Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Keseriusan Tita Saat Bekerja


__ADS_3

Pagi hari mereka semua bersiap untuk pergi ke rumah Aiko menanyakan keadaannya dan bagaimana hasil dari pemeriksaannya kemarin. Tita tak ikut serta karena akan ada pertemuan dengan Tari dan hanya Keina yang di bawa oleh Gladys dan Laras.


Ken dan Tita sudah membicarakan perihal yang terjadi di perusahaan Tita dan telah membuat kesepakatan dan akan di bicarakan Tita pada Tari. Ken pergi ke kantor seperti biasa. Setelah cukup lama semua penghuni rumah keluar barulah Tari datang karena dirinya harus pergi ke perusahaan terlebih dahulu.


Tari memasuki rumah utama dan heran kenapa rumah begitu sepi hanya ada Tita yang terlihat tengah bersantai di ruang utama. Tari pun segera menghampirinya.


"Maaf selamat pagi Bu." Sapa Tari.


"Eh, Pagi. Kita ke ruang kerja saja ya." Ajak Tita.


"Baik Bu." Ucap Tari mengangguk.


Mereka pun berjalan menuju ruang kerja namun sebelumnya Tita meminta Bibi membawakan minum untuk Tari dan beberapa camilan. Mereka sampai di ruang kerja. Tari segera membuka laptopnya untuk melaporkan apa yang terjadi di perusahaan.


"Maaf ini Bu, Emailnya yang kemarin sudah saya kirimkan ke Ibu." Tari.


"Hm... Baiklah. Sebentar saya baca dulu." Jawab Tita.


Dengan khusu Tita membaca laporan yang di bawa Tari. Ketika Tita membaca bibi datang membawa dua gelas minuman dan beberapa camilan. Bibi terlihat mengerutkan keningnya melihat Tita yang begitu khusu membaca pada laptop yang di bawa Tari.


"Terima kasih Bi." Ucap Tari.


"Sama-sama Non. Silahkan di cicipi." Ucap Bibi ramah kemudian berjalan kembali ke luar tanpa ada sepatah kata apapun dari Tita.


Tari menyesap minumannya. Dirinya sudah terbiasa dengan keseriusan Tita saat bekerja namun dirinya tak akan saklek seperti saat di kantor. Saat hanya berdua dengannya atau bertiga dengan Arif Tita akan terlihat lebih santai.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tita.


"Manurut laporan bagian gudang ada pegawai baru Bu." Tari.


"Pegawai baru? Siapa yang merekrut?" Tita.


"Katanya kepala cabang yang memerintahkan dia ke pusat." Tari.


"Alasannya?" Tita.


"Menurutnya dia kompeten dan dia membawa satu karyawan gudang jadi semacam barter Bu." Tari.

__ADS_1


"Hm... Minta Kacab datang besok dan adakan meeting besok pagi." Tita.


"Baik Bu." Tari.


Setelah itu Tita kembali diam dan menelaah lapiran demi laporan yang di lihatnya pada laptop Tari. Karena Tari sengaja tidak membawa laporan berupa fisik di takutkan akan membuat curiga pegawai perusahaan yang nampaknya tengah ada pengintai masuk.


Tidak berbuat banyak karena memang begitu sulit tapi kehadiriannya membuat resah. Dan dia akan menerima akibat dari apa yang di perbuat pada perusahaan. Tari sebenarnya merasa kasihan pada orang tersebut karena sepertinya dirinya tak tau menau tentang masalah yang akan di hadapinya.


Hanya saja tugas tetal tugas Tari dan Arif harus melakukannya karena jika mereka membuat kesalahan maka merekalah yang akan kehilangan pekerjaan tersebut. Sedangkan untuk bisa bekerja di perusahaan itu sangat sulit apalagi menjadi seorang kepercayaan.


"Saya sudah mempelajari semuanya. Kamu kirim file ini pada email saya." Titah Tita.


"Baik Bu." Jawab Tari kemudian Tari memutar laptopnya dan segera mengirimkan email pada Tita.


"Kamu sudah memberitahukan ini pada Pak Tanio?" Tita.


"Belum Bu. Karena saya tidak ingin terlalu gegabah Bu. Sebelum melewati Ibu saya dan Arif tidak berani." Jawab Tari.


"Baiklah. Sampaikan memo ini pada Pak Tanio dan siapkan meeting besok pagi." Titah Tita.


"Baik Bu. Kalo begitu saya permisi ke perusahaan kembali Bu sebelum yang lain curiga kemana saya pergi seharian ini." Pamit Tari.


"Siap Bu." Tari.


Tita dan Tari pun keluar dari ruang kerja melihat Tita dan Tari sudah keluar Bibh segera masuk untuk membersihkan ruang kerja dari minuman dan camilan yang tadi dia bawa. Bibi tak menemukan apapun di ruang kerja selain dua gelas kosong dan cemilan yang dibawanya berkurang.


Bibi baru tau jika Tita akan terlihat garang saat bekerja. Apalagi ini menyangkut perusahaan miliknya. Tita memang jarang ke perusahaan hanya sesekali saja karena merasa sudah cukup di oantai oleh Tanio dan kini bertambah oleh Ken.


Ken menyetujui untuk merentangkan kakinya untuk mengurus perusahaan miliknya dan juga mulik istrinya. Ken tak perlu banyak kegiatan karena laporan akan datang sendiri padanya. hanya saja dirinya perlu sedikit lebih santai dalam menangani keduanya.


Setelah kepergian Tari Tita pun menghela nafasnya kemudian dirinya membawa tablet miliknya dan kembali berkutat di ruang utama sendiri tanpa ada teman dan bekerja dengan khusu.


Tak ada bibi yang berani mendekati dirinya. Sementara di rumah Aiko. Dua bocah kembar dan Keina terjadi keributan memperebutkan es krim yang hanya tinggal satu lagi.


"Unya Eina huhuhuuu.." Tangis Keina pun pecah.


Kedua bocah kembar itu pun tak mau mengalah karena mereka merasa es krim itu milik mereka. Duo A begitu bersikukuh tak ingin membagi es krim yang tinggal satu itu.

__ADS_1


"Sayang. Beri Kakak Keina juga ya sama-sama." Bujuk Jessie.


"No." Jawab keduanya serempak.


"Eh, kok anak Mami pelit." Ucap Jessie.


"Huaa... Mommy..." Tangis Keina pun semakin kencang.


"Aduh kok tumben nih bocah melow." Ucap Gladys.


"Sayang anak Buna kenapa?" Ucap Ayumi menghampiri mereka semua.


"Mommy.... Huaaa... Mommy..." Teriak Keina.


"Aduh... Aduh sini Buna gendong. Keina mau ke Mommy ya? Sebentar ya kita pulang. Mommy masih ada pekerjaan sayang Keina sama Buna dulu ya." Bujuk Ayumi.


Namun Keina terus menangis entah kenapa hatinya begitu sakit saat duo A tak mau membagi es krim dengannya. Padahal itu tak seperti biasanya. Mungkin kali ini hatinya tengah merasakan kegundahan Tita.


"Sayang, nanti Kakak kasih yang baru ya." Bujuk Jessie namun tak di hiraukan Keina.


"Biarkan saja Jess anak-anak memang begitu." Tuan Ito.


"Jessie jadi ga enak Opa. Entah kenapa Duo A bersikal begitu. Padahal itu masih bisa di bagi." Keluh Jessie.


"Biarkan saja Kak Jess. Mungkin Keina lagi sensitif aja." Gladys.


"Tetap Kakak ga enak Glad. Apalagi jika mengingat Ibunya begitu baik pada Kakak. Tapi hanya karena sebuah Es Kakak udah buat anaknya menangis seperti itu." Jessie.


"Namanya juga anak-anak Kak. Nanti juga main lagi bersama." Laras.


"Hmm.... Ya kalian benar." Jessie.


Sementara yang lain sedang bersama Aiko. Artur menjelaskan apa yang di jelaskan oleh Dokter Emanuel kemarin saat pemeriksaan dan dirinya merasa lega karena istrinya mendapat penanganan yang cukup baik di rumah sakit keluarga milik kakak iparnya.


Apalagi mereka mendapatkan penanganan khusus dari tim dokter yang tak main-main. Bahkan keponakannya sendiri ikut turun membantunya. Karena Gagah termasuk dokter yang tak di ragukan lagi kinerja kerjanya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2