Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Permintaan Keluarga Ito


__ADS_3

Cukup lama Laras berada di rumah utama keluarga Ito. Tita dan Ayumi selalu menahannya untuk pulang. Laras sudah menatap penuh permohonan pada Gagah karena dirinya harus bekerja besok pagi.


"Sayang, kamu tidur di sini saja ya." Ayumi.


"Hm... Besok Laras kerja Tante dan Laras tidak membawa baju ganti." Laras.


"Bunda sayang Bunda." Protes Ayumi.


"Eh, iya maaf Bun da." Laras.


"Nah, begitu enak. Pokoknya kamu tidur di sini ga mau tau." Ayumi.


"Emang kamu kerja di rumah sakit mana Ras" Rehan.


Laras terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Laras di keluarkan dari sekolah kedokterannya Yah. Sskarang Laras bekerja di toko buku yang ada di mall yang sama dengan butik Bunda." Gladys.


"Di keluarkan?" Rehan, Gagah.


"Maaf Kak. Apa boleh Glad ceritakan?" Gladys.


Laras pun menunduk pasrah dengan keadaan yang dihadapinya. Kemudian dengan gamblang Gladys menceritakan kejadian yang menimpa Laras pada semua keluarganya.


"Lalu, yang tadi siang itu Ayah dan Ibu kamu Ras?" Gagah.


Laras menatap Gagah dengan manik mata yang sendu kemudian menganggukkan kepalanya lemah.


"Kalian bertemu dengan orang tua mu Ras?" Ayumi.


"Iya Bun." Laras.


"Mereka mengira kita satu keluarga dan Laras hamil di luar nikah sampai menghasilkan Keina." Gagah.


"Hei, kenapa bawa-bawa anak Oncle?" Ken.


"Karena Keina bersama dengan Gagah Oncle." Gagah.


"Kenapa bisa begitu?" Ken.


"Karena anak oncle tidak mau mengganggu Mommy dan Daddy nya bermesraan di kantor." Gagah.


"Ceh, kau ini. Seperti yang sudah berpengalaman saja." Ken.


"Apa lagi." Gagah.


Sementara Tita wajahnya bersemu merah malu. Laras hanya diam menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian tidak menikah betulan saja?" Tuan Ito.


"Opa!!" Teriak semuanya kompak.


"Buktikanlah pada keluarga mu jika kamu mampu berdiri dan menjadi nyonya dokter tanpa harus menjadi dokter." Tuan Ito.


"Ga bisa gitu aja dong Opa." Ken.


"Kenapa tidak? Jika keluarganya saja sudah dengan sangat tega membuangnya dari keluarganya bahkan menelantarkannya." Tuan Ito.


"Ya tidak begitu juga Opa." Gagah.

__ADS_1


"Apa?" Tuan Ito.


"Menikah kan juga harus ada tatak ramanya sayang." Nyonya Laura.


"Kamu masih memiliki keluarga dari Ayah biologis mu?" Tuan Ito.


"Tidak Opa. Ayah anak tunggal di keluarganya." Laras.


"Apalagi yang kalian tunggu. Gelar acaranya semewah mungkin dan undang mereka." Tuan Ito.


"Tapi, Gagah masih sekolah Opa." Bela Gagah.


"Kau saja sekarang bisa membagi waktu mu bersekolah, bekerja di rumah sakit dan mengasuh Keina." Tuan Ito.


Semua pun hanya bisa diam dengan ucapan Tuan Ito.


"Maaf Opa. Sebelumnya Laras sangat berterima kasih kepada semuanya karena sudah bisa menerima Laras dengan baik di keluarga ini. Tapi, biarkan saja Laras hidup dengan kehidupan Laras sekarang. Laras tidak ingin membebani siapapun." Ucap Laras menolak halus keinginan Tuan Ito.


Walaupun terselip ras kagum pada Gagah namun, Laras lebih tau diri dengan statusnya. Dirinya merasa tidak pantas masuk kedalam keluarga Ito.


Ayumi mengusap lembut tangan Laras dengan mata yang berkaca-kaca. Laras menatap lembut Ayumi yang berada di sampingnya.


"Terima kasih Bunda sudah menerima Laras. Tapi, Laras tidak ingin membuat keluarga ini malu dengan kehadiran Laras. Begitu juga dengan Dokter Gagah. Dokter Gagah pantas mendapatkan orang yang lebih baik dari Laras." Laras.


Gagah menatap dalam Laras yang tengah berbicara pada Bundanya. Ada sedikit nyeri di hatinya ketika Laras mengatakan hal itu. Sedangkan dirinya pun tak tau harus berbuat apa.


Selama ini dirinya tak pernah berpacaran dengan siapapun. Hanya sekedar manaruh rasa kagum dan suka saja sih pernah dialaminya. Tapi, menikah bahkan dengan orang yang baru di kenalnya dirinya tak dapat membayangkannya.


"Gah, Oncle dan Onty hanya beberapa kali bertemu dan bahkan di setiap pertemuan itu Oncle dan Onty tak pernah banyak berbicara. Tapi, kami bisa melewatinya bersama. Asalkan mau saling terbuka Oncle yakin semua akan baik-baik saja." Ken.


Kemudian Tita mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan menghubungi Arif asisten pribadinya dan meminta bantuannya untuk Laras resign dari toko buku yang berada di mall milik keluarganya.


"Laras Prastiwi." Laras.


Kemudian Tita kembali berbicara dengan Arif. Setelah selesai Tita pun memutuskan panggilannya. Ken mengusap lembut punggung Tita.


Sementara Laras tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Dirinya bahkan di berhentikan oleh pemilik mall langsung.


"Jangan khawatir Kak. Kakak tidak akan kehilangan apapun." Gladys.


πŸ“±Tita


Halo Tari, kamu pergi ke kos Laras dan ambil semua barang miliknya dan antarkan ke rumah utama.


πŸ“±Tari


Baik Bu.


"Kau percaya Kak. Jika Onty adalah orang nomor satu dan Oncle nomer dua." Gladys.


Pletak


"Sembarangan ngomong." Ken yang berhasil mendaratkan tangannya di kening Gladys yang duduk tak jauh darinya.


"Aww,, sakit Oncle." Gladys.


Keina yang berada dj pangkuannya terkekeh melihat Kakaknya kesakitan.


"Eh, bocah ngetawain lagi." Gladys.

__ADS_1


Laras menatap nanar ke arah Gagah. Gagah merasa tak tega melihatnya. Apalagi keluarganya menaruh haraoan besar padanya agar membantu Laras dari keterpurukannya.


Saat suasana hening datang bibi memberitahukan semuanya jika ada tamu datang.


"Maaf Mba Gladys, ada Mas Angga di depan." Bibik.


"Minta dia masuk saja Bi." Jawab Rehan.


"Ayah." Gladys.


"Apa sih Glad." Ayumi.


Gladys pun pasrah saja membiarkan Angga masuk di saat kegentingan terjadi di dalam rumah itu. Angga pun masuk dan menyapa semuanya penuh hormat kemudian duduk di sofa samping Gagah.


Dirinya merasakan keanehan pada situasi di sana. Angga merasa dirinya kurang tepat datang ke rumah itu.


"Angga," Rehan.


"Iya." Jawab Angga.


"Kamu serius dengan Gladys?" Rehan.


"Hah! Eh, maksudnya?" Angga.


"Kalo kamu serius bawa orang tua kamu ke sini untuk melamar Gladys." Tuan Ito.


Glek


Angga menelan ludahnya. Angga menatap ke arah Gladys sementara Gladys berpura-pura tak melihahnya.


"Gimana? Lusa Saya tunggu orang tau kamu datang ke sini untuk melamar Gladys." Rehan.


"Ayah, Glad masih sekolah loh." Gladys.


"Kau tidak iri pada Laras yang bisa menjadi Nyonya dokter." Nyonya Laura.


"Heh, tidak bisa begitu dong Oma." Gladys.


"Bisa. Sudah kau diam saja." Nyonya Laura.


"Hubungi penghulu Han." Tuan Ito.


"Sudah Yah. Besok bisa." Rehan


"Besok." Pekik Angga dan Gagah.


"Besok Pernikahan Laras dan Gagah. Jangan membantah lagi. Resepsi segera Bunda siapkan. Dan Kau Angga, datang dan bawa orang tuamu lusa." Rehan.


"Ayah.." Gladys.


"Setelah kamu menikah Ayah tak perlu lagi membiayai kamu kuliah Glad. Semua akan di ambil alih Angga." Ucap Rehan tertawa.


"Ayah! Apa kau sudah bangkrut dengan hanya menguliahkan ku dan Kakak?" Gladys.


"Tidak. Tapi, uang Ayah dan Bunda akan semakin banyak setelah tidak membiayaimu lagi." Canda Rehan.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2