
Pagi ini Daren begitu senang karena Keina mengijinkannya untuk pergi ke kantor. Hanya saja dengan syarat Daren harus pergi bersama dengan Daddy nya. Itu tak masalah bagi Daren. Karena pekerjaannya begitu memintanya untuk selalu ada membuat Daren lega.
"Beneran boleh Yang?" Daren.
"Boleh. Tapi sama Daddy ya." Keina.
"Iya. Abang bilang sama Daddy nanti pas sarapan." Daren.
"Maaf ya Bang Kein nyusahin Abang dua bulan ini." Keina.
"Ngga sayang. Abang ngerti kok. Adik pengen sama Papanya terus kaya Mamanya. Jadi kangennya double deh." Goda Daren menjawil dagu Keina.
"Makasih Bang." Keina.
Saat sarapan Ken dan Tita heran melihat Daren sudah siap dengan pakaian kerjanya. Keduanya saling melirik memperhatikan anak dan menantunya.
"Pagi Dad, Mom." Sapa Keina dan Daren.
"Pagi.."
"Kamu ke kantor Ren?" Ken.
"Iya Dad. Mmm... Boleh Ren ikut Daddy?" Daren.
"Maksudnya?" Ken.
"Daren ikut Daddy pergi dan pulang kerjanya." Daren.
Ken melirik Keina sebentar melihat ekspresi putrinya yang juga nampak berharap Ken mengiyakan permintaan Daren. Ken mengerti dengan permintaan Daren.
"Baiklah. Tidak masalah. Daddy sih senang bisa punya supir pribadi jadinya hahahaha..." Jawab Ken santai.
"Tidak masalah Dad. Asalkan Daren bisa ikut Daddy." Daren.
"Baiklah. Selesaikan makan kamu kita berangkat bersama." Ken.
"Terima kasih Dad." Daren.
Dan Ken hanya mengangguk. Keina pun bisa bernafas lega. Tita tak banyak bertanya dirinya mengerti dengan permintaan menantunya yang sudah sangat pasti itu permintaan putrinya.
Hingga mereka selesai sarapan mereka baru menyadari jika Daffin tak ada di meja makan. Marni menyadari tatapan Ken yang mencari sesuatu.
"Kamu menginginkan sesuatu Nak?" Marni.
"Dimana Daff?" Ken.
"Daff pergi pagi-pagi sekali." Tita.
"Kemana dia?" Ken.
"Entahlah. Dia terlihat terburu-buru. Dan dia bilang akan menjelaskan apapun yang kita tanyakan nanti." Tita.
"Ren."
"Ibunya gadis itu masuk ICU Dad semalam." Daren.
"Hah! Dia sakit atau tertabrak Daffin sih?" Tita.
"Sepertinya sakit Mom. Dan ini sebenarnya sudah lama terjadi namun Ibu ini mampu bertahan hidup." Daren.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan Dad?" Tita.
"Siapa nama ibu itu? Apa tidak bisa di pindahkan ke rumah sakit keluarga?" Ken.
"Namanya Bu Imah Dad putrinya Intan dia masih duduk di bangku sekolah kelas 2. Untuk pindah nanti Ren tanyakan lagi Dad." Jelas Daren.
"Intan." Tita.
"Iya Mom. Apa Mom mengenalnya?" Daren.
"Sebentar, sepertinya Mom tidak asing dengan nama itu." Ucap Tita menjeda. Tita mencoba mengingat nama Intan di memori otaknya.
"Astaga! Intan itu yang tempo hari tertabrak Daffin." Ucap Tita mengingat.
"Maksudnya Daffin masih berhubungan dengan Intan?" Marni.
"Sepertinya begitu. Apa mungkin Intan pacaran sama Daffin?" Tita.
"Sepertinya tidak Mom. Atau lebih tepatnya belum. Tapi, mungkin Daff menarih hati pada Intan." Keina.
"Kita berangkat Ren." Ajak Ken pada Daren.
"Siap Dad." Daren.
"Loh, Dad. Terus bagaimana Daffin?" Tanya Tita.
"Kita tunggu penjelasan dia sayang. Kita harus menghargai keputusan dia." Ken.
"Baiklah." Tita.
Ken pun pergi bersama Daren menuju kantor. Keina, Tita dan Marni melanjutkan obrolan mereka tentang Intan.
"Yang Mommy lihat dia sedikit pendiam." Tita mencoba mengingat Intan.
"Mungkin banyak fikiran." Marni.
"Kemana Ayahnya? Kenapa Daff begitu sibuk mengurusnya?" Keina.
"Kamu benar Kak. Kenapa tadi kita ga naya sama Daren." Tita.
"Sudah biar saja seperti ini. Kita tunggu penjelasan Daffin." Marni.
"Sepertinya memang harus seperti itu saja Bu. Tita ga mau Mas Ken dan Daffin marah jika kita gegabah." Tita.
"Mom," Keina.
"Kenapa?" Tita.
"Boleh minta sesuatu?" Keina.
"Apa?" Tita.
"Mau macaron." Keina.
"Astaga! Boleh dong sayang. Mommy pesankan ya." Tita.
"Makasih Mom." Keina.
Sementara pagi di rumah Melan. Melan panik karena Zizi demam. Sementara Andre sudah memberitahu Melan jika Zizi akan baik-baik saja. Karena sudah di periksa oleh dokter pribadi mereka. Zizi tertidur karena pengaruh obat yang di berikan oleh Dokter.
__ADS_1
Melan cemas karena Olla sedang tidak ada di rumah. Sedang Nio begitu sibuk bersama Zayn. Pagi ini saja mereka sudah pergi bersama. Hingga saat Melan datang Nio dan. Zayn sudah berangkat.
"Mam, Tenanglah. Zizi hanya tidur. Andre ada di sini." Bujuk Andre.
"Kamu ga apa-apain Zizi kan Ndre sampai Zizi sakit begini?" Melan.
"Astaga! Ngga Mam. Zizi hanya kecapean karena banyak tugas kampus. Itu pun sudah Andre bantu mengerjakannya." Andre.
"Kau yakin?" Melan.
"Yakin Mam. Andre menyayangi Zizi untuk apa Andre menyakitinya. Jika sudah sakit begini tetap Andre juga kan yang repot." Andre.
"Kau benar juga. Tapi, bisa jadi kan kamu minta jatah ke Zi terus-menerus yang mengakibatkan tugas kuliahnya terbengkalai jadi Zi kelelahan." Tuduh Melan.
"Astaga! Ngga Mam. Andre ga setega itu Mam." Ucap Andre.
"Minta jatah gimana. Unboxing saja belum." Batin Andre.
"Kamu yakin?" Melan.
"Yakin Mam. Andre tau situasi." Andre.
"Awas jangan ganggu menantu Mami dulu. Biarkan dia istirahat." Peringat Melan.
"Iya Mami ku yang cantik dan baik hati." Jawab Andre gemas.
"Ceh, gombal kamu." Melan.
"Kan gombalnya sama Mami. Ga apa-apa dong.." Andre.
"Udah ah. Jagain Zizi. Awas ganggu dia." Peringat Melan kemudian keluar dari kamar Andre dan Zizi.
Andre menarik nafas dalam setelah Melan keluar dari kamarnya. Andre pun kembali duduk dengan tenang melanjutkan pekerjaannya mengerjakan tugas Zizi sebelum dirinya berkutat dengan pekerjaannya sendiri.
Hari ini dengan terpaksa Abi masuk kantor sendiri karena Andre harus menemani Zizi yang tiba-tiba demam. Karena terlalu stres dengan tugas kuliahnya membuat Zizi drop. Memang biasa seperti itu sebelum dirinya menikah.
Melan tak mengetahui hal itu yang membuatnya menjadi panik. Tapi, setelah Melan menghubungi sahabatnya dirinya pun bisa bernafas lega. Olla pun menjelaskan dengan tenang yang nembuat Melan pun lebih tenang.
Siangnya Melan kembali mengecek keadaan Zizi dan ternyata Zizi sudah bangun dan tengah duduk di samping Andre yang tengah sibuk mengerjakan tugasnya. Andre mengesampingkan pekerjaannya demi menyelesaikan tugas Zizi.
"Sayang, kamu sudah baikan?" Tanya Melan dari ambang pintu yang sengaja tidaj di tutup oleh Andre karena Melan terus bolak-balik ke kamarnya.
"Mam, sedikit lebih baik." Ucap Zizi.
"Kamu kalo lagi banyak tugas ga apa-apa kok nolak Andre buat melayaninya. Pukul saja dia." Melan.
Blush....
"Owh! Astaga! Kenapa semua orang selalu berfikir ke arah sana." Batin Zizi.
"Ng.. Ngga kok Mam. Ini tugasnya saja yang datang bersamaan membuat otak Zizi ngehang." Jawab Zizi.
"Jangan di fikirin sayang. Berikan saja tugas kamu pada Suami kamu. Kalo dia ga mau ngerjain jangan masih jatah." Melan.
Blush...
Lagi-lagi Zizi di buat salah tingkah dengan ucapan Mertuanya. Andre hanya diam berpura-pura fokus pada laptopnya.
🌻🌻🌻
__ADS_1