
Sore hari Daren, Daffin dan Ken datang bersamaan dengan mobil Abi di belakang mobil mereka. Setelah memarkirkan mobil mereka dengan baik mereka keluar dan saling menyapa.
Daren mencium punggung tangan Abi di ikuti oleh Daffin. Sementara Ken yang keluar dari mobil terakhir menyambut sahabatnya dengan saling berpelukan.
"Sendiri?" Ken.
"Melan sudah lebih dulu di sini." Abi.
"Mami ada di dalam?" Daren.
"Ada sejak siang tadi Mami mu ke mari." Abi.
"Tapi, bukannya Mommy dan Kakak ke butik?" Daffin.
"Mereka sudah pulang Daff. Lihatlah mobilnya sudah ada." Ken.
"Ya sudah ayo masuk." Ajak Ken kemudian.
Mereka berempat pun masuk ke dalam. Kedatangan keempat pria dewasa itu pun di sambut tangisan Reina yang menangis saat melihat Daren.
"Hai anak Papa. Papa mandi dulu ya. Baru gendong kesayangan Papa." Ucap Daren menyapa Reina.
Tapi, bukannya reda Reina malah menangis lebih kencang. Usianya hampir satu bulan tapi Reina sudah mengerti Papa dan Mamanya. Keina membujuk Reina dengan mengalihkan perhatiannya dari Daren.
Daren pun segera meluncur ke kamar untuk segera membersihkan dirinya. Begitu juga yang di lakukan Daffin, Ken dan Abi. Demi bisa menggendong sang cucu Abi rela mandi di rumah besan.
Setelah selesai Daren segera menghampiri Keina dan Reina. Reina langsung menyunggingkan senyumannya begitu melihat kehadiran Daren. Tagannya terangkat mengisyaratkan ingin di gendong.
"Anak Papa mau di gendong ya. Boleh, ayo papa gendong." Daren.
"Abang pasti capek ya. Abang mau minum apa?" Keina.
"Capek Abang hilang saat melihat kalian sayang." Ucap Daren mendaratkan ciumanndi kening Keina.
"Kein ambilkan Teh hangat ya." Keina.
"Abang mau jus jeruk aja Yang." Daren.
Keina menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Daren. Sementara Reina anteng bersama Daren. Daren membawa Reina bergabung bersama yang lainnya di ruang utama.
"Bang, sesekali kalian menginaplah di rumah Mami." Tita.
"Iya Mom. Kemarin ada rencana gitu juga sama Kein. Tapi belum di bicarain lagi. Kein masih penyesuaian mengurus Rein." Daren.
"Sekarang kan udah bisa Ren. Pergi saja. Kasian Mami sama Papi kamu. Masa ngurusin Zizi sama Andre terus."Ken.
"Iya Dad." Daren.
"Akhir pekan besok ya Bang." Ajak Keina saat baru saja ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Boleh sayang. Kamu persiapkan saja keperluan kita." Daren.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Reina tergelak membuat semua yang ada di situ terkejut.
"Woalah... Cucu Mima senang ya mau ke rumah Mima." Tanya Melan pada cucu pertamanya.
Reina tersenyum seolah mengerti apa yang di katakan Mimanya. Membuat Melan bertambah gemas. Apalagi Reina semakin gembul. Abi ingin mengambil alih Reina dari gendongan Daren. Daren pun memberikan putrinya.
"Aduh,,, cucu Opa makin cantik aja nih.." Puji Abi.
"Siapa dulu Mimonya." Ucap Tita.
"Ceh, Mama nya Mom." Keina.
"Mom, Daddy tidak melihat Ibu sejak pulang." Ken.
"Ibu sedang tidak sehat Dad." Tita.
"Sudah ke dokter?" Ken.
"Mommy sudah meminta Gagah ke sini Dad." Tita.
"Lalu dimana dia? Kenapa belum juga datang?" Ken.
"Sebentar lagi Dad. Gagah akan datang bersama Laras dan anak-anaknya." Tita.
"Baiklah." Ken.
Mereka semua saling bercengkrama bersama. Daffin ikut bergabung bersama yang lainnya juga. Dan kehangatan mereka harus terhenti ketika Bibi mengatakan jika makan malam untuk mereka telah siap.
Laras dan Gagah langsung menuju kamar Marni. Di ikuti kedua anaknya. Ken dan Tita pun menyusul mereka. Keina membawa Reina untuk di tidurkan sedangkan Daren dan Daffin masih berdiskusi.
"Ibu kenapa ga bisa diam si Bu. Ibu harus jaga kondisi loh. Kan sebentar lagi Daffin nikah." Laras.
"Hus... Kamu ini. Mana Ibu tau kalo Ibu sakit begini." Bela Gagah.
"Ibu hanya kelelahan saja Ras. Setelah istirahat Ibu akan kembali pulih." Marni.
"Diminum dulu obatnya Bu. Jangan dengarkan Laras." Gagah.
"Terima kasih Nak. Maaf Ibu jadi merepotkan." Marni.
"Tidak Bu. Ibu tidak merepotkan." Gagah.
"Kalian menginap di sini?" Marni.
"Iya Bu. Kami khawatir. Jadi, kami akan menemani Ibu disini." Gagah.
"Maaf membuat kalian khawatir ya." Marni.
"Jangan banyak fikiran Bu. Istirahatlah. Kami ada di luar." Gagah.
Marni pun memejakan matanya. Gagah memperbaiki selimut Marni kemudian menggandeng sang istri keluar dari kamar Marni. Gagah mengusal lembut punggung Laras.
__ADS_1
"Biarkan Ibu istirahat dulu. Ibu hanya kelelahan." Gagah.
"Makasih Mas." Laras.
"Sudah kewajiban kita menjaga Ibu. Justru kita tidak enak pada Onty dan Oncle merepotkan mereka." Gagah.
"Iya. Tapi, Ibu ga mau pindah di rumah kita." Laras.
"Biarkan senyamannya Ibu saja sayang jangan di paksakan." Gagah.
"Iya Mas." Laras.
"Gah, Ras. Kalian sudah makan?" Tita.
"Sudah Onty. Maaf tadi kami terlambat datang karena mampir makan malam terlebih dahulu." Gagah.
"Tidak masalah. Tadi siang Onty sudah memberikan obat yang kamu anjurkan dan meminta ibu untuk beristirahat." Tita.
"Maaf merepotkan ya Onty." Laras.
"Tidak ada yang di repotkan Ras." Tita.
Gagah pun memutuskan untuk tinggal sementara di mansion demi mengurus Ibu Laras. Mengingat Tita akan mengadakan hajat besar pernikahan putra bungsunya. Gagah dan Laras tak ingin menambah beban fikiran bagi Oncle dan Onty nya.
Sudah dua hari suasana Mansion begitu hangat dengan kehadiran keluarga Gagah. Namun sayang, akhir pekan ini Keina dan keluarga harus meninggalkan mansion dan menginap di rumah keluarga Abi.
"Dek, Rein ga bisa bobo ya keberisikan?" Laras.
"Ngga Kak. Kemarin itu Mami minta kita buat menginap di rumahnya. Setelah Rein lahir kita belum lagi menginap di sana." Keina.
"Beneran?" Laras.
"Bener Kak. Kein ga enak juga ada keluarga Kakak Kein malah pergi. Tapi, Kein dan Abang sudah berjanji kemarin sama Mami jadi ga enak kalo batal." Ucap Keina bersedih.
"Kakak ga apa-apa kok Kein. Asalkan kepergian kalian bukan karena terganggu dengan adanya kami di sini." Laras.
"Ngga Kak. Sama sekali Ngga. Kein juga jadi malah nitipin Mommy nih sama Kakak. Soalnya Kein pergi dulu." Keina.
"Ga masalah. Kakak di titipin Mommy kamu malah senang." Laras.
"Hahaha... Kakak bisa aja." Keina.
Seperti yang sudah di janjikan. Hari ini Daren pulang lebih cepat untuk menjemput anak dan istrinya yang akan berkunjung ke rumah krang tuanya. Ini kali pertama bagi Keina dan Daren memnawa Reina pergi dari rumah.
Tita dan Laras mengantarkan mereka hingga ke teras. Tita berpesan agar Reina betah di rumah Mima nya. Sama halnya ketika Reina di mansion.
"Betah-betah ya nanti di rumah Mima sayang." Ucap Tita pada Reina.
"Oke Mimo.. Rein pergi dulu ya." Jawab Keina dengan suara di buat seperti anak kecil.
🌻🌻🌻
__ADS_1