
Di rumah sakit setelah Dokter Rehan melakukan operasi Suster Mega menanyakan kabar Tita padanya. Mega berencana akan mengunjungi Tita sepulang kerja nanti.
"Dok, bagaimana kabar Tita?" Mega.
"Baik. Hanya saja Tita lebih manja pada Ken semenjak hamil." Rehan.
"Wah, kerepotan dong Dok Tuan Ken?" Mega.
"Kamu salah suster. Ken malah lebih memanjakan Tita. Dia tidak merasa risih ketika Tita terus menempel padanya bagai baby koala." Rehan.
"Serius Dok?" Mega.
"Hm... Begitulah. Sebelumnya saya lihat juga Tita lebih manja pada Ken dan setelah menikah semakin manja dan hamil ini lebih-lebih lagi manjanya." Rehan.
"Siapapun tidak akan mempercayai omongan anda Dok." Ucap Mega tersenyum.
"Rencananya setelah lepas piket saya akan ke rumahnya Dok." Mega.
"Jangan." Rehan.
"Kenapa Dok?" Mega.
"Jangan pake pakaian begini Suster." Rehan.
"Hah! Kenapa?" Mega.
"Tita akan marah jika ada yang berbau rumah sakit. Bahkan ada yang membicarakan rumah sakit saja Tita akan marah bahkan sampai menangis." Rehan.
"Memang anak pengusaha bayi dalam perut Tita itu Dok." Ucap Mega menggelengkan kepalanya.
Sampai di ruangan mereka Dokter Rehan masuk ke ruangannya untuk beristirahat. Mega dan Joko mengerjakan pekerjaannya masing-masing begitupun yang lainnya. Beberapa laporan meminta mereka untuk segera menyelesaikannya.
Akhirnya Mega pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan akan mengunjungi Tita bersama suami dan kedua anaknya malam nanti. Sebenarnya ingin sekali Mega berdiskusi tentang pekerjaan bersama Tita yang sangat cepat dalam menyelesaikan kasus.
Hanya saja Mega harus mengurungkan niatnya mengingat apa yang di katakan Dokter Rehan. Mega pun hanya akan melepas rindu dengan partner kerjanya itu.
Tita dan Ken datang bersama dengan Tita yang terus bergelayut pada lengan Ken.
"Sore sayang? Gimana Cucu Oma ga rewel kan ikut kerja sama Daddy?" Sapa Nyonya Laura saat melihat kedatangan Ken dan Tita.
"Ngga Oma." Jawab Ken.
"Pinter. Sekarang istirahatlah dulu. Pasti Mommy sama baby juga capek ikut Daddy kerja." Nyonya Laura.
__ADS_1
"Oke Oma." Tita.
Tita dan Ken pun naik dan masuk kedalam kamar mereka. Ken mendudukan dirinya di sofa untuk membuka sepatunya Tita pun ikut duduk dan membuka flat shoes nya.
"Cape?" Ken.
"Mau mandi terus bobo Mas." Rengek Tita.
"Kita mandi tapi setelah itu kita makan dulu ya baru bobo." Bujuk Ken.
"Mau di suapi Ibu." Tita.
"Boleh. Nanti kita minta Ibu suapi kesayangan Mas ini ya." Ken.
Mereka pun mandi bersama dan tak hanya itu Ken meminta jatah pembukaan pada Tita sebelum eksekusi jenguk bayi malam nanti. Semenjak kehamilannya Tita selalu meminta jatah setiap malam.
Entah karena hormon kehamilannya atau apapun itu yang pasti Ken pun sangat menyukainya.
Setelah mandi Ken bersantai bersama keluarganya di ruang keluarga. Tita terus mengikuti kemanapun Nyonya Laura melangkah. Bahkan Tita merengek minta ini dan itu pada Nyonya Laura. Nyonya Laura pun akan segera memberikan apa yang Tita inginkan.
Nyonya dan Tuan Ito itu begitu menyayangi menantunya itu. Nyonya Laura selalu mendahulukannya. Begitupun Tuan Ito. Karena mereka tau jika Tita tak mendapatkan kasih sayang orang tua sejak kecil. Hanya kasih sayang seorang tante dan kakak.
Saat mereka semua bersantai terdengar ketukan di pintu utama. Bibi pun segera membukanya dan melihat siapa yang datang. Ternyata Mega dan keluarga.
"Mari silahkan Nyonya, Tuan." Bibik mempersilahkan Mega masuk.
"Maaf Nona ada Nyonya Mega dengan keluarganya." Bibi.
"Kak.Mega." Teriak Tita bangkit dari duduknya dan langsung berlari kedepan.
"Jangan lari." Ucap Ken, Tuan dan Nyonya Ito bersamaan.
"Kak. Mega." Tita menghambur memeluk Mega.
"Apa kabar nih bumil? Sehat dong ya?" Mega.
"Sehat dong Kak. Ih,, dede bayinya lucu banget Kak." Tita menatap bayi dalan gendongan Mega.
"Makasih Onty..." Mega.
Kemudian Tita pun menyapa suami dan anak pertama Mega. Ken, Tuan dan Nyonya Ito pun menyusul Tita menemui keluarga Mega.
Mereka semua bercengkrama bersama dengan celotehan anak pertama Mega yang begitu polos. Tita melupakan kehamilannya. Tita begitu senang dengan kedatangan Mega dan keluarganya.
__ADS_1
Hingga masuk jam makan malam. Nyonya Laura pun mengajak mereka semua makan malam bersama. Seperti permintaan Tita sebelum mandi Tita pun makan dengan di suapi oleh Nyonya Laura.
"Onty kaya Kakak mam nya di suapi." Anak sulung Mega.
"Hm.. Enak bukan?" Tita.
Dan di angguki oleh anak sulung Mega dengan mengacungkan ibu jarinya. Tita pun membalas mengacungkan ibu jarinya pada anak sulung Mega.
Mereka pun menyelesiakan makannya. setelah Itu mega dan keluarga pun berpamitan karena sudah terlalu larut. Mega senang mihat Tita baik-baik saja.
Sementara di belahan bumi lain Jessie dan Aldi tengah menikmati liburannya tanpa gangguan dering ponsel. Karena baik Aldi maupun Jessie dengan sengaja memasang mode senyap di ponselnya.
Aiko tampak kesal sepulang dari rumah Jessie karena semua pekerja di sana dengan kompak mengatakan tidak tau kemana Tuan dan Nyonya nya pergi. Mereka bukan sekongkol melainkan mereka memang tak mengetahuinya sama sekali.
Aiko membelokkan mobilnya ke kediaman Ito karena menurutnya Ayah nya pasti tau dimana Jessie berada. Karena selama ini Ayahnya selalu menyembunyikan Jessie ketika Jessie merajuk padanya.
Suasana rumah sudah hening karena sepulangnya Mega dan keluarga semua kompak masuk kamar.
"Dimana Ayah Bi?" Tanya Aiko pada Bibi yang membukakan pintu untuknya.
"Tuan dan Nyonya ada di kamar Nyonya." Bibi.
Aiko pun segera menuju kamar Tuan dan Nyonya Ito. Aiko mengetuk pintu dengan tidak sabar. Tuan dan Nyonya Ito yang baru saja merebahkan tubuhnya pun merasa kaget dengan bunyi ketukan di pintu kamarnya.
Nyonya Laura segera bangkit khawatir terjadi sesuatu dengan Tita. Mengingat Tita begitu manja belakangan ini. Namun, Nyonya Laura menghembuskan nafasnya ketika melihat Aiko lah yang berada di depan kamarnya.
"Ada apa? Apa kamu tidak tau sudah jam berapa sekarang?" Nyonya Laura.
"Dimana Ayah? Dimana Ayah sembunyikan Jessie?" Berondong Aiko pada Nyonya Laura.
"Apa kamu tidak memiliki sopan santun Aiko? Apa kamu juga lupa jika anak mu itu sudah berumah tangga?" Nyonya Laura tegas.
Mendengar istrinya marah-marah Tuan Ito pun menghampiri istrinya dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya malam-malam.
"Aiko tidak lupa Bu. Tapi, siapa lagi yang sering menyembunyikan Jessie jika dia merajuk padaku." Aiko.
"Jika kamu tidak lupa lantas mengapa kau tanyakan anak mu pada kami? Tanyakan saja pada suaminya. Kenapa juga dia merajuk padamu? Bukankah dia punya suami tempatnya mengadu." Kesal Nyonya Laura.
Tuan Ito mengusap lembut pundak Nyonya Laura memberinya ketenangan.
"Jessie ingin berpisah dengan Aldi Bu. Katanya Aldi tidak bisa memberikan keturunan. Aiko memarahinya karena fikiran bodoh dia itu." Aiko.
"Kau atau Anakmu yang menginginkan pernikahan itu selesai?"
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏