Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Harus Siap


__ADS_3

Semakin hari Zizi dan Damar semakin dekat. Melan dan Abi pun merestuinya. Mereka tak ingin membuat Zizi malah tertekan hidup bersama dengan Andre. Melan dan Abi berlapang dada menerima Kinan yang sudah menjadi kekasih dari putra mereka.


Keina mengalah untuk menikah setelah Zio. Karena Olla tak ingin Zio terlangkahi. Tapi, setelah melihat Zizi pendekatan dengan Damar akhirnya Olla pun legowo untuk Keina lebih dulu menikah dengan Daren.


Sekuat apapun Olla mencegah agar Zio tak terlangkahi mungkin Zayn yang akan terlangkahi oleh Zizi mengingat Damar yang sudah cukup dewasa.


"Sudah sampai mana persiapannya Kein?" Gladys.


"Hm... Delapan puluh persen lah Kak." Keina.


"Gaunnya sudah selesai?" Gladys.


"Minggu depan fitting terakhir di butiknya Buna." Keina.


"Syukurlah. Deg degan ngga sih Kein?" Gladys.


"Banget Kak. Padahal udah berusaha di netral-netralin tapi tetep ngga bisa. Tetep kefikiran aja." Keina.


"Hai... Hai..." Sapa laras yang baru saja datang.


"Kemana aja kok baru nongol." Keina.


"Sori... Jalanan macet." Laras.


"Ceh kebiasaan." Gladys.


"Zizi mana?" Laras.


"Belum datang. Dia lagi daftar kampus dulu." Keina.


"Eh, iya dia deket sama anaknya Cipta Grup?" Gladys.


"Tau dari mana?" Keina.


"Kemarin ketemu di mall." Gladys.


"Iya. Mami Melan yang kenalin mereka." Keina.


"Loh bukannya Onty Melan jodohin Zizi sama Andre ya?" Laras.


"Iya. Tapi Andre selalu nolak. Terus terakhir pas Zizi cidera kakinya terkuaklah tentang apa perlakuan Andre pada Zizi." Keina.


"Siapa yang bongkar?" Gladys.


"Zizi sendiri cerita pada Mami Melan sama Papi Abi.". Keina.


"Waw! Salut. Bagus itu. Jangan takut mengatakan kebenaran." Laras.


Mereka bertiga pun berbincang ala emak-emak. Tita pun ikut bergabung bersama mereka. Saat keempatnya asik berbincang di taman samping terlihat mobil memasuki mansion. Laras dan Gladys spontan memperhatikan mobil yang asing bagi mereka.


"Mobil siapa?" Laras.


"Damar." Tita.


"Apa!"


Teriak Gladys dan Laras membuat Tita dan Keina menutup telinganya.


"Aish... Bisa ngga teriak ngga sih." Protes Keina.


"Sori.." Ucap Laras dan Gladys.


Tak lama Zizi pun turun di ikuti Damar di belakangnya. Begitulah Damar. Dia akan turun dan berpamitan kepada Tita atau Keina saat mengantarkan Zizi ke mansion. Begitu juga jika dirinya mengantarkan Zizi kerumah. Damar akan berpamitan terlebih dahulu pada Olla dan Abi.


"Siang Tante." Sapa Damar pada Tita.


"Siang. Sudah selesai?" Tita.


"Sudah Tan." Damar.


"Mar, kenalkan ini sepupu-sepupu Keina dari Om." Ucap Tita memperkenalkan Laras dan Gladys.


"Halo semuanya. Saya Damar." Sapa Damar.

__ADS_1


"Laras."


"Gladys."


"Hm... Kak Laras istrinya dokter Gagah ya?" Tanya Damar yang mengenal Laras.


"Kau mengenalnya?"Gladys.


"Kita pernah bertemu saat acara rumah sakit." Damar.


"Ah, maaf saya tidak terlalu mengingat." Laras.


"Tidak masalah Kak. Saya juga mengenal Kak Gladys. Kakak istri Dokter Angga kan?" Damar.


"Astaga! Dunia begitu sempit. Maafkan kami ya. Kami tidak terlalu memperhatikan lawan jenis." Gladys.


"Saya maklum Kak. Untuk apa melirik yang lain jika yang di depan mata sudah sempurna." Damar.


"Setuju." Keina.


"Eh, nyamber aja." Gladys.


"Zi, kamu ga nyuruh Damar duduk?" Tita.


"Hehehe... Duduk Kak." Zizi.


"Ngga usah Tan. Damar mau lanjut ke kantor ada meeting satu jam lagi." Pamit Damar.


"Yaah... Sayang sekali." Gladys.


"Lain kali saja Kak." Damar.


"Hati-hati di jalan Mar." Tita.


"Ya Tan." Damar.


Zizi mengantarkan Damar hingga ke dekat mobilnya. Sambil bersenda gurau.


"Nanti sore Kakak jemput lagi ya." Damar.


"Tidak ada kata repot untuk kamu." Damar.


Blush...


"Zizi terserah Kakak saja." Zizi.


"Ya udah Kakak ke kantor dulu ya." Damar.


"Iya. Hati-hati." Zizi.


Mereka berdua tak menyadari ada empat pasang mata yang tengah memperhatikan keduanya. Setelah mobil Damar meninggalkan mansion Zizi membalikkan badannya mengarah ke taman dan langkahnya terhenti kala melihat pandangan penuh selidik dari saudara sepupunya dan juga Tita.


Zizi menetralkan hatinya dan berusaha bersikap biasa walau dirinya tau begitu banyak pertanyaan yang akan terlontar dari ke empat wanita tersebut. Zizi mendudukkan dirinya di samping Tita mencari aman dari serangan ketiga sepupunya.


"Kau sudah pacaran ya?" Gladys.


"Tidak." Zizi.


"Ceh, jangan di tutupi lagi Zi." Laras.


"Kami tidak pacaran Kak. Tapi, Kak Damar memang perhatian pada Zi." Zizi.


"Kau ada rasa padanya?" Laras.


"Zizi ngga tau?" Zizi.


"Astaga! Zizi. Kau nyaman dekat dengan dia?" Keina.


"Nyaman. Dan itu juga membuat Zi takut." Zizi.


"Takut kenapa?" Tita.


"Takut jika Kak Damar hanya menganggap Zi adik baginya." Zizi.

__ADS_1


"Kamu pernah ke rumahnya?" Laras.


"Pernah beberapa kali." Zizi.


"Bagaimana respon keluarganya?" Laras.


"Baik. Bahkan dengan adiknya kita sering jalan." Zizi.


"Kandung?" Gladys.


"Tentu." Zizi.


Mereka berbincang hingga tak terasa waktu makan siang pun tiba. Daren dan Ken tak seperti biasanya keduanya pulang untuk makan siang di rumah. Tita terkejut ketika mobil suaminya memasuki halaman mansion.


"Kenapa Daddy sudah pulang?" Tita.


"Astaga! Ini sudah jam makan siang Mom." Keina.


"Nah, ada Daren juga." Gladys.


"Aduh, kau tanyakan pada Bibi Zi apa makan siang sudah siap?" Titah Tita.


"Baik Onty." Zizi.


Sementara Tita dan Keina menyambut kedatangan Ken dan Daren.


"Hai sayang." Sapa Ken dan mencium kening Tita.


Daren hanya melirik dan tersenyum pada Keina.


"Tumben Daddy dan Abang pulang?" Keina.


"Kami ingin makan siang di rumah bersama kalian." Ken.


"Tapi maaf Mas. Kami terlalu asik mengobrol hingga melupakan makan siang." Tita.


"Tidak masalah sayang. Bukankah di rumah ini terdapat koki yang sudah kita bayar." Ken.


"Tapi, aku ga enak tidak menyiapkan makan siang untuk mu." Tita.


"Jangan bersedih siapapun yang menyiapkan makan asalkan kau ada di samping Mas itu sudah cukup." Ken.


"Ceh, Daddy gombal." Keina.


"Kau sepertinya kurang bergombal pada calon istrimu itu Dar." Ken.


"Sepertinya begitu Dad." Daren.


"Ceh, kalian bersekongkol." Keina.


"Sudah. Ayo masuk. Ada Glad, Laras juga Zizi di dalam." Tita.


Mereka berempat pun langsung menuju meja makan untuk menyantap makan siang mereka. Suasana di ruang makan pun hening hanya terdengar denting sendok dan piring beradu. Tita dengan telaten melayani Ken begitu juga dengan Keina yang mulai terbiasa melayani Daren.


"Kau sudah mendaftar kuliahmu Zi?" Tanya Ken setelah menyelesaikan makannya.


"Sudah Oncle. Tadi pagi sudah mendaftar ulang." Zizi.


"Kau tidak berniat untuk menikah sambil kuliah?" Ken.


"Hah! Zizi belum berfikir ke sana Oncle."Zizi.


"Kau harus mempersiapkannya Zi. Kekasih mu sudah dewasa dan pastinya dia tidak main-main dengan mu." Ken.


Zizi melirik Daren dan Daren mengerti akan tatapan Zizi.


"Kau tidak perlu sungkan Dek. Kami ada di pihak mu. Mami dan Papi pun pasti akan setuju jika kalian menikah dalam waktu dekat." Daren.


"Kami belum membicarakannya sejauh itu." Zizi.


"Jika ada pembicaraan mengarah ke sana Oncle harap kau sudah menyiapkan jawaban yang tepat." Ken.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2