
Beberapa jam sebelum acara mereka semua sudah bersiap di hotel tempat acara di laksanakan. Dengan terpaksa Tita harus duduk di kursi roda karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Ken pun dengan setia dan sabar mendorong kursi roda Tita. Dna entah mengapa Keina semakin lengket dengan Ibu Laras. Bahkan Keina tak mau di ajak oleh Olla yang notabene Onty nya. Olla sempat kesal karena Keina tak mau di gendongnya.
"Baby, are you okay?" Mikha.
"Ya I'm Okay Brother." Tita.
"Don't push yourself if you can't." Mikha.
"Hm.." Tita.
Mikha begitu khawatir melihat keadaan Tita. Namun, Tita tetaplah Tita dirinya selalu bisa menyembunyikan segalanya.
"Dek, yang sama Keina siapa?" Tanio.
"Ibunya Laras." Tita.
Keluarga Bagas baru saja datang karena mereka baru kembali dari luar kota. Hena dan Bagas segera menghampiri Tita setelah mendengar kabar jika Tita harus menggunakan kursi roda mereka pun segera menghampiri Tita.
"Sayang, kamu kenapa bisa begini?" Tanya Bagas yang baru saja datang.
"Om. Tita ga apa-apa. Hanya muntah-muntah sejak semalam jadi kurang bertenaga. Mas Ken minta Tita untuk tetap di kursi roda." Tita.
"Kamu yakin Nak?" Hena.
"Yakin Tante." Tita.
"Dimana Keina?" Hena.
"Bersama Ibu Laras Tan disana." Tunjuk Tita pada Ibu Laras yang berada di atas pelaminan.
"Marni!" Ucap Hena.
"Tante mengenalnya?" Tita.
Namun bukan menjawab Hena langsung berlari menuju atas pelaminan dan menghambur memeluk Ibu Laras. Tita yang merasa di acuhkan hanya bisa menatap penuh tanya.
"Ada apa?" Ken.
"Sepertinya Tante mengenal Ibu Laras." Tita.
"Hah!" Ken.
__ADS_1
Tita menunjuk ke arah pelaminan kemudian Ken pun mengikuti arah kemana Tita menunjuk. Hena menghambur memeluk Marni dan menangis Keina yang melihat kedua neneknya menangis pun ikut menangis. Hena dan Marbi pun panik kemudian Bagas membawa Keina menjauh dari dua Nenek nya.
"Ambil Kakak ke sini Mas. Biar Tita pangku saja." Pinta Tita.
Ken pun segera menghampiri Bagas dan mengambil alih Keina. Kemudian Keina duduk di pangkuan Tita dan memeluk Tita erat. Tita memeluk Keina dan mengusap lembut punggung Putri pertamanya hingga Keina tertidur.
"Sayang, Mas pindahkan Keina dulu ya." Ken.
"Biar saja Mas. Sebentar lagi juga acara selesai. Nanti sekalian aja. Ga apa-apa kan?" Tita.
"Tentu tidak sayang." Ucap Ken mendaratkan ciuman hangat di puncak kepala Tita.
Olla dan Tanio yang memperhatikan keduanya saling tatap bahagia. Olla menggenggam erat tangan Tanio.
"Yah, sepertinya Tante Hena mengenal Ibu Laras." Bisik Ayumi.
"Sepertinya begitu Yang." Rehan.
Tak hanya Rehan dan Ayumi, Gagah dan Laras pun saling berpandangan.
"Kak, bukankah itu Nenek Kakak?" Laras.
"Iya. Apa Ibu mengenal Nek.Hena?" Tanya Gagah.
"Biar saja nanti pasti ibu menjelaskan sama kita." Gagah.
Setelah acara usai Ken berpamitan lebih dulu pada yang lainnya karena Keina sudah tertidur sejak tadi dan Tita sudah mulai kelelahan. Mereka pun terpaksa menginap di hotel karena tidak memungkinkan lagi bagi Ken membawa istri dan putrinya pulang ke rumah.
Sementara itu di Ballroom hotel Ibu Laras terus bersama Hena. Dan semua pun berkumpul di meja bundar. Hanya ada keluarga inti setelah semua undangan dan para kerabat dekat pulang.
"Kau mengenal ibu Laras Hena?" Tuan Ito.
"Iya Kak." Hena.
"Marni sahabat dekat Hena Kak." Bagas.
"Benarkah?" Ayumi.
"Iya. Aku kehilangan jejaknya setelah Almarhum suaminya meninggal. Sebelumnya kita masih berkomunikasi. Dan terakhir Marni mengirim pesan meminta tolong pada Hena dua tahun silam." Hena.
"Meminta tolong apa?" Nyonya Laura.
Hena terdiam sementara Marni sudah tak tahan mengeluarkan air matanya. Laras pun mendekati Marni dan memeluknya dari samping. Gagah mengapit Marni dan memberinya kekuatan.
__ADS_1
"Sayalah yang meminta Laras pergi dari rumah. Karena saya tak mau Laras menderita. Saya berharap Laras dapat melanjutkan sekolah dokternya seperti yang sudah di cita-citakan Ayahnya. Namun, entah apa yang di lakukan oleh ayah sambung Laras sehingga Laras di berhentikan oleh pihak kampus secara sepihak." Jelas Marni di tengah isakannya.
"Saya di kurung di dalam rumah setelah kepergian Laras bahkan ponsel saya selalu di cek oleh suami saya setiap harinya." Marni.
Tak ada yang berani memotong pembicaraan Marni. Semua hanya diam mendengarkan.
"Saya teringat Hena dan meminta bantuannya untuk menyelidiki kematian suami saya dan istri dari suami saya sekarang. Saya merasa ada yang janggal." Jelas Marni lagi kemudian menangis.
"Maksudmu?" Tuan Ito.
"Selama pernikahan saya dengan dia saya belum pernah di gauli bahkan saya hanya menerima ancaman demi ancaman darinya. Saya bertahan demi Laras dan semua yang menjadi hak dia. Tapi, sepertinya semua semakin memburuk." Marni.
"Maaf memotong. Atas dasar apa kalian menikah?" Tuan Ito.
"Lili anak dari beliau dan istrinya begitu dekat dengan kami. Karena memang rumah kami berdekatan. Dan mendiang istri beliau pun sangat dekat dengan saya. Saya sudah menganggap mereka semua seperti saudara karena saya terlahir sebagai anak tunggal." Marni.
"Setelah kepergian suami saya. Lili dan Ibunya lebih sering datang ke rumah kami dengan alasan menemaniku agar tidak kesepian. Namun, entah apa yang terjadi Istri beliau meninggal saat berada di rumah kami. Saya panik dan meminta bibik menelfon ambulance."
"Setelah dinyatakan meninggal beliau dan beberapa orangnya datang ke rumah dan membawa bukti bahwa saya telah membunuh istrinya dengan tuduhan pembunuhan berencana. Dia akan mencabut tuntutannya asalkan saya mau menikah dengannya."
"Saya melakukannya demi Laras yang saat itu baru saja duduk di bangku kuliah. Sejak itu siksaan demi siksaan dan ancaman demi ancaman saya terima." Jelas Marni panjang lebar.
Laras terus menangis mendengar cerita Ibunya. Laras tak kuasa membendung kesedihannya. Ibunya begitu kuat menahannya selama ini.
"Dan kamu tidak bisa meninggalkan dia karena ancaman penjara?" Tuan Ito.
"Ya. Saya begitu bodoh. Andai saja dulu saya berpasrah menerima hukuman itu dan menitipkan Laras pada Hena mungkin ini tak akan terjadi pada kami." Marni.
"Semua sudah menjadi takdirnya Nak. Sekarang apa yang ingin kamu ketahui tentang masa lalumu?" Tuan Ito.
"Saya tidak menginginkan apapun. Saya hanya ingin berkumpul bersama anak saya dengan tenang." Marni.
"Apa pernikahan kalian sah dimata hukum?" Tuan Ito.
"Tidak Yah. Kami hanya menikah secara agama. Karena beliau pun tak menginginkannya." Marni.
"Kau yakin? Tidak ingin mengetahui masa lalumu?" Tuan Ito.
"Entahlah Tuan." Marni.
"Bagaimana jika Ayah Laras ternyata masih hidup?" Tuan Ito.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏