
Setahun menjalani hubungan pacaran Daren dan Keina pun memutuskan untuk bertunangan. Keinginan mereka pun disambut bahagia oleh Melan dan Tita. Mereka berdua pun menyiapkan acara pertunangan anak mereka dengan apik.
Bahkan Ken dan Abi tidak di biarkan ikut campur. Begitu juga dengan Keina dan Daren. Semuanya di persiapkan oleh Tita dan Melan di salah satu hotel milik Ken. Olla pun ikut serta membantu dua sahabatnya.
Di sinilah mereka semua di ballroom hotel berkumpul untuk menyaksikan acara pertunangan Keina dan Daren. Terpancar aura bahagia diantara keduanya. Keina dan Daren terus menampilkan senyumannya.
"Selamat ya Kak." Zizi.
"Makasih sayang." Keina.
"Kak," Daffin.
"Kenapa? Kakak kan baru bertunangan Daff." Keina.
Daffin pun memeluk Keina erat pasalnya setelah acara pertunangan ini tiga bulan ke depan Keina akan melaksanakan pernikahannya. Dan dengan begitu Keina akan di boyong Daren itu yang menbuat Daffin merasa sedih.
"Keina..." Teriak seorang gadis yang baru saja datang bersama kedua orang tuanya.
Siapa lagi kalo bukan Raya sahabat setianya. Karena kedekatan Keina dan orang tua Raya memang sudah sangat dekat maka mereka pun ikut menghadiri acar pertunangan Keina.
"Selamat ya sayangkuh." Raya.
"Makasih. Selamat juga kamu di terima di firma." Keina.
"Sama-sama Kein." Raya.
"Selamat ya nak Keina." Mama Raya.
"Terima kasih Om Tante. Silahkan di nikmati dulu ya Om Tan hidangannya." Keina.
"Terima kasih Nak." Mama Raya.
"Ray, ada yang nanyain Lu terus tuh." Keina.
"Sampe galau banget loh Ray." Daren.
"Eh, kalian ini. Udah ah, gw mau cari makanan perut gw laper." Raya.
"Yakin Ray ga mau ketemu dia dulu." Keina.
Raya menjulurkan lidahnya kemudian berlalu meninggalkan pasangan yang baru bertunangan itu. Daren dan Keina terus mendapatkan ucapan terima kasih dari para tamu undangan.
Tanpa dia sadari Zio sudah memperhatikannya sejak tadi. Hanya saja Zio terlalu berani untuk mendekati Raya. Zio bingung apa yang harus di lakukannya jika bertemu dengan Raya. Bahkan nomer ponselnya saja sudah Keina berikan tapi Zio tak pernah menghubunginya sedikit pun.
"Zio." Panggil Abi.
"Iya Om." Jawab Zio.
"Jangan lama-lama ngejomblo. Tuh liat Daren bentar lagi nikah." Abi.
"Eh, iya Om. Nanti di tunggu undangannya aja ya Om." Jawab Zio cengengesan.
"Jangan terburu-buru Nak. Santai aja. Jangan pedulikan omongan Om.Abi." Nio.
"Iya Yah." Zio.
"Kalo ada sekarang juga ga apa-apa Zi." Ken.
"Ceh, iya Om." Zio.
Zio pun menghindari para bapak-bapak yang keusilannya nomer satu. Dan tanpa di sengaja karena Zio berjalan mundur punggungnya menabrak seseorang. Zio pun langsung membalikkan badannya.
"Astaga! Raya. Kamu ga apa-apa? Maaf." Ucap Zio mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Eh, Kak. Ga apa-apa. Raya juga salah jalan ga lihat-lihat." Raya.
Raya menerima uluran tangan Zio dan saat dirinya bangun karena tarikan Zio yang terlalu kencang membuat badan Raya menempel pada badan Zio.
Deg..
"Astaga! Jantung gw kenapa nih." Batin Raya.
"Aduh, semoga Raya ga ngerasain debaran jantung gw." Batin Zio.
Sejenak mereka saling tatap hingga tepukan di bahu Zio menyadarkan keduanya.
"Bang, lu ga apa-apa?" Zayn.
"Hah! Eh, ngga. I ini tadi Raya yang jatuh." Jawab Zio gugup.
"Owh! Lu ga apa-apa kan Ray?" Zayn.
"Hah! Ngga kok." Raya.
"Astaga! Untung dulu gw ga maksa buat jadi pacar dia sama Keina. Amit-amit deh dinginnya." Batin Raya.
"Raya... Kamu kenapa?" Tanya Zio yang melihat Raya melamun.
"Hah! Ngga Kak." Raya.
"Ray, bisa ke sana sebentar ngga?" Tunjuk Zio ke arah luar.
"Kemana Kak?" Raya.
"Ikut aja yuk." Ajak Zio dengan dada yang semakin berdebar.
Raya hanya mengikutinya dari belakang. Kini mereka pun berada di taman dekat hotel. Zio kali ini akan benar-benar meyakinkan hatinya untuk menyatakan isi hatinya pada Raya.
"Ray, " Zio.
"Kamu udah punya calon?" Zio.
"Hah! Calon apa Kak?" Raya.
"Suami." Zio.
"Aduh,,, belum Kak. Pacaran aja belum kefikiran lagi." Raya.
"Lagi! Berarti pernah dong?" Zio.
"Pernah sebulan udah gitu udahan." Raya.
"Kenapa udahan?" Zio.
"Selingkuh." Jawab Raya singkat.
"Owh! Berarti calon suami belum punya ya?" Zio.
"Ya belum dong Kak." Raya.
"Mau ngga jadi istri Kakak?" Tanya Zio to the poin.
"Hah! Kakak ga mabuk kan?" Raya.
Zio menggelengkan kepalanya. Raya menatap manik mata Zio mencari kebohongan Zio namun sayang hanya ada kejujuran di matanya.
"Aduh,, gw jawab apa nih? Iya in aja atau gimana. Keina... Tolongin gw dong nih abang lu kesambet apaan." Batin Raya.
__ADS_1
Zio memperhatikan Raya yang melamun.
"Kalo ga mau juga ga apa-apa Ray. Kakak hanya berusaha jujur dengan perasaan Kakak. Sebenarnya sih udah sejak pertama ketemu kamu. Tapi Kakak terlalu takut. Tapi, sekarang Kakak pasrah saja. Kamu ga usah ngerasa ga enak santai aja." Ucap Zio.
Raya pun di buat kalang kabut karena Raya menangkap kekecewaan di raut wajah Zio.
"Aduuuh... Keina.. Gw harus jawab apa. Masa iya gw yang mengidolakan adiknya sewaktu sekolah dulu terus nikah sama kakaknya sih." Batin Raya.
"Ray..." Panggil Zio dan Raya hanya diam.
"Raya." Panggil Zio lagi tapi, tetap tanpa jawaban dari Raya.
"Raya.." Panggil Zio lagi menepuk bahu Raya.
"Hah! Eh, kenapa Kak?" Tanya Raya gelagapan.
"Kamu kenapa? Kakak ga maksa kamu kok. Ga bisa juga ga apa-apa." Ucap Zio menampilkan senyumannya.
"Aduh,,, senyumannya." Batin Raya.
"Raya.". Zio.
"Iya Kak." Jawab Raya semakin gugup.
"Ya sudah. Ayo kita balik ke dalam. Nanti kamu di cariin lagi sama Mama Papa kamu." Ajak Zio.
"Eh, yang tadi ngga perlu di jawab Kak?" Tanya Raya.
"Ngga usah kalo ga bisa. Ayo." Zio.
"Eh, bisa kok." Raya.
"Bisa apa?" Tanya Zio menghentikan langkahnya menatap Raya.
"Raya bisa jawab." Raya.
"Yakin?" Zio.
Raya pun menganggukkan kepalanya. Zio menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Raya. Walaupun hatinya begitu berkecamuk takut-takut jika Raya akan menolaknya. Dan jika itu benar maka dirinya tidak akan kembali ke acara Keina karena terlalu malu.
Raya pun masih terdiam melihat keseriusan di mata Zio. Raya sudah tak perduli lagi dengan Zayn. Bahkan sudah sejak dahulu kala karena kedinginannya sikap Zayn padanya. Bahkan Zayn cenderung malas berpapasan dengan Raya.
"Hmm... Kakak mau jawaban apa?" Raya.
"Astaga! Kakak juga sudah bilang. Ga usah di jawab kalo ga bisa." Zio.
"Bisa kok." Raya.
"Ya udah Kakak tunggu jawabannya." Ucap Zio melipat tangannya di depan dada.
"Tapi, Kakak ga marah kan?" Raya.
"Raya, sayang. Kalo kamu terus begini Kakak malah marah." Ucap Zio sukses membuat wajah Raya memerah. Beruntung penerangan di taman sedikit redup.
"Hm... Raya Mau." Raya.
"Mau apa? Makan?" Zio.
"Iiih,, jangan di sela dulu." Raya.
"Owh! Oke. Lanjutkan." Zio.
"Raya mau jadi istri Kakak." Ucap Raya menunduk.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏