mu Kak. Bersenang-senanglah." Ken.


"Siap Tuan." Dokter Rini.


"Kalau begitu kalian pergilah. Aku harus bersiap untuk pulang." Usir Tita.


"Ceh, kau sangat berani mengusir ku." Dokter Rini.


"Pergilah atau batal jalan-jalan ke jepang." Tita.


"Baiklah-baiklah... Mari suster kita tinggalkan pasangan aneh ini." Ajak Dokter Rini.


Suster pun hanya bengong mengikuti langkah kaki Dokter Rini. Setelah di luar ruangan Dokter Rini menerima notifikasi dari sekretaris Tita berisikan tiket perjalannya ke jepang.


"Luar biasa." Rini.


"Ada apa Dok?" Tanya Suster yang berada di luar.


"Tidak apa-apa. Suster berapa nomer rekeningmu?" Tanya Dokter Rini pada Suster yang mengikutinya tadi.


"Untuk apa Dok?" Tanya suster tersebut.


"Untuk ku transfer lah. Atau kau berharap ku bajak rekening mu?" Dokter Rini.


"Berikan saja. Rejeki nomplok itu." Suster 2.

__ADS_1


Kemudian suster tersebut memberikan nomer rekeningnya pada Dokter Rini. Dan tanpa di duga dirinya menerima notifikasi pemberitahuan transfer yang luar biasa.


"Dokter." Ucap suster tersebut tak menyangka.


"Itu untuk mu. Pergunakan dengan baik." Dokter Rini.


"Terima kasih Dok." Ucap Suster tersebut.


Sementara Itu Ken telah menghubungi supirnya di rumah untuk menjemputnya dan Tita di rumah sakit. Semua pun terkejut mendengar bahwa supir Ken akan menjemput mereka. Semua sibuk menyambut kedatangan Tita.


Ken merapihkan semua yang di bawanya tanpa bantuan Tita karena Ken tak ingin Tita terlalu kelelahan. Dirinya meminta Anton untuk membawa pekerjaannya ke rumah karena dirinya tidak akan ke kantor hari ini.


Tita diam memperhatikan setiap pergerakan suami tercintanya. Sesekali Tita menyunggingkan senyumannya. Ken melirik ke arah Tita dan membiarkannya saja.


"Sudah?" Tanya Tita.


"Sudah sayang. Ayo duduklah disini." Titah Ken pada Tita.


"Tita jalan saja Mas." Rengek Tita.


"Tidak. Atau Kamu masih ingin menginap disini?" Ken.


"Hm... Baiklah." Tita pun menurut dan duduk di kursi roda.


Saat keduanya keluar dari ruangan bersamaan dengan Aldi dan Angga datang bermaksud menjenguk Tita.


"Onty, Oncle." Angga.


"Om, Tante." Aldi.


"Loh, kalian." Ken.


"Mau kemana?" Tanya Angga dan Aldi bersamaan.


"Pulang." Jawab Ken dan Tita bersamaan juga.


Dan tawa keempat orang tersebut pecah.


"Apa Tante sudah boleh pulang?" Aldi.


"Sudah. Tita akan jauh lebih baik di rumah di rawat suami tersayang." Tita.


"Hm.. Sepertinya Onty tidak perlu perawat profesional ya Oncle." Ledek Angga.


"Karena Onty lah perawatnya Ga." Tita.


"Huh... Baiklah Onty. Onty jaga kesehatan oke." Angga.


"Terima kasih Ga." Tita.


"Ya sudah kami pulang dulu." Ken.


"Baiklah." Angga.


"Tidak ada yang menjemput Om? Biar Aldi antar?" Tawar Aldi.


"Tidak perlu Al. Supir sudah menunggu di depan. Tadi Om sudah menyuruhnya datang dan dia sudah menunggu. Dan lagi kau harus tugas jangan sampai pasien mu menunggu lama karena harus mengantarkan kami." Ken.


"Hehe... Baiklah. Hati-hati Om, Tante." Aldi.


"Terima kasih." Ucap Ken dan Tita bersamaan.


Ken dan Tita pun berlalu menyisakan Angga dan Aldi yang menatap kepergian Ken dan Tita. Kemudian Angga dan Aldi pun pergi ke ruangan masing-masing untuk menjalankan tugas mereka.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2