
Siang ini Daren di buat kalang kabut setelah menerima kabar dari Bagas asisten Keina. Daren menghentikan rapat pentingnya demi melihat keadaan Keina tunangannya. Rasya pun di buat kelimpungan karena bosnya menghentikan rapat dan meninggalkan ruang rapat begitu saja.
Beruntung Rasya bisa cepat mengendalikan suasana walaupun dirinya sendiri belum tau apa yang tejadi dengan bosnya tersebut. Sementara Daren mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untung saja jalanan siang itu tidak terlalu padat karena memang jam makan siang sudah berlalu.
Daren menghentikan mobilnya di parkiran salah satu rumah sakit besar. Daren berlari menuju ruangan yang telah Bagas kirimkan padanya. Daren membuka pintu ruangan perlahan sambil mengatur nafasnya. Semua yang berada di ruangan itupun menoleh padanya.
"Mom, apa yang terjadi?" Tanya Daren pada Tita yang berada di ruangan tersebut.
"Keina tertimpa balok saat memantau proyek. Keina sedikit ceroboh karena tidak menggunakan helm. Itu sudah di ingatkan oleh orang-orangnya hanya saja Keina memaksa." Tita.
"Sayang." Panggil Daren lirih.
"Apa Kein akan baik-baik saja Mom?" Daren.
"Iya sayang. Kamu tenanglah. Beri kekuatan untuk Keina." Melan.
Melan menepuk bahu putranya. Melan tau ini sangat berat bagi Daren. Melan membawa Tita untuk duduk di sofa yang terdapat di sana. Tak lama Ken, Nio dan Abi datang. Olla tak bisa datang karena mamanya drop.
"Bagaimana keadaannya sayang?" Tanya Ken pada Tita.
"Masih belum sadar Mas." Tita.
Huh...
Ken menghembuskan nafasnya. Abi dan Nio menepuk bahu sahabatnya untuk memberikan ketenangan. Ken pun kembali tersadar. Apalagi sekarang ada Daren calon menantunya yang pasti akan sangat terpukul dengan keadaan Keina sekarang.
"Apa yang dokter katakan Sayang?" Ken.
"Ada kemungkinan Keina akan kehilangan ingatannya Kak." Melan yang menjawab pertanyaan Ken karena Melan tau itu sangat berat bagi Tita.
Ken pun memeluk erat Tita yang telah menangis. Ken mendongakkan kepalanya menahan agar air matanya tak turun. Tapi, itu sia-sia, air matanya luruh begitu saja. Abi memeluk Melan memberikan ketenangan pada Melan yanh juga menangis.
Sementara Nio mendekati Daren yang berada di sisi tempat tidur Keina. Nio memeluk Daren dari samping meyakinkan jika keponakannya akan baik-baik saja.
"Kamu harus kuat. Yakin jika keponakan Om kuat dan akan kembali seperti semula." Nio.
Daren hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya terus menggenggam erat tangan Keina. Tak tau apa yang harus dia katakan melihat keadaan Keina yang tak baik-baik saja.
__ADS_1
Daffin datang ke rumah sakit setelah Bagas menjemput adik dari bosnya itu. Daffin membuka pintu ruangan Keina dan berdiri mematung di samping ranjang Keina.
"Do'akan Kakak Daf." Tita.
"Mom." Ucap Daffin lirih memeluk Tita.
Sejak kedatangannya tak sedetik pun Daren meninggalkan Keina. Dirinya terus duduk menemani Keina. Ken dan Tita memintanya untuk pulang sejenak tapi Daren menolaknya. Dirinya ingin saat Keina membuka mata dirinyalah yang pertama kali di lihat oleh Keina.
Melan mendekati Daren dan memeluknya dari samping. Melan mengusap lembut puncak kepala putra sulungnya. Tangis Daren pun pecah saat Melan memeluknya.
"Bagaimana jika saat membuka matanya Keina tak mengingat Abang Mam?" Daren.
"Yakinlah semua akan baik-baik saja nak. Berdo'alah." Melan.
Tiga hari Keina masih tak sadarkan diri. Daren pun dengan setia menemaninya. Tita, Ken dan yang lainnya bergantian menemani Keina bersama dengan Daren. Bahkan Zio dan Raya pun sudah tak sungkan memperlihatkan kedekatan mereka.
"Apa ada perkembangan hari ini Kak?" Raya.
Daren menggeleng menjawab pertanyaan Raya. Raya menghela nafasnya kemudian menelusupkan wajahnya di dada bidang Zio seraya menumpahkan kesedihannya. Zio pun mengusap lembut punggung Raya. Zio tau betapa sedihnya Raya.
"Simpan saja di sana Dre." Daren.
"Makanlah selagi hangat Bang. Jangan siksa diri Lu. Keina akan marah jika Lu ga makan." Andre.
Mendengar alasan Andre Daren pun segera memakan makanan yang di bawa Andre kedalam mulutnya hingga makanan itu tandas. Setelah itu Daren kembali duduk di kursi samping tempat tidur Keina.
"Zayn, sama siapa Lu?" Tanya Andre yang melihat Zayn datang.
"Sama Zizi." Jawab Zayn santai.
Tak lama Zizi masuk dengan menundukkan kepalanya menghindari kontak mata dengan Andre. Zizi mendekati Ranjang Keina dan menatapnya nanar. Saudara perempuan satu-satunya yang dia miliki kini tengah berjuang sendirian.
"Kak, bangun. Zizi kangen Kakak." Ucap Zizi lirih dan air matanya pun tak terbendung lagi.
Zayn merangkul bahu adiknya yang bergetar. Zayn tau adiknya memang sangat dekat dengan Keina. Andre hanya diam memperhatikan Zayn dan Zizi. Raya mendekati calon adik iparnya.
Kemudian Raya pun membawa Zizi dalam dekapannya. Keduanya menangis bersama. Hati Zio menghangat melihat kedekatan antara Raya dan Zizi. Zio merasa beruntung mendapatkan Raya yang begitu perhatian pada keluarganya.
__ADS_1
"Kak, Kak Kein akan bangun lagi kan?" Tanya Zizi lirih.
"Sssttt... Iya Dek. Kak Kein akan kembali lagi pada kita. Kita do'akan saja ya." Ucap Raya mengusap punggung Zizi.
Entah perasaan apa yang di rasakan Andre yang pasti melihat tangis Zizi yang begitu menyayat hati terasa menusuk relung hatinya. Ingin rasanya membawa Zizi masuk kedalam pelukkannya.
"Sayang, ayo bangun. Semua merindukan kamu." Bisik Daren di dekat Keina.
Namun Keina hanya diam tak ada respon sedikit pun. Padahal dokter sudah mengatakan jika kondisinya telah membaik hanya saja kesadarannya belum juga datang.
Satu minggu berlalu Keina masih diam asik dengan mimpinya. Satu minggu itu juga Daren dengan setia menunggunya. Rasya asistennya terus bolak-balik kantor dan rumah sakit demi mendapatkan tanda tangan bos nya. Bahkan Daren selalu meminta bantuannya jika Daren membutuhkan sesuatu.
"Ren," Panggil Tita yang datang setiap harinya.
"Ya Mom." Daren.
"Pergi saja ke kantor biar Mommy yang menemani Keina." Tita.
"Tidak Mom. Daren tak ingin pergi dari samping Kein." Daren.
"Terima kasih Nak. Keina begitu beruntung mendapatkan kamu. Kamu begitu sayang pada anak Mommy." Tita.
"Mom, jangan bicara seperti itu. Justru Daren yang beruntung mendapatkan Kein Mom. Kein segala bagi Daren." Daren.
Tita pun memeluk calon menantunya. Tak henti Tita mengucapkan terima kasih pada Daren. Setiap hari semua saudara satu persatu bergantian mendatangi Keina. Bahkan Raya dan Zio tak pernah absen mendatangi Keina.
Raya begitu bangga pada Daren yang dengan setia menunggu sahabatnya. Raya selalu bergelayut manja pada Zio. Kali ini Raya pun sudah tak malu-malu lagi menunjukkannya di hadapan keluarga Zio.
"Apa kamu menginginkan sesuatu sayang?" Zio.
"Tidak ada. Raya hanya mau Kein bangun." Ucap Raya lirih.
"Semua mengharapkan itu sayang. Bersabarlah. Kita terus mendo'akannya." Zio.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1