
Keina dan Daren pun memilih restoran yang tak jauh dari kafe tadi. Sampai di sana suasana restoran cukup ramai bersyukur Keina dan Daren masih mendapatkan tempat untuk duduk. Setelah memesan makanan yang akan mereka nikmati Daren pun mulai bertanya pada Keina mengenai laki-laki tadi.
"Kein, Abang boleh bertanya?" Daren.
"Tanyakan saja Bang. Kenapa harus tanya dulu sih." Keina.
"Apa Kein mengenal lelaki tadi yang bersama Kein di kafe? Karena Abang lihat kalian seperti sudah akrab." Daren.
"Tidak. Tapi, menurutnya dia kakak tingkat Kein saat di kampus." Keina.
"Menurutnya? Maksudnya?" Daren.
"Dulu Kein pernah bertemu dengan dia saat berbelanja bersama Mommy dan Daffin. Dan dia juga mengatakan kalo dia kakak tingkat Kein. Tadi juga mengatakan begitu bahkan menurutnya kita wisuda di hari yang sama." Jelas Keina.
"Tapi, kenapa Kein tidak mengenalnya?" Daren.
"Kein hanya fokus belajar tidak ada yang lain. Jika Abang ga percaya boleh tanya Raya. Raya yang selalu bersama Kein kemana pun." Keina.
"Abang percaya. Terima kasih ya. Kein sudah menjaga hati Kein selama kita berjauhan." Daren.
"Eh,,," Keina.
Ucapan Keina pun terhenti kala pelayan datang membawakan makanan mereka. Mereka berdua pun makan siang bersama. Daren cukup puas dengan jawaban yang di sampaikan oleh Keina mengenai lelaki tadi.
Tapi, Daren perlu waspada karena sepertinya lelaki tadi menyukai Keina dan itu terlihat dari caranya menatap Keina. Walaupun sudah sangat di pastikan Keina tak menghiraukannya. Usai makan siang Daren mengantarkan Kein ke kantor Ken karena Keina masih ada pekerjaan yang harus di selesaikannya.
"Terima kasih Abang. Kein kerja lagi ya." Pamit Keina.
"Iya. Pulang nanti Abang jemput lagi." Daren.
"Oke. Bye Abang.." Ucap Keina melambaikan tangannya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperharikan keduanya. Keina menunggu hingga mobil Daren keluar dari halaman perusahaannya barulah setelah itu dirinya masuk ke dalam gedung.
"Keina." Panggil orang tersebut.
Keina menoleh pada arah suara pemanggil.
"Papi, baru datang? Barusan Kein di antar Abang." Keina.
"Iya Papi baru saja datang dan Papi juga melihat mobil Daren tadi. Kamu dari mana?" Tanya Abi melihat pakaian yang di kenakan Keina tak seperti tengah bekerja.
__ADS_1
"Owh! Ini tadi abis tinjauan proyek Pi. Karena di luar panas jadi beginilah pakaian yang Kein kenakan. Papi mau ke temu Daddy?" Keina.
"Iya. Ayo naik." Ajak Abi.
Mereka berdua pun naik ke lantai teratas dimana ruangan Keina dan Ken berada. Ken memang tak membiarkan Keina berada jauh dari jangkauannya.
Sampai di atas Keina berpamitan ke ruangannya sementara Abi masuk ke dala ruangan Ken setelah di beri ijin oleh sekretaris Ken yang berada di depan ruangan Ken.
Ceklek
"Ngapain Lu kesini?" Tanya Ken begitu melihat Abi datang.
"Ceh, Nio yang minta gw ke sini. Mana dia sekarang?" Abi.
"Gw di sini." Ucap Nio yang baru saja datang.
"Astaga! Bapak-bapak kurang kerjaan. Ngapain sih?" Ken.
"Yaelah Ken. Lu juga kan udah di bantuin sama ponakan gw kerjaannya." Nio.
"Terserah deh. Yang pasti gw mau kerjain kerjaan gw dulu. Lu berdua diem di situ ya." Tunjuk Ken pada sifa yang terdapat disana.
"Hmmm.... Adek gw kenapa suka ya sama beruang kutub kaya dia." Ucap Nio sambil mendaratkan pantatnya di kursi.
"Berisik..." Ken.
"Hahahaa...."
Tawa Abi dan Nio. Sementara di ruangan Keina. Keina gampak serius menyelesaikan pekerjaannya. Dirinya tak ingin membuat Daddy nya kecewa bahkan dirinya tak main-main. Keina akan memecat pegawainya yang bermain-main.
Bahkan beberapa kalia Keina ikut rapat menggantikan Ken. Keina menelak lawan bicaranya hingga tak mampu berkutik. Keina memiliki sikap tegas Ken dan Tita dalam memimpin.
Keina merupakan perpaduan kesempurnaan Ken dan Tita. Hanya saja Keina lebih santai di bandingkan Tita. Namun, santainya Keina perlu kewaspadaan dari setiap pegawainya.
Ken dan Kedua sahabatnya tetap asik di ruangan Ken hingga waktu pulang kantor. Keina berpamitan pulang lebih dulu pada Ken karena Daren sudah menunggunya di lobi.
Banyak pasang mata apalagi kaum hawa memandang penuh minat pada Daren yang tengah menunggu Keina. Daren duduk di sofa tunggu di lobi. Saat melihat Keina keluar dari lift Daren langsung bangun dan merentangkan tangannya.
Keina pun berlari kecil menuju dimana Daren berdiri kemudian menghambur kedalam pelukannya. Keina memang sedikit manja pada Daren namun Daren tak mempermasalahkannya. Keduanya baru kali ini merasakan pacaran. Itu mengapa Melan dan Abi tidak memaksa keduanya untuk segera menikah.
Sepasang mata pengagum dan penuh minat pada Daren berubah menjadi penuh iri melihat Daren dan Keina. Mereka berdua begitu sempurna untuk di sandingkan. Namun pemeran utamanya seolah tak peduli dengan banyaknya tatapan yang tertuju pada keduanya.
__ADS_1
Daren dan Keina pergi begitu saja dari lobi perusahaan. Tak berhenti sampai di situ. Sampai di dekat mobil Daren. Daren membukakan pintu mobil untuk Keina. Kemudian Daren segera memutari mobil dan masuk kedalam mobilnya.
Daren mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan yang cukup padat karena jam pulang kantor membuat Daren tak bisa menambahkan kecepatan laju kendaraannya.
"Abang, apa tidak capek jika harus menjemput Kein dulu?" Keina.
"Kenapa? Ga seneng ya di jemput Abang?" Bukannya menjawab pertanyaan Keina daren malah balik bertanya.
"Seneng kok. Malah seneng banget. Tapi, Kein kasian sama Abang kalo harus jemput Kein dulu. Kantor kita kan berjauhan." Keina.
"Ga apa-apa sayang. Apapun Abang akan lakukan jika itu menyangkut kamu." Daren.
"Ceh, Abang gombal ih." Keina.
"Abang ga gombal sayang. Selama ini kita terus berjauhan. Jika sekarang Abang mengeluh kenapa dulu ngga. Dulu bahkan jarak kita lebih jauh dari ini." Daren.
"Makasih ya Bang. Abang mau terima Kein." Keina.
"Abang juga sangat senang Kein mau nerima Abang." Daren.
Keina bergelayut di lengan kekar Daren. Daren pun membiarkannya. Tiga puluh menit perjalanan dari kantor Keina menuju mansion tak terasa bagi pasangan yang tengah di landa kasmaran.
"Abang mau mampir dulu?" Tanya Keina ketika mobil Daren sudah memasuki halaman mansion.
"Inginnya begitu tapi, kamu perlu istirahat sayang. Besok Abang jemput ke kantor saja ya. Salam untuk Mommy." Daren.
"Baiklah. Abang hati-hati. Jangan lupa kasih kabar jika sudah sampai." Keina.
Keina pun turun dari mobil Daren. Kemudian Daren kembali melajukan mobilnya keluar dari mansion. Bersamaan itu pula mobil Ken memasuki mansion.
"Ren, ga mampir dulu?" Tanya Ken menyembulkan kepalanya.
"Lain kali Dad. Kasian Kein seharian tadi tinjau proyek." Daren.
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Ken.
"Iya Dad." Daren.
Mobil Daren pun melesat meninggalkan mansion dan mobil Ken masuk kedalam mansion. Terlihat Keina yang masih berdiri di tempatnya menunggu Ken turun untuk masuk kedalam mansion bersama.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏