
Lain halnya dengan ke tiga pria dewasa yang saling berdiskusi mengenai orang tua kandung Intan. Para wanita membahas perbincangan mengenai konsep dan rencana acara pernikahan Intan dan Daffin.
"Buna, Mommy. Apa itu tidak berlebihan?" Intan.
"Tidak sayang. Daffin putra bungsu kami jadi sudah sangatlah pantas begitu." Tita.
"Tapi, Mom. Intan kan bukan siapa-siapa." Intan.
"Kau yatim piatu dari keluarga baik-baik sayang. Tak ada satupun yabg mengetahui jika kamu bukan putri mereka. Biarkan orang-orang merasa iri padamu karena telah tega mengusirmu. Bahkan keluarga yang masih tersisa tak mau menampungmu." Tita.
"Bahkan jika mereka mau menampung Intan sudah pasti Intan akan merasa kurang nyaman Mom. Karena Intan bukanlah keluarga mereka. Sama seperti Intan tinggal bersama Buna." Intan.
"Sudahlah sayang. Kau tak perlu memikirkan itu. Yang terpenting sekarang satu hal yang kamu tau kami menyayangi kamu itu. Maka jagalah semua itu." Ayumi.
"Bunda benar Tan. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah bersyukur dan menjaga semua yang telah kamu miliki." Laras.
"Iya Kak. Intan sangat-sangat bersyukur dan akan menjaganya hingga maut menjemput." Intan.
Saat mereka tengah serius berbicara tangisan Reina pun memecahkan semuanya. Keina segera menyusuinya dan membuat Reina kembali tenang. Tita begitu telaten membantu Keina dalam mengatasi Reina.
"Lihatlah Tan. Kau sangat beruntung mendapatkan mertua seperti Onty. Jangan sia-siakan kepercayaan da kasih sayangnya." Jessie.
"Kau berlebihan Jess." Tita.
"Tidak Onty. Aku sangat merasakan ketulusan dan kasih sayang Onty yang begitu besar pada Jess walaupun Jess pernah berbuat tak baik pada Onty." Jessie.
"Tak perlu mengingat masa lalu yang buruk." Tita.
"Iya Kak. Intan sangat bersyukur. Mommy dan Buna sangat menyayangi Intan layaknya anak kandung mereka." Intan.
"Betul sekali sayang. Jadi semangat ya. Jangan patah semangat. Jangan dengarkan suara-suara orang yang iri padamu. Buktikan jika kamu memang layak menjadi menantu di keluarga Kenzo Ito." Gladys.
"Terima kasih semuanya." Ucap Intan dengan mata yang berkaca-kaca.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka. Semua kembali ke kegiatan masing-masing. Intan, Gladys dan Laras pulang ke rumah masing-masing. Keina, Tita dan Reina pulang ke mansion. Ayumi masih di butik menyelesaikan pekerjaannya sedangkan Jessie pergi ke rumah anak dan menantunya.
Sesampainya di mansion Tita, Keina dan Reina di sambut hangat oleh Marni dan Melan. Melan sengaja mengunjungi cucu pertamanya. Karena Zizi ikut bersama Andre ke kantor.
"Halo Cucu Mima sayang. Abis jalan- jalan sama Mama sama Mimo ya?" Tanya Melan pada cucu pertamanya itu.
Reina menyunggingkan senyuman khas bayinya yang membuat Melan selalu merindukannya.
__ADS_1
"Aduh... Aduh senyumannya bikin hati Mima meleleh ini." Melan.
"Mima sudah lama ya?" Tanya Keina.
"Tidak. Mima baru saja tiba. Tadi Mima dari kantor Papi dulu." Melan.
"Ngapain ke kantor Mas Abi Mel?" Tita.
"Makan siang aja. Terus gw ke sini pengen ketemu cucu." Melan.
"Kalian menginap saja sesekali ke rumah Mami Kein. Biar rumah Mami sedikit ramai sebelum Zizi melahirkan." Usul Tita.
"Iya sayang yuk bobo di rumah Mima ya." Ajak melan pada Reina dan di jawab tawa renyah Reina.
"Eh, anak Mama senang ya? Mau bobo di tempat Mima ya?" Tanya Keina pada putrinya dan di balas dengan senyuman khas bayinya lagi.
"Nanti Kein bilang Abang ya Mam." Keina.
"Iya sayang. Harus itu. Jika Abang datang nanti segera bicarakan ya." Melan.
"Iya Mam." Keina.
Tita dan Keina masuk terlebih dahulu untuk membersihkan diri karena badan mereka teras lengket sepulang dari butik dan makan siang bersama tadi. Sementara Melan menjaga Reina di temani oleh Marni.
"Tidak. Hanya sedikit lelah saja." Marni.
"Ibu istirahat saja kalo begitu di kamar." Titah Melan.
"Iya sebentar biar Ibu melihat cicit Ibu bermain bersama kamu. Mumpung Reina bangun." Marni.
"Baiklah. Tapi jangan terlalu di paksakan ya Bu. Ibu harus banyak istirahat." Melan.
"Terima kasih Nak." Marni.
Tak lama Tita dan Keina kembali bergabung. Marni yang tengah kurang enak badan pun berpamitan untuk beristirahat di kamar. Keina pun mengantarkan Marni hingga Marni tertidur di ranjangnya.
"Nenek istirahat ya. Jangan sampai sakit. Sebentar lagi acara Daff. Daff akan sedih kalo Nenek sakit." Titah Keina.
"Iya sayang. Nenek hanya kelelahan." Marni.
"Oke. Nenek istirahat dulu biar nanti vit kembali." Keina.
__ADS_1
Setelah dirasa Marni nyaman Keina pun keluar Marni dan bergabung kembali bersama Tita dan Melan yang tengah mengerubungi Reina. Reina di tidurkan di atas karpet empuk dengan kedua neneknya di samping kiri dan kanannya.
Melan maupun Tita tidak pernah lama memangku Reina marena mereka berdua sepakat tidak ingin sedikit-sedikit menggendong Reina. Mereka berdua akan membiarkan cucu mereka bergerak di atas karpet.
Dengan begitu Reina dapat bergerak bebas dan mengekspresikan dirinya membuat semuanya merasa gemas jika melihat tingkahnya. Bahkan Daffin tak jarang mengdusel Reina hingga menangis setelah itu di tinggalkannya begitu saja.
Daffin tidak pernah bisa menahan kegemasannya pada Baby Rein. Baginya baby Rein adalah boneka hidup. Daffin akan melakukan apapun untuk Reina karena rasa sayangnya yang begitu besar.
Reina menjadi bayi yang paling beruntung karena limpahan kasih sayang dari semua keluarganya. Terkadang Keina mamanya pun merasa iri karena semua perhatiannya semuanya tertuju pada Reina putrinya pertamanya.
"Gimana Nenek udah tidur?" Tita.
"Sudah Mom. Nenek kelelahan." Keina.
"Memang Ibu dari mana?" Melan.
"Tidak kemana-mana. Tapi, jika Ibu sudah berkebun tidak bisa di berhentikan saking asiknya." Tita.
"Ya ampun Ibu. Ibu nanam apa?" Melan.
"Segala macam Ibu tanam. Kemarin dia panen sayur mungkin karena itu Ibu sedikit kelelahan." Tita.
"Cucu Mima mau makan sayur iya?" Tanya Melan yang melihta Reina menatap padanya.
"Mau dong Mima. Tapi nanti kalo sudah enam bulan." Jawab Keina dengan suara di buat seperti anak kecil.
"Pinter. Cucu Mima harus suka makan sayur ya." Melan.
"Zizi udah ga rewel kan Mel?" Tita.
"Alhamdulillah udah ngga. Tapi gitu nempel sama Andre." Melan.
"Terus Andre nya gimana Mam?" Keina.
"Andre seneng aja kerja ada yang nemenin. Terkadang Mami kasian sama Zizi seharian di kantor." Melan.
"Bawaan bayi mah susah Mam." Keina.
"Iya kaya kakaknya tuh dulu juga gitu. Apa ngga kerja di rumah aja duly Andre kaya Daren dulu?" Tita.
"Iya Mas Abi juga udah bilang gitu. Katanya lagi ada proyek yang ga bisa di tinggal jadi Andre mau selesaikan dulu itu setelah itu baru Andre bisa tinggal." Melan.
__ADS_1
🌹🌹🌹