Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Cerita Ibu Laras


__ADS_3

Tanpa Gladys dan Ibu Laras sadari sejak tadi Gagah memperhatikan keduanya berbicara. Gagah merasa ada yang di sembunyikan oleh Ibu Laras yang membuat dirinya sulit terpisah dari Ayah tiri Laras. Dan sekarang Ibu Laras sedikit takut.


"Ibu Kenapa menangis?" Gladys.


"Berjanjilah Nak." Ibu Laras.


"Untuk apa Bu?" Gladys.


Namun Ibu Laras semakin tak bisa menghentikan tangisannya. Gladys serba salah menghadapinya. Bahkan pesan dari Angga yang memberitahukan jika dirinya telah sampai rumah pun Gladys abaikan.


"Sebaiknya kita ke kamar saja Bu. Ayo Gladys temani Ibu tidur." Ajak Gladys.


Mereka berdua pun bangkit dari duduknya menuju kamar tamu tempat Ibu Laras. Seperti yang sudah di ucapkannya Gladys pun akan menemani Ibu Laras tidur. Sebelumnya Gladys berpamitan untuk berganti pakaiannya dan kembali ke kamar Ibu Laras.


Gagah bersembunyi ketika Gladys akan pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dan setelah di pastikan Gladys masuk ke dalam kamarnya Gagah pun segera ke dapur untuk mengambil minum dan kembali ke kamarnya.


"Kok lama Kak?" Tanya Laras begitu melihat Gagah memasuki kamar.


"Tadi Kakak melihat Gladys dan Ibu sedang berbincang. Sepertinya obrolan mereka berdua serius." Ucap Gagah berbohong.


"Kakak ngga denger mereka ngomongin apa?" Tanya Laras penasaran.


"Ngga soalnya tadi mereka menghadap ke arah Kakak jadi Kakak ga bisa lebih dekat lagi." Bohongnya.


"Hm... Sudahlah. Mungkin Glad curhat tentang Angga." Laras.


"Hm.. Ya kau benar. Dia kan selalu bercerita pada siapa saja." Gagah.


Kemudian Gagah pun berbaring di samping istri tercintanya. Kali ini tanpa ada servis menyervis karena fikiran Gagah bercabang mengenai obrolan antara Ibu Laras dan Gladys di dapur tadi. Akhirnya Gagah pun hanya tidur memeluk Laras.


Sementara Gladys kembali ke kamar Ibu Laras. Saat dirinya masuk terlihat Ibu Laras masih duduk di tepi tempat tidur. Gladys menghampirinya sambil memeluk guling kesayangannya.


"Kenapa Ibu menunggu Glad? Ayo tidur." Ajak Gladys.


"Glad," Panggil Ibu Laras.


"Ya." Jawab Gladys.


"Apa kamu akan percaya pada Ibu jika Ibu menceritakan sesuatu padamu?" Tanya Ibu Laras.

__ADS_1


"Glad memang tidak tau apa yang akan ibu ceritakan pada Laras. Dan Glad pun tidak tau kebenarannya tentang cerita Ibu. Tapi, yang perlu ibu tau Glad tidak akan menbenci Ibu apapun yang akan Ibu ceritakan." Gladys.


"Terima Kasih Glad." Ibu Laras.


Kemudian Ibu Laras pun menceritakan kejadian beberapa tahun lalu tentang mengapa dirinya tak dapat pergi meninggalkan Ayah tiri Laras dan Gladys pun begitu tersentak mendengar ceritanya. Gladys menutup mulutnya agar tal mengeluarkan suara apapun.


Gladys mencerna kata perkata yang di ucapkan Ibu Laras. Dan otak pintarnya menangkap kejanggalan dari cerita Ibu Laras. Setelah tanya jawab diantara keduanya maka Gladys pun dalat menyimpulkan jika Ibu Laras di jebak.


"Ibu tenanglah. Glad yakin Ayah dan Oncle akan bisa menyelesaikan ini." Gladys.


"Terima kasih. Sebenarnya Ibu tak ingin melibatkan siapapun dalam hal ini. Ibu sudah tidak tahan lagi Glad. Tapi, Ibu juga takut Glad." Ucap Ibu Laras lirih.


"Ibu jangan pernah takut. Semua akan baik-baik saja. Percayakan semuanya pada Tuhan. Tuhan sudah mengatur semuanya Bu. Ibu dan Kakak di pertemukan dengan kami." Gladys.


"Terima kasih Nak. Ibu berhutang banyak pada keluarga ini." Ibu Laras.


"Tidak ada hutang piutang Bu. Kita satu keluarga sudah sepatutnya kita saling tolong menolong." Gladys.


"Kamu begitu baik Nak. Beruntungnya dokter Angga mendapatkanmu." Puji Ibu Laras.


"Ish! Ibu bisa aja. Ya udah yuk kita tidur Bu. Besok Glad akan bicarakan ini pada Oncle di kantor karena jika di rumah akan menaruh curiga pada semuanya termasuk Kak Laras dan Kak Gagah. Dan sementara itu Ibu tetaplah berada di dalam rumah." Pesan Gladys.


"Good job Mom. Ayo kita tidur. Glad sudah sangat mengantuk." Gladys.


"Baiklah. Kemarilah. Ibu akan memeluk mu." Ibu Laras.


Dan mereka berdua pun tertidur dengan saling berpelukan. Pagi hari Laras terheran melihat Gladys keluar dari kamar Ibunya. Laras pun percaya pada suaminya jika Gladys dan Ibunya telah terlibat perbincangan yang serius hingga keduanya tertidur bersama.


"Glad, kenapa kamu keluar dari kamar Ibu?" Tanya Laras.


"Maaf Kak. Semalam Glad pinjam Ibunya. Soalnya Ayah ga kasih ijin Glad bobo sama Bunda." Gladys.


"Hah! Memangnya kenapa?" Laras.


"Glad ga bisa tidur Kak. Kangen Kak Angga." Elak Gladys.


"Ceh, sudah seharian juga kalian bersama masih juga kangen." Laras.


"Ish.. Seharian apanya sih Kak. Di rumah sakit tadi Kak Angga sibuk dengan dokter-dokter yang lainnya dan di rumah Kak Angga tadi Glad juga bersama dengan Ibunya. Terus di rumah ini kalian juga menyabotase Kak Angga. Glad lihat Ibu belum tidur ya sudah Glad tidur saja dengan Ibu dan menceritakan kekesalan Glad." Jelas Gladys panjang kali lebar.

__ADS_1


"Astaga! Sebaiknya kalian cepat menikah Glad." Laras.


"Yak... Nggalah Kak. Kuliah akhir Glad sungguh menguras tenaga dan fikiran Glad tidak mau menambah lagi fikiran." Elak Glad.


"Ceh, terserah kau saja." Laras.


Laras berjalan menuju dapur meninggalkan Gladys yang masih berdiri mematung memeluj gulingnya.


"Tunggu?" Teriak Gladys.


"Apa?" Laras.


"Kakak cemburu ya Ibunya di pinjam Glad." Ledek Gladys.


"Eh, siapa? Ngga lah Kakak kan sudah ada Kak Gagah yang bisa Kakak peluk kapan pun sesuka hati Kakak." Laras.


"Ish! Nyebelin." Pekik Gladys kemudian berlari menuju kamarnya.


Laras pun kembali melangkahkan kakinya memuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Sementara Gladys kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya bersiap untuk ke kampus.


Semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Gladys sudah mengirim pesan pada Ken jika dirinya akan berkunjung ke kantor dan itu sangat penting. Gladys pun berpesan agar Ken merahasiakan pesannya.


Dan di meja makan pun Gladys dan Ken bersikap biasa sana. Keina tak berulah kali ini menjadi anak baik dan manis. Semua pergi ke tempat kerja masing-masing setelah berpamitan. Keina bermain bersama Laras dan Tita.


Ibu Laras membantu Nyonya Laura merapihkan tanamannya. Nyonya Laura senang karena ada yang membantunya karena Tita sudah di larang Ken membantunya sejak Tita hamil. Ayumi sibuk di butiknya menyiapkan pakaian untuk mereka semua dan melayani pelanggannya.


"Tita," Tuan Ito.


"Iya Yah." Jawab Tita.


"Kau sudah mengabari paman mu?" Tuan Ito.


"Sudah Yah. Dan mungkin hanya Mikha yang akan datang. Kondisi Paman tidak memungkinkan bepergian jauh." Tita.


"Tidak apa-apa Nak. Asalkan mereka di beritahu saja jangan sampai lupa." Tuan Ito.


"Tentu saja Yah. Bagaimana mungkin Tita meluapkannya." Tita.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2