
Hari ini Tuan dan Nyonya Ito pulang ke tanah air. Semua anak, menantu, cucu, cucu menantu dan cicit menjemput keduanya. Keina dan duo A tampak tenang di stroler masing-masing. Duo A yang masih berumur dua bulan lebih tampak tertidur.
Sedangkan Keina yang sudah hampir enam bulan asik memainkan mainannya dan sesekali memasukkannya kedalam mulut. Gagah dan Gladys kebagian menjaga tiga bocah itu.
Tak berselang lama Tuan dan Nyonya Ito pun terlihat berjalan menghampiri mereka semua dengan satu orang petugas bandara yang mendorong koper mereka. Anton segera mengambil alih koper milik Tuan dan Nyonya Ito.
Tuan dan Nyonya Ito pun memeluk satu persatu anak menantunya juga cucu-cucunya. Nyonya Laura melihat kearah tiga bocah dalam stroller.
"Keina,, kamu makin montok Nak." Panggil Nyonya Laura pada Keina.
Seperti tau dirinya tengah di bicarakan Keina mengarahkan pandangannya ke arah Nyonya Laura sedetik kemudian Keina menyunggingkan senyum manisnya yang memperlihatkan dua gigi susunya yang menyembul.
"Astaga! Cucu Oma sudah ada gigi ya?" Ucap Nyonya Laura.
"Babababa..." Oceh Keina mengulurkan tangannya.
"Apa sayang? Kangen sama Oma ya?" Tanya Nyonya Laura.
Kemudian Keina pun mengoceh tak karuan membuat Tuan dan Nyonya Ito semakin di buat gemas hingga kedua mata orang tua itu berkaca-kaca. Kemudia Tuan dan Nyonya Ito beralih pada stroller ganda milik dua A.
"Astaga! Ini Cicit kita Yah. Mereka lucu-lucu." Nyonya Laura.
"Siapa nama mereka?" Tuan Ito.
"Abian dan Axel Opa." Jessie.
"Yang mana Abian dan mana Axel?" Nyonya Laura.
"Yang biru Abian Oma dan yang hijau Axel." Jessie.
"Bagaimana bisa membedakannya?" Tuan Ito.
"Abian terdapat lesung pipi sedangkan Axel terdapat tahi lalat di pipi kanannya." Jessie.
"Wah, berarti ini Axel." Tunjuk Nyonya Laura pada bayi berbaju hijau.
"Bukankah tadi Jessie sudah mengatakannya Bu." Ayumi.
"Ceh, kau ini. Aku hanya memastikannya saja." Nyonya Laura.
"Baiklah Nyonya." Ucap Ayumi menggoda.
"Apa kalian akan tetap disini?" Tuan Ito.
"Astaga! Tentu tidak Yah. Mari ayo kita lanjutkan di rumah." Rehan.
Mereka pun pulang ke rumah utama dengan menggunakan mobil masing-masing. Sementara Tuan dan Nyonya Ito berada di mobil Tita dan Ken.
__ADS_1
Nyonya Laura terus menggenggam tangan Tita dan menanyakan apakah Ken menyakitinya atau tidak selama mereka pergi. Dan segala macam yang di khawatirkannya. Namun, dengan lembut Tita menjelaskan semua keadaan ketika Ibu dan Ayah mertuanya itu pergi.
Itulah yang membuat Tuan dan Nyonya Ito begitu sangat menyetujui Ken dan Tita karena kelembutan yang dimiliki Tita dan mampu mengimbangi Ken. Terbukti Tita mampu merawat dirinya sendiri dan juga anak dan suaminya.
Setelah bermacet-macetan akhirnya mobil mereka pun sampai di rumah utama. Para pekerja menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya mereka. Tuan dan Nyonya Ito begitu bahagia dengan penyambutan mereka semua.
"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya." Ucap perwakilan salah satu dari mereka.
"Terima kasih Bik." Nyonya Ito.
Setelah bersalaman mereka pun kembali ke tempat masing-masing. Dan semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Raut bahagia selalu terpancar dari wajah Tuan dan Nyonya Ito.
"Kalian tidak menggunakan jasa baby sitter Jes?" Tuan Ito.
"Tidak Opa. Ada Mami dan Mama yang membantuku." Jessie.
"Loh, Mama mu sekarang tidak menemani Papa mu Al?" Tuan Ito.
"Masih Opa. Bergantian saja dengan Mami. Tapi, lebih sering Mami sih." Jawab Aldi tersenyum.
"Ceh, Ibu mu bisa mengurus dua bocah ini Jess?" Nyonya Laura.
"Ibu,,,. tentu bisa dong." Aiko.
"Ceh, kau saja dulu saat Jessie bayi pake baby sitter." Nyonya Laura.
"Baiklah. Ku akui kau bisa. Karena ku lihat kedua bocah ini semakin montok." Nyonya Laura.
Semua pun tergelak mendengar ucapan Nyonya Laura. Suasana hangat pun tercipta di ruang keluarga yang sudah empat bulan selalu sepi. Karena Mereka jarang berkumpul setelah Tuan dan Nyonya Ito pergi ke Jepang.
"Sayang, Keina ngantuk tuh." Tunjuk Ken pada putrinya.
"Owh! Astaga!" Ucap Tita mendekati putrinya yang tertidur di atas karpet.
"Ya ampun lucu banget sih Onty Keina." Puji Jessie.
"Dia kalo udah ngantuk bisa tidur dimana aja. Ga rewel." Ken.
"Wah, enak dong Ken. Semoga duo A seperti Kakaknya." Aiko.
Ya, mereka semua sepakat jika Keina di panggil Kakak saja oleh duo A.
"Amin." Ucap semuanya.
Duo A memang belum terlihat mau bagaimana karena masih terlalu kecil. Yang mereka tau hanya tidur dan minum ASI. Belum mengerti main seperti Keina. Karena Keina tertidur Gagah dan Gladys pun menjahili duo A yang masih saja tertidur sejak kedatangan mereka dari bandara.
"Mereka kok anteng banget sih Kak." Gladys.
__ADS_1
"Mereka akan bangun kalo laper atau popoknya sudah ga nyaman." Jessie.
"Wah, Tante Aiko enak dong jagainnya ya." Gagah.
"Sekarang sih enak Gah. Tunggu bentar lagi." Ayumi.
"Ceh, Kakak... Jangan mendo'akan begitu. Semoga mereka anteng kaya Keina." Aiko.
"Tentu saja Keina anteng siapa dulu pengasuhnya." Tunjuk Ayumi pada dirinya.
"Kalo itu percaya karena Tita kalem tidak seperti kalian." Nyonya Laura.
Ayumi dan Aiko mngerucutkan bibirnya karena skak mat dari Ibu mereka. Duo A terbangun dan mencari sumber kehidupan mereka. Dengan sigap Jessie langsung membawa salah satunya dan Aiko satu.
Mereka membawa duo A ke dalam kamar untuk di beri mimik oleh Jessie. Jessie akhirnya bisa memberikan ASInya sekaligus pada keduanya setelah beberapa kali di coba. Tita pun belum keluar dari kamar Keina karena Keina lanjut mimik.
"Kantor Aman Ken?" Tuan Ito.
"Tentu saja Yah. Hanya ada beberapa masalah kecil di perusahaan MD grup." Ken.
"Lalu bagaimana sekarang?" Tuan Ito cemas.
"Sudah bisa di atasi oleh Tita Yah." Ken.
"Hei, kamu tidak bisa mengatasinya?" Tuan Ito.
"Bukan tidak bisa Yah. Karena itu masih wewenang Tita dan Tanio jadi Ken hanya memantau saja. Jika salah satu sari keduanya meminta bantuan Ken barulah Ken turun tangan." Ken.
"Iyalah Ayah ini bagaimana. Itu kan 100% masih tanggung jawab Tita dan Tanio." Nyonya Laura.
"Iya Bu. Ayah fikir anak kita tidak membantu Tita." Tuan Ito.
"Tidak Yah. Bahkan Ken pun ikut hadir di sana." Ken.
"Perusahaan mu baik Ar?" Tanya Tuan Ito pada Artur suami Aiko.
"Alhamdulillah baik Yah. Walaupun tidak sepesat perusahaan Ken apalagi Tita. Tapi, setidaknya ada kenaikan walau sedikit." Artur.
"Sesekali bantu Papi kamu Al. Jangan berkutat di rumah sakit saja." Tuan Ito.
"Tentu Opa. Aldi pun sekarang sudah mulai belajar membantu Papi." Aldi.
"Baguslah." Tuan Ito.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1