
Makan siang pun telah tersedia. Keina dan Daren sudah turun dan ikut bergabung di meja makan. Ken pun sudah berada di meja makan hanya tinggal menunggu Daffin. Setelah Daffin bergabung mereka pun memulai makan siang mereka.
Zizi bukannya melahap makanan yang ada tetapi malah memakan cake buatan Tita yang nyaris tak pernah gagal soal rasa. Zizi memakan hampir setengah cake yang di sajikan Tita.
"Astaga! Zi, perut lu aman?" Tanya Daffin heran karena Zizi memakan cake begitu banyak.
"Aman." Jawab Zizi santai.
Daffin pun hanya menggelengkan kepalanya. Karena mereka semua belum mengetahui jika Zizi tengah berbadan dua juga seperti Sinta. Keina mengusap perutnya yang sudah mulai berasa begah karena kehamilannya sudah menginjak tujuh bulan lebih.
"Tumben banget Zi makan cake banyak?" Keina.
"Maunya dia nih." Tunjuk Zi pada perutnya.
"Kamu hamil?" Keina.
"Iya." Jawab Zi santai.
"Aaa.... Selamat sayang..." Ucap Keina dengan mata yang berbinar.
"Astaga alamat ribet nih." Daffin.
"Maksud kamu Daff?" Daren.
"Abang tau sendiri ga hamil aja dia cerewetnya minta ampun kalo di kampus. Nah ini tambah hamil. Awas aja ya lu ngerepotin gw." Daffin.
"Yee.... Siapa juga yang mau kuliah sambil hamil. Abang Andre aja yang garap gw terus ya begini jadinya." Ucap Zizi abrurb.
"Astaga! Mulut lu Zi." Daffin.
"Apaan sih. Beliin gw es krim dong Daff." Pinta Zizi.
"Idih, beli aja sono lu sendiri." Tolak Daffin.
"Daffin pelit banget sih Lu sama ponakan." Zizi.
"Ceh, mana ada. Itu mah maunya lu aja." Daffin.
"Mami..." Rengek Zizi mengadu pada Melan.
"Daffin. Beliin aja udah sana biar cepet kelar." Ucap Ken meminta Daffin untuk membeli es krim.
"Hm... Iya.... Iya. Manja banget sih lu." Protes Daffin.
Daffin pun segera keluar menuju mini market untuk membelikan Zizi es krim. Daffin membeli semua varian rasa yang ada. Pelayan mini market dengan senang hati memberikan semua es krim yang di minta Daffin.
__ADS_1
"Nih, makan tuh sebelum meleleh." Ucap Daffin memberikan satu karton es krim.
"Aaaa... Makasih sepupu..." Ucap Zizi dengan mata berbinar melihat es krim yang di bawa Daffin.
"Pelan-pelan makannya ya sayang." Melan.
"Oke Mami." Zizi.
Keina hanya mengusap perutnya dengan lembut melihat Zizi memakan es krim. Setelah membuka beberapa es Zizi merasa kenyang dan mengantuk. Zizi pun meminta Bibi untuk menyimpan esnya ke dalam lemari es.
"Mami,, Zizi mau bobo." Ucap Zizi.
Melan yang sudah mengerti kebiasaan Zizi sejak tau dirinya hamil pun segera mencari posisi untuk Zizi tidur di pangkuan Melan. Setelah siap Zizi pun langsung meringkuk memeluk Melan dalam pangkuan Melan.
"Astaga! Mel. Ga pegel?" Tita.
"Pegel dong Ta. Tapi, di nikmati aja deh. Belum tentu kehamilan Zizi berikutnya dia meminta hal yang sama." Melan.
"Mami...."Rengek Keina.
"Kenapa? Sini duduk dekat Mami." Ucap Melan merentangkan tangan kirinya agar Keina bisa masuk ke dalam pelukkannya juga.
Keina pun beralih tempat duduk di samping Melan. Keina bergelayut manja pada bahu Melan sementara Zizi tertidur di pangkuan Melan.
"Sepertinya belum Ta. Zizi belum ke rumah Olla sejak tau kehamilannya. Zizi lebih manja pada Andre dan Mas Abi." Melan.
"Serius?" Tita.
"Serius dong. Malah klo Andre telat memberikan apa yang dia mau dia akan menangis histeris dan cuma Mas Abi yang bisa berhentiin tangisnya dengan hanya menggunakan satu bujukan." Jelas Melan.
"Wow,,, kalian benar-benar mendapatkan anak perempuan Mel. Untungnya saat Keina hamil muda Daren yang lebih di repotkan." Tita.
"Ya. Walaupun kita semua pun cemas dengan tingkah ibu hamil yang satu ini. Apapun yang dia minta segera kita penuhi. Gw ga nyangka kalo dapetin ibu hamil muda lagi sebelum cucu pertama gw lahir." Melan.
"Lu tenang aja. Gw bisa heandle Kein. Tapi, Zizi ga mungkin juga lu kaish ke Kak Olla. Karena kalian sama-sama punya ibu hamil muda. Lebih kasian lagi Kak Olla punya Raya dan Sinta." Tita.
"Iya. Mana Raya serba ingin Bunda lagi ga mau sama Mama nya." Melan.
"Iya. Olla memang the best.' Puji Tita.
"Mungkin karena Mama Raya lebih panikan dari pada Olla. Kalo Olla kan lebih tenang dan santai menghadapi apapun." Melan.
Saat mereka berdua ngobrol tanpa terasa Keina pun tertidur di bahu Melan. Melan merasakan berat di bahunya karena beban Keina yang semakin bertumpu padanya.
"Astaga! Keina tidur?" Tanya Melan pada Tita.
__ADS_1
"Astaga! Iya. Sebentar Gw panggil Daren." Pamit Tita memanggil Daren yang berada di ruang kerja bersama Ken dan Daffin.
"Ren," Panggil Tita mengetuk pintu ruang kerja.
"Iya Mom. Ada apa?" Tanya Daren setelah membukakan pintu untuk Tita dan mendapatkan Tita tengah berdiri di depannya.
"Tolong pindahkan Keina." Pinta Tita.
"Kakak kenapa Mom?" Tanya Ken cemas.
"Kakak tertidur nemplok sama Melan. Lihatlah. Kasian Mami kamu." Tita.
Ken dan Daffin pun mengikuti Daren dan Tita. Saat mereka sampai di ruang utama betapa terkejutnya Ken, Daffin dan Daren melihat Melan yang di kerubuti ibu hamil. Mana Keina hamilnya udah besar.
"Astaga! Maaf Mi. Keina merepotkan Mami." Ucap Daren segera mengambil Keina dengan perlahan.
"Tidak apa-apa sayang." Melan.
"Perlu Daff pindahkan Zizi juga Tan?" Tanya Daffin.
"Tidak perlu Daff. Zizi akan terbangun jika lepas dari Mami." Melan.
"Tapi kaki lu akan sakit Mel." Tita.
"Ngga. Ini masih bisa gw gerakin." Melan.
"Iya Mel. Belum lagi nanti Lu nyetir." Ken.
"Santai Bang. Zizi belum seberat Keina." Melan.
"Terserah Lu deh Mel. Gw kasian liat Lu. Zizi juga seperti kurang nyaman." Tita.
"Begini dia kalo tidur Andre belum datang. Gw atau Mas Abi yang bergantian. Tapi, kalo Mas Abi katanya ga enak jadi Gw yang bakal jadi sasaran." Melan.
"Sabar ya Mel. Keina juga sepertinya mulai cemburu sama Zizi." Tita.
"Iya Ta. Tenang aja. Makanya gw sering datang ke sini Ta. Biar Keina tidak merasa tersisihkan. Begitu juga dengan Zizi. Mungkin manja sama Olla udah canggung karena ada Sinta." Melan.
"Iya. Apalagi sekarang Sinta lebih manja pada Kak Olla." Tita.
Ken dan Daffin sudah kembali ke ruang kerja sementara Daren di dalam kamar menemani Keina tidur sambil membuka email pada tab nya. Karena Keina akan menangis jika terbangun tanpa ada siapapun di dekatnya.
Kurang lebih satu jam Zizi terbangun dari tidurnya. Kemudian merengek minta di jemput Andre. Melan pun dengan cepat menghubungi putra bungsunya untuk segera menyusul mereka ke mansion karena rengekan Zizi.
🌻🌻🌻
__ADS_1