Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Unboxing


__ADS_3

Marni pun berjalan mendekati Keina di ikuti oleh Tita. Marni mengusap lembut bahu Keina. Keina pun mendongak melihat ke atas. Keina memeluk pinggang Marni dan menumpahkan kerinduannya pada Kakek Burhan. Kakek yang dia kenal setelah Opa Ito.


Kakek yang selalu membelanya kala terjadi persaingan dengan sepupunya Zio dan Zayn. Kakek yang selalu ada saat dirinya membutuhkan sandaran. Selain pada Ken Kakek Burhan lah tempat Keina bermanja.


"Mengenangnya boleh sayang asal jangan terlalu larut." Ucap Marni mengusap lembut puncak kepala Keina.


Keina menganggukkan kepalanya. Marni melonggarkan pelukannya kemudian mengusap pipi Keina yang dibasahi oleh air matanya.


"Tersenyumlah. Kakek tidak suka jika kamu menangis." Marni.


Keina pun mengulas senyumnya. Tita hanya diam memperhatikan keduanya sampai manik mata Keina melihat keberadaan Mommynya yang juga menangis sepertinya.


"Mom." Panggil Keina dan merentangkan tangannya agar Tita masuk kedalam pelukannya juga.


Tanpa bicara lagi Tita menghambur memeluk Keina dan Marni. Sejenak menangis kemudian mengurai pelukkannya.


"Kein tau Mommy pasti juga sangat merindukan Kakek." Ucap Keina.


"Sangat. Kakek adalah Ayah yang luar biasa bagi Mommy. Walaupun dirinya hanya terkurung di mansion ini tapi Kakek begitu bijak menyikapi segala keadaan di luar sana. Kakek mampu memahami Mommy dengan segala sikap Mommy." Tita.


"Dan karena Mommy kalian lah akhirnya Nenek bisa kembali bersama Kakek. Karena jika tidak ada Mommy mu entah apa yang terjadi dengan Kakek. Dan juga mungkin Nenek lebih memilih mengakhiri hidup Nenek." Marni.


"Semua telah berlalu Bu. Walaupun kebersamaan kita juga hanya sebentar tapi semua meninggalkan kesan yang manis." Tita.


Saat ketiganya tengah mengenang Burhan Melan dan Zizi datang menbuyarkan semua kesedihan mereka bertiga. Tiga bidadari Burhan yang begitu di sayanginya selain Laras putrinya yang membuat dirinya mampu bertahan dari segala macam tekanan.


"Kalian kenapa?" Melan.


"Tidak apa-apa. Kami hanya tengah mengenang Ayah Burhan." Tita.


"Astaga! Do'akan saja agar Ayah bahagia di sana." Melan.


"Hai pengantin. Bagaimana Andre buas kah?" Goda Keina.


"Astaga! Kakak!" Protes Zizi.


"Hahaha... Jangan bilang kamu belum di unboxing sama Andre." Goda Keina lagi.


"Iisss... Kakak ih." Kesal Zizi karena mulut Keina tak ada filter. Padahal di sana terdapat Mami mertuanya.


Walaupun keduanya telah dekat dengan Melan sebelum keduanya dinikahi oleh kedua anak Melan tapi tetap saja Zizi merasa malu membicarakan hal sensitif itu.


"Beneran belum ya?" Keina.


"Ish... Daffin mana Onty?" Tanya Zizi mengalihkan pembicaraan.


"Daffin ada kelas." Tita.


Zizi menganggukkan kepalanya saja menjawab Tita.

__ADS_1


"Bagaimana cucu Mima ga rewel kan?" Tanya Melan mengusap perut Keina yang sedikit menyembul.


"Ngga dong Mima. Hari ini juga dede bisa di tinggal Papa kerja." Ucap Keina menirukan suara anak kecil.


"Hebat. Jangan rewel ya sayang. Kasian Mama Kein." Ucap Melan lagi.


"Ibu ke dapur dulu ambil minum sama camilan buat kalian." Pamit Marni.


"Biar bibi saja Bu." Cegah Tita.


"Biar saja. Ibu senang melakukannya. Apalagi ini untuk anak-anak juga cucu-cucu Ibu." Marni.


"Terima kasih Bu." Ucap Tita dan Marni bersamaan.


"Cepet isi perutnya ya Zi. Biar nanti Mami kamu ga ngerecokin cucu Onty." Ucap Tita seraya mengusap perut Zizi yang datar.


"Hah!" Ucap Zizi bengong.


"Gimana isi unboxing aja belum." Batin Zizi.


"Hei,, cucu mu cucu ku juga ya." Protes Melan.


"Astaga!" Ucap Tita.


"Ada apa Mom?" Keina.


"Hahahaa...."


Semua pun tertawa menyadari jika dua putri cucu Martin Durant semuanya menjadi menantu dari Abimana Dirgantara. Bahkan mereka baru menyadarinya.


"Itu namanya rejeki Ta." Melan.


"Bisa banget ya Lu ambil bibit unggul." Tita.


Mereka pun berbincang dengan asik sambil menikmati camilan yang tadi di bawakan oleh Marni. Laras tak bisa berbuat apapun dengan Ibunya itu. Karena Marni lebih memilih tinggal bersama dengan Tita.


Walau terkadang Marni pun menginap di rumahnya. Bagi Laras dimana pun Ibunya berada asalkan dirinya bahagia itu sudah cukup bagi Laras. Karena Mungkin saja Marni sedikit sungkan terhadap Gagah berbeda kepada Tita dan Ken.


Dan di tambah lagi di mansion itulah Burhan berjuang demi bisa melihatnya kembali dan di mansion itu juga Burhan menghembuskan nafas terakhirnya. Marni yang merasakan jika Burhan masih berada di mansion itu pun memutuskan untuk tinggal di sana.


Bukan karena segala kemewahan yang ada di dalamnya karena jika di kihat dari segi mewah. Rumah tinggal Laras dan Gagah pun tak kalah mewah. Hanya saja rumah mereka lebih kecil di bandingkan rumah Keluarga Ito dan Mansion keluarga Durant.


Daren datang saat jam makan siang. Tadi dirinya sempat mengerjakan pekerjaannya terlebih dahulu di kantor agar Rasya atau Bagas tak perlu datang ke mansion untuk tanda tangannya.


"Sayang..." Panggil Keina saat melihat Daren datang.


"Maaf lama ya sayang." Ucap Daren.


"Ngga apa-apa. Kan ada Mami sama Zizi juga." Keina.

__ADS_1


"Mam, apa kabar?" Tanya Daren mencium punggung tanga Melan dan mencium pipi kanan dan kiri Melan.


"Kabar baik sayang." Melan.


"Hai pengantin. Dimana Andre?" Tanya Daren.


"Hai Bang. Abang ke kantor dong Bang. Masa ikut Zi kesini. Ga kerja dong." Zizi.


"Aish.. Lupa kalo sekarang Andre harus nafkahin putri tunggalnya Om. Tanio Martin." Goda Daren.


"Ampun deh, suami sama istri sama aja." Cebik Zizi.


"Sudah, sudah ayo makan." Lerai Tita.


Mereka pun makan siang bersama tanpa ada suara hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar. Selesai makan siang Daren pergi le ruang kerjanya sementara Zizi dan Keina menonton drama bersama.


Melan dan Tita mengobrol santai di gazebo sementara Marni beristirahat. Karena usianya yang sudah tidak muda lagi membuatnya sedikit lelah. Beruntung di usianya yang sudah tak muda lagi Marni di kelilingi orang-orang yang menyayanginya.


"Olla pergi ke tempat adiknya." Melan.


"Ya. Ka Olla mengabariku." Tita.


"Apa mereka baik-baik saja." Melan.


"Ya. Kak Olla hanya mengunjunginya saja karena sudah lama mereka tak berkunjung ke sini." Tita.


"Apa perusahaan baik-baik saja?" Tanya Melan lagi.


"Baik. Kenapa?" Tita.


"Heran saja Daren pergi ke kantor." Melan.


"Rapat biasa. Sudah lama juga Daren tidak mengikuti rapat secara langsung. Kemarin Mas Ken memintanya datang. Karena sepertinya Kein sudah bisa di tinggal." Jelas Tita.


"Owh! Begitu. Syukurlah. Gw fikir ada apa." Ucap Melan lega.


"Iya. Keina harus mulai membiasakan diri lagi dengan Daren pergi ke kantor. Dan di mulai dari rapat-rapat seperti ini." Tita.


"Iya. Pelan-pelan saja. Gw ga mau menantu gw tertekan." Melan.


"Thanx Mel. Lu udah sayang banget sama Keina." Tita.


"Apa sih. Ngga hanya karena dia menantu gw aja gw sayang sama dia Ta." Melan.


"Gw tau itu Mel. Gw bahagia dapet besan kaya Lu." Ucap Tita tulus.


"Gw juga bahagia malah bahagia banget." Melan.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2