Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
SAH


__ADS_3

Laras duduk di samping Gladys melihat kursi yang masih kosong di hadapannya. Ternyata semua keluarga belum menyadari jika Gagah belum ada. Laras merasa ragu saat akan menanyakan keberadaan Gagah.


"Eh, Gagah kemana?" Tanya Ken yang melihat Laras terus memperhatikan kursi kosong di samping Angga.


"Loh, Glad coba kamu panggil Kakak kamu." Rehan.


"Baik Yah." Ucap Gladys dan segera bangkit dari duduknya setengah berlari menuju kamar Gagah.


Sampai di kamar Gagah Gladys tampak bengong tidak seperti biasanya Gagah masih tertidur.


"Kak, Kakak." Ucap Gladys menggoyangkan tubuh Gagah.


"Hm.. Sebentar lagi Glad jangan ganggu." Gagah.


"Bangun ih, udah siang. Di tunggu semuanya tuh di meja makan." Gladys.


"Jam berapa sih?" Gagah.


"Jam 7 Kak." Gladys.


"Hah!" Gagah bangkit dari tidurnya dan melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya.


Gagah langsung berlari ke kamar mandi dan segera mengguyur badannya dengan air dingin yang mengalir dari shower. Hanya butuh waktu lima menit baginya menyelesaikan mandinya kemudian menggunakan pakaian santainya dan turun dari kamarnya.


Dilihatnya semua keluarga sedang menikmati makanan masing-masing. Melihat ke arah Laras dan entah mengapa dasanya berdetak lebih cepat. Entah karena ingatannya tertuju pada acara siang nanti atau ada rasa yang lain di dadanya. Namun, Gagah berusaha bersikap biasa saja.


"Hm... Pagi semuanya. Maaf terlambat." Ucap Gagah duduk di kursi kosong dan mengambil makanannya sendiri.


Ada perasaan tak enak di hati Laras ketika Gagah mengambil makanannya sendiri.


"Sekarang sih ambil sendiri ya Gah. Nanti sore udah ada yang layanin." Ucap Hena setelah menyelesaikan makannya.


Gagah hanya diam mengangguk sambil menikmati makanannya. Dirinya tak tau harus bagaimana.


"Tata mam Tata...." Ucap Keina pada Gagah.


"Iya Dek. Ini Kakak lagi makan." Ucap Gagah lembut.


"Habiskan dulu makanannya sayang." Ucap Tita memperingati putri kecilnya.


Keina menggoyangkan kakinya yang melayang di kursi yang dia duduki. Laras hanya diam menunduk menikmati sarapannya. Pasalnya dirinya pun kesiangan dan merasa malu karena tak melakukan apapun untuk ikut menyiapkan sarapan pagi.

__ADS_1


"Laras setelah ini kamu masuk lagi ke kamar ya. Nanti ada MUA yang akan membantu kamu untuk perawatan dan mendandani kamu." Ayumi.


"Iya Bun." Laras.


"Tenang, nanti kamu ga sendiri kok akan di temani Gladys." Nyonya Laura.


"Iya Oma." Jawab Laras lagi.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka kini mereka di sibukkan dengan acaranya masing-masing. Karena Tita tengah mengandung maka Tita di larang keras melakukan apapun oleh Ken. Tita hanya bertugas menjaga Keina bermain.


Walaupun beberapa kali Tita membujuk Ken agar dirinya bisa ikut berpartisipasi tapi pendirian Ken begitu kuat dirinya tetap melarang Tita menyentuh apapun. Dengan terpaksa Tita pun hanya berdiam duduk manis menjaga Keina.


Hari semakin siang. Keluarga sudah berkumpul hanya tinggal menunggu penghulunya saja dan kedua calon mempelai. Karena kedua orang tua Laras tidak ada maka Olla dan Tanio bertugas menggantikan posisi mereka.


Tanio dan Olla pun bersedia dengan senang hati. Kedua anak mereka di jaga oleh Ibu dan Ayah nya Olla yang selalu setia ada untuk cucu mereka. Begitupun Keina yang sudah akrab dengan keduanya. Hanya saja kali ini Keina tidak lepas dari Hena.


Setelah penghulu datang Gagah pun diminta untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan. Entah mengapa duduk di depan penghulu rasanya begitu gugup di bandingkan dengan ujian dokter itu yang di rasakan Gagah saat ini.


Karena tak ada orang tua Laras makan wali hakim yang akan bertugas menikahkan Laras dan Gagah. Setelah mengisi beberapa berkas penghulu pun memulai acaranya. Dengan satu tarikan nafas Gagah pun berhasil mengucapkan janji sucinya hingga menggema kata "SAH" di ruangan utama yang sudah di sulap menjadi indah.


Setelah kata Sah berkumandang Laras pun di tuntun keluar oleh Gladys. Laras begitu anggun menggunakan kebaya modern rancangan daru mertuanya sendiri. Ya walaupun Ayumi seorang dokter tapi bakat designnya pun begitu kuat. Maka dari itu Ayumi memilih membuka Butik setelah dirinya mengundurkan diri sari dunia kedokteran.


Gagah menatap kagum melihat Laras yang begitu anggun berjalan di dampingi oleh Gladys. Gladys menggunakan dres panjang rancangan Bundanya juga. Angga yang melihat calon istrinya begitu cantik membuat dirinya tak dapat mengedipkan matanya.


Laras pun berdiri di samping Gagah mencium punggung tangan Gagah untuk yang pertama kalinya dan Gagah pun mendaratkan ciumannya di kening Laras untuk yang pertama kalinya juga.


Setelah acara selesai mereka semua menikmati hidangan yang sudah di sediakan oleh Nyonya Laura. Hanya Keluarga inti saja yang datang dan tak lupa tetangga dekat dan aparat setempat untuk menjadi saksi pernikahan Laras dan Gagah.


Saat setelah selesai dan satu persatu tetangga pulang Laras berniat akan mengganti pakaiannya. Dirinya pergi ke arah kamar tamu yang semalam dia tempati dan Gagah menuju kamarnya.


"Eh, kok ini mau pada kemana?" Tita.


"Mau ganti baju Onty." Laras.


"Terus kenapa kamu ke situ?" Tita.


"Kan baju Laras ada di kamar itu Onty." Laras.


"Siapa bilang. Koper kamu udah di pindahin sama maid. Sana ke kamar sama suami kamu. Gagah ayo ajak istrinya ke kamar." Tita.


"Eh, Iya Onty." Jawab Gagah begitu gugup.

__ADS_1


Laras pun berjalan mengikuti langkah Gagah dengan detakan jantung yang tidak beraturan begitu juga dengan Gagah. Karena bagi keduanya ini adalah pengalaman pertama berbagi kamar dengan lawan jenis.


Bahkan keduanya belum pernah merasakan namanya pacaran. Karena Laras yang selalu mendaptkan tekanan dari Ayah tirinya sedangakn Gagah terlalu fokus pada sekolahnya.


"Kamu mandi saja duluan." Titah Gagah.


"Hm.. Baiklah." Laras.


Laras pun segera masuk kedalam kamar mandir setelah sebelumnya mengambil baju gantinya di dalam koper miliknya. Sementara Gagah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Tak lama Laras pun keluar dengan rambut yang masih basah dan Laras melilitkan handuk kecil di kepalanya. Laras bingung mencari colokan untuk memasang hairdryer miliknya.


"Cari apa?" Gagah.


"Ini." Tanya Laras mengacungkan colokan pada Gagah.


Gagah mengambil kabel hairdryer Laras kemudian memasukkannya pada aliran listrik. Laras pun hanya diam mematung memperhatikan Gagah.


"Sudah. Mau aku bantu mengeringkan?" Tanya Gagah.


"Eh, ng ngga usah Kak. Kakak mandi saja." Jawab Laras gugup.


"Baiklah. Aku mandi dulu ya." Gagah.


Setelah Gagah meninggalkannya ke kamar mandi Laras pun segera mengeringkan rambutnya. Setelah selesai Laras pun memoleskan skincare pada wajahnya agar terlihat lebih segar.


Setelah selesai dirinya berniat untuk keluar kamar dan bergabung kembali dengan keluarga besar Ito. Saat dirinya hendak melangkah menuju pintu kamar Gagah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Laras menunduk dengan wajah yang memerah malu melihat dada bidang Gagah dengan perut kotak-kotaknya. Gagah yang tau jika Laras tengah malu pun berjalan mendekatinya.


"Kenapa tidak menyiapkan bajuku?" Gagah.


"Hah! Hmm... Eh, iya maaf lupa." Laras segera menghampiri lemari pakaian Gagah dan mengambilkan satu stel pakaian santai untuknya lengkap dengan dunia perdalamannya.


"Terima kasih." Ucap Gagah di telinga Laras membuat Laras meremang dan merasakan hal yang aneh pada dirinya.


"Ehem.. Masih mau disini?" Tanya Gagah menggoda.


"Hah! Eh, Laras tunggu di luar." Ucap Laras gugup keluar dari walk in closet.


Gagah tersenyum kecil melihat tingkah Laras yang begitu gugup. Padahal dirinya oun tak kalah gugup dari Laras hanya saja Gagah mampu mengalihkannya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2