
Seharian Tita benar-benar berada di rumah di temani oleh Tuan dan Nyonya Ito. Dan tidak sedikit pun Tita rewel. Karena dirinya teralihkan oleh makanan yang di bawa oleh Bagas. Bahkan Ken beberapa kali menelfon Ibunya untuk memastikan jika Tita aman.
Seperti janjinya Ken pun pulang cepat dan membawakan macaron dan es krim pesanan Tita. Tak lama setelah Ken datang. Keluarga Rehan pun datang.
Tita menyambut kedatangan Ken lebih tepatnya makaron dan es krimnya.
"Makannya pelan-pelan ya. Mas mandi dulu." Ken.
"Oke. Tita udah siapin bajunya ya yang di atas meja." Tita.
Saat Tita sedang menikmati makaron dan Es krimnya keluarga Rehan pun memasuki rumah utama. Rehan menggelengkan kepalanya melihat asisten pribadinya yang kini menjadi adik iparnya tengah duduk di depan meja dengan berbagai makanan di atasnya.
Begitu pun dengan Ayumi dan Duo G. Ayumi dan kedua anaknya mendekati Tita sementara Rehan menghampiri mertuanya yang berada tak jauh dari Tita. Karena keduanya tak bisa meninggalkan Tita jauh. Mereka tidak ingin Tita menangis ketika di tinggalkan.
"Hai Sayang... Wah,,, banyak sekali coklat. Boleh Kakak memintanya?" Sapa Ayumi menggoda Tita.
"Hai Kak. Kakak bisa memintanya pada Kak.Rehan." Tita.
"Ish... Kau ini. Satu saja tak boleh." Goda Ayumi lagi.
"Minta saja pada Kak.Rehan. Masa nerbangin Aldi sama Jessie bisa kasih coklat sama Kakak ga bisa." Cibir Tita.
"Ceh,,, marah nih ceritanya." Ayumi.
"Gimana ga marah. Kak Rehan yang sembunyiin Jessie malah Tita yang kena amukan Kak.Aiko." Adu Tita.
"Maaf ya sayang." Ucap Ayumi memeluk adik iparnya dan menghujani ciuman di wajah Tita.
Tita diam tak melawan dirinya terlihat begitu pasrah dan menikmati makaron di tangannya.
"Onty, kenapa Onty banyak makan coklat tapi badan Onty tetap kurus hanya perut Onty saja yang membesar?" Heran Gladys.
"Karena Onty makan berdua bersama Ken junior jadi, mana bisa Onty gemuk. Kalo Onty makan sendiri sudah pasti pipi Onty akan melebar." Jawab Tita santai.
Ayumi dan Keluarganya memang menyukai Tita jauh sebelum Tita dan Ken menikah. Bahkan Ayumi tak segan memeluk dan menjahili Tita seperti sekarang. Karena usia Tita memang tak jauh dari Gagah hanya selisih 3 tahun saja.
"Hai Kak." Sapa Ken yang baru saja turun.
"Hai Ken. Tumben sudah di rumah?" Rehan.
"Hari ini Tita tidak ikut Ken makanya Ken cepat pulang takut Tita di sembunyikan Ayah kalian." Sindir Nyonya Laura.
"Ceh, kalian ini." Ayumi.
Mereka pun kumpul bersama. Seperti janjinya Rehan menceritakan kronologi mengapa dirinya menerbangkan Jessie dan Aldi selama satu minggu ke pulau. Dan tinggal beberapa hari lagi mereka akan pulang.
Awalnya Tuan dan Nyonya Ito sangat geram pada Aiko karena ulahnya anaknya hampir depresi. Tita tak begitu memperhatikan obrolan mereka karena dirinya tengah adik dengan berbagai makanan di hadapannya.
__ADS_1
Ken terlihat beberapa kali mengusap lembut sekitar mulut Tita yang terlihat belepotan Es krim dan coklat. Gagah terus memperhatikan Oncle dan Onty nya.
"Terus apa rencana mu Re setelah mereka pulang?" Tuan Ito.
"Rencananya Aldi akan di pindah tugaskan sementara di kota S Yah. Dan Jessie akan resign sebagai dokter." Rehan.
"Serius? Apa Aiko tidak akan bertambah marah jika begitu?" Nyonya Laura.
"Biarkan saja Bu. Itu sudah menjadi keputusan Jessie untuk resign." Ayumi.
"Lantas berapa lama Aldi akan si sana?" Tuan Ito.
"Tiga bulan Yah." Rehan.
"Aiko?" Nyonya Laura.
"Tidak akan di beri tahu Bu. Biarkan piham rumah sakit yang akan mengatakannya.
"Tapi, pasti dia akan marah besar padamu Re." Nyonya Laura.
"Tidak akan Bu. Karena Rehan akan berpura-pura dinas luar juga." Rehan.
Semua termenung mendengar penjelasan Rehan. Rehan dan Ayumi telah mempersiapkannya dengan rapi. Dan semoga saja Jessie bisa segera mengandung tanpa tekanan dari orang tuanya.
"Mas, Tita ngantuk." Keluh Tita setelah menghabiskan makaron yang Ken bawa.
Tita menganggkat kedua tangannya isarat Ken untuk menggendongnya. Dan dengan sigap Ken pun segera menggendong Tita menuju kamarnya setelah berpamitan kepada semuanya.
"Semoga Ken tidak akan kewalahan ketika anaknya lahir nanti." Ayumi.
"Itu do'a Ibu setiap hari Yu." Nyonya Laura.
"Memang kenapa Oma, Bun?" Gladys.
"Lihat saja keponakan mu. Masih di perut saja manjanya luar biasa pada Daddy nya apalagi nanti setelah keluar." Ayumi.
"Memang begitu?" Gladys.
"Tidak juga. Buktinya kamu. Selama Bunda hamil kamu maunya di tempat tidur terus. Tapi, sekarang kamu ga bisa diem di rumah." Ayumi.
"Bunda..." Rengek Gladys.
"Makanya jadi perempuan tuh jangan main aja di banyakin." Gagah.
"Iih... Ngga ya." Gladys.
Mereka pun berbincang bersama setelah Ken kembali mengantarkan Tita tidur. Keluarga mereka memang termasuk keluarga yang hangat karena Tuan dan Nyonya Ito tidak pernah mengajarkan keburukan pada anak-anaknya termasuk Aiko sebenarnya.
__ADS_1
Hanya saja sifat angkuhnya sangat menurun dari mendiang ibu kandungnya sejak kecil. Aiko kecil sangat angkuh dan tak mau bergabung dengan saudara sendiri.
"Gimana kuliahnya Gah?" Ken.
"Sedang persiapan praktek Oncle." Gagah.
"Pasti rumah sakit sendiri?" Ken.
"Ngga dong Om. Gagah tetap profesional. Tidak memilih rumah sakit. Nanti akan ada ujiannya dan kita di pilihkan rumah sakit. Ya, kalo nanti kebagian di rumah sakit Ayah itu sih rejeki namanya Oncle.' Gagah.
"Ceh, sama aja." Ken.
"Terus kamu gimana? Jadi lulus taun ini?" Tanya Ken pada Gladys.
"Astaga! Oncle... Memangnya Oncle mau keponakannya ga lulus sekolah? Klo Glad sih amit-amit ampe ga lulus." Gladys.
"Hahaha... Makanya sekolah yang rajin biar jadi dokter hebat." Ken.
" Ngga! Gladys ga mau jadi dokter. Glad mau ambil design aja." Gladys.
"Lah, kenapa?" Nyonya Laura.
"Biar bisa nerusin usahanya Bunda Oma." Gladys.
"Ceh, Bunda mu juga lulusan kedokteran bisa usaha butik." Tuan Ito.
"Pokoknya Glad ga mau jadi dokter." Protes Gladys.
"Kalo kamu jadi dokter kan enak Glad bisa ketemu dokter-dokter muda dan ganteng." Goda Ken.
"Ceh, ga perlu jadi dokter kalo itu sih Oncle. Tinggal sering-sering aja jengukin Ayah di rumah sakit." Gladys.
"Ish... Kamu ini. Ya sudah kuliah bisnis saja biar bisa bantu Oncle." Ken.
"Nah,, boleh itu. Nanti kan bisa ketemu pengusaha muda dan kaya." Gladys.
Semua keluarga menggelengkan kepalanya mendengar jawaban polos Gladys. Ken mengusap lembut kepala keponakannya itu. Gagah di buat gemas melihat tingkah adiknya itu yang sebentar lagi akan berulang tahun yang ke 17.
"Glad,, ngga harus jadi pengusaha utuk mendapatkan seorang pengusaha." Ayumi.
Gladys menoleh kearah Bundanya dengan tatapan penuh tanya.
"Buktinya Onty Tita kuliah keperawatan sampai tiga gelar dan kerja di rumah sakit jodohnya Oncle kalian pengusaha." Ayumi.
Gladys menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏