
Gagah melihat siapa yang datang menemuinya sampai ke rumah. Karena jika utu temannya pasti akan memberitahukannya dulu sebelum datang. Gagah jalan perlahan sampai terlihat ada seorang perempuan yang sedang duduk menunggunya di ruang tamu.
"Maaf, anda mencari saya?" Gagah.
"Eh, Iya. Maaf mengganggu waktu istirahatnya." Ucap perempuan itu.
"Tidak. Silahkan duduk. Ada apa ya? Dan tau dari mana rumah saya?" Gagah.
"Maaf, perkenalkan saya Laras dokter magang di rumah sakit keluarga seperti anda. Dan saya kebetulan juga jaga bersama anda hanya saja kita tidak pernah satu jadwal. Saya dari universitas B." Laras.
"Terus?" Gagah.
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tau rumah Kakak dari teman satu angkatan Kakak." Laras.
"Kakak! Hah! Iya." Gagah.
"Maaf Kak. Saya satu tingkat di bawah Kakak." Laras.
Gagah hanya mengangguk mendengarkan Laras berbicara.
"Terus apa tujuan kamu?" Gagah.
"Sebelumnya saya minta maaf Kak. Apa Kakak berkenan besok pagi pindah jadwal dengan saya. Saya siang dan Kakak pagi." Laras.
"Besok? Maksud kamu besok minggu?" Tanya Gagah karena kebetulan besok adalah hari minggu.
"Iya Kak." Laras.
"Kayanya kamu salah orang deh. Saya besok ga ada jadwal siang. Hari ini saya malam dan besok lepas malam terus libur." Gagah.
"Hah! Ta tapi, di papan tertulis nama Kakak." Laras.
"Kamu yakin?" Gagah.
"Iya. Ini." Ucap Laras menyodorkan ponselnya karena dirinya memfoto papan jadwal sebelum datang ke rumah Gagah.
Gagah pun tersenyum melihat foto yang di tunjukkan oleh Laras padanya. Kemudian Gagah memberikannya kembali ponsel milik Laras.
"Coba kamu baca dulu deh papannya." Titah Gagah.
Laras pun melihat layar ponselnya dan memejamkan matanya malu ketika melihat nama di layar ponselnya. Laras menggenggam erat ponselnya karena ternyata dirinya salah orang.
"Bagaimana?" Tanya Gagah yang masih menyunggingkan senyumannya.
"Maaf." Ucap Laras menunduk.
__ADS_1
"Mau di apelin ya sampe rela datang ke sini untuk bertukar jaga?" Gagah.
Seketika wajah Laras murung karena pertanyaan Gagah. Sebenarnya Laras tak ingin melakukannya hanya saja desakan orang tuanya membuatnya memberanikan diri datang ke rumah Gagah dan berniat untuk menukar jam dinasnya.
Tapi hasilnya malah membuatnya malu setengah mati. Dan entah apa yang akan terjadi besok. Ayahnya akan menjodohkan Laras dengan anak dari sahabat Ayahnya hanya saja Laras tidak menyukainya. Alasan dinas bukan menjadi kendala bagi Ayahnya karena menurut Ayahnya jam dinas itu bisa di tukar dengan teman sejawat lainnya.
Gagah yang melihat perubahan di raut wajah Laras pun penasaran dan ingin sekali bertanya ada apa tapi Gagah ragu menanyakannya karena dirinya tak begitu mengenal Laras.
"Hmm... Maaf jika pertanyaan saya menyinggung." Gagah.
Dan air mata pun lolos tanpa permisi di pipi Laras. Gagah pun semakin di buat serbabsalah karena hari itu semua keluarga tengah berkumpul dan bisa di pastikan akan ada kekacauan.
"Eh, aduh kok kamu nangis sih." Ucap Gagah gelagapan.
Laras malah semakin terisak mendengar ucapan Gagah. Dirinya pun tak tau kenapa dirinya bisa menangis di hadapan orang yang baru saja di kenalnya. Mungkin karena Gagah memberikan rasa aman baginya atau apa othor ga tau 😁🤭.
"Ssstt... Aduh, kok malah tambah kenceng sih." Gagah tak tau harus berbuat apa.
Saat Gagah berusaha menenangkan Laras Gladys melintas sambil menggendong Keina. Gladys melihat Laras yang sedang menangis tersedu menunduk di sofa sebelah Gagah duduk dan Gagah tampak panik menghadapinya.
"Kak." Panggil Gladys.
Gagah yang mendengar suara Gladys bukannya menoleh malah menunduk dan nenepok jidatnya.
"Hei, kamu apakan anak gadis orang Kak?" Gladys.
"Astaga! Bukan seperti yang kamu bayangkan Dek." Ucap Gagah bangkit dari duduknya.
Ayumi yang akan ke dapur pun mendengar teriakan Gladys dan Ayumi pun segera menghampiri Gladys karena khawatir ada apa-apa dengan Keina.
Ayumi yang akan mendekat mendengar ada suara orang menangis dan terlihat ada seorang perempuan sedang menunduk dan menangis. Sedangkan Gagah dan Gladys beradu argumen dengan Keina yang tampak bingung melihat kedua kakaknya yang saling bicara.
"Gagah, Gladys." Panggil Ayumi.
"Tamat sudah riwayatmu Gah." Batin Gagah.
"Bunda, lihat Kakak itu sampai menangis begitu. Kak Gagah pasti sudah melakukan sesuatu padanya hingga membuatnya menangis." Gladys.
"Bukan Bun. Bukan seperti itu. Gagah bisa jelasin." Ucap Gagah panik.
Ayumi menghiraukan kedua anaknya. Ayumi malah menghampiri Laras yang tengah menangis tersedu.
"Nak, apa yang di lakukan anak Bunda?" Ayumi.
Laras mendongakkan kepalanya melihat kearah Ayumi. Ayumi mengusap lembut pipi Laras yang di penuhi air mata.
__ADS_1
"Maaf Tante. Saya menangis bukan karena Kak.Gagah. Saya juga ga tau mengapa saya bisa menangis di sini." Laras.
"Hah!" Ucap Gladys dan Ayumi bersamaan.
"Nah, kan. Makanya kalian itu jangan main hakim sendiri." Gagah.
"Maaf Kak. Laras tidak bermaksud apapun." Laras.
"Terus kenapa kamu menangis? Ada apa kamu mencari anak Bunda?" Ayumi.
Laras pun menceritakan tujuannya mencari Gagah yang ternyata salah orang dan Laras pun menceritakan kenapa dirinya menangis karena Laras tak tau apa lagi alasan dirinya untuk menolak permintaan Ayahnya yang akan menjodohkan dirinya dengan anak dari teman Ayahnya.
Ayumi mendengarkan Laras bercerita sambil tersedu. Ayumi pun merasa prihatin dengannya. Sementara dirinya pun tak dapat berbuat apapun karena itu bukan ranahnya untuk ikut campur.
Gagah dan Gladys pun hanya terdiam mendengar cerita Laras. Keduanya gak bisa berkata apapun. Gagah dan Gladys tak berpengalaman dalam mengahadapi pasangan karena mereka berdua belum pernah merasakan pacaran.
Ken dan Tita berjalan saling merangkul masuk kedalam rumah di susul Rehan di belakang mereka. Tita dan Ken memang tak malu menunjukkan kemesraannya di hadapan kakak mereka.
Mereka bertiga terhenti ketika melihat di arah ruang tamu semua tampak diam dengan fikiran masing-masing. Hanya Keina yang asik memasukkan mainannya kedalam mulutnya hingga menimbulkan suara.
Tita, Ken dan Rehan pun saling pandang tak mengerti apa yang terjadi dengan semua yang ada di ruang tamu tersebut. Tita memeluk pinggang Ken dari samping dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Ken.
"Apa Kakak mengenal gadis itu?" Ken.
"Tidak. Tapi, sepertinya dia seorang mahasiswi kedokteran sama seperti Gagah." Rehan.
"Hm... Apa kita akan tetap disini?" Tita.
"Ngga dong sayang. Ayo kita masuk." Ajak Ken.
"Hei, mau kemana kalian?" Rehan.
"Cetak Keina seri kedua Kak." Ken.
"Astaga! Kenzo Ito!!". Rehan
Tita dan Ken berlari menuju kamar tempat mereka menginap. Semua mata tertuju pada keduanya yang tengah berlari menuju kamar mereka.
"Ada apa?" Tanya Ayumi pada Rehan.
"Tidak ada." Rehan.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1