Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Selamat Keina


__ADS_3

Tita pun menghampiri putrinya yang tengah menangis dan terduduk di lantai. Sementara Ken menanyakan keberadaan Daren pada para pelayan dan tak satu pun yang melihatnya keluar dari kamar.


"Sayang, putri cantiknya Mommy kenapa hm? Sini Mommy peluk." Ucap Tita membawa keina dalam pelukkannya.


"Mom... Abang Mom... Kein mau Abang huhuhuuu...." Ucap Keina di sela tangisannya.


"Sssttt.... Iya. Sebentar ya. Daddy panggilkan Abang." Bujuk Tita.


"Astaga! Ini tidak salah lagi." Batin Tita.


Saat semua panik mencari Daren tiba-tiba Daren keluar dari kamar dengan keadaan panik mencari Keina. Daren tampak segar sepertinya Daren baru selesai mandi.


"Bibi, lihat Keina?" Tanya Daren.


"Tuan! Huh... Syukurlah. Nyonya Keina menangis sejak tadi di bawah." Bibi.


"Hah! Makasih Bi." Ucap Daren segera turun.


"Astaga! Dari mana kamu Ren?" Tanya Ken.


"Mandi Dad." Jawab Daren.


"Ngapain mandi siang-siang?" Ken.


"Gerah Dad." Jawab Daren singkat.


Daren pun segera menghampiri Keina yang tengah menangis dalam pelukkan Tita yang terduduk di lantai.


"Sayang," Panggil Daren.


"Abang huhuhuuu...." Panggil Keina melepaskan pelukkannya pada Tita kemudian beralih pada pelukkan Daren.


"Ssstt... Abang di dalam kamar mandi sayang. Maaf ya Abang tidak bilang. Karena Abang fikir sayang masih tidur tadi. Udah ya nangisnya." Bujuk Daren.


Tanpa di minta air mata Tita menetes begitu saja melihat perlakuan Daren pada putri sulungnya. Perasaannya begitu menghangat melihatnya.


"Mommy akan minta bibi menyiapkan makan siang untuk kita." Tita.


"Keina mau opor Mom." Pinta Keina.


"Opor!" Ucap Daren dan Tita bersamaan.


"Kenapa? Tidak boleh ya?" Tanya Keina yang bersiap akan menangis kembali.


"Ti... Tidak sayang. Mommy akan minta bibi membuatkannya." Jawab Tita panik.


Tita pun segera ke dapur dan meminta bibi membuatkan opor seperti permintaan Keina barusan. Daren membawa Keina dalam gendongannya. Ken hanya diam menatap anak dan menantunya.


"Ren," Panggil Ken dan memintanya duduk di sofa.


"Tidak apa-apa Dad. Biarkan seperti ini dulu.." Daren.


Daren menggendong Keina seperti koala. Ken merasa kasian melihatnya dan memintanya untuk duduk dan membiarkan Keina di pangkuannya saja. Dan Ken mengerti kenapa Daren mandi dia siang bolong. Karena Daren pasti sangat kelelahan terus menggendong Keina.


Setelah opor siap mereka berempat pun duduk di meja makan untuk menikmati makan siang mereka. Walau sedikit terlambat karena pesanan opor yang mendadak tapi mereka tak mempermasalahkan.


Keina melahap opornya hingga tandas bahkan menambahkannya dua kali. Ken dan Tita saling bertatapan Tita mengulas senyum manisnya sementara Ken memasang wajah heran. Begitu juga dengan Daren yang merasa ada yang aneh dengan sikap Keina.


"Bang,,," Panggil Keina.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" Jawab Daren yang masih menyelesaikan makannya.


"Mau jus.". Pinta Keina manja.


"Mau jus apa sayang? Biar Bibi buatkan." Tita.


"Mangga." Keina.


Tita pun segera meminta bibi membuatkan jus mangga pesanan Keina. Bibi pun kelabakan karena stok mangga di dapur habis. Salah satu bibi pun segera ke supermarket terdekat untuk membeli mangga.


Bibi sampai dengan nafas tersengal karena terburu-buru. Dan bibi yang lain segera membuatkan jusnya. Saat bibi menuju meja makan dan hanya membuatkan satu gelas jus Keina cemberut.


"Kenapa sayang? Itu bibi ambilkan jus pesanannya." Ucap Daren mengusap lembut kepala Keina.


"Kenapa cuma satu." Bisiknya.


Daren sedikit kaget namun dirinya tak begitu menampakkannya karena sudah bisa di pastikan Keina akan kembali menangis.


"Hm... Sayang mau berapa?" Tanya Daren lembut.


Keina pun menjawab dengan mengangkat jari tangannya.


"Baiklah. Minum yang ini dulu biar bibi ambilkan sisanya ya." Bujuk Daren.


"Ngga. Kein mau semuanya di sini." Rajuk Keina.


"Baiklah. Tunggu sebentar lagi ya." Daren.


Daren pun meminta dua gelas lagi jus mangga yang Keina inginkan. Ken dan Tita hanya memperhatikannya saja. Tak lama bibi pun membawakan dua gelas jus mangga lagi.


"Terima kasih bi." Daren.


Keina dengan cepat menghabiskan tiga gelas jus mangga dengan cepat. Setelah menghabiskannya Keina bergelayut manja pada Daren.


"Bang, sebaiknya kalian menemui Tante Rini di kliniknya atau di rumah sakit." Tita.


"Untuk apa Mom?" Daren.


"Untuk memastikan. Karena sepertinya Kakak mengalami gejala yang sama seperti Mommy dulu." Tita.


"Kau yakin sayang?" Ken.


"Hmm... Pergilah. Atau mau sore ini?" Tita.


"Jika itu lebih baik kenapa ngga sayang?" Ken.


"Baiklah. Mommy akan hubungi Tante Rini untuk membuat janji dan kalian akan pergi menemuinya." Tita.


Sementara Keina sudah tertidur dalam pelukkan Daren. Daren pun merasa sedikit kesulitan untuk menggendong Keina karena posisi mereka yang masih berada di meja makan. Ken pun dengan sigap membantu Daren.


"Mommy sudah membuat janji dengan Tante Rini. Kalian tinggal datang saja sore ini." Tita.


"Baik Mom. Terima kasih. Semoga ada berita baik." Daren.


"Amin."


Sore hari Daren membujuk Keina untuk mandi karena akan bertemu dengan Dokter Rini. Namun Keina malah merajuk tak mau mandi. Setelah berhasil masuk ke dalam kamar mandi entah apa yang Keina fikirkan dirinya malah bermain sabun layaknya anak kecil.


Daren menarik nafas dalam mengatur emosinya yang terus di buat naik turun oleh Keina sejak pagi tadi. Tita yang tak melihat Daren dan Keina tak kunjung turun pun segera menyusul mereka berdua di dalam kamar.

__ADS_1


"Daren, Keina. Cepat sedikit Nak." Tita.


Daren yang mendengar panggilan Mommy mertuanya segera keluar dengan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.


"Maaf Mom. Tapi, Kein masih main sabun." Ucap Daren menutup dada bidangnya yang terekspos.


"Astaga! Apa yang di lakukannya." Tita.


"Maaf Mom. Daren masih membujuknya." Daren.


"Katakan padanya jika kalian akan membeli es krim dan coklat." Tita.


"Baik Mom." Ucap Daren patuh.


Kemudian Daren kembali menutup pintu kamarnya setelah Tita pergi dari hadapannya. Daren kembali membujuk Keina yang masih asik bermain busa.


"Sayang, sudah main sabunnya ya. Nant masuk angin. Bagaimana kalo kita pergi membeli es krim?" Bujuk Daren.


"Es krim?" Tanya balik Keina.


"Ya. Kamu juga bisa membeli coklat." Bujuk Daren lagi.


"Mau... Tapi, Abang janji ya. Belikan Kein es krim dan coklat.


"Janji sayang. Selepas dari Tante Rini kita beli es krim dan coklatnya ya." Daren.


"No! Kein mau sebelum ke tempat Tante Rini." Rengek Keina.


"Baiklah. Tapi, sekarang kita bilas dulu ya." Daren.


"Oke." Keina.


Dengan sekuat hati menahan hasratnya Daren pun membantu Keina membilas tubuhnya yang penuh dengan sabun. Setelah siap Daren pun meminta bibi untuk membersihkan kamar mandinya yang penuh dengan sabun. Daren khawatir jika kamar mandinya licin dan Keina akan terjatuh.


Sebelum sampai di klinik Daren membelokkan mobilnya ke mini market untuk membeli es krim dan coklat. Dan tanpa di duga Keina membeli lima bungkus es krim dan berbagai macam coklat. Daren tak mempermasalahkannya.


Sampai di klinik Dokter Rini. Perawat yang sudah menunggu mereka pun segera meminta Daren dan Keina masuk ke ruangan Dokter Rini.


"Selamat sore Tante. Maaf menunggu lama." Daren.


"Sore. Tidak masalah. Masuklah." Dokter Rini.


Setelah Daren menceritakan apa yang di alami Keina Dokter Rini pun meminta Daren untuk menidurkan Keina di bed. Daren pun membujuk Keina yang tengah memakan es krimnya.


"Nanti di lanjutkan ya. Sekarang tiduran di sini dulu." Bujuk Daren.


"Untuk apa? Memangnya aku hamil Bang?" Keina.


"Kita lihat dulu ya." Daren.


"Hm... Baiklah." Keina.


Keina memberikan ea krimnya pada Daren. Kemudian dirinya menuju bed tempat usg. Dengan sabar Dokter Rini memeriksa perut Keina. Seulas senyuman tersungging di bibirnya.


"Selamat ya. Ini calon bayi kalian.," Tunjuk Dokter Rini.


"Keina hamil Tan?" Daren.


"Ya. Usia kehamilannya sekarang masuk 8minggu. Selamat ya." Dokter Rini.

__ADS_1


"Terima kasih sayang...."


__ADS_2