Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Di Usir


__ADS_3

Di dalam kamar suasana siang hari yang cukup panas bertambah panas oleh kegiatan Daren dan Keina. Daren dengan lembut memperlakukan Keina mengingat Keina tengah mengadung buah cinta mereka.


Hingga sore hari Keina masih setia memejamkan matanya kelelahan. Daren yang sudah terjaga lebih dulu mengecup kening Kiena lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hingga Daren selesai dengan ritual mandinya Keina belum juga bangun.


"Sayang, bangun yuk. Mandi dulu." Ucap Daren mengusap lembut pipi Keina.


"Hm... Gendong..." Pinta Keina manja dengan suara khas bangun tidurnya.


Daren pun menggendong Keina hingga ke dalam kamar mandi dan Daren pun membantu Keina mandi. Hanya mandi karena Daren tak tega dengan Keina yang tampak kelelahan.


Setelah mereka berdua lebih segar mereka pun turun untu sekedar bersantai sore karena hal tersebut sangat jarang mereka lakukan setelah Daren mulai bekerja kembali.


Ken dan Tita pun melakukan hal yang sama. Mereka pun bercengkrama bersama. Dengan di temani teh untuk Daren, Ken dan Tita dan segelas jus jambu untuk Keina. Dengan beberapa camilan has rumahan.


"Loh, Intan Daffin kalian." Tanya Keina heran melihat kehadiran Intan bersama Daffin.


Semua pun menoleh ke arah Intan dan Daffin.


"Ada apa?" Tanya Ken melihat Intan yang menundukkan kepalanya.


"Intan di usir Dad." Daffin.


"Apa!!"


Teriak mereka berempat kompak karena tak ada yang menyangka Intan akan di usir.


"Siapa yang berani mengusir kamu?" Tanya ken dengan nada sesikit tinggi dan bangkit dari duduknya.


Tita langsung memegang tangan Ken untuk sedikit lebih tenang.


"Sayang, ayo kalian duduk dulu." Titah Tita pada Daffin dan Intan.


"Maaf Dad, jika Daff mengambil keputusan tanpa memberi tau Dad dan Mom terlebih dahulu. Tadi perasaan Daff tidak enak. Daff langsung menghubungi Intan dan Intan tak menjawab panggilan Daff setelah sepuluh kali panggilan. Itu tidak biasa di lakukan Intan. Dan Daff berinisiatif untuk langsung mendatangi rumah Intan kembali."


"Saat Daff sampai terlihat beberapa warga sekitar tengah berkumpul dan Daff menanyakan ada hal apa ternyata warga mengusir Intan dari rumah itu karena di anggap mencemari. Dan Ibu Intan juga menjual makanan yang ternyata Ibu Intan berpenyakitan."


"Daff langsung menuju rumah dan di sana sudah ada aparat tengah berbincang dengan Intan." Jelas Daffin panjang kali lebar luas keliling.


"Lalu kau hanya diam Daff?" Ken.


"Daff menjelaskan semuanya Dad pada aparat dan perwakilan warga di rumah Intan jika Intan saja yang bukan anak dari Bu Alma dan suaminya tidak tertular sedikit pun." Daffin.


"Kenapa mereka setega itu?" Keina.

__ADS_1


"Lalu kamu tunjukan bukti hasil pemeriksaan Intan?" Tita.


"Ya. Bahkan Daff meminta dokter puskesmas untuk datang menjelaskan. Daff meminta warga memanggil dokter puskesmas agar mereka pun bisa percaya. Karena jika Daff meminta Bang Angga atau Bang Gagah Daff takut mereka tetap tidak percaya karena dokter dari pihak kita Dad." Daffin.


"Bagus. Lantas bagaimana sekarang?" Ken.


"Daff membawa Intan ke mari karena besok Buna akan tinggal di sini menemani Kakak. Jadi, dari pada nanti tetap ke sini Daff berinisiatif untuk langsung membawa Intan ke sini Dad." Daffin.


"Baiklah. Intan nanti bisa tidur di kamar tamu nak. Mommy akan minta Bibi menyiapkan kamarnya." Ucap Tita beranjak untuk memerintah salah satu pelayannya.


"Apa semua barang kamu udah di bawa Tan?" Keina.


"Tidak banyak barang yang kami punya Kak. Semua yang berhubungan Ibu telah di bakar oleh warga hanya tinggal beberapa yang bisa Intan selamatkan." Intan.


Mendengar jawaban Intan Keina merasa kesal dan sedih bercampur menjadi satu. Keina pun memeluk lengan Daren. Daren yang tanggap langsung memeluk Keina dari samping.


"Intan barang kamu sudah di bawa ke kamar tamu ya. Nanti bereskan saja di lemari yang sekiranya kamu perlukan sisanya jangan di bongkar dulu biar saat kamu pindahan ke rumah Buna kamu tidak kerepotan." Jelas Tita.


"Maaf kami tidak bisa menampung kamu di sini ya Tan. Karena Buna menginginkan untuk merawat kamu selanjutnya. Daddy tidak enak dengan Buna." Ken.


"Tidak masalah Om. Intan sangat berterima kasih pada Om, Tante sekeluarga karena sudah menerima Intan." Intan.


"Eh, sebentar. Kamu panggil Daddy apa tadi?" Tanya Keina.


"Om? Daddy Intan Daddy dan ini Mommy. Biasakan itu biar anak nakal itu punya tanggung jawab." Tunjuk Keina pada Daffin.


"Kenapa gw terus sih yang jadi sasaran dari tadi." Daffin.


"Daff." Daren.


"Hifh... Baiklah Bang." Daffin.


"Hahaha... Kau harus terbiasa dengan sikap mereka berdua Tan." Ken.


"I iya O..Dad." Intan.


Intan pun berpamitan ke kamar untuk membersihkan diri begitu juga dengan Daffin. Tapi, saat keduanya bangkit dari duduk dengan bersamaan Keina pun mengeluarkan suaranya lagi.


"Kamar mu di atas ya Daff bukan di bawah. Dan kamu Intan jangan mau di modusin bocah yang satu itu." Keina.


"Astaga! Kakak. Kenapa jatuhin adek mu ini sih. Dukung dong Kak dukung." Jawab Daffin melanjutkan langkahnya.


"Awas Tan. Siaga satu." Teriak Keina dan Intan hanya tersenyum melihat keakraban Daffin dan Keina.

__ADS_1


"Sayang, selama Mommy menemani Daddy nanti. Kamu hati-hati di rumah. Jangan macem-macem yang akan membahayakan bayi dalam perut kamu dan juga kamu. Makan makanan sehat jangan jajan sembarangan. Nurut sama Buna. Nanti Mami juga sesekali ke sini. Mami ngga bisa di sini karena Zi ujian." Pesan Tita.


"Iya Mommy ku sayang. Putri mu yang cantik jelita ini akan mematuhi semua pesan Mommy." Jawab Keina menggoda Tita.


"Lihatlah Dad Putri mu." Adu Tita pada Ken.


"Putri kita Mom. Bukannya kita mengadonnya bersama." Ucap Ken mengerlingkan matanya pada Tita.


"Aish... Daddy sama anak sama saja." Tita.


"Hahaha... Mom, nanti bawakan pesanan Kein ya." Ucap Keina mengingatkan.


"Eh... Pesanan apa nih? Kamu mau ngerelotin Mommy?" Protes Daren.


"Ngga Abang sayang. Kein hanya menitip satu macam barang kok sama Mommy." Keina.


"Yakin?" Daren.


"Yakin." Keina.


"Sekarang satu Ken setelah Mommy di sana mungkin akan ada satu satu yang lainnya." Ken.


"Daddy... Ngga lah." Keina.


"Jangan merepotkan Mommy sayang." Daren.


"Tidak Ken Mommy tidak merasa di repotkan. Jika barang yang di inginkan mudah di dapat dan di bawa Mommy pasti akan bawakan." Tita.


"Aaa... Terbaik deh Mommy ku." Ucap Keina.


"Terima kasih Mom. Jika merepotkan tidak perlu Mom." Daren.


"Iya. Tenang saja nanti kami pergi bertiga kok sama asistennya Daddy juga." Tita.


"Hah! Siapa yang akan ikut Dad?" Daren.


"Rahman. Biar Om Anton yang di sini." Ken.


"Baiklah." Daren.


"Jangan lupa ingatkan Kein makan sama minum vitaminnya Ren. Kein suka bandel." Pesan Tita.


"Tentu Mom." Daren.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2