
Pagi hari pertama tanpa Tita. Keina dan Intan membantu Ayumi menyiapkan sarapan untuk semua keluarga. Gladys yang tak berencana menginap pun akhirnya menginap bersama Angga juga tentunya.
Sinta tak jadi menginap karena Olla mengabari jika dirinya langsung ke kota sang Adik bersama Abi karena Ibunya sakit. Sinta langsung pulang di antar supir pribadi mansion. Karena Zayn tidak bisa menjemput di karenakan harus menggantikan sang Ayah.
Sinta mulai menyesuaikan diri bersama keluarga Durant. Sinta pun sudah jarang dan bisa di katakan tidak pernah menangis lagi di rumah Abi. Tapi, raut wajahnya akan berubah ketika dirinya singgah di rumahnya sendiri.
Bayangan keluarganya yang begitu menyayanginya berkelebatan di sana dan bayangan kecelakaan itu jelas tergambar membuat dirinya kembali murung. Paman Sinta pun berencana merombak sedikit rumah itu dengan persetujuan Sinta.
"Kamu juga pandai mamasak rupanya Tan." Puji Keina.
"Hanya membantu saja Kak." Ucap Intan merendahkan dirinya.
"Jangan merendah sayang. Tunjukan saja kemampuan kamu. Buna percaya kamu akan menjadi orang sukses." Ayumi.
"O..Iya Buna. Intan sudah ada panggilan dari universitas A padahal kelulusan Intan saja belum keluar." Ucap Intan.
"O...ya?" Ucap Keina dan Ayumi bersamaan.
"Iya Bun, Kak." Intan.
"Kapan kamu akan ke kampusnya?" Ayumi.
"Hari ini sampai satu minggu kedepan waktunya Buna. Tapi,,," Ucapan Intan menggantung.
"Tapi apa? Jangan fikirkan apapun. Berkuliahlah dengan baik sayang." Ucap Ayumi mengusap lengan Intan.
"Terima kasih Buna." Intan.
Setelah semua masakan siap Bibi bertugas menyiapkannya di meja dan ketiga wanita tadi memasuki kamarnya masing-masing untuk bersiap sarapan. Keina masuk kedalam kamar dan ternyata Daren sudah bangun dan bersiap hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Baru mau mandi?" Tanya Keina.
"Iya sayang. Yuk mandi." Ajak Daren.
"Modus." Keina.
"Sama istri sendiri Yang. Ayo sayang." Daren.
Keina pun tak bisa menolak ajakan Daren. Setelah semua siap di meja makan. Keina dan Daren belum juga turun. Membuat Daffin bertanya-tanya. Karena tak biasanya Keina dan Daren terlambat.
"Apa Kakak sakit?!" Gumam Daffin dan terdengar oleh Ayumi.
"Tidak. Tadi menyiapkan sarapan ini bersama Buna." Jawab Ayumi.
"Tapi, kenapa belum turun juga?" Daffin.
"Mungkin masih mandi." Ayumi.
"Intan, kamu mau pergi?" Rehan.
"I... iya." Intan.
"Hah! Kamu mau kemana?" Tanya Daffin panik.
"Yeee... Biasa aja kali Om." Gean.
" Ceh, anak kecil diem deh." Daffin.
__ADS_1
"Intan keterima di universitas A. Jadi hari ini mau daftar ulang atau bagaimana itu ke sana." Ayumi.
Setelah Ayumi menjawab Keina dan Daren datang dengan tampang tak berdosanya duduk dan bergabung bersama. Melihat rambut Keina yang basah Gladys pun mengerti kenapa mereka berdua terlambat turun.
"Maaf, kami terlambat." Ucap Keina setelah mendudukkan bokongnya di kursi.
"Habis dapet serangan ya Kein." Goda Gladys.
"Hafal bener Kak. Pengalaman ya." Keina.
"Ceh, hatam gw mah." Gladys.
"Hus... Udah Yang. Ayo makan." Angga.
Mereka pun akhirnya dengan tenang menyantap sarapan pagi mereka. Rehan yang ada acara di rumah sakit berangkat bersama Angga. Gladys bersiap mengantarkan Gean dan Gea sekolah. Keina mengantarkan Daren hingga ke teras.
"Kein, Buna antar Intan sebentar ya setelah itu Buna pulang lagi. Karena paling cuma sebentar aja." Pamit Ayumi.
"Kenapa sama Buna? Sama Daffin aja sekalian Buna." Protes Daffin.
"Nanti saja jika senggang sayang. Hari ini kita mau daftar ulang biar Buna juga tau sekalian." Ayumi.
"Baiklah." Daffin.
"Daff, jangan lupa siang ini ada meeting." Teriak Daren dari balik kemudi.
"Iya Bang." Jawab Daffin malas.
"Hei, Buna hanya mengantarkan daftar ulang. Bukan mau menikahkan Intan. Lemes banget sih." Keina.
"Astaga! Kakak mulut Lu pedes banget." Daffin.
"Ngga. Ntar gw susah ke kantor." Daffin.
"Ya udah jalan sana." Keina.
Daffin pun pergi dengan motor sportnya. Ayumi mengemudikan mobilnya sendiri bersa dengan Intan. Setelah semua pergi Keina pun masuk kedalam berjalan dengan hati-hati karena perutnya sudah mulai besar dengan usia kehamilannya yang hampir enam bulan.
"Bi, minta di buatkan jus ya. Saya mau baca di gazebo." Keina.
"Baik Nona." Bibi.
Keina berjalan menuju gazebo dengan membawa beberapa novel kesukaannya. Keina mencari tempat ternyaman untuk dirinya membaca.
"Maaf Nona, ada Nona Zizi dan Nona Sinta di depan." Lapor Bibi seraya membawakan jus dan beberapa camilan.
"Minta mereka langsung ke sini saja Bi." Keina.
"Iya Nona. Mereka masih di dapur." Bibi.
"Baiklah." Keina.
Bibi kembali ke dalam dan kemudian Sinta dan Zizi menghampiri Keina dengan membawa buah di tangan mereka. Keina masih belum menyadari kedatangan Sinta dan Zizi karena dirinya masih fokus membaca.
"Selamat pagi bumil cantik.." Sapa Zizi.
"Hai,. Tumben datang berdua? Katanya kamu ujian Zi?" Keina.
__ADS_1
"Iya. Kebetulan jadwal hari ini siang jadi bisa ke sini dulu." Zizi.
"Intan sama Buna mana?" Sinta.
"Buna lagi nganter Intan ke universitas A buat daftar ulang." Keina.
"Intan kuliah di sana?" Zizi.
"Iya. Intan mendaftar kedokteran lewat jalur beasiswa." Keina.
"Wah hebat dong bisa keterima." Zizi.
"Sepertinya Intan pintar kok Dek." Sinta.
"Pastilah. Orang dia sekolah aja beasiswa kan?" Zizi.
"Iya. Otaknya ga di ragukan lagi." Keina.
"Pantes aja Daffin mepet." Zizi.
"Hahahaa... Bisa aja. Eh, Tante Olla sama Mami ga ke sini?" Keina.
"Bunda kan belum datang Kak. Kalo Mami ke sini tapi mau mampir dulu ke toko langganannya ada yang mau di beli." Zizi.
"Owh! Iya lupa. Kak Raya ga di ajakin ke sini?" Keina.
"Kak Raya sama Abang keluar kota Kak." Sinta.
"Loh, kemana? Terus perusahaan?" Keina.
"Kan ada Bang Zayn." Sinta.
"Astaga! Kenapa bisa lupa." Keina.
Mereka pun bercengkrama bersama hingga Zizi pamit lebih dulu untuk melaksanakan ujian di kampusnya. Karena Zizi tengah menghadapi ujian sebelum libur semester. Begitu juga dengan Daffin yang sama-sama melaksanakan ujian.
Tak lama setelah Zizi pergi. Melan, Ayumi dan Intan tiba di mansion bersamaan. Sinta dan Keina masih berada di gazebo.
"Loh, Kak. Darimana?" Tanya Melan yang melihat Ayumi dan Intan juga baru saja datang.
"Habis mengantar Intan daftar ulang terus mampir Butik sebentar." Ayumi.
"Wah, sudah di terima Tan?" Melan.
"Sudah Tante."Intan.
"Baru datang juga Mel?" Ayumi.
"Iya Kak. Ini tadi pesanan aku datang. Aku pesan ini buat menantuku juga." Tunjuk Melan pada paper bag di tangannya.
"Wah, Zizi hamil juga?" Tanya Ayumi antusias.
"Belum Kak. Do'akan saja. Ini sih persiapan saja." Melan.
"Owh! Iya. Lucu juga kalo Zizi hamil. Nanti anak-anak mereka hanya berjaraka beberapa bulan saja." Ayumi.
"Semoga Zizi sama Sinta cepat menyusul ya Kak." Melan.
__ADS_1
"Aamiin."
🌻🌻🌻