Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Tangis Histeris Keina


__ADS_3

Dengan lunglai Gagah melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Gagah menarik nafas panjang sebelum membuka heandle pintu. Saat memasuki kamar dilihatnya Laras sudah membaringkan dirinya di atas tempat tidur.


"Sayang,," Panggil Gagah.


Laras diam tak menanggapi. Dirinya berpura-pura tidur menahan kesalnya. Laras pun tak mengerti sejak kehamilannya Laras begitu sensitif.


"Sayang, Kakak minta maaf." Ucap Gagah memeluk Laras dari belakang.


Tak dapat di pungkiri jika pelukkan Gagah membuatnya nyaman. Laras yang awalnya berpura-pura tidur pun akhirnya tertidur dengan nyaman dalam pelukkan Gagah.


Pagi hari semua sudah bersiap pergi ke tempat masing-masing. Laras hari ini akan memeriksakan kandungannya bersama Gagah karena kebetulan Gagah ada jadwal kosong hari ini.


Ayumi menunggu Keina di antarkan Bagas dan Hena sebelum dirinya ke butik. Tuan dan Nyonya Ito memutuskan pergi ke kebun. Rehan ke rumah sakit sementara Tita dan Ken ke perusahaan masing-masing.


Tita masuk ke perusahaan seperti biasa. Hari ini dirinya hanya akan berkutat di dalam ruangan menyelesaikan beberapa laporan dan mengontrol semua penyelidikan yang sedang berjalan. Tari dan Arif terus mondar-mandir ke ruangan Tita untuk melaporkan hasil kerjanya.


Arif dan Tari kompak dalam segala hal. Bahkan mereka berjodoh dan menikah hanya saja mereka berdua belum di percayakan keturunan. Keduanya tak ambil pusing. Mereka berkerja dengan setulus hati.


Ken mendatangi kantor Tanio untuk menanyakan perkembangan kasus perusahaan yang di pimpin Tita dan betapa Ken salutnya terhadap istrinya. Tita sangat cepat dalam menjalankan tugasnya.


"Kau yakin sudah sejauh ini?" Ken.


"Ya. Itulah mengapa dia tak ingin kita ikut campur." Tanio.


"Kenapa dia dulu kuliah keperawatan?" Ken.


"Itu cita-citanya. Sebenarnya dia tak ingin menjadi pembisbis seperti kita. Dia terlalu takut karena kehilangan Mami dan Papi." Tanio.


"Ya. Dia masih terlalu kecil saat orang tua kalian pergi." Ken.


"Bagaimana selanjutnya? Kau siap melanjutkan perusahaan Ayah?" Tanio.


"Mungkin akan sulit di awal. Tapi, gw yakin bisa. Arif akan di angkat menjadi CEO di sana. Untuk sekretaris dia berhak menentukan. Apa akan tetap Tari atau memilih yang lain." Ken.


"Gw rasa sebaiknya Arif mencari yang lain saja. Biarkan Tari beristirahat siapa tahu dengan begitu mereka bisa memiliki keturunan." Tanio.


"Kau benar. Biar nanti kita bicarakan bersama." Ken.


Setelah berbincang lama Ken pun berpamitan kembali ke perusahaannya. Tanio kembali pada pekerjaannya yang telah menunggu di selesaikan. Tanio tak mempermasalahkan jika perusahaan Tita akan di alihkan pada Ken karena Ken adalah suami dari adik tercintanya.


Sementara Bagas dan Hena yang akan berencana ke rumah Aiko terpaksa di urungkan karena Keina menangis histeris dan tak memperbolehkan Bagas dan Hena pergi ke sana. Angga pun bingung kenapa keponakannya begitu histeris.


Riana sang calon pun ikut heran kenapa anak sekecil itu begitu ketakutan ketika menyebutkan tempat tinggal seseorang.

__ADS_1


"Keina, Om boleh tanya?" Tanya Angga ketika Keina sudah mulai tenang. Keina pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa Keina tidak mengijinkan Opa dan Oma pergi?" Angga.


Keina menatap Angga dengan sisa linangan air mata di sudut matanya. Angga dan Riana memang berencana ikut bersama Bagas dan Hena untuk menjenguk Aiko sekaligus memperkenalkan Riana.


"Di tanah banak olang tahat Om." Jawab Keina sesegukan.


"Orang jahat?" Tanya Angga dan Keina mengangguk.


Kemudian Keina memeluk Hena erat. Hena merasakan jika ada sesuatu yang tak beres dengan cucunya. Akhirnya Bagas dan Hena pun membatalkan kepergiannya. Begitu juga dengan Angga dan Riana.


"Ya sudah. Kamu mau ke kantor atau kita pergi saja berjalan-jalan?" Tanya Bagas.


"Kita ke rumah Om Ito saja Yah." Ajak Angga.


"Kau benar. Kita ke sana saja. Sekalian kenalin Riana." Hena.


"Baiklah. Kita pulang ya Kei." Ajak Bagas.


"No Opa. Kei au atan ekim." Jawab Keina polos.


"Astaga! Cucu Oma mau es krim rupanya. Baiklah. Kita makan Es krim di mall A ya. Nanti sekalian kita ketemu Buna di sana." Ajak Hena.


Keina pun menganggukkan kepalanya senang. Matanya berbinar mendengar ajakan Hena. Gena pun menghubungi Ayumi untuk pergi ke butik karena Keina akan di bawa ke Mall A dimana butik Ayumi berada.


Sampai di Mall Keina berjalan di apit oleh Riana dan Hena. Ketiganya tampak riang berjalan bersama. Sementara Bagas dan Angga mengikuti mereka dari belakang.


"Te, Kei au toktat tama beli." Pinta Keina.


Riana sedikit bingung dengan ucapan Keina karena dirinya kurang faham ucapan keponakan calon suaminya itu.


"Rasa coklat dan strawberry sayang." Ucap Angga.


"Owh! Baiklah. Tante pesankan dulu ya." Ucap Riana.


"Ote Te." Jawab Keina senang.


Mereka berlima duduk bersantai di kedai es krim. Ayumi yang baru saja datang langsung menuju kedai es krim biasanya. Dirinya tak mengerti kenapa Tantenya meminta dirinya ke sana. Bukankah mereka berencana akan pergi rumah Aiko.


"Hai Semuanya." Sapa Ayumi yang baru saja datang.


"Buna.." Seru Keina.

__ADS_1


Ayumi pun segera memeluk Keina dan menciumi pipi gembulnya. Tak lama datanglah Riana membawakan pesanan Keina dan yang lainnya di bantu oleh Angga.


"Loh, Kak Ayu sudah datang. Mau es juga Kak?" Tawar Angga.


"Hei apa kabar Ga? Tidak usah Kakak baru saja makan." Tolak Ayumi.


"Owh! Iya Kak. Kenalkan ini Riana calonnya Angga." Ucap Angga memperkenalkan Riana.


Mereka pun saling memperkenalkan diri. Ayumi begitu takjub melihat calon dari sepupunya. Pantas saja Angga begitu menyukainya Riana gadis yang cantik.


"Sudah lama kenal Angga?" Tanya Ayumi.


"Sudah Kak." Jawab Riana.


"Kok mau sama Angga?" Ayumi.


Uhuk... Uhuk...


"Eh, Kak Ayu ih. Apaan sih." Angga.


"Hahaha... Kakak becanda Ri. Jangan di ambil hati. Dan bersiaplah nanti ada yang lebih julit daripada Kakak." Ucap Ayumi.


"Kalian ini memang. Sudah ayo Riana lanjutkan makan es nya." Hena.


"Iya Bu." Riana.


"Kalian tidak jadi ke rumah Ai?" Tanya Ayumi.


Kemudian Hena menberi kode pada Ayumi jika Keina melarang mereka semua. Bahkan Keina sampai menangis. Ayumi yang faham akan situasinya pun hanya menarik nafas tanpa banyak bicara lagi.


"Sebenarnya ada apa?" Bagas.


"Nanti di rumah kita bicarakan Om." Ayumi.


"Baiklah." Bagas.


"Sayang, Apa Keina mau ikut Buna ke butik?" Tanya Ayumi pelan.


"No. Kei au uang te lumah." Jawab Keina.


"Iya nanti kita pulang sekarang kita ke butik Buna dulu ya." Ajak Ayumi.


"No Buna." Jawab Keina tegas.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2