
Hari ini Keina dan Daren pulang setelah lima hari berbulan madu. Dan pernikahan Raya dan Zio pun semakin dekat. Karena Keina dan Daren sengaja pulang lebih awal sebelum pernikahan Raya dan Zio berlangsung.
"Apa Kakak sudah tiba?" Daffin.
"Astaga Daff! Kenapa kamu selalu menanyakannya?" Tita.
"Daffin rindu Kakak Mom.". Daffin.
"Sore ini kakak mu datang. Kuliah lah sana jangan lupa ke kantor. Ada rapat siang ini." Ken.
"Iiisss... Kau tak membiarkan anakmu senang Dad." Daffin.
"Setelah kau lulus pekerjaan sudah menunggu mu Daff." Ken.
"Ayolah Dad please... Hari ini saja. Bukankah besok Abang sudah masuk kantor." Daffin.
"Abang mu masih memiliki cuti tiga hari kedepan." Ken.
"Huh... Lihatlah Kek. Daddy begitu menyiksa Daff." Adu Daffin pada Burhan.
"Semua demi kebaikan mu sayang." Burhan.
"Kakek sama Daddy sama saja." Rajuk Daffin.
"Kau tidak malu dengan Intan merajuk begitu." Tita.
"Intan?!?" Ken.
"Up's! Sorry Daf. Mommy keceplosan." Ucap Tita.
Daffin memandang tajam ke arah Tita. Sementara Tita hanya tersenyum menatap Daffin. Ken menatap Daffin dan Tita satu persatu.
"Siapa yang akan menjelaskan siapa Intan?" Ken.
Semua diam. Daffin memang meminta Tita dan yang lainnya merahasiakan tentang Intan karena Daffin takut jika Ken melarangnya kembali menggunakan motor besarnya.
"Daffin."
"Mommy."
Suara Ken begitu mengerikan bagi Daffin. Dirinya tak berani mengeluarkan kata-kata apapun. Burhan dan Marni pun tak ikut campur masalah keluarga anaknya. Tidak di rumah Laras ataupun di rumah Nio.
"Dad, Mommy akan ceritakan tapi Daddy jangan marah ya." Ucap Tita mengusap lengan Ken.
"Hm.. Baiklah." Ken.
Kemudian Tita pun menceritakan perihal Daffin membawa Intan ke rumah mereka secara rinci. Tita tidak menambahkan bahkan mengurangi informasi yang di dapatnya dari Daffin. Ken sedikit mengerutkan dahinya sebentar kemudian wajahnya kembali datar.
Ken menatap tajam putra semata wayangnya. Daffin menunduk takut dengan tatapan Daddy nya. Tita mengusap lembut tangan Ken. Mengisyaratkan pada Ken agar tak memarahi Daffin.
"Kenapa kau membawa perempuan tapi tak mengenalkannya pada Daddy?" Ucap Ken.
"Hah! Ta... Tapi, itu bukan siapa-siapa Daff Dad." Daffin.
"Kau yakin?" Ken.
"Astaga! Dad.... Tentu saja Daff yakin." Daffin.
"Tapi, Daddy rasa kamu masih memperhatikannya." Ken.
__ADS_1
"Tidak Dad..." Daffin.
"Lantas bagaimana kau tau jika Kakinya sudah membaik." Ken.
"Tentu tau Dad kan..." Ucapan Daffin menggantung.
"Kan apa?" Ken.
"Tidak." Jawab Daffin singkat.
Obrolan mereka pun terhenti ketika mendengar suara Melan dan Abi datang. Daffin dapat bernafas lega mendengar kedatangan sahabat dari orang tuanya itu.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Melan.
"Pagi. Ada apa sepagi ini kalian datang ke sini?" Tanya Ken.
"Kami ingin menyambut kedatangan anak dan menantu kami." Abi.
"Ceh, masih sore nanti mereka datang." Ken.
"Tidak apa. Kami sarapan saja dulu." Abi.
"Heh... Bilang saja kalo kalian mau numpang makan." Ken.
"Nah itu tau." Abi.
Dengan santai mereka berdua pun duduk bergabung di meja makan. Setelah menyelesaikan sarapan mereka. Ken dan Abi berpamitan untuk ke kantor dan Daffin ke kampus. Hari ini ada dua mata kuliah dan di lanjut rapat di kantor.
Daffin sebenarnya menikmati kegiatannya minggu ini tapi rasa rindu pada Keina menyiksanya. Karena mereka berdua yang selalu bersama membuat keduanya tak dapat di pisahkan.
"Ibu dan Ayah sudah lama?" Melan.
"Sudah beberapa hari. Karena cucu kami terus merengek kesepian." Marni.
"Do'akan saja Mel." Tita.
"Andre bagaimana? Kapan mereka akan melangsungkan pernikahan?" Burhan.
"Belum tau Yah. Andre selalu mengatakan nanti." Melan.
"Bagaimana dengan Kinan?" Tita.
"Sepertinya mereka masih biasa saja. Mel juga jarang berbicara dengan dia." Melan.
"Kenapa?" Marni.
"Entahlah Bu. Rasanya masih sangat sulit walau sudah mengikhlaskannya." Melan.
"Yah, biarkan saja semua berjalan sebagaimana mestinya." Tita.
"Kau benar Ta. Semua tak akan bisa seperti yang kita mau." Melan.
"Kau sudah mengambil baju di butiknya Kak Ayu?" Tita.
"Belum. Besok rencananya. Sekalian sama Keina." Melan.
"Dengar kan Bu. Keina sudah seperti anaknya saja. Keina benar-benar di kuasai olehnya." Rengek Tita pada Marni.
"Ceh, selalu begitu. Anak ku saja yang kau ambil aku biasa saja." Melan.
__ADS_1
"Hahaha.... Anak kamu, anak aku anak kita ya Mel." Tita.
"Kau benar." Melan.
"Kalian tidak membantu Olla?" Burhan.
"Semuanya di kerjakan oleh WO Yah dan keluarga Raya. Kak Olla dan Zio hanya mengikuti saja." Tita.
"Baiklah. Apa kau sudah dengar jika Zayn sudah memiliki kekasih?" Burhan.
"Benarkah? Ayah tau dari mana?" Tita.
"Ayah bertanya Tita. Karena Ayah belum mendengarnya jalan atau membawa seorang perempuan." Burhan.
"Tidak ada Yah. Terakhir dengar dia dekat dengan sekretarisnya tapi katanya itu cuma gosip." Tita.
"Apa sekretarisnya masih muda dan cantik?" Marni.
"Masih muda Bu. Tapi, setelah ada gosip itu dia mengundurkan diri. Katanya mau lanjut sekolah." Tita.
"Wah, keren." Melan.
"Sekarang gimana?" Marni.
"Sekarang masih jomblo Bu." Tita.
"Zayn dan Daffin sama saja." Burhan.
Cukup lama Burhan ikut bergabung dengan para wanita itu kemudian Burhan pun berpamitan masuk ke dalam kamarnya karena dirinya lelah. Marni mengantarkan suami tercintanya masuk dan memastikan suaminya nyaman.
Setelah itu Marni kembali bergabung dengan Tita dan Melan. Tita bergegas ke dapur untuk menbuatkan masakan kesukaan Keina. Melan dan Marni pun ikut membantunya. Mereka bertiga cukup kompak.
Siang hari Olla dan Aiko datang. Olla bersama Zizi dan Aiko sendiri. Aiko ingin bercerita mengenai pernikahan kedua cucunya pada Tita. Ya, Tita memang tempat kedua kakak iparnya mengadu setelah kepergian Nyonya Laura.
Karena Tita lebih bijak menyikapi masalah dari pada kedua kakak iparnya. Aiko menjadi lebih dekat dengan Tita setelah beberapa kejadian menimpanya. Tita pun tak pernah menaruh dendam apapun karena baginya tak pernah ada kata dendam.
Jika hanya kecewa sangatlah wajar karena kita sebagai manusia memiliki rasa. Tapi, Tita begitu pandai menutupinya. Bahkan Tita selalu terlihat baik-baik saja dimata orang-orang yang di sayanginya. Namun, tidak di hadapan Ken.
Tita akan berubah manja di hadapan Ken. Semua hal buruk tentangnya tak pernah di tutupinya di hadapan suaminya itu. Dan Ken menyukainya. Karena bagi Ken Tita sempurna di matanya.
"Kau sudah ada di sini Mel?" Tanya Olla.
"Sudah sejak pagi." Jawab Marni.
"Astaga! Lama-lama kau pindah ke sini Mel." Olla.
"Tidak jika Andre menikahi Zizi." Ucap Melan.
"Mami." Protes Zizi.
"Iya sayang. Mami hanya bercanda." Melan.
"Kak Ai, Ada apa?" Tita.
"Kau sudah mendengarnya pasti?" Aiko.
"Duo A?" Tita.
"Ya." Aiko.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏