
Daren dan Zio sepakat untuk mengadakan acara akikah anak-anak mereka di salah satu hotel milik keluarga Durant. Daren dan Zio tak main-main keduanya menyewa jasa event untuk mempersiapkan acara mereka.
Keluarga pun sudah berada di hotel. Mereka semua menginap di hotel tersebut. Tapi, ada juga yang pergi dari rumah mereka masing-masing karena jarak yang dekat dari hotel.
Sejak pagi Marni sudah membantu Keina mengurusi Reina karena Keina kurang enak badan karena kelelahan. Dua hari sebelum acara Reina demam dan Keina pun menjadi kurang istirahat karena Reina ingin terus di gendong.
Sementara Tita sibuk mengurus kelangsungan acara bersama Olla, Melan dan Mama Raya. Walaupun Daren dan Zio menyewa jasa event tapi keempat nenek itu ingin terjun langsung melihat persiapannnya jangan sampai ada yang terlewat terlebih ini adalah cucu pertama mereka.
Zizi menemani Kakak sepupu sekaligus kakak iparnya di dalam kamar bersama Marni yang merawat Reina. Sesekali Zizi menggendong Reina menggantikan Marni karena Keina benar-benar tak sanggup berdiri.
"Kak, nanti pas acara bagaimana?" Zizi.
"Kata Abang nanti Kakak tidak terlalu banyak bergerak. Abang sama Bang Zio yang banyak terjun." Keina.
"Bang Angga sudah periksa?" Zizi.
"Sudah. Kakak juga sudah minum obatnya." Keina.
"Kalo gitu tidur aja. Nanti biar Reina minum ASI yang sudah di pompa saja." Zizi.
"Iya Nak. Kamu istirahat aja." Sambung Marni yang merasa kasian melihat Keina yang tengah menyusui Reina.
"Iya Nek. Ini Rein udah bobo juga kok." Keina.
Zizi tak berhenti makan selama menemani Keina karena entah mengapa sejak dirinya hamil nafsu makannya begitu kuat. Tapi, seperti halnya Keina. Badan Zizi pun tak ikut mengembang karena makanan.
Dan Sinta pun begitu juga. Namun, di tiga bulan pertamanya Sinta kesulitan makan hanya beberapa jenis saja yang bisa masuk kedalam mulutnya. Baru di bulan ke empat ini Sinta mulai makan dengan variasi lebih banyak.
Acara pun mulai di gelar. Semua merasa cemas melihat Keina yang begitu pucat walaupun wajahnya sudah di poles make up. Raya beberapa kali memberitahu Zio agar meminta Daren membawa Keina masuk saja namun Zio hanya memberi pengertian agar Raya lebih tenang.
"Yang, ih. Kasian itu Kein." Bisik Raya.
"Kamu tenang aja sayang. Daren sudha mengantisipasi semuanya." Zio.
"Iiih,,, udah Kein biar di dalem aja. Kasian Yang." Raya.
"Sstt... Daren pasti bawa Kein masuk Yang." Zio.
"Ish... Ga peka." Kesal Raya.
Raya beberapa kali memberi kode pada Intan untuk mendekati Keina. Setelah sekian kode Raya berikan Intan baru menyedari jika kode itu untuknya. Intan melihat ke arah Keina dan segera menghampirinya.
"Mau kemana?" Tanya Gladys pada Intan.
"Kak Keina pucet banget Kak. Intan mau ke sana." Intan.
__ADS_1
"Hah! Ya udah sana cepet." Gladys.
Sesampainya Intan di dekat Keina. Intan berdiri di belakang Keina dan memegang pinggang Keina dan berbisik jika itu dirinya. Keina yang semula kaget pun kembali tenang.
"Ini Intan Kak." Bisik Intan.
Sementara Daren hanya bisa melirik sang Istri karena dirinya tengah menggendong Reina. Semula Daren memang memegangi Keina takut Keina ambruk dan beberapa kali Daren meminta Keina masuk tapi Keina tidak enak karena itu juga merupakan acaranya.
Keina menguatkan dirinya walaupun tenaganya hampir habis. Kini Intan sedikit menopang tubuh Keina yang hampir melorot kebawah. Bersyukur acara sudah hampir selesai. Para undangan satu persatu meninggalkan ballroom.
Melihat keadaan Keina yang mulai melemah Daren pun segera menitipkan Reina pada Melan dan segera menghampiri Keina dan Intan.
"Kak, kita duduk di sana saja ya." Ajak Intan.
Keina hanya membalas dengan anggukan kecil. Namun, baru beberapa langkah Keina terkulai beruntung Intan sigap memegang Keina hingga Keina tidak terjatuh. Daren yang sudah di dekat keduanya pun segera menggendong Keina.
"Kakak kenapa?" Tanya Daffin mendekati Intan yang berjalan terburu-buru di belakang Daren.
"Kakak pingsan." Ucap Intan sambil terus melangkahkan kakinya.
Daffin pun mengikuti langkah mereka. Intan segera memencet tombol lift untuk membantu Daren.
"Daff, hubungi Bang Angga minta dia segera ke atas." Titah Daren.
"Intan sudah menghubungi Kak Gladys dan meminta Bang Angga menuju atas Bang." Intan.
Daffin melirik Intan dirinya semakin kagum di buatnya. Semakin hari perasaannya semakin kuat hanya saja Daffin selalu mengalihkannya karena ragu. Dirinya takut Intan menolaknya. Karena ini hal pertama bagi Daffin.
Sampai di kamar pribadi Daren dan Keina. Daren menidurkan Keina dengan perlahan. Tak lama Gladys dan Angga datang. Gladys tampak cemas dengan sepupunya. Angga memeriksa Keina dengan seksama.
"Keina hanya kelelahan. Tapi, Kein perlu perawatan." Angga.
"Harus ke rumah sakit Yang?" Gladys.
"Iya. Bagaimana Ren?" Angga.
"Bagaimana dengan Reina. Apa bisa di lakukan di rumah Bang?" Daren.
"Bisa. Abang akan minta asisten Abang membawakan persiapan infus ke sini." Angga.
"Abang akan menginap di sini atau pulang? Jika pulang apa tidak sebaiknya kita pulang sekalian?" Daffin.
"Keina harus menerima cairan infus terlebih dahulu Daff. Setelah itu baru kita akan bawa Kein pulang." Angga.
"Baiklah." Daffin.
__ADS_1
"Tan, tolong kasih tau Mami dan Mommy ya. Kita di sini." Pinta Daren.
"Iya Bang." Intan.
Saat Intan berbalik Daffin pun mengikuti Intan ke luar dari kamar Daren dan Keina. Sementara Angga dan Gladys tetap di sana. Tita dan Melan yang mendengar kabar Keina dari Intan pun segera menuju ke kamar Keina dan Daren.
"Dad, Mommy ke atas dulu ya. Kein drop." Tita.
"Astaga! Lalu bagaimana?" Ken.
"Mommy mau lihat dulu. Daddy tenang ya." Tita.
Ken pun menurut. Dirinya tak bisa langsung menemui putrinya karena masih ada tamu undangan yang kebetulan koleganya. Ken terpaksa harus menemui mereka karena Daren menemani Keina.
"Tan," Panggil Daffin.
"Ya." Intan.
"Bisa ikut aku sebentar?" Tanya Daffin.
"Kemana?" Intan.
"Ikut aja dulu yu." Daffin.
Intan pun mengikuti langkah Daffin. Namun, bersamaan itu Ayumi melihat Intan dan memanggilnya untuk menanyakan keadaan Keina. Intan pun segera mendekati Ayumi terlebih dahulu.
"Ada apa Bun?" Intan.
"Bagaimana Kakak kamu?" Ayumi.
"Bang Angga sudah di atas Buna. Kakakmau di infus agar tenaganya cepat pulih." Intan.
"Aduh, kenapa ga di bawa ke rumah sakit aja?" Ayumi.
"Iya. Kenapa ga langsung ke rumah sakit?" Jessie.
"Kata Abang kasian Reina jika harus di bawa ke rumah sakit. Jadi, biar Kakak tetap bisa mengasihi Abang meminta Kakak di rawat di rumah saja dengan pantauan Bang Angga dan satu perawat yang di tugaskan Abang." Intan.
"Astaga! Kenapa kita lupa jika ada Reina." Jessie.
"Setelah ini lihatlah Tante mu Yang." Aldi.
"Iya Mas. Jess akan ke sana bersama Tante Ayu." Jessie.
Jessie memang sudah tak pernah mencemburui Aldi dan Keina lagi setelah Jessie tau bagaimana perjuangan Aldi untuk dirinya.
__ADS_1
🌻🌻🌻