Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Pulang


__ADS_3

Kemudian Rehan duduk bergabung bersama istri dan kedua anaknya. Rehan masih diam tak membuka suaranya. Gagah dan Gladys pun masih diam begitu juga dengan Ayumi.


"Sekali lagi saya minta maaf ya Kak. Saya pamit pulang dulu kalo begitu." Laras.


"Hah! Eh, iya. Hati-hati." Gagah.


"Kamu naik apa ke sini?" Ayumi.


"Naik Ojek Tante." Laras.


"Hm... Kak, kamu antar saja kasihan." Ayumi.


"Eh, ngga usah Tante. Laras datang ke sini sendiri pulang juga sendiri dong." Laras.


"Ngga apa-apa. Sebentar saya bawa kunci dulu." Gagah.


"Kak, boleh ikut?" Gladys.


"Boleh. Biar nanti pulang ada temennya." Gagah.


"Keina Glad bawa ya Bun." Gladys.


"Hah! Ya sudah sana. Hati-hati kamu nyetirnya ya Kak." Ayumi.


"Siap Bun." Gagah.


Mereka berempat pun pergi bersama. Gladys dan Keina duduk di bangku belakang dan Laras di bangku samping kemudi. Keina mengoceh membuat Laras gemas di buatnya.


"Apa bayi ini adik kalian?" Laras.


"Ya." Gladys.


"Kalian memiliki adik setelah kalian besar?" Laras.


"Eh, bukan. Ini anak Oncle dan Onty kami." Gladys.


"Owh!" Laras.


"Apa Kakak punya adik?" Gladys.


"Ya. Tapi lain Ayah." Laras.


"Maksudnya?" Gladys.


"Ya. Ayah ku ini bukan Ayah biologis ku. Ayah biologisku sudah lama meninggal karena penyakitnya. Saat usia ku 9thn. Kemudian saat usia ku 12thn Ibu menikah lagi dan memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan." Laras.


"Owh! Jadi Kakak akan di jodohkan oleh Ayah tiri?" Gladys.


"Glad." Gagah.


"Up's! Maaf Kak." Gladys.


"Tidak apa-apa. Iya. Katanya sebagai balas budi aku padanya." Laras.


"Hah!" Gladys.


"Mamamama.... Mamama..." Oceh Keina saat ketiga Kakaknya berbicara.

__ADS_1


"Eh, adek di cuekin ya." Gladys.


Laras pun menunjukkan jalan arah rumahnya pada Gagah dan tak lama mereka pun telah sampai. Gagah memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Laras. Gagah sengaja tak memasukkan mobilnya karena mereka akan lanjut pulang.


"Kalian mau mampir dulu?" Laras.


"Terima kasih Kak. Lain kali saja. Kasian Keina takut mau mimik." Gladys.


"Hm.. Baiklah. Terima kasih Kak." Laras.


"Sama-sama." Gagah.


Laras pun masuk kedalam halaman rumahnya dan Gagah kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Laras. Gladys tak berpindah duduk karena Keina tertidur di pangkuannya.


Tak butuh waktu lama mereka pun telah sampai di rumah. Gagah memarkirkan mobilnya kemudian turun perlahan dan membantu Gladys menggendong Keina.


Gagah sangat hati-hati mengambil Keina dari pangkuan Gladys karena tak ingin mengusik tidur Keina. Namun saat Keina mendarat sempurna di pelukkan Gagah Keina membuka mata bulatnya dengan sempurna dan tiba-tiba saja menangis dan menunjuk arah mobil lagi.


"Hah! Astaga! Kita sudah sampai rumah sayang. Ayo masuk nanti Mommy dan Daddy mencari adek." Ucap Gagah.


Namun tangis Keina semakin kencang dan tak mau di bawa masuk ke dalam. Gagah di buat panik. Tita dan Ken yang mendengar tangisan Keina segera merapihkan pakaian mereka yang porak poranda akibat pergulatan mereka.


"Sayang,,, eh, kok nangis." Tanya Tita.


"Dia ga mau turun dari mobil Onty." Gagah.


"Unch... Sayang. Kita pulang ya. Kita naik mobil lagi. Tapi mimik dulu ya." Ucap Tita menenangkan Keina.


Tangis Keina pun mulai mereda dalam pelukkan Tita. Tita pun membawa Keina kedalam kamarnya.


"Bunda sama Ayah kemana Oncle?" Gladys.


"Haist! Kalian ini. Sudah dek kamu masuk kamar saja sana. Kakak mau tidur dulu persiapan jaga malam." Gagah.


"Yee... ya udah sana. Glad mau cari makanan dulu ke dapur." Gladys.


"Makan mulu." Gagah.


"Laper. Dari pada mati." Gladys.


Ken hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan kakak beradik itu. Gladys memang tukang makan tapi naasnya badannya tak bisa menggendut. Perutnya selalu terlihat ramping walaupun makan banyak. Entah kemana larinya makanan itu.


Setelah mendapatkan makanan yang di maunya Gladys membawanya ke ruang keluarga kemudian melihat ponselnya yang sengaja tak di bawanya saat mengantarkan Laras tadi.


"Hah! Banyak banget panggilan tak terjawab dan chat. Dari siapa ini?" Gumam Gladys.


Gladys membukanya dan tersenyum melihat si penelfon dan si pengirim chat. Sambil mengunyah makanannya Gladys membuka pesannya satu persatu dan Gladys pun tersenyum sendiri membaca pesan yang tak lain dan tak bukan dari dokter Angga.


Ken mengernyitkan keningnya melihat keponakannya tersenyum sendiri melihat layar ponselnya. Ken terus memperhatikan perubahan mimik wajah Gladys.


"Kamu jatuh cinta Glad?" Ken.


"Hah! Ng ngga." Jawab Gladys gelagapan.


"Siapa laki-laki itu?" Tanya Ken mengabaikan jawaban Gladys.


"Ih, Apaan sih Oncle." Gladys.

__ADS_1


"Hish! Kau ini di tanya juga." Ken.


Ken pun bangkit dari duduknyabdan masuk kedalam kamar yang di tempatinya. Dan saat memasuki kamar Ken melihat istri dan anaknya tengah berbincang dengan asik. Keina tertawa riang mendengar celotehan Mommy nya.


"Hei, anak Daddy.. Ayo kita siap-siap untuk pulang ya." Ajak Ken pada putrinya.


"Daddy temani Keina dulu Mommy bereskan perlengkapan kita." Tita.


"Siap Mommy." Ken.


Keina pun semakin tergelak menerima godaan dari Ken. Tita tersenyum melihat ke arah suami dan anaknya sambil merapihkan barang bawaannya.


Setelah pergulatan siang yang panjang dan melelahkan akhirnya Ayumi dan Rehan keluar dari kamarnya dan melihat anak gadisnya tengah duduk sendiri menatap layar ponselnya dan sesekali Gladys tersenyum.


"Glad," Panggil Ayumi.


"Eh, Bunda. Sejak kapan Bunda sama Ayah duduk di sini?" Tanya Gladys yang tak menyadari kedua orang tuanya sudah duduk di dekatnya.


"Membalas chat siapa sampai kamu ga menyadari kami duduk di sini?" Rehan.


"Dari temen Yah." Gladys.


"Kau yakin?" Rehan.


"Yakin Yah." Gladys.


"Temen laki-laki?" Ayumi.


"Laki-laki sama perempuan juga Bun." Gladys.


"Semoga benar begitu ya Glad." Ayumi.


"Ceh, Bunda tak percaya sama anak sendiri." Gladys.


Mereka pun berbincang bersama. Gladys menceritakan obrolannya bersama Laras tadi saat mengantarkannya. Ayumi pun tampak ikut prihatin.


Rehan hanya menyimak pembicaraan anak dan istrinya tanpa ingin berkomentar. Kemudian Tita keluar dari kamar dengan menggendong Keina dan di susul Ken membawa tas mereka.


"Loh, sudah mau pulang?" Rehan.


"Iya Kak." Tita.


"Yah,, rumah sepi lagi dong ga ada Barbie nya Bunda." Ucap Ayumi di buat sedih.


"Bunda main saja ke rumah utama biar bisa main lagi sama Keina." Ucap Tita menirukan suara anak kecil.


"Tentu saja. Bunda akan sering datang untuk bermain bersama Barbie Bunda." Ucap Ayumi menggoda Keina sehingga Keina tergelak.


"Sudah ada kabar dari Ibu dan Ayah Ken?" Rehan.


"Sudah. Bulan depan mereka pulang." Ken.


"Hish! Kenapa terus di undur sih mereka pulangnya?" Ayumi.


"Entahlah Kak. Mungkin Ayah terlalu merindukan kampung halamannya." Ken.


"Iya juga sih." Ayumi.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2