
Setelah semua siap di meja makan Ken dan Tita pun membawa Aiko masuk kembali untuk sarapan bersama. Aiko duduk di samping Artur dan di layani oleh Jessie yang duduk di sebelah kiri Aiko.
Semua menikmati sarapan yang tersaji di meja makan. Hanya sesekali rusuh yang di akibatkan oleh duo A. Apapun akan menjadi bahan rebutan bagi keduanya. Axel yang cenderung diam selalu jadi bahan kejahilan Abian.
"Ai, pagi ini kami akan kembali kepada rutinitas kami. Jangan pernah merasa sendiri. Sebisa mungkin Ayah dan Ibu akan datang ke rumah ini menemanimu. Jangan sungkan meminta tolong suster untuk melakukan sesuatu hal."
"Jangan sungkan juga menghubungi kami jika kamu merindukan kami. Tetap semangat menjalani terapi. Ikuti jadwal yang telah di berikan dokter. Rehan akan membantu mu di sana. Begitu juga dengan anakmu Aldi." Tuan Ito.
"Terima kasih Yah. Saya mewakili Ai dan saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih pada kalian semua. Semangat dan do'a kalian sangat membantu Ai untuk sembuh." Artur.
"Tidak perlu sungkan Kak. Apapun yang bisa kami bantu pasti kami akan membantunya. Jika tidak kami akan berupaya mencari bantuan untuk Kak Ai." Ken.
"Terima kasih Ken." Artur.
"Kami permisi kembali bertugas Tur, Ai. Datanglah lusa untuk terapi. Aldi akan menyiapkannya untuk mu." Rehan.
"Iya Om. Mami pasti datang." Jessie.
"Tetap semangat ya Nak." Ucap Nyonya Laura berpamitan pada Aiko. Memeluk dan mencium puncak kepala Aiko.
"Te ri ma ka sih Bu." Aiko.
Nyonya Laura pun membalikkan badannya tak kuasa melihat keadaan Aiko.
"Bersabarlah Nak. Istrimu akan kembali sembuh." Tuan Ito.
"Terima kasih Yah." Artur.
Semua berpamitan satu persatu. Karena Tuan dan Nyonya Ito pulang akhirnya Ken mengantarkan mereka terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor. Setelah mengantarkan Tuan dam Nyonya Ito dan juga Tita Ken pun berpamitan ke kantor.
Keina bermain bersama Bibi di taman samping. Gladys, Angga dan Tita berkumpul di ruang utama sementara Tuan dan Nyonya Ito beristirahat di kamar sejenak karena semalam mereka berdua tak bisa tidur memikirkan Aiko.
"Siapa yang menangani Kak Ai Ngga?" Tita.
"Dokter Emanuel." Angga.
"Beliau sudah kembali dari luar?" Tita.
"Sudah Onty, sebulan yang lalu." Angga.
"Beruntungnya Kak Ai." Tita.
"Dia bagus Onty?" Gladys.
"Iya sayang. Dia yang paling rekomendasi." Angga.
"Suamimu lebih tau Glad." Tita.
"Tapi, menurut Glad Dokter Angga paling terbaik." Gladys.
__ADS_1
"Hm... Terserahlah." Tita.
"Hahaa... Kasian banget deh Onty ku ini ga ada Oncle nya." Goda Gladys.
"Kau lihat saja. Sebentar lagi juga kau akan di tinggal kerja oleh suamimu itu. Dia akan meraba-raba tubuh wanita lain." Tita.
"Astaga Onty... Jangan gitu dong. Nanti Glad kawal terus nih dokter Angga kalo kerja." Gladys.
"Kawal saja jika kamu mau mempermalukan suamimu." Tita.
"Onty.... Jahat..." Rengek Gladys.
"Sudahlah. Makanya jangan jahil sayang. Kakak ga pernah meraba-raba yang lain kok. Semua di lakukan oleh perawat sayang." Lerai Angga.
"Hahaha.... Baru segitu aja marah." Ledek Tita.
Tita pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Keina yang asik bermain bersama bibi. Keina melihat Tita yang tengah berjalan mendekatinya kemudian Keina menyunggingkan senyumanny.
"Wah, anak Mommy asik banget mainnya ya?" Tanya Tita.
"Ya My." Jawab Keina.
"Main apa sih sayang?" Tanya Tita.
"belbi My." Jawab Keina.
Tuan dan Nyonya Ito keluar dari kamar dan melihat Gladys dan Angga tengah bersenda gurau di ruang utama. Tuan dan Nyonya Ito pun duduk di dekat mereka. Sebelumnya Nyonya Laura meminta bibi membuatkan teh untuk mereka berdua.
"Angga, apa Tante mu itu akan cepat sembuh?" Tanya Tuan Ito.
"Angga belum tau Opa. Tapi, jika di lihat dari interaksi yang terjadi kemarin bersama Tante sepertinya akan cepat sembuh. Tapi, mungkin kita perlu menghindari hal serupa terulang pada Tante." Angga.
"Bagaimana jika hal serupa terjadi? Apa akan semakin sulit?" Tuan Ito.
"Ya Opa. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk penyembuhannya." Angga.
"Apa faktor penyebabnya Angga?" Nyonya Laura.
"Angga kurang tau Oma. Angga belum menanyakannya pada Ayah. Karena Angga kurang enak sama Om Artur juga Kak Aldi kemarin." Angga.
"Hm... Ya kau benar. Kemarin Rehan juga mengatakan hal yang sama pada kami." Tuan Ito.
"Opa sama Oma tak usah banyak berfikir. Biarkan merek dokter-dokter dan perawat yang mengurusnya. Opa dan Oma do'akan saja agar prosesnya lancar dan Tante Ai bisa seger pulih." Ucap Gladys bijak.
"Kau benar Nak. Karena kita tidak faham jadi kita lebih panik berbeda dengan kalian dokter yang sudah terbiasa dengan hal seperti ini." Tuan Ito.
"Apa Opa dan Oma akan menemani Tante Ai lusa?" Gladys.
"Kami usahakan. Karena Kami tidak ingin Aiki merasa sendiri." Nyonya Laura.
__ADS_1
"Apa Gagah sudah di beritahu?" Tuan Ito.
"Sudah Opa. Dan besok mereka akan pulang. Karena mereka tak mendapatkan tiket untuk hari ini." Gladys.
"Mereka meminta di jemput?" Nyonya Laura.
"Tidak Oma. Kakak membawa mobil sendiri yang di simpan di bandara." Angga.
"Owh! Astaga. Kenapa melupakan hal itu." Nyonya Laura.
Mereka pun berbincang cukup lama. Hingga Tita dan Keina yang sudah lama bermain masuk ke dalam. Keina yang sudah kelelahan bermain pun meminta Tita menggendongnya. Walaupun berat Tita tetap menggendongnya.
"Loh, kok cucu Opa di gendong Mommy?" Tanya Tuan Ito.
"Mengantuk Opa. Jadi lemas untuk berjalan.". Jawab Tita.
"Woalah... Cucu Oma kelelahan rupanya. Berganti pakaian dan istirahat ya sayang." Nyonya Laura.
"Iya Oma." Jawab Tita.
Keina pun di bawa Tita masuk kedalam kamar Keina. Tita mengganti pakaian Keina dan tak lupa membasuh tubuhnya sebelum mengenakan pakaian baru pada tubuh Keina.
"Nah, sekarang sudah kembali segar dan wangi. Bobo ya sayang." Tita.
Keina hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Tita pun segera menuntun Keina ke arah tempat tidurnya. Kemudian Keina membaringkan tubuhnya dan terlelap.
Tita ikut terlelap bersama Keina. Tubuhnya terasa lelah setelah semalaman duduk berbincang bersama kedua sahabatnya.
Tuan dan Nyonya Ito di taman belakang melihat sayuran yang di panen oleh tukang kebun. Karena keduanya tidak ikut panen karena terlalu lelah. Tuan dan Nyonya Ito tidak ingin memaksakan diri untuk ikut ke kebun.
"Wah, panen banyak Oma?" Tanya Gladys yang menghampiri ke belakang karena cukup ramai.
"Iya Glad. Nanti di antarkan ke rumah Tante Ai ya sedikit." Nyonya Laura.
"Siap Oma." Gladys.
"Sayang, kamu bisa membuatkan sayur lobak untuk Kakak? Sepertinya enak nih baru di panen." Tanya Angga pada Gladys.
"Kalo Kakak suka Glad akan membuatkannya." Gladys.
"Yakin?" Angga.
"Jangan khawatir Angga. Gladys pintar memasak kok." Tuan Ito.
"Iya Opa." Angga.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1