
Semua pun berkumpul di ruang perawatan Jessie. Dua jagoan Jessie pun sudah berada di ruangan tersebut dan menjadi bahan rebutan. Aiko menggendong Kakak dan ibu Aldi menggendong adik.
"Seneng banget ya Yah punya Cucu." Ucap Ayumi pada Rehan.
"Hus... Kamu timang saja Keina jangan ingin punya cucu dulu. Dan bukannya mereka juga cucu kita." Rehan.
"Iya, tapi lihatlah dua nenek itu tak membaginya untuk ku." Rajuk Ayumi.
Semua pun tertawa melihat Ayumi yang merajuk bagaikan anak kecil tak mendapatkan jatah mainan.
"Hah... Kau juga Ta. Kenapa boneka mu itu ngga di bawa." Rehan.
"Hah! Kenapa Tita di salahkan Kak?" Tita.
"Ya. Kalo boneka mu itu kamu bawa anak kecil ini tak akan iri karena dia juga menggendong mainannya." Rehan.
Semua kembali tertawa. Seorang Rehan yang terkenal dokter yang serius dan tak pernah becanda kali ini sangat lucu.
"Enak saja anakku Kakak bilang boneka." Ken.
"Sudah-sudah. Kakak pulang ikut dengan Tita dan Gladys. Kakak puas-puasin main sama Keina di rumah." Tita.
"Tapi, sayang." Ken.
"Apa?" Tita.
"Bagus. Biar Keina Kak Ayu yang asuh jadi kita bisa berduaan." Goda Ken dan berhasil mendapat pukulan di lengannya.
"Dasar mesum." Umpat Tita.
Perasaan Aldi pun selalu menghangat kala melihat Tita yang selalu bahagia bersama Ken. Aldi menyadari jika dirinya tak mampu membuat Tita bahagia.
Begitupun orang tua Aldi yang sangat bersyukur karena Tita begitu baik dan tidak menaruh dendam sedikit pun pada Anaknya maupun mereka berdua. Bahkan Tita tak sungkan mengulurkan bantuannya untuk Jessie dan Aldi.
"Kalian sudah menyiapkan nama untuk dua jagoan kalian ini?" Tita.
"Hm... Sudah Tan." Aldi.
"Wah, siapa?" Ibu Aldi.
"Abian dan Axel." Aldi.
"Jadi dou A dong Kak." Gladys.
"Ya seperti kalian duo G." Aldi.
"Tapi kami bukan kembar." Gladys.
"Tidak apa-apa. Kalian tetap duo G kan." Jessie.
Suasana kamar perawatan Jessie pun begitu hangat. Ken dan Anton berpamitan lebih dulu karena harus mengahadiri rapat penting. Tita pun memakluminya.
Setelah Ken berpamitan Tita pun sama berpamitan pada semuanya mengingat Keina hanya do temani Gagah dan bibi di rumah. Rehan pun harus kembali bertugas. Ayumi pun ikut serta pulang bersama Tita dan Gladys.
Saat ketiganya berjalan bersama di lorong rumah sakit tiba-tiba saja ada yang memanggil Gladys. Mereka bertiga pun berhenti melangkah dan melihat ke arah orang yang memanggil Gladys.
__ADS_1
Saat mereka menemukan orangnya Tita dan Ayumi pun menoleh melihat ke arah Gladys. Sementara Gladys hanya diam tanpa memperdulikan kedua orang tua itu.
"Hai... Apa kabar? Eh, Apa kabar juga Tante dan.." Ucap orang yang ternyata Dokter Angga.
"Tita. Saya Ontynya Gladys." Tita.
"Owh! Senang bertemu dengan anda Suster Tita." Angga.
"Heh! Jangan panggil saya Suster. Saya sudah pensiun sejak Onclenya Gladys menikahi saya." Tita.
Angga tersenyum menanggapinya.
"Tante apa kabar?" Tanya Angga pada Ayumi.
"Bunda, panggil Bunda jangan Tante. Bunda baik. Nak Angga apa kabar?" Tanya balik Ayumi.
"Hah!" Ucap Gladys saat mendengar Bundanya meminta Angga untuk memanggilnya Bunda seperti dirinya.
"Alhamdulillah baik juga Bunda. Tidak terjadi sesuatu dengan Dokter Rehan bukan?" Angga.
"Kenapa bertanya seperti itu? Kakak mendo'akan Ayah terjadi sesuatu?" Gladys.
"Eh, bukan. Hanya heran saja kenapa kalian bersamaan datang." Angga.
"Kami akan pulang. Baru menjenguk Jessie melahirkan." Ayumi.
"Owh! Dokter Jessie sudah melahirkan rupanya." Angga.
"Iya. Dua jagoan." Ayumi.
Dan di balas anggukan oleh ketiganya. Cukup lama berbincang mereka pun berpamitan untuk pulang. Dan dengan santainya Ayumi meminta Angga untuk mampir main ke rumah mereka. Dan Ayumi meminta ponsel Angga untuk mengetik nomer ponsel dan tanpa Gladys tau nomer ponselnya lah yang Ayumi ketik di ponsel Angga.
"Baik, terima kasih Bunda. Nanti jika senggang Angga main ke rumah." Angga.
"Oke. Bunda tunggu ya." Ayumi.
Tita hanya tersenyum geli melihat ekspresi Gladys menanggapi tingkah Bundanya yang sangat di luar ekspektasi. Gladys pun tak pernah berfikir untuk mengenal dokter muda itu lebih lanjut.
Ketiganya pun pulang dengan fikiran masing-masing. Ayumi yang senang karena anak gadisnya ada yang suka. Tita yang dari tadi menahan tawa karena tingkah kakak iparnya dan Gladys yang sedikit tak percaya mengapa Bundanya bersikap seperti itu pada dokter muda itu.
Sampai di rumah utama terlihat Gagah tengah menggendong Keina sambil menunggu kedatangan Tita dan Gladys yang tanpa di duga Bundanya pun ikut bersama mereka.
"Aduh chayangnya Bunda. Nunggu siapa Hm... Nunggu Bunda kan ya bukan Mommy." Ucap Ayumi pada Keina.
Ya, Ayumi tak ingin di panggil Tante dirinya ingin anak-anak Ken dan Tita memanggilnya dengan sebutan Bunda.
Keina yang di ajak bicara pun tertawa merespon Ayumi. Keina menghentak-hentakkan kakinya dalam gendongan Gagah.
"Sini biar Bunda gendong. Kamu kenapa ga ikut ke rumah sakit?" Ayumi.
"Nanti malam aja sekalian dinas Bun." Gagah.
"Awas sampe lupa jenguk." Ayumi.
"Iya Bunda.." Gagah.
__ADS_1
"Eh, satu lagi." Ayumi.
"Apa lagi?" Gagah.
"Carikan mama menantu. Mama pengen punya cucu juga seperti Aiko." Ucap Ayumi dengan santainya masuk sambil menggendong Keina.
"Hah!" Gagah.
"Awas jangan sampe lama Kak." Ledek Gladys.
"Nanti keburu kelangkah sama Adek." Goda Tita.
"Onty!!!" Teriak Gagah dan Gladys bersamaan.
Sementara Tita tertawa terbahak sambil terus berjalan masuk tanpa memperdulikan dua keponakannya. Ayumi tampak asik bermain dengan Keina. Karena semakin hari Keina semakin menggemaskan.
"Ta, bikinin lagi yang kaya gini. Yang ini biar buat Kakak." Ayumi.
"Ceh, main bikin aja Kak. Emangnya kue tinggal adon terus jadi." Tita.
"Lah, ini sekali adon langsung jadi." Ayumi.
"Kakak! Ada yang jomblo loh disini." Tunjuk Tita pada kedu ponakannya.
"Biar saja biar mereka cepet cari menantu buat Kakak. Biar Kakak punya cucu kaya Aiko." Ayumi.
"Astaga! Segitu iri nya sama adik sendiri." Tita.
"Iya dong Ta. Kakak yang lahir dulu kok Aiki yang punya cucu duluan." Ayumi.
"Makanya dulu Kakak kenapa mau di langkahin Kak Aiko. Coba kalo ga mau pasti Kakak punya cucu lebih dulu."Tita.
"Ye,,, itumah si Aiko aja yang ngebet kawin." Ayumi.
"Nikah." Tita.
"Aish... Sama sajalah." Ayumi.
"Beda." Tita.
"Ih, kau ini mengalah lah sedikit sama Kakak." Ayumi.
"Baiklah. Asal kau senang Kak." Tita.
"Nah, begitu lebih baik." Ayumi.
Sementara Gagah dan Gladys hanya diam mendengar Bunda dan Ontynya saling beradu pendapat. Keduanya tak ingin ikut campur urusan orang tua. Sampai Tita mengeluarkan pertanyaan yang membuat mereka bertiga kaget.
"Jika Kakak ingin segera punya Cucu apa tidak sebaiknya Kakak nikahkan Gladys dengan dokter tadi." Tita.
"Hah!!"
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1