Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Bukan Anak Kandung


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu Intan telah selesai melewati ujiannya. Besok Intan akan bersiap menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatannya. Daffin yang harus mengikuti rapat penting di kantor terpaksa melewatinya dan hanya akan di hadiri Ken dan Daren.


Daffin memang sudah di beri kepercayaan di perusahaan sebagai wakil CEO dan beberapa kali menggantikan Daren karena Keina hamil. Kali ini Daffin absen di rapat perusahaan demi memberikan semangat pada Intan. Entah sejak kapan rasa sayangnya tumbuh untuk Intan.


Beberapa kali Tita dan Marni datang mengunjungi Intan di rumah sakit saat Daffin harus menghadiri kuliahnya. Dan Intan yang sudah mengenal Marni dan Tita pun tidak lagi canggung saat bertemu.


Seharian tadi Daffin terus memberi semangat pada Intan dan meyakinkan jika semuanya baik-baik saja. Apapun yang terjadi dengannya Daffin berjanji akan selalu ada untuknya. Paman Intan dan Bibi Intan tidak bisa datang karena keterbatasan biaya.


Daffin sudah menawarkan tapi mereka menolaknya secara halus. Karena menurut pemantauan Orang kepercayaan Daffin ternyata Ibu Intan tidak di restui oleh Keluarganya saat menikah dengan Ayah Intan.


Hari ini Intan sudah siap menjalani pemeriksaan. Daffin terus berada di sisinya. Intan pun menyempatkan diri meminta restu pada Ibunya yang entah bisa mendengarkannya atau tidak.


"Dad, Mommy minta ijin ya hari ini temani Intan di rumah sakit." Ijin Tita pada Ken.


"Ya. Mommy boleh pergi. Nanti di antar supir saja ya." Ken.


"Apa Kein boleh ikut Mommy Bang?" Tanya Keina pada Daren.


"Sayang, Intan akan melakukan beberapa pemeriksaan dan mungkin ada banyak sekali zat yang menempel pada Tubuhnya. Nanti saja ya setelah semuanya selesai. Kasian dede bayi di perut kamu." Ucap Daren lembut mengusap perut Keina yang semakin menyembul.


"Baiklah. Tapi, nanti Mommy Vidio call ya." Pinta Keina.


"Iya sayang. Jika ada kesempatan Mommy akan melakukan panggilan padamu. Dekatkan saja ponselnya jangan di jauhkan ya." Tita.


"Apa Nenek juga akan ikut Mommy?" Tanya Keina.


"Tidak. Nenek akan menemani kamu di rumah. Mami kamu tidak bisa datang karena akan pergi mengantar Zizi." Marni.


"Zizi kenapa?" Keina.


"Tidak apa-apa. Hanya ingin berbelanja saja. Nanti mereka akan mampir setelah selesai." Marni.


"Abang, kenapa Mami tidak mengajak aku." Rengek Keina karena mendengar jika Maminya akan berbelanja bersama Zizi.


Keina dan Zizi adik sepupu yang menjadi ipar setelah menikahi kakak beradik putra dari Abimana dan Melan.

__ADS_1


"Astaga! Sayang. Lihata putri kita. Dia cemburu sama Mami nya." Ken.


"Ya. Melan harus di ingatkan jika di sini ada menantunya juga." Tita.


"Hahaha... Hubungi Mami kamu Ren. Minta dia ajak istri mu juga." Marni.


"Tapi, Nenek akan sendiri di rumah." Keina.


"Tidak masalah. Banyak yang bisa Nenek lakukan di sini." Marni.


"Bener Nek? Kein boleh ikut Mami?" Tanya Keina dengan mata berbinar.


"Boleh sayang. Ayo Ren hubungi Mami mu." Marni.


"Baik Nek. Sebentar Daren hubungi Mami." Daren.


Daren pun segera menghubungi Melan dan memintanya untuk mengajak Keina juga berbelanja bersama Zizi. Dengan senang Melan mengiyakan keinginan menantu pertamanya untuk ikut serta dengan dirinya dan juga Zizi.


"Bersiaplah sayang. Abang akan mengantarkan kamu ke rumah Mami sebelum ke kantor." Daren.


Daren hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kalo begitu Daddy pergi lebih dulu ke kantor ya. Kamu jangan terlalu lama nanti di rumah Mami mu." Pamit Ken.


"Siap Dad. Abang langsung ke kantor." Daren.


Tita mengantarkan Ken hingga ke depan sebelum dirinya juga pergi ke rumah sakit. Setelah Ken meninggalkan mansion barulah Tita bersiap untuk pergi. Tita pergi di antarkan oleh supir bersamaan dengan mobil Daren dan juga Keina.


Sampai di rumah Melan Daren tidak turun dirinya langsung meninggalkan rumahnya menuju kantor karena harus menghadiri rapat.


Sementara Tita sesampainya di rumah sakit Intan sudah memasuki ruangan dimana Intan akan di lakukan pemeriksaan. Karena Tita merupakan pemilik saham di rumah sakit itu. Maka Tita pun di perbolehkan masuk untuk mengukuti pemeriksaan yang akan di lakukan Intan.


"Mom." Panggil Daffin.


Tita hanya menberikan isyarat pada Daffin dan Intan. Tita berdiri di samping Gagah dan salah satu dokter Tim dalam pemeriksaan Intan. Hampir seharian Intan mengikuti serangkaian pemeriksaan.

__ADS_1


Dan sekarang Intan, Daffin dan Tita sudah berada di ruangan Gagah menantikan hasil pemeriksaan Intan yang di lakukan beberapa hari yang lalu. Intan terlihat gugup menantikan hasil pemeriksaannya.


"Kamu siap mendengarkannya Tan?" Tanya Gagah.


"Si... siap Dok." Jawab Intan gugup.


Tita dan Daffin memegang masing-masing tangan Intan memberikan kekuatan. Intan pun sedikit lebih percaya diri.


Kemudian Gagah pun membuka map yang berisikan hasil pemeriksaan Intan. Gagah membaca lembar perlembar hasil pemeriksaannya dan satu hal yang membuat semua tercengang. Suatu kenyataan yang membuat Intan satu sisi bahagia dan di sisi lain dirinya bersedih.


Tanpa terasa bulir bening mengalir di pipi Intan walau senyum terbit di bibirnya. Daffin pun segera membawa Intan ke dalam pelukannya. Tita mengusap lembut punggung Intan.


"Terima kasih Dokter atas kerja kalian. Kami permisi." Pamit Tita secara profesional kepada Gagah dan Tim.


"Maaf sebelumnya Nyonya." Ucap Gagah pada Tita.


"Iya Dok." Tita.


"Ada hal yang perlu kami sampaikan kembali kepada Anda dan juga Tuan Daffin dan Nona Intan." Ucap Gagah terjeda dan di angguki oleh dokter yang lainnya.


"Ada apa?" Daffin.


"Dari hasil pemeriksaan kami Nyonya Ambar sudah tidak ada harapan menurut medis setelah kami melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Saat ini Nyonya Ambar hanya terbantu oleh alat-alat yang menempel pada tubuhnya. Jika keluarga ikhlas kami harap semua alat segera di lepas karena hanya akan menyakitinya saja." Ucap Gagah.


Intan terkulai tak sadarkan diri dalam pelukkan Daffin. Di saat dirinya mendapatkan kenyataan tentang hidupnya yang ternyata bukan anak kandung dari Ibu dan Ayahnya. Tiba-tiba dirinya harus mendapat kenyataan pahit kembali jika Ibu yang di yakini sebagai ibu kandungnya harus pergi meninggalkannya.


"Maaf Dok. Kami akan sampaikan setelah Intan sadar." Ucap Tita pada semua Tim dokter.


"Baik Nyonya. Kami permisi." Gagah.


Kini hanya ada Intan, Daffin dan Tita di dalam ruangan tunggu yang biasa Intan gunakan untuk berisitirahat kala menunggu ibunya. Daffin tak beranjak sedikitpun dari sisi Intan. Tita duduk di sofa memandangi Ibu Intan yang masih terbujur dengan segala alat-alat yang terpasang di sana.


Dua orang perawat yang bertugas menjaga Ibu Intan sedang merapihkan ruangannya karena mungkin kerja mereka akan segera berakhir jika Intan mengijinkan semua alat yang terpasang di tubuh ibunya di lepas.


Tita menyampaikan semua berita pada Ken. Dan Ken pun segera datang ke ruang perawatan Ibu Intan. Saat Ken datang Intan belum juga sadarkan diri. Ken menepuk pudak Daffin seolah memberikan kekuatan padanya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2