
Setelah pengajian usai. Satu persatu keeabat dekat keluarga Ito berpamitan pulang hanya menyisakan keluarga inti saja. Keluarga Rehan, Ken dan Aiko. Aiko dan Artur memutuskan untuk menginap di rumah utama sementara Jessie dan Aldi memilih pulang bersama kedua putranya.
Susana rumah utama masih terlihat mendung. Marni berpamitan pulang ke mansion karena Burhan di sana. Dengan terpaksa Laras dan Tita pun mengijinkan karena khawatir dengan kondisi Burhan. Dan alhasil Nio dan keluarganyalah yang menginap di mansion.
Ibu Olla sudah dua hari berada di rumah adik Olla di kota lain. Karena Ibu Olla merindukan adiknya. Olla pun tak ingin memaksakan kehendaknya dengan mengijinkan Ibunya untuk tinggal di tempat adiknya.
Olla dengan telaten membantu Marni mengurus Burhan di bantu juga oleh Zizi. Meskipun Zizi baru kelas satu sekolah menengah pertama dirinya mampu membantu orang tuanya.
Zizi termasuk anak yang mandiri dan sedikit dewasa di usianya. Meskipun dia anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan banyak di manja oleh saudara-saudaranya dan juga Nio tapi tak membuatnya menjadi anak manja.
"Zi, nanti sekolah di antar supir ya sayang. Bunda harus membantu Nenek terus Bunda mau lanjut ke rumah utama." Pesan Olla saat mereka sarapan.
"Biar Zayn yang antar Zi Bun." Zayn.
"Apa tidak apa-apa?" Olla.
"Tidak. Sebelum ke kantor Ayah. Zayn mampir dulu mengantarkan Zi." Zayn.
Zio dan Zayn memang sudah bergabung di perusahaan Nio. Namun, tidak serta merta Nio menyerahkan begitu saja perusahaan pada kedua anaknya. Masih banyak hal yang perlu mereka pelajari walaupun keduanya termasuk anak yang pintar di akademik.
Zayn lebih memilih bekerja membantu Kakaknya di banding melanjutkan S2nya. Menurutnya sekolah bisa kapan saja tidak perlu sekarang. Zayn tidak ingin Zio terkungkung dengan tuntutan pekerjaan. Jadilah Zayn membantu Zio agar Zio lebih santai.
"Baiklah. Bunda titip adik kamu ya." Olla.
"Siap Bun." Zayn.
"Abang langsung ke kantor?" Tanya Olla.
"Tidak. Abang mau mengantarkan Bunda dulu ke rumah utama." Zio.
"Apa tidak apa-apa?" Olla.
"Tidak. Ada Ayah di sana." Jawab Zio santai.
"Astaga! Lihatlah Pak, Bu. Kedua cucu kalian sangat pandai mengatur. Bagaimana bisa Nio langsung melepaskan mereka di perusahaan jika cara mereka seperti itu." Keluh Nio pada Marni dan Burhan yang sejak tadi hanya diam memperhatikan interaksi keluarga kecil Nio.
"Sudahlah. Biarkan saja selama mereka mengelola perusahaan dengan benar." Burhan.
"Betul sekali apa yang Kakek bilang barusan." Zayn.
"Sudah sana cepat antar adikmu. Nanti dia kesiangan." Olla.
"Yah, Lihatlah Kek, Nek. Bunda kami pandai mengusir kami." Ucap Zayn pura-pura sendu.
"Ceh, kau ini. Nanti jangan lupa pulang kerja langsung ke rumah utama untuk pengajian." Pesan Olla.
"Baik Tuan putri." Ucap Zayn.
Zayn dan Zizi pun berpamitan untuk pergi. Saat keduanya akan memasuki mobil Zayn terdengar suara motor sport berhenti di dekat mereka.
"Astaga! Ngapain ni anak pagi-pagi kemari." Gumam Zayn yang melihat Andre mendatangi mansion.
"Ngapain Lu? Mau numpang sarapan?" Tanya Zayn.
__ADS_1
"Ceh, di suruh Mami ngasih ini sama Bunda." Tunjuk Andre pada paper bag di tangannya.
"Masuk dah sana. Bunda masih di dalam." Titah Zayn.
Dan Andre pun memasuki mansion tanpa menegur Zizi sedikitpun. Sedikit ada rasa tak enak di hati Zizi hanya saja dirinya pun sadar jika saat ini dirinya masih terlalu kecil untuk menjalin suatu hubungan.
Andre masuk dan menemui Olla. Setelah itu dirinya kembali berpamitan karena harus ke kantor Ayahnya. Seperti halnya Zio dan Zayn. Daren dan Andre pun sudah terjun ke perusahaan milik Abi.
"Yah, Bu. Olla pamit ke rumah utama dulu ya. Kalo ada apa-apa Ibu langsung saja hubungi Olla. Kalian tidak perlu kesana beristirahat saja di rumah." Pesan Olla.
"Iya Nak. Kami akan menuruti kalian. Titip salam saja untuk semuanya. Ibu dan Ayah akan ikut berdo'a dari sini." Marni.
"Baiklah. Olla pamit." Olla.
Olla pun pergi di antarkan oleh Zio. Saat sampai di rumah utama Zio pun turun sebentar untuk menyapa keluarganya sebentar sekaligus membawakan barang yang di bawa Bundanya dari mansion.
Saat memasuki ruang utama Zio yang terlihat kerepotan membawa barangnya cuek saja memasuki rumah utama dan memberikan bawaannya pada bibi. Setelah itu Zio berpamitan pada Onty dan yang lainnya.
"Udah ga nangis lagi Lu?" Tanya Zio pada Keina.
"Ish... Abang. Kemarin nyuruh Keina jangan nangis terus sekarang giliran Kein ga nangis di tanyain." Keina.
Deg
Tiba-tiba jantung Zio berdetak tidak seperti biasanya ketika manik matanya bertemu dengan manik mata perempuan yang sejak tadi berada di samping Keina. Keina melihat perubahan dari Kakak sepupunya itu begitu juga dengan Raya sahabatnya.
"Hm.." Dehem Keina.
"Yakin langsung pamit Bang?" Goda Keina.
"Yakin dong. Kan Abang udah selesai tugas mengantarkan Bundanya." Ucap Zio tiba-tiba gugup.
Sementara Raya hanya diam menundukkan kepalanya.
"Ray, kenalin nih Abang Zio kakaknya Bang Zayn." Ucap Keina. Dan seketika Raya pun mendongakkan kepalanya tak percaya jika pria tampan di hadapannya itu adalah kakak dari idolanya Zayn.
"Raya." Ucap Raya mengulurkan tangannya.
"Zio." Ucap Zio membalas.
Seerrr..
"Aduh, kenapa jantungku seperti ini." Batin Raya
"Astaga! Sepertinya aku harus memeriksakan diri ke dokter ini." Batin Zio.
Setelah berkenalan keduanya tampak kaku di hadapan Keina.
"Ga sekalian tukeran nomer ponsel nih. Biar ga nyesel. Ntar nyari-nyari Kein buat minta nomer salah satu dari kalian." Keina.
"Jeh,, apa maksuh mu sih Dek. Sudahlah Abang berangkat dulu." Pamit Zio lagi.
"Abang,,," Panggil Keina cepat saat Zio meninggalkan mereka dengan langkah lebarnya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Zio menghentikan langkahnya.
"Mana ponsel Abang?" Keina.
"Mau apa?" Zio.
"Pinjem." Keina.
"Astaga! Adek. Abang udah kesiangan ini." Zio.
"Yaelah... Abang kan CEOnya santai donh." Keina.
"Hufh... Nih. Cepetan." Ucap Zio memberikan ponselnya.
Keina pun mengetikkan sesuatu di ponsel Zio kemudian memberikannya lagi pada Zio.
"Udah?" Zio.
"Udah dong." Keina.
"Ya udah Abang jalan ya." Pamit Zio melirik ke arah Raya.
"Iya udah sana jangan lirik-lirik." Usir Keina.
Saat Zio sudah sampai di ambang pintu Keina berteriak kembali.
"Abang... Gercep ya keburu di salip orang." Keina.
"Kein,,, apaan sih Lu teriak-teriak." Raya.
"Eh, iya maaf cakapar." Keina.
"Apaan cakapar?" Raya.
"Calon kakak ipar." Keina.
Blush...
"Ngaco Lu! Gw ngejar adeknya aja tiga taun ga ada respon apalagi kakaknya. Bisa mati penasaran gw." Raya.
"Kalo ampe Abang Zio ngasih tanggepan lu mau kasih apa sama Gw?" Tanya Keina.
"All you want..." Raya.
"Seriusly?" Keina.
"Kapan gw ga pernah serius." Raya.
"Deal..."
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1