Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Di Pindahkan


__ADS_3

"Dad."


"Duduk."


"Daff ada kuliah pagi Dad." Daffin.


"Duduk." Ken.


Dengan pasrah Daffin pun duduk di sofa depan Ken yang membuat dirinya berhadapan dengan Ken.


"Apa pernah Mommy dan Daddy mengajarkan kamu tidak tau aturan begini?" Ken.


"Maaf Dad." Ucap Daffin yang mengerti arah dan tujuan Ken kemana.


Daffin tau jika Daddy nya telah mengetahui apa yang dia lakukan selama beberapa hari ini. Karena Daffin merasakan ada gerak-gerik tak biasa di sekitar dirinya. Bukan Daffin tak tau dirinya hanya berpura-pura tak tau.


"Dari mana kamu dapatkan uang itu?" Ken.


"Maaf Dad. Daffin menggunakan tabungan Daff." Daffin.


"Apa alasan kamu menolongnya Daff? Kau melakukan kesalahan?" Ken.


"Tidak Dad. Hanya saja beberapa waktu lalu Daff menabrak putrinya dan saat Daff mengantarkan pulang, kami menemukan ibunya tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Dan Daff langsung membawanya ke rumah sakit disitulah kami mengetahui jika ibu itu mengidap sakit." Daffin.


"Kamu menyukai putrinya?" Tebak Ken langsung.


"Daff hanya merasa kasian Dad. Dia hidup hanya berdua dengan ibunya di kota ini. Dan sekarang tinggal dirinya sendiri. Daff mencoba memberinya semangat untuk terus menyelesaikan sekolahnya yang tinggal beberapa bulan lagi." Daffin.


"Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit keluarga?" Ken.


"Itu rumah sakit terdekat dengan sekolah Intan Yah." Daffin.


"Jadi Intan namanya?" Ken.


"Iya Dad." Daffin.


"Pindahkan ke rumah sakit milik Yaya. Di sana Ibu Intan akan mendapatkan penanganan khusus." Ken.


"Tapi, bagaimana dengan sekolahnya Dad? Dia hanya tinggal menyelesaikan ujiannya saja." Daffin.


"Untuk apa gunanya kamu ada." Ken.

__ADS_1


"Maksud Daddy?" Tanya Daffin yang masih belum mengerti kemana arah Daddy nya bicara.


"Dad ayolah..." Selidik Daffin.


Ken membiarkan Daffin berfikir sendiri dengan meninggalkannya begitu saja di ruang utama. Tita yang mendengar teriakan Daffin segera menghampirinya dari arah dapur. Begitu juga dengan Marni.


"Ada apa Daff?" Tanya Tita.


"Daddy meminta Daff memindahkan Ibu Intan ke rumah sakit milik Yaya. Tapi, Daff bilang itu terlalu jauh dari arah sekolah Intan. Tapi Daddy bilang apa gunanya Daff." Jelas Daffin kesal.


Tita dan Marni tersenyum mendengar penjelasan Daffin membuat Daffin bertambah kesal.


"Mom, Nek ayolah... Kalian juga sama saja dengan Daddy." Daffin.


"Segera pindahkan Ibu Intan ke rumah sakit milik Yaya sebelum Daddy berubah fikiran." Ucap Tita menepuk pundak Daffin.


"Tapi Mom..." Ucap Daffin terhenti.


"Lakukan nanti kamu akan tau jawabannya." Marni.


Kemudian Tita dan Marni kembali ke dapur menyiapkan sarapan untuk mereka. Daffin yang melihat Mommy dan Neneknya pergi meninggalkannya menjadi semakin kesal. Dirinya pun meninggalkan ruang utama menuju kamarnya.


Daffin segera bergegas memakai pakaiannya setelah menyelesaikan ritual mandinya. Daffin segera menuju rumah sakit untuk memindahkan Ibu Intan. Intan yang kebetulan libur sekolah untuk persiapan ujian merasa heran dengan Daffin.


"Kak, ibu mau di bawa kemana?" Tanya Intan cemas.


Pasalnya di rumah sakit ini saja dirinya tak tau harus membayar dari mana. Mungkin akan dengan sangat terpaksa Intan menjual rumah peninggalan Ayah mereka.


"Ibu akan Kakak pindahkan ke rumah sakit Keluarga." Daffin.


"Jangan!" Intan.


"Kenapa? Disana Ibu akan mendapatkan perawatan yang lebih baik Tan." Daffin.


"Di sana biaya nya lebih mahal Kak. Sedang di sini saja Intan masih meminjam pada Kakak." Keluh Intan.


"Kamu jangan khawatir. Kakak tidak pernah merasa meminjamkan uang padamu. Ada orang baik yang mau menolong Ibu. Kamu ikut saja ya sebelum dia berubah fikiran." Daffin.


"Tapi, Kak..."Ucap Intan terjeda.


"Kamu tidak perlu khawatir. Kakak akan mengantar kamu setiap hari untuk pergi ke sekola sehingga kamu tetap bisa mengikuti ujian. Untuk sekarang kamu fokus pada ujian saja ya." Daffin.

__ADS_1


Intan pun tak banyak bertanya lagi. Dirinya lebih pasrah menerima apapun yang di lakukan Daffin pada Ibu dan dirinya. Intan tak memiliki siapapun di kota ini. Bahkan sangat tidak mungkin jika Intan meminta saudaranya untuk datang karena mereka memiliki kesibukan tersendiri.


Intan berada dalam ambulance dimana Ibunya di bawa. Ibu Intan masih dengan setia memejamkan matanya. Entah sampai kapan. Intan hanya berharap ibunya akan sembuh dan kembali berkumpul bersamanya.


Sepanjang perjalanan sampai ke rumah sakit keluarga tangan Intan tak lepas menggenggam tangan Ibunya. Rasanya begitu sesak melihat satu-satunya orang yang kita sayangi tertidur tak sadarkan diri sudah lebih dari tiga hari.


Sampai di rumah sakit keluarga sudah ada dua orang suster dan satu orang dokter menunggu kedatangan mereka. Daffin berjalan mendekati dokter tersebut dan Daffin tampak akrab dengannya membuat kening Intan berkerut.


Ibu Intan segera di bawa ke ruang intensif. Daffin dan Intan menunggu dokter memeriksa keadaan Ibu Intan. Tak lama Dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana Bang?" Tanya Daffin.


"Ikut Abang ke ruangan Abang." Ucap Dokter yang ternyata adalah Gagah kakak sepupu Daffin sendiri yang akan menangani Ibu Intan.


"Tunggu! Apa saya bisa ikut?" Intan.


Gagah menoleh ke arah Daffin dan Daffin menganggukkan kepalanya. Daffin dan Intan pun mengikuti langkah Gagah menuju ke ruangannya. Sampai di dalam ruangan Gagah menceritakan apa yang terjadi pada Ibu Intan.


Tak ada satu pun yang di tutupi oleh Gagah. Intan tak sanggup menahan air matanya. Ibu yang melahirkannya ternyata memiliki sakit yang sama seperti Ayah dan adiknya. Intan tak mengira bahkan tak menyangka karena selama ini ibunya baik-baik saja.


"Dokter..." Panggil Intan.


Gagah dan Daffin menoleh ke arah Intan.


"Apa kemungkinan saya memiliki riwayat penyakit yang sama dengan orang tua dan juga adik saya?" Tanya Intan.


"Kita harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untun mengetahuinya. Saya tidak bisa mendoagnosa sembarangan." Gagah.


"Bang Gagah akan memeriksa kamu setelah kamu selesai ujian. Sekarang kamu fokus pada ujian sekolah kamu saja dulu. Pemeriksaan ini di lakukan sekarang agar kita lebih bisa mengantisipasi keadaan fisik kamu ke depannya." Daffin.


"Tapi Kak..." Intan.


"Tidak ada Tapi Tan. Rumah sakit ini milik dia." Ucap Daffin menunjuk pada Gagah.


"Dan yang bersama kamu itu pemilik saham di rumah sakit ini Tan. Jadi kamu jangan khawatir. Daffin tidak akan bangkrut hanya karena merawat Ibu dan kamu. Kamibakan berupaya membuat Ibu kamu sehat kembali. Kamu bantu do'a ya. Dan Kamu akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut." Gagah.


Intan menatap Gagah dan Daffin bergantian. Dan ternyata di antara keduanya memiliki kemiripan hanya saja Dokter Gagah sudah lebih dewasa daripada Daffin.


"Apa kalian kakak beradik?"


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2