
Daren segera berpamitan meninggalkan meetingnya karena tangisan Keina terdengar hingga ke ruang kerjanya. Ken yang sempat mendengar tangisan Keina pun segera menghentikan meetingnya. Ken segera pulang karena mendengar tangisan Keina yang begitu terdengar memilukan.
Daren berlari menghampiri Keina yang ternyata sudah berada di bawah karena mencarinya. Daren langsung membawanya kedalam pelukkannya. Daffin pun sempat panik ketika mendengar suara tangis Keina.
"Huh... Syukurlah. Ku fikir Bang Daren pergi ke kantor lagi." Ucap Daffin lega melihat Daren sudah memeluk Keina.
"Ssssttt.... Sayang,,, Abang ada di ruang kerja. Kenapa hmm??" Tanya Daren menenangkan.
Keina terus terisak dalam pelukkan Daren tanoa menjawab pertanyaan Daren. Daren pun mengangkatnya dan memangku Keina duduk di sofa yang berada di dekatnya. Daren terus mengusap punggung Keina dengan lembut. Dan lagi Keina tertidur dalam dekapan Daren.
"Kakak tidur Bang?" Tanya Daffin heran.
Daren hanya mengangguk sebagai jawaban. Karena tak ingin mengganggu Keina.
"Sebaiknya Abang bawa kembali ke kamar." Daffin.
"Biarkan begini saja dulu." Daren.
Daffin pun menemani Daren duduk sambil matanya fokus pada laptop yang di bawanya. Tak lama terdengar derap langkah mendekati mereka. Daffin dan Daren menoleh bersamaan melihat siapa yang datang.
"Dad.."
"Apa yang terjadi pada Keina?" Ken.
"Daffin tidak tau Dad. Saat Abang pergi Kakak masih biasa saja. Tapi, beberapa menit berselang Kakak terlihat murung duduk di depan televisi kemudian Kakak menangis dan terus memanggil Abang."
"Daff fikir ada berita mengenai kecelakaan atau apa di televisi yang membuat Kakak menangis. Tapi, nyatanya Kakak lagi nonton kartun." Jelas Daffin.
"Apa kalian bertengkar?" Ken.
"Seperti yang sudah Ren jelaskan Dad. Tidak terjadi apapun di antara kami. Tapi entah mengapa saat Ren baru saja sampai Kein menelfon dan meminta Ren pulang. Ren bilang jika Ren akan usahakan pulang saat makan siang tapi entah mengapa Kein langsung menangis." Daren.
"Apa dia terjatuh?" Ken.
"Sepertinya tidak Dad. Ren tadi memutuskan untuk virtual menghadiri meeting karena Kein tertidur seperti ini hanya saja tadi Ren simpan di kamar. Tapi baru setengah jalan meeting Kein kembali menangis dan mencari Ren. Jadi Ren putuskan sekarang membiarkan Kein seperti ini terlebih dahulu." Jelas Daren sambil memangku Keina.
"Apa Mommy kalian sudah tau?" Ken.
"Belum Dad. Daff belum menberitahu Mommy. Daff takut Mommy cemas dan menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata." Daffin.
"Kau benar." Ken.
Sejenak suasana menjadi hening. Ketiganya terdiam dengan fikiran masing-masing. Para asisten di kantor di buat kelabakan karena dua petinggi perusahaan pergi begitu saja tanpa pesan dan sudah di pastikan keduanya tak dapat di ganggu karena apapun yang berhubungan dengan keluarga baik Ken maupun Daren tak ingin di ganggu.
__ADS_1
Daffin mengeluarkan benda pipihnya dari saku celananya setelah beberapa kali terdengar berbunyi. Setelah membuka dan membalasnya Daffin pun berpamitan pada Ken dan Daffin.
"Sebaiknya kamu bawa Kein ke kamar Ren dan kamu temani dia di kamar." Ken.
"Baiklah Dad." Jawab Daren.
Dengan hati-hati Daren bangkit dari duduknya seraya menggendong Keina. Namun tak sedikit pun Keina terusik dirinya begitu nyaman berada di pelukkan Daren.
Ken melihat menantunya dengan begitu hati-hati membawa putrinya ke dalam kamar. Perasaannya masih sama. Masih bertanya-tanya ada apa dengan putrinya. Karena tak biasanya Keina bersikap manja.
Ken pun menghubungi Tita dan memintanya pulang dengan alasan dirinya ingin di temani makan siang. Karena Ken sudah kembali dari kantor sejak pagi. Tita pun merasa heran tapi dirinya tak berani menanyakan apapun. Tita pun langsung berpamitan pada Olla dan Melan.
"Apa Ken tak ke kantor?" Olla.
"Ke kantor. Bahkan Mas Ken bilang tadi pagi katanya dia ada meeting." Tita.
"Terus kenapa sekarang tiba-tiba Kak Ken ada di rumah?" Melan.
"Entahlah." Tita.
"Apa mungkin Ken sakit Ta?" Olla.
"Mungkin Kak. Sebaiknya Ta segera pulang dan memastikannya." Tita.
"Siap komandan!" Ucap Tita menirukan gaya militer.
"Ceh, kau ini" Olla.
Tita pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tita berusaha tenang dan melajukan mobilnya seperti biasa. Saat dirinya tiba pun Tita segera masuk kedalam masion tanpa ada kecemasan sedikit pun.
"Tuan dimana Bi?" Tanya Tita begitu dirinya sampai di mansion.
"Seperinya di ruang kerja Nyonya." Bibi.
"Baiklah terima kasih Bi. Daren sudah pulang juga? Daffin kemana?" Tanya Tita kembali.
"Tuan Daren kembali sejak pagi tadi karena Nyonya Keina terus menangis. Sedang Den Daffin baru saja pergi menggunakan motornya." Jelas Bibi.
"Keina menangis? Kenapa? Apa Keina dan Daren bertengkar?" Tanya Tita heran.
"Tidak Nyonya. Kami pun tidak mengetahui sebabnya." Bibi.
"Baiklah. Terima kasih. Bibi bisa kembali bekerja." Tita.
__ADS_1
Tita pun segera menemui Ken di ruang kerjanya. Setelah mengetuk pintu Tita langsung membuka pintu ruang kerja dan Ken sudah menunggunya.
"Bagaimana sayang persiapannya? Sudah berapa persen?" Tanya Ken setelah Tita masuk.
"Hm.. Masih 60% Mas. Ada apa Mas pulang cepat? Bahkan Bibi bilang Daren kembali sejak pagi tadi." Tita.
"Sepertinya ada yang terjadi dengan putri kita sayang." Ucap Ken membawa Tita duduk di sofa.
"Maksudnya?" Tita.
"Menurut penjelasan Daffin dan Daren Keina terus menangis saat Daren jauh dari penglihatannya. Dan Keina akan diam bahkan tertidur setelah Daren memeluknya." Ken.
"Apa Daren dan Keina bertengkar?" Tita.
"Tidak sayang. Bahkan menurut Daren. Keina masih mengantarkannya sampai ke depan pagi tadi." Ken.
Tita terdiam sejenak memikirkan apa yang terjadi dengan Keina. Kemudian tatapannya tak lepas dari Ken membuat Ken salah tingkah.
"Ada apa sayang? Jangan menatap Mas begitu. Aku tau kau begitu mencintai suami mu ini." Ken.
"Ceh, percaya diri sekali Anda Tuan Kenzo Ito." Tita.
"Haha.... Sepertinya Nyonya Kenzo menemukan jawaban atas apa yang terjadi pada putri kita." Ucap Ken menjawil dagu Tita.
"Ish.... Jadi, Tuan Kenzo Ito yang terhormat meminta saya segera pulang hanya untuk meminta saya memikirkan hal apa yang terjadi pada putri Anda." Ucap mengerucutkan mulutnya.
"Kau memang selalu tau apa yang suamimu ini inginkan sayang." Ucap Ken mencium pipi Tita.
"Imbalan apa yang akan Anda berikan padaku Tuan jika tebakan ku benar?" Tantang Tita.
"Semalaman aku akan memuaskan mu sayang." Goda Ken di telinga Tita.
"Ceh, itu bukan sebuah imbalan Tuan. Itu sih maunya Anda." Tita.
"Bagaimana kalo sekarang?" Ken.
"Iiisssshhh... Apa sih." Tita.
Mereka berdua pun malah saling bercanda tak mengingat usia mereka. Ken terus menggoda Tita yang begitu menggemaskan di matanya. Dan di tengah-tengah candaan mereka tiba-tiba saja terdengar tangisan Keina.
Ken dan Tita pun segera berlari ke arah dimana Keina berada. Dan tampak Keina menagis terduduk di lantai sendiri. Entah kenana perginya Daren sehingga membuat Keina menangis histeris.
"Dimana Daren?"
__ADS_1
🌻🌻🌻