Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Mendadak


__ADS_3

Selepas pulang kerja seperti biasa Bunga membantu ibunya di warung kecil-kecilan yang ibu Bunga miliki. Setelah isya seperti biasa Bunga menutup warung ibunya berdua bersama Ibunya juga tentunya.


Mereka bersenda gurau seperti biasa walau gurat lelah terpancar dari keduanya. Setelah itu mereka berdua menikmati makan malam sederhana ala mereka berdua. Walau dengan lauk seadanya asal perut terisi.


Lain halnya di mansion. Kericuhan terjadi lantaran Daren mendadak ingin melamar seorang gadis. Ken bertanya beberapa kali apa Daren yakin dengan pilihannya dan jawaban yang sama pula di lontarkan Daren.


Olla yang baru saja mendapatkan dua cucu sekigus dari putri bungsu dan menantunya pun tak kalah di buat kalang kabut oleh Daren Durant. Pasalnya hanya tinggal mereka saja keluarga dari Mikha.


Dengan cekatan Keina membuat kue untuk hantaran dan menghias hantaran-hantran yang akan di bawa oleh mereka di bantu Intan juga tentunya. Mereka berdua berkolaborasi dengan apik membuat hantaran kilat.


Setelah semua selesai mereka pun segera menuju rumah Bunga dengan bekal alamat yang di berikan Gagah tentunya. Karena Gagah sebagai direktur rumah sakit membuatnya dengan mudah mendapatkan informasi tentang Bunga.


Hanya Ken, Tita, Olla dan Tanio yang ikut serta dalam acara lamaran Daren dan Bunga. Bunga yang baru saja merebahkan dirinya di atas kasur kesayangannya merasa terusik dengan suara mobil dan ribut-ribut di depan rumahnya.


Bersamaan Ibu Bunga dan Bunga keluar dari kamar mereka. Keduanya saling pandang seolah menyiratkan beberapa pertanyaan di antara keduanya.


"Siapa Nak?" Ibu Niken.


"Bunga ngga tau Bu." Bunga.


Tak lama terdengar suara ketukan dari luar rumah mereka. Ibu Niken keluar dengan mengenakan pakaian seadanya begitu juga dengan Bunga yang masih mengenakan piyama tidur lengan pendek dengan gambar hello Kitty.


"Selamat malam Bu Niken. Permisi saya mengantarkan tamu Bu Niken." Ucap Pak RT membuka suaranya.


"Eh, iya Pak. Mari silahkan masuk." Ucap Ibu Niken.


Deg...


"Astaga! Pria ini." Batin Bunga.


"Aduh, kok cakep-cakep bener yang datang. Sampe bule juga ikutan ada apa ya." Batin Bu Niken penuh tanya.

__ADS_1


"Maaf kursinya seadanya." Ucap Bu Niken melihat hanya para wanita yang duduk dan para pria berdiri.


"Tidak apa-apa Bu. Maafkan kami juga datang secara mendadak membuat Ibu dan Bunga kaget tentunya." Olla.


"Iya. Jujur saya bingung ada apa ya ini sebenarnya? Apa ada masalah dengan anak saya?" Tanya Bu Niken yang melihat Bunga hanya menundukkan kepalanya.


"Ah, tidak Bu. Tidak ada masalah dengan anak Ibu. Sebelumnya perkenalkan saya Olla dan ini suami saya Tanio Martin. Ini adik kami Tita Martin dan ini suaminya Kenzo Ito. Yang anda lihat mungkin orang asing ini adalah sepupu suami saya Mikha Durant dan ini istrinya Angel Durant. Dan ini anak dari sepupu suami saya Daren Durant." Ucap Olla memperkenalkan semua keluarganya.


"Ah, iya. Saya Niken ibunya Bunga. Kami hanya berdua karena Ayah Bunga sudah meninggal. Dan kebetulan Bunga anak tunggal saya." Ibu Niken.


"Kami meminta maaf sebelumnya karena mengejutkan ibu dan pak RT. Karena jujur kami pun sama terkejutnya dengan kalian. Karena secara mendadak keponakan kami Daren meminta kami untuk meminang putri Ibu Bunga siang tadi." Jelas Olla lagi.


Deg....


Bunga menengadahkan wajahnya terkejut mendengar penuturan Tante Daren. Dia fikir Daren hanya bercanda dengan ucapannya nyatanya dia tidak main-main. Bunga di buat kalang kabut dengan pernyataan Tante Daren.


Olla bertugas sebagai pembicara menghormati Ibu Bunga yang hanya seorang single parent. Dan Itu di mengerti oleh Ken, Tanio dan Mikha. Karena begitulah seharusnya walaupun di sana terdapat Pak RT.


"Jadi, saya mewakili saudara sepupu saya yang kebetulan kurang fasih berbahasa meminta Bunga untuk menjadi pendamping anak dari sepupu kami yakni Daren. Bagaimana Nak Bunga apa bersedia? Tentunya atas restu Ibu." Olla.


"Se.. sebelunya kami bermisi sebentar Ibu-ibu, Bapak-bapak. Kami minta waktu untuk berbicara sebentar." Pamit Ibu Niken menyeret tangan putrinya.


"Ah, iya silahkan Bu." Olla.


Ibu Niken pun menarik Bunga masuk kedalam kamarnya. Ibu Niken mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Kemudian mengambil nafas panjang menetralkan emosinya. Pasalnya sejak sore tadi Bunga tak mengatakan apapun padanya perihal ini.


Bunga yang mengerti akan sikap Ibunya pun duduk bertumpu pada lututnya di hadapan sang Ibu. Bunga membenamkan wajahnya di atas pangkuan Ibu Niken.


"Bunga minta maaf Bu. Bunga pun tak mengetahui jika mereka akan datang malam ini." Ucap Bunga.


Ibu Niken menatap dalam mata Bunga mencari kebohongan di sana namun hanya ada kejujuran di sana.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin kamu tidak mengetahuinya?" Tanya Bu Niken.


Bunga pun menceritakan pertemuannya dengan Daren siang tadi yang berujung dengan permintaan Daren menjadikan dirinya untuk menjadikan Bunga istrinya. Ibu Niken hanya diam tanpa mencela cerita Bunga.


"Lantas bagaimana ini Nak? Sepertinya keluarga dia berharap besar padamu." Ibu Niken.


"Tapi, Bunga baru saja mengenalnya Bu." Bunga.


"Ibu tidak tau siapa mereka tapi, ibu melihat jika mereka bukan orang jahat. Tapi, apakah mereka satu iman dengan kita? Bukankah Ibu dan Ayahnya bule?" Ibu Niken.


"Bagaimana Bunga bisa tau Bu. Bunga saja baru bertemu dengan dia siang tadi." Bunga.


"Jika mereka satu iman dengan kita Ibu merestui kamu karena ini merupakan garisan Tuhan. Tapi, jika mereka tidak satu iman ibu tidak akan merestuinya jikapun kamu mencintainya Nak." Ibu Niken.


"Jika mereka satu iman dengan kita berarti Bunga harus menerimanya Bu?" Bunga.


"Tidak. Ibu hanya mengatakan jika Ibu merestui. Urusan menerima itu urusan kamu." Ucap Ibu Niken beranjak.


"Ibu..." Rengek Bunga.


"Sudahlah. Fikirkan cepat. Kita tidak mungkin membiarkan mereka menunggu kita terlalu lama." Ucap Ibu Niken berlalu keluar kamar.


Bunga mematung sebentar kemudian keluar dari kamar menyusul Ibu Niken. Ibu Niken meminta maaf pada tamunya karena sudah membuat mereka menunggu lama. Karena jujur Ibu Niken tak tau harus menjawab apa tadi.


"Maaf sebelumnya Nak Daren jika Ibu kurang sopan. Apa Nak daren satu iman dengan kita?" Tanya Ibu Niken ragu-ragu.


"Alhamdulillah iya Bu. Ayah dan Ibu saya mualaf sudah sejak saya kecil. Saya pun ikut berkeyakinan seperti kedua orang tua saya. Walaupun saya sempat kembali pada keyakinan saya sebelumnya tapi, sudah satu tahun saya kembali berkeyakinan sama dengan kedua orang tua saya." Jelas Daren.


"Syukurlah." Ibu Niken.


"Jadi, bagaimana Nak Bunga? Apa lamaran keponakan kami Daren di terima?" Olla.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2