Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Kesedihan Daren Durant


__ADS_3

Tiga bulan berlalu Angel dan Mikha benar-benar menepati janjinya. Mikha berpindah dari mansion ke rumah Zio kemudian kembali ke mansion begitu seterusnya demi mengasuh Arkana dan Reina.


Daren putra tunggal Mikha dan Angel pun merekalah orang tuanya kembali ke tanah air. Daren tak mampu membendung kesedihannya mendengar alasan orang tuanya pindah. Akhirnya Daren pun jujur jika dirinyalah yang tak mampu memberi keturunan bagi sang istri.


Bahkan istri yang telah di nikahinya telah dia ceraikan dan rela bersandiwara jika mereka masih hidup bersama dan bahagia. Mikha dan Angel sempat syok mendengar penuturan Putra semata wayangnya hanya saja mereka harus tetap tegar dimata sang putra.


Mikha pun memintanya untuk kembali ke tanah air dan memindahkan semua usahanya ke tanah air setelah berdiskusi panjang dengan Ken dan Tanio. Dan kini di sinilah mereka di tanah air. Daren tinggal di apartemen sendiri karena Daren tak ingin merepotkan saudaranya.


Sesekali Daren menginap di mansion karena jika menginap di rumah Tanio dirinya terlalu kaku berhadapan dengan Sinta menantu perempuan Tanio yang tinggal di sana. Sedang dengan Intan dirinya tak begitu kaku.


Karena Daren mengenal Sinta yang merupakan sahabat dari mantan istrinya. Sinta mengenal Margaretha mantan istrinya. Dan otomatis Sinta pun mengenal Daren.


Pagi ini terjadi ke hebohkan di rumah Tanio dan Abimana. Zizi dan Sinta akan melahirkan. Mobil Andre dan Zayn bersamaan keluar dari gerbang rumah mereka. Di susul mobil Tanio dan Abimana.


Rumah sakit keluarga pun di hebohkan oleh dua keluarga tersebut. Zizi dan Sinta langsung dilarikan ke ruangan bersalin. Bagaikan memiliki satu batin yang sama Zizi dan Sinta sama-sama ingin mengedan.


Untunglah terdapat dua dokter kandungan yang berjenis kelamin perempuan sehingga tidak membuat Dokter Rini kelimpungan. Karena Sinta dan Zizi mengeluarkan bayinya dalam waktu yang bersamaan.


Oek...Oek...


Tangis bayi pun pecah di dua bilik ruang bersalin. Keduanya sama-sama melahirkan anak laki-laki dengan berat yang hampir sama. 3200 gram 48cm untuk putra Sinta dan Zayn. 3250 gram 49cm untuk putra Zizi dan Andre.


Keduanya bak anak kembar. Untung saja Putra Zizi begitu dominan Andre dan Putra Sinta dominan Zayn. Membuat keduanya mudah di bedakan. Setelah selesai di bereskan dua pasang ibu bersalin itupun di pindahkan ke ruang perawatan ekslusif khusus pemilik Rumah sakit.


Dan terjadilah kehebohan di sana. Baik di ruangan Zizi maupun Sinta. Tanio dan Olla begitu bahagia karena dua anak mereka mendapatkan putra secara bersamaan. Dan ketiga cucunya berjenis kelamin laki-laki.


"Wah, belom Gol nih Bang." Goda Ken.


"Maksudnya?" Tanio.


"Ya cucu Abang cowok semua." Ken.


"Memangnya cucu mu?" Tanio.


"Belum tau sih karena Intan belum terlihat mengidam." Ken.


"Wah, jangan terlalu sering Daff biar tidak terus terguncang." Goda Abi.


"Haistt... Cucu Lu idah sepasang Bi. Jangan meminta cucu lagi dari menantu-menantu Lu." Nio.


"Lah, kan bukan gw yang minta mereka yang kasih ke gw." Abi.


"Siapa bilang Intan belum isi?" Tita.

__ADS_1


"Lah, emang Intan udah isi Yang?" Ken.


"Alhamdulillah... Intan sudah telat. Semoga usaha mereka berhasil." Tita.


"Kenapa tidak sekalian saja di periksa sekarang?" Ucap Angel dengan bahasa Indonesia yang sedikit kaku.


"Sore ini Onty. Kami menunggu Dokter Rini praktek.


"Onty, kenapa menangis?" Keina.


"I'm so happy to be amongst you." Angel.


Keina pun memeluk Angel erat dan Angel pun membalasnya tak kalah erat. Tita, Olla dan Melan mengusap air mata mereka yang tak terbendung melihatnya.


"Kami akan selalu ada untukmu Kak." Ucap Tita.


"Thank you." Angel.


Berada di tanah air membuat Angel melupakan keluarganya di LN. Daren yang melihat ibunya seperti itu dadanya teasa sesak. Daren pun keluar dari ruangan yang berisikan semua keluarganya.


Daren duduk seorang diri di taman yang tak jauh dari ruangan Sinta dan Zizi. Daren menengadahkan wajahnya menahan air matanya agar tak tumpah namun semua terasa sia-sia air matanya mengalir begitu saja.


Daren begitu terpuruk melihat orang tuanya bersedih. Dirinya putra tunggal yang seharusnya menjadi kebanggaan namun tak dapat di banggakan. Daren menundukkan kepalanya dan bahunya bergetar. Saat Daren mengangkat kepalanya Daren melihat uluran tissue untuknya.


"Thanks." Daren.


"Terima kasih Suster." Ucap Daren terbata.


Daren memang lebih fasih berbahasa di bandingkan dengan kedua orang tuanya. Karena Daren sering berkunjung ke tanah air mengurus bisnisnya yang menbuat Daren belajar bahasa.


"Semua masalah akan ada solusinya." Suster.


"Daren." Ucap Daren mengulurkan tangannya.


"Bunga." Ucap suster tersebut yang ternyata bernama Bunga.


"Apa kamu suster disini?" Daren.


"Ya." Bunga.


"Sudah lama?" Daren.


"Lumayan." Bunga.

__ADS_1


Keduanya sama-sama terdiam. Daren dengan fikirannya sendiri begitu juga dengan Bunga. Bunga anak tunggal yang telah lama di tinggal Ayahnya membuatnya harus kuat demi melihat sang Ibu bahagia. Bahkan menjadi seorang perawat adalah cita-cita sang ibu.


"Apa yang berada di dalam itu keluarga mu?" Bunga.


"Ya." Jawab Daren singkat.


"Lalu kenapa kamu menangis? Bukankah seharusnya kamu senang karena saudara mu melahirkan bahkan dua saudaramu." Bunga.


"Ya begitulah seharusnya." Daren.


"Lalu?" Bunga.


Daren masih terdiam. Bunga menarik nafasnya dalam sebelum mengeluarkan lagi beberapa pertanyaan untuk Daren.


"Kamu bisa bercerita padaku jika kamu mau. Dan aku berjanji tidak akan menceritakannya kembali kepada siapapun." Bunga.


Daren menatap Bunga mencari ketulusan di sana. Kemudian Daren pun menceritakan semua yang terjadi padanya dari mulai dirinya menikah, bercerai hingga dirinya berada di sana sekarang.


"Hm... Kau sudah memeriksakannya ke Dokter?" Bunga.


"Tidak. Hanya saja mantan istri ku yang telah memeriksa dirinya dan semuanya dinyatakan baik-baik saja. Dari situlah aku berfikir jika akulah yang bermasalah." Daren.


"Menikahlah." Bunga.


"Apa?! Kau tidak mendengar ceritaku?" Tanya Daren sedikit kesal.


"Kau akan memberiku apa jika kau menikah dan memiliki keturunan?" Bunga.


"Kau ****. Pergilah." Daren.


"Aku akan menjadi pengasuh anak mu gratis tanpa bayaran jika kau bisa memiliki anak dari istrimu kelak." Bunga.


Daren menatap tajam Bunga yang berada di sisinya. Daren begiru geram pada Bunga yang tetap ngeyel dengan fikirannya. Bunga yang di tatap Daren membalas tatapan Daren dengan santainya.


Deg...Deg...


"Astaga! Kenapa dengan jantungku. Kenapa hanya dengan melihat tatapannya dadaku berdegub kencang." Batin Bunga.


"Aduuuh... Udah dong natapnya." Batin Bunga lagi.


Meskipun dadanya bergemuruh Bunga berusaha bersikap sebiasa mungkin. Daren melihat perubahan raut wajah Bunga yang membuatnya gemas.


"Astaga! Kenapa dia menggemaskan?" Batin Daren.

__ADS_1


"Kalau begitu menikahlah dengan ku." Ajak Daren dengan santainya.


"Apa??!!"


__ADS_2