
Sampai di mall Zizi, Sinta dan Damar memilih untuk menonton terlebih dahulu. Damar bertugas mengantri tiket, Sinta dan Zizi membeli makanan yang akan mereka bawa ke dalam studio. Saat keduanya asik memilih makanan terdengar seseorang menyapa Zizi.
"Zizi, kamu Zizi kan adiknya Zayn?" Kinan.
"Iya. Siapa ya?" Tanya Zizi yang memang tidak terlalu memperhatikan Kinan saat berkunjung ke rumahnya.
"Saya Kinan pacarnya Andre. Beberapa hari yang lalu saya pernah ke rumah kamu sama Andre." Kinan.
"Owh! Maaf saya melupakannya." Zizi.
"Tidak masalah. Kamu sama siapa? Sama zayn?" Kinan.
"Tidak. Saya bersama dia." Tunjuk Zizi pada Sinta yang tengah memilih makanan.
"Owh! Teman kamu ya?" Kinan.
"Hm.." Zizi.
"Hai, siapa Kak?" Sinta.
"Kak?!" Kinan.
Zizi hanya menampilkan senyumannya.
"Iya. Dia calon kakak ipar saya." Sinta.
"Owh! Kamu mau nikah Zi?" Kinan.
"Hah! Eh, Mmmm..." Jawab Zizi bingung.
"Kamu teman kak Zizi?" Sinta mengalihkan.
"Saya Kinan pacarnya Andre sahabat Zayn kakaknya Zizi." Kinan.
"Owh! Kenalin saya Sinta adiknya Bang Damar calonnya Kak Zizi." Ucap Sinta yakin.
"Aduh.." Gumam Zizi menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Ayo Kak kayanya Abang udah selesai." Ajak Sinta.
"Kita duluan ya Kak Kinan." Pamit Zizi.
"Eh, iya. Kayanya Andre juga udah selesai." Kinan.
Mereka pun berpisah. Sinta membawa makanan yang di belinya dan Zizi membawa minumannya. Mereka berdua bergabung kembali dengan Damar. Tak lama pintu studio pun di buka Mereka bertiga memutuskan untuk masuk.
Dan tanpa di duga Andre dan Kinan duduk pas di belakang Mereka bertiga. Kinan yang tak tau menau tentang perjodohan antara Andre dan Zizi terlihat senang bisa duduk berdekatan dengan Zizi dan yang lainnya sementara Andre memasang wajah tegang.
Zizi duduk di apit Damar dan Sinta. Damar memperlakukan Zizi dengan penuh kasih. Zizi pun membalasnya tulus. Karena film belum di mulai Andre bisa dengan jelas melihat aksi keduanya.
Ada rasa sesak di dadanya melihat kedekatan Zizi dan Damar. Cemburu, Entahlah. Karena sejak awal Andre selalu menampik,jika orang tuanya membahas tentang Zizi Andre pun selalu menghindarinya.
"Itu calonnya Zizi ya Yang. Zizi deket banget kayanya sama calon adik iparnya." Bisik Kinan pada Andre.
__ADS_1
Andre hanya diam tak merespon ucapan kekasihnya. Karena Andre tengah berperang dengan fikirannya sendiri. Kinan sedikit aneh dengan sikap Andre yang terus memperhatikan Zizi.
"Kamu kenapa Yang?" Tanya Kinan.
"Hah! Ngga apa-apa." Jawab Andre mencoba menetralkan perasaannya.
"Tapi, aku lihat dari tadi kamu perhatiin Zizi terus." Kinan.
"Kalo-kalo pria di sampingnya macem-macem aku bisa langsung lapor sama Zayn." Elak Andre.
"Hm... Tapi, rasanya ga mungkin Yang. Kan ada adiknya juga itu." Ucap Kinan.
Kinan dan Andre pun saling bisik-bisik agar tak terdengar oleh Zizi dan yang lainnya. Sementara Zizi, Sinta dan Damar tampak asik berbincang sambil menyantap popcorn yang mereka beli.
"Dek, kamu ga risih kan kita jalan bertiga?" Damar.
"Ngga kok Kak. Zizi senang Kakak bisa bawa Sinta juga." Zizi.
"Makasih ya Zi. Lain kali kita bisa pergi berdua?" Damar.
"Boleh." Zizi.
"Kamu ga malu kita jalan berdua?" Damar.
"Kenapa harus malu?" Zizi.
"Ga takut di kira jalan sama om-om?" Damar.
"Eh," Damar.
Keduanya pun terkekeh. Damar mengusap puncak kepala Zizi. Sinta masih asik dengan ponselnya. Andre merasa suasana di dalam studio yang dingin terasa panas. Ingin sekali Andre cepat keluar dan tidak menyelesaikan film nya. Tapi, itu tidak mungkin dia lakukan karena akan menimbulkan kecurigaan pada Kinan.
Hingga film usai Andre berhasil menahan sesak di dadanya dan panasnya udara di dalam sana. Namun, pandangan kembali tertuju pada Zizi ketika Damar begitu menjaganya saat mereka semua akan keluar dari studio.
Ada rasa ingin menarik tangan Zizi dan membawanya pergi tapi semua hanya ada di dalam hatinya saja. Tak ada sedikitpun aksi yang dia lakukan. Andre hanya menggenggam tangan Kinan begitu posesif.
"Sayang sakit." Protes Kinan.
"Maaf sayang. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa." Andre.
"Iya sayang." Kinan.
Damar terus menggenggam tangan Zizi dan Zizi membiarkannya saja. Sinta terus di sibukkan dengan ponselnya. Entah apa yang di lakukannya.
"Kak, Sinta minta maaf ya. Kakak sama Abang ga apa-apa kan Sinta tinggal?" Tanya Sinta.
"Ada apa?" Damar.
"Hm.. Ada masalah di resto. Aku harus kesana." Sinta.
"Perlu kita temani?" Zizi.
"Tidak usah. Hanya masalah kecil Sinta bisa mengatasinya. Nanti jika Sinta tak bisa Sinta akan hubungi Abang." Sinta.
__ADS_1
"Baiklah. Naik apa?" Damar.
"Sinta sudah meminta supir untuk menjemput dan sepertinya dia sudah dekat." Sinta.
"Baiklah. Hati-hati." Damar.
"Sampai jumpa Kak. Senang bisa jalan sama Kakak. Nanti main ke rumah ya. Mama pasti senang." Sinta.
"Ya, Jika ada yang membawaku." Zizi.
Sinta pun segera pergi meninggalkan pasangan baru itu. Damar terlihat kikuk tak tau harus bagaimana. Begitupun dengan Zizi. Namun, panggilan dari perutnya membuat Zizi berinisiatif untuk mengajak Damar makan.
"Hm.. Kita makan dulu ya Kak. Zi laper." Ucap Zizi.
"Astaga! Maaf saya kurang peka. Ayo, kamu mau makan apa?" Damar.
"Zi mau makan soto di sana boleh?" Zizi.
"Boleh. Ayo." Damar.
Mereka pun berjalan menuju stan soto dengan terus saling bergandengan. Ada sepasang mata yang terus memperhatikan keduanya dengan sorot mata yang tak bisa di tebak.
Zizi mendudukkan dirinya di bangku sedikit di pojokan menunggu Damar memesan soto yang di mereka inginkan. Tak lama Damar datang menghampiri Zizi.
"Kakak, sering jalan sama Sinta ya?" Zizi.
"Ya. Kami terpaut umur yang dekat. Jadilah kami sering bersama." Damar.
"Owh! Kalian hanya dua bersuadara?" Zizi.
"Empat. Hanya saja dua diantara kami telah pergi lebih dulu." Damar.
"Maaf Kak. Zizi tidak bermaksud membuka luka lama." Zizi.
"Tidak masalah. Itu sudah terjadi begitu lama." Damar.
"Tidka perlu di lanjutkan Kak." Zizi.
"Tidak apa-apa. Aku ingin tidak ada yang di tutupi di antara kita Zi." Ucap Damar lembut mengusap tangan Zizi.
Zizi hanya menampilkan senyumannya.
"Mereka berdua tenggelam saat bermain di sungai. Karena mereka berdua kembar jadilah mereka bisa bermain bersama. Aldi dan Aldo adalah adik dari Sinta. Tanpa sepengetahuan Kami Aldi dan Aldo lepas dari pengawasan dan bermain di sungai. Beruntung ada tetangga yang mengenal mereka." Damar.
"Mereka masih kecil?" Zizi.
"Hmm.. Ya. Saat itu baru masuk sekolah dasar." Damar.
Perbincangan mereka pun terputus karena pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dan mereka pun memilih menikmati hidangan yang sudah tersedia karena tak ingin makanannya kembali dingin jika mereka larut dalam obrolan.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1