Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Curahan Hati Zizi


__ADS_3

Hari ini Keina sudah berada di rumah. Ken melarangnya kembali ke kantor karena tidak ingin kejadian serupa terulang lagi. Tita tak bisa berkata apapun dirinya hanya menurut apa yang Ken katakan.


Hanya saja Abi harus merelakan anak sulungnya di tarik oleh Ken ke perusahaannya untuk menggantikannya. Karena sebagai calon suami Keina nantinya toh Daren harus memegang pimpinan juga.


Mengapa tidak Daffin karena Daffin masih bersekolah. Usia Daffin dan Keina terpaut lima tahun saja tapi Daffin belum berniat terjun ke perusahaan. Daffin ingin konsentrasi terlebih dahulu pada pendidikannya.


Dengan berat hati Abi pun merelakannya karena dirinya pun masih memiliki Andre di perusahaannya. Dan Andre pun akhirnya melanjutkan sekolahnya sambil membantu Abi di perusahaan.


"Zi, apa sudah asa rencana akan berkuliah dimana?" Tanya Keina yang saat ini tengah bersantai di taman belakang bersama Zizi dan Tita.


"Belum Kak. Masih bingung. Bunda melarang Zi sekolah di luar." Zizi.


"Memangnya kamu mau sekolah di luar juga seperti kedua kakak kamu?" Tita.


"Iya Onty. Masa mereka kuliah di luar Zi disini-sini aja." Zizi.


"Hei,, Kakak juga sekolah di sini ga masalah. Memang apa tujuan kamu sekolah di luar? Hanya karena tak mau kalah dengan Bang Zio dan Bang Zayn?" Keina.


"Hmm... Ga tau juga sih Hehhee..." Zizi.


"Ceh, kamu itu. Memangnya kamu mau ambil jurusan apa?" Tita.


"Enaknya apa ya Onty, Kak?" Zizi.


"Hei, kau ini. Siapa yang bersekolah siapa yang bertanya. Mana Onty tau kamu mau jadi apa?" Tita.


"Huh! Zizi bingung Onty. Mami pengennya Zizi kuliah sambil nikah." Zizi.


"Hah! Kapan Mami bilang?" Keina.


"Minggu lalu pas Kakak masih sakit." Zizi.


"Kenapa begitu?" Tita.


"Katanya biar aku nikahnya deketan sama Kakak atau kalo bisa di satuin." Zizi.


"Ceh, Melan mengada-ada. Ga usah. Sekolah saja dulu. Nikah gampang." Tita.


"Bukan itu masalahnya Onty." Zizi.


"Apa?" Tanya Keina dan Tita bersamaan.


Zizi tampak murung dan menundukkan kepalanya. Keina dan Tita saling pandang. Keduanya memang tau Zizi dan Andre tak begitu dekat. Malah Andre cenderung menghindari Zizi.


"Kenapa?" Tanya Tita mengusap punggung Zizi.


"Zizi saja tak pernah dekat dengan Abang. Bahkan saling bertegur sapa pun tidak pernah apalagi chat atau telfon. Dan.." Ucap Zizi menggantung.


"Dan apa?" Keina.


"Dua hari lalu Zi lihat abang sama perempuan di mall." Zizi.

__ADS_1


"Mungkin itu temannya." Tita.


"Apa mungkin sama teman saling berpegangan tangan Kak, Onty?" Zizi.


"Sayang, sabar ya. Kakak yakin jika kalian berjodoh apapun akan ada jalannya. Dulu saja kakak dan abang tak pernah berkomunikasi tapi kami bisa bersama." Keina.


"Iya sayang. Sekuat-kuatnya kita menjauhkan diri jika berjodoh maka akan bertemu juga begitupun sebaliknya sekuat-kuatnya Mami Melan mendekatkan kalian jika belum berjodoh maka tidak bisa bersama juga." Tita.


"Zi serahkan semuanya sama Tuhan saja Onty." Zizi.


"Apa kau pernah dekat dengan teman lelaki mu?" Keina.


"Tidak Kak. Zizi takut malah mengecewakan orang lain." Zizi.


Mereka bertiga pun mengehentikan acara saling curhat ketika Olla dan Melan datang bergabung dengan mereka. Melan duduk di samping Zizi dan merangkulnya, jadilah Zizi di apit antara Melan dan Tita. Sementara Olla duduk di samping Keina.


"Apa sudah jauh lebih baik Kak?" Olla.


"Sudah Tan." Keina.


"Kemana Ibu dan Bapak?" Olla.


"Sedang di rumah Laras. Kemarin Gagah dan Laras menjemputnya." Tita.


"Ya, kita harus ikhlas jika Ibu dan Bapak memilih tinggal bersama mereka. Karena walau bagaimana pun Laras anak mereka." Olla.


"Ya benar. Tapi, kadang rasanya ingin egois kalo Ibu sama Bapak harus tetap di sini." Tita.


"Gw ngerti Ta. Tapi kalian ga bisa begitu." Melan.


"Bun, Nginep di sini ya." Zizi.


"Astaga! Kamu ini. Bunda punya anak perempuan satu-satunya malah sering banget ninggalin Bunda. Belum lagi nanti kalo kamu udah nikah." Olla.


"Astaga! Rumah kita hanya bersebrangan La." Melan.


"Kalo gitu Bunda juga tidur di sini." Zizi.


"Terus Ayah?" Olla.


"Kalian menginap di sini. Gw juga nginep di sini." Melan.


"Astaga! Besok kita pindah di rumah kecil saja Kak bilang sama Daddy." Tita.


Hahaha...


Mereka pun tertawa bersama. Mereka memang sering sekali menginap di mansion karena terdapat beberapa kamar di sana yang bisa mereka gunakan.


Melan dan Olla pun menghubungi pasangan masing-masing untuk menginap di sana. Mereka juga meminta pelayan di rumah mereka mengantarkan pakaian untuk mereka. Zizi menarik nafas dalam. Karena jika Melan ikut menginap maka kedua anaknya pasti akan ikut menginap juga.


Zizi memang sangat kurang nyaman jika Andre ada di sana. Karena Andre juga yang selalu menjaga jarak di antara mereka. Zizi selalu mengurung dirinya di kamar Keina jika acara kumpul-kumpul bersama terjadi.

__ADS_1


"Mom, Buna mengirim pesan nih." Ucap Keina memberikan ponselnya.


"Kenapa ga langsung ke hape Mommy." Tita.


"Entahlah. Memang mana hape Mommy?" Keina.


"Astaga! Mommy lupa. Sepertinya tertinggal di kamar." Tita.


Kemudian Tita meminta salah satu bibi mengambilkan ponselnya kemudian Tita membaca pesan yang di kirimkan Ayumi pada Keina.


"Astaga! Mommy lupa Kein. Besok ada acara amal sama Buna kamu. Dan seharusnya hari ini Mommy ke butik mengambil baju." Tita.


"Ya sudah. Mau Kein antar?" Keina.


"Ngga usah biar Mommy minta Pak Min saja." Tita.


"Baiklah." Keina.


"Maaf sayang, Mommy tidak ingin mengambil resiko jika Daddy marah sama kamu karena pergi mengantar Mommy." Tita.


"Iya Mom, Kein mengerti." Keina.


Mereka pun kembali melanjutkan obrolan mereka setelah Tita meminta supirnya untuk mengambilkan baju ke butik Ayumi. Tak terasa perbincangan mereka pun terhenti karena waktu makan siang. Bibi memberitahukan pada Tita jika makanan sudah siap.


"Ayo kita makan." Ajak Tita.


"Mom, Daddy tidak pulang makan siang?" Keina.


"Daddy atau Daren yang kau tanyakan hm?" Tita.


"Daddy Mom." Jawab Keina dengan wajah bersemu.


"Tidak. Daddy ada rapat setelah makan siang jadi, untuk menpersingkat waktu Daddy dan Daren makan siang di kantor." Tita.


"Daren sudah pindah ya?" Olla.


"Sudah. Setelah Keina pulang Daren langsung bertugas di perusahaan." Tita.


"Lantas pekerjaannya di perusahaan kalian bagaimana Mel?" Olla.


"Semua di limpahkan pada Andre." Melan.


"Rasya?" Olla.


"Tentu saja ikut bersama Daren." Melan.


"Loh, kan ada Bagas." Olla.


"Bagas dan Rasya saling bekerja sama menemani Daren. Karena calon istrinya tidak ingin ada perempuan di lingkup kerja suaminya. Padahal dia sendiri kemarin bekerja dengan asisten laki-laki." Tita.


"Kau menyindirku Mom." Keina.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2