Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Keina dan Daren


__ADS_3

Melan kembali ke kamar Keina dengan membawakan semangkuk bubur dan segelas minum untuk Keina. Tapi, betapa Melan terkejut saat melihat Keina dan Daren tengah tertidur dengan saling berpelukan. Melan dengan penuh kehati-hatian menyimpan nampan yang berisi mangkuk bubur dan gelas di atas nakas.


Melan segera mengeluarkan benda pipih miliknya dari saku celananya dan mengabadikan moment Daren dan Keina yang tertidur saling berpelukan. Melan mengambil gambar mereka dari berbagai sudut. Hatinya begitu bahagia.


Melan pun berdo'a dalam hati agar anaknya dan putri pertama Ken dan Tita berjodoh. Dirinya tak perduli tak mendapatkan putri di keluarganya tapi dirinya merasa puas dan bahagia jika kedua putranya mendapatkan jodoh putri dari dua sahabatnya.


"Mi." Panggil Abi.


"Ssttt... Jangan berisik Pi. Lihat." Tunjuk Melan pada Keina dan Daren.


"Astaga Daren. Untung saja kalian masih kecil. Sudah besar Papi langsung nikahkan kalian." Gerutu Abi.


"Ada apa?" Tanya Ken dari arah pintu.


"Noh, liat anak Lu." Tunjuk Abi pada Keina dan Daren.


"Astaga! Anak gw masih perawan. Berani-beraninya anak Lu nidurin anak gw." Umpat Ken.


Plak...


Satu pukulan mendarat di tangan Ken.


"Aww... Apaan sih Lu. Harusnya gw dong yang marah. Kan anak gadis gw di tidurin anak Lu." Ken.


"Berisik Lu. Anak kita masih kecil beg*. Lagian ampe mereka kaya gini gede nanti. Gw bakalan kawinin mereka langsung." Abi.


"Ceh, maunya Lu." Ken.


"Eits... Jangan lupa. Gw ama istri gw udah meminang anak Lu. Dan Lu sama Tita setuju. Iya ga Yang?" Tanya Abi pada Melan meminta dukungan.


"Hm.. Bener itu." Melan.


Ken menepok jidatnya tak mengerti lagi dengan pemikiran sahabatnya itu. Anak mereka masih kecil udah main pinang saja. Bahkan anak Nio baru saja di lahirkan dua bulan yang lalu.


Daren dan keina pun terusik dengan keributan orang tua mereka. Daren melepaskan pelukannya pada Keina. Keina mendongakkan kepalanya melihat ke arah Daren.


"Kenapa di lepas Bang?" Tanya Keina polos.


"Adek harus makan dulu. Mami sudah membuatkan bubur untuk adek." Ucap Daren lembut.

__ADS_1


"Astaga! Anak gw ga ada takut-takutnya." Ken.


"Anak gw juga tumben mesra. Sama Andre aja ga pernah begitu." Abi.


"Keina sayang. Abang bener Keina makan dulu ya. Biar Mami suapi." Ucap Melan.


"Mommy?" Tanya Keina menanyakan Tita.


"Mommy sedang memberikan ASI untuk Daffin. Keina sama Mami dulu ya." Melan.


Keina pun menganggukkan kepalanya. Melan dengan telaten menyuapi Keina. Ken tak protes sedikit pun dan membiarkan Melan menyuapi Keina. Ken dan Abi pun memutuskan untuk kembali ke bawah bergabung bersama yang lainnya.


"Bagaimana Keina Ken?" Burhan.


"Sedang di suapi Melan Pak." Ken.


"Apa tidak ada yang serius dengan Keina Ga?" Tanya Nio pada Angga.


"Alhamdulillah ngga ada Om. Hanya flu biasa. Sebentar istirahat dan minum obat sembuh." Angga.


"Syukurlah." Nio.


"Kalo begitu kita pamit Oncle, Om, Yah. Kasian Gean nanti kemalaman." Pamit Gladys.


"Tidak Kek. Besok Kakak dinas pagi dan Glad tidak membawa apapun." Gladys.


"Baiklah." Burhan.


"Kak Laras tidak menginap juga Yah?" Gladys.


"Laras tidak tau kalo kami menginap di sini." Nio.


"Hah! Kak Laras bisa mengamuk tuh." Gladys.


"Hahaha... Kau benar. Biarkan saja. Besok saja sekarang sudah malam kasian Galuh." Nio.


Gladys dan Angga pun berpamitan pada yang lainnya. Setelah itu Gladys dan Angga pulang ke rumah orang tua Angga karena mereka tak di ijinkan pindah dari sana mengingat Angga hanya anak satu-satunya.


Dan bahkan Gean sekarang begitu di manjakan oleh Kakek dan Neneknya. Gean akan di ikut sertakan kemana pun Kakek dan Neneknya pergi. Jika Angga atau Gladys melarangnya maka orang tua Angga dengan santainya akan berkata jika Angga dan Gladys harus membuatkan lagi mereka cucu.

__ADS_1


Angga dan Gladys tak habis fikir padahal usia Gean baru saja menginjak satu tahun. Bagaimana mungkin secepat itu mereka memberikan adik pada Gean. Gladys ingin Gean merasakan kasih sayang penuh dulu sebelum Gean di berikan adik. Minimal seperti Keina setelah usianya lima tahun barulah di beri adik.


Walaupun sebenarnya Keina sudah memiliki adik sebelumnya di usianya empat tahun akan tetapi Tuhan lebih menyayanginya. Sehingga menjadikan Keina baru memiliki adik di usianya lima tahun.


Tita tidur bersama Keina, Melan dan Daren di kamar Keina. Sementara Daffin tidur bersama Marni dan Burhan. Marni akan memberikan Daffin pada Tita ketika Daffin haus kemudian akan membawanya kembali bersamanya.


Tita sudah melarangnya namun Marni bersikeras menahannya. Marni senang jika harus di repotkan oleh Daffin. Sementara Olla dan Nio tidur dalam satu kamar. Yakni kamar Nio dahulu. Sedang Zio, Zayn dan Andre tidur bersama Ken dan Abi.


Pagi hari Tita bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Saat Tita di dapur Olla dan Melan menyusulnya. Tita pun tak keberatan kedua sahabatnya ikut menbantunya menyiapkan sarapan.


Marni ingin ikut bergabung namun di tolak oleh Tita karena semalaman Marni harus menjaga Daffin. Tita meminta Marni untuk duduk saja di meja makan atau Kembali tidur bersama Daffin. Marni pun akhirnya mengikuti kemauan anak-anaknya dengan kembali ke kamar.


Setelah sarapan. Ken, Abi dan Nio berpamitan ke kantor sementara Melan dan Olla tetap berada di mansion. Saat ketiga Ayah itu keluar untuk bekerja. Tampak mobil Gagah memasuki halaman mansion.


Gagah dan Laras turun dari mobil. Laras tampak mengerutkan keningnya melihat Abi dan Nio sudah berada di mansion sepagi ini.


"Abang menginap di sini?" Tanya Laras tanpa basa-basi.


"Hehe... Masuklah. Keina sedang sedikit demam dan flu." Ucap Nio mengalihkan perhatian Laras.


"Hah! Benarkah? Bagaimana sekarang keadaannya?" Laras.


"Lihatlah sendiri." Ken.


"Baiklah." Ucap Laras.


Namun, sejurus kemudian Laras membalikkan badannya melihat ketiga pria dewasa di hadapannya dan Suami tercintanya.


"Stop! Kakak pergi kerja saja cari nafkah untuk aku habiskan. Dan Oncle, Abang kalian jahat." Laras.


Ken dan Nio bersamaan menepuk jidatnya melihat tingkah Laras. Gagah pun dengan masih dalam keadaan panik ingin melihat keadaan Keina hanya bisa pasrah tak mengikuti istrinya masuk ke dalam.


Ken melihat raut tak biasa pada Gagah. Ken pun menepuk pundak Gagah.


"Kami tenang saja. Angga sudah meneriksanya dan semuanya baik-baik saja hanya flu biasa." Ken.


"Syukurlah. kalo begitu Gagah berangkat ke rumah sakit sekarang." Pamit Gagah pada ketiga pria dewasa tersebut.


Dan ketiga pria itupun segera memasuki mobil mereka masing-masing untuk segera berangkat ke perusahaan mereka masing-masing.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2