
Setelah selesai dengan urusan gaun pengantinnya Raya dan Zio memutuskan untuk makan di salah satu resto yang masih berada di gedung mall tersebut. Raya dan Zio memilih stan makanan jepang yang berada di sana.
"Maaf Raya ya?" Tanya seorang lelaki yang asing bagi Raya.
Raya dan Zio pun menoleh. Kemudian Raya dan Zio saling pandang. Raya mengangkat bahunya tanda tak tau siapa.
"Saya Ryan. Kamu temannya Keina kan?" Tanya orang yang bernama Ryan.
"Iya. Ada apa?" Raya.
"Boleh minta nomer Keina ngga?" Ryan.
"Hm... Ada urusan apa? Biar nanti saya sampaikan." Tanya Raya sopan.
"Tidak ada. Hanya ingin bersilaturahmi saja." Ryan.
"Owh! Maaf saya harus tanyakan dulu pada Keina. Takut ada salah faham sama suaminya." Raya.
"Suami?!" Ryan.
"Iya." Jawab Raya singkat.
Zio hanya diam memperhatikan pria tersebut dan Zio dapat menangkap kekecewaan dari Ryan ketika Raya mengatakan kata suami. Zio pun berkesimpulan jika Ryan menyukai adik sepupuny Keina.
"Hm... Baiklah. Lain kali saja. Terima kasih. Permisi." Pamit Ryan dengan penuh penyesalan.
"Sepertinya dia menyukai Keina." Zio.
"Hm.. Sepertinya begitu." Raya.
"Kenapa ga di kasihin aja nomernya?" Zio.
"Bahkan sebelum Kein menikah aku ga pernah kasih nomer Kein pada siapapun begitupun sebaliknya. Kita memang bersahabat tapi kita punya privasi sendiri." Raya.
"Wow! Abang salut sama kalian." Puji Zio.
"Ya itu mengapa kita bertahan hingga sekarang malah mau jadi sepupuan kita." Raya.
"Jadi kalian selalu sendiri-sendiri gitu?" Zio.
"Abang... Ya ngga lah. Jadi kita punya privasi gitu. Ga sembarang buka tas milik masing-masing. Aku ga sembarang buka tas Keina tanpa seijin pemiliknya begitupun Keina. Ga pernah tanya-tanya ada masalah apa kecuali orang tersebut yang bercerita." Raya.
"Hebat. Biasanya kan kalo perempuan suka kepo Yang." Zio.
"Tidak berlaku pada kita. Karena banyak persahabatan bahkan persaudaraan pecah hanya karena kepo." Raya.
"Makin sayang deh.." Ucap Zio mengusap puncak kepala Raya.
Obrolan mereka pun terhenti kala makanan yang mereka pesan datang. Raya dan Zio pun menikmati makanan yang tersaji dengan lahap. Saat keduanya tengah asik terlihat dua perempuan mendekati mereka.
"Asik bener makan berduaan." Zizi.
__ADS_1
"Dek, sama siapa?" Zio.
"Ini sama Sinta adiknya Kak Damar." Zizi.
"Hai,, Sinta." Sapa Sinta.
"Halo. Saya Raya calon kakak iparnya Zizi dan ini Zio kakaknya Zizi." Ucap Raya memperkenalkan diri.
Karena Zio akan mode super duper dingin jika berhadapan dengan perempuan manapun kecuali adik, bunda dan saudaranya. Sinta pun begitu hormat pada Raya dan Zio.
"Kalian mau kemana?" Raya.
"Sinta mau cari kado buat pacarnya minta Zi temenin." Zizi.
"Owh! Ga makan dulu?" Raya.
"Udah baru aja. Makanya tadi Zi liat ada kalian jadi Zi ke sini dulu." Zizi.
"Owh! Gitu. Ya udah kalo gitu." Raya.
"Kita jalan dulu ya Kak." Pamit Zizi dan Sinta hanya menganggukkan kepalanya.
Raya pun hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum dengan manis. Jangan di tanyakan bagaimana ekspresi Zio yang hanya diam tak banyak berkata-kata.
"Abang kenapa sih?" Raya.
"Ga kenapa-kenapa." Zio.
"Sesekali bersikap ramah tidak apa kali Bang." Ledek Raya.
"Aaa.... Tambah sayang deh.." Raya.
Mereka berdua pun pergi setelah menyelesaikan makannya. Zio mengantarkan Raya kembali ke kantor tempat Raya bekerja. Kemudian Zio kembali ke kantor.
"Nanti sore Abang jemput lagi ya." Zio.
"Iya. Hati-hati ya Abang sayang. Bye..." Raya.
Zio pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor. Sampai di kantor Zio langsung masuk kedalam ruangannya. Namun, belum sempat membuka heandel pintu Agung sekretarisnya menghentikannya.
"Bos." Panggil Agung.
"Kenapa Gung?" Zio.
"Di tunggu Tuan Abi dan Tuan Zayn di ruangan Tuan Abi." Agung.
"Owh! Baiklah." Zio.
Zio pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Abi. Sampai di depan ruangan Abi Zio tak langsung membuka pintu Zio mengetuknya terlebih dulu. Setelah di persilahkan masuk oleh Abi Zio pun masuk.
"Masuk Bang." Abi.
__ADS_1
"Ada apa?" Zio.
"Duduklah dulu." Abi.
Mereka bertiga pun membahas proyek yang sedang di tangani oleh Zayn. Ketiganya memasang mode serius. Cukup lama mereka bertiga membahas proyek baru Zayn. Setelah mencapai kesepakatan mereka bertiga pun keluar dan memutuskan untuk pulang.
Abi, Zio dan Zayn berjalan menuju lift bersamaan. Para karyawan perempuan dibuat terpana melihat ketiganya berjalan bersama. Bukan karena mereka Ayah dan anak melainkan karena ketampanan dan kegagahan mereka bertiga membuat para kaum hawa mengagumi ketiganya.
"Ya Tuhan... Kasih satu pangeran kaya mereka untuk ku."
"Abang, adek rela jadi yang ke dua bang."
"Aduuh... Mau dong adek di peluk Bang."
Begitulah kira-kira ocehan para karyawan perempuan itu. Mereka selalu di buat berdebar jika berada di antara salah satu dari mereka. Bukan karena gombalan dari mereka melainkan ketegasan yang selalu mereka tunjukan kepada siapapun tanpa pandang bulu.
Abi, Zio dan Zayn memang terkenal sebagai pemimpin yang dingin dan tegas. Zio dan Zayn sangat menurun dari Abi cara bersikap. Melan terkadang di buat kewalan jika mereka bertiga sudah dalam mode diam. Apalagi terhadap lawan jenis.
"Abang, jemput Raya dulu Pi." Zio.
"Oke. Hati-hati." Abi.
"Hei, kamu ga jemput pacar?" Tanya Abi pada Zayn yang mengikutinya.
"Tidak." Jawab Zayn santai.
Zayn memang belum membuka hati untuk perempuan mana pun. Bahkan dulu saat Raya mengaguminya bukan Zayn tak tau hanya saja Zayn yang menutup diri. Zayn tak ingin terlalu terburu-buru dalam memilih pasangan.
Zayn pun masuk kedalam mobil Ayahnya lebih dulu. Duduk di samping kemudi menunggu Abi masuk kedalam.
"Hei, kau ingin Papi mu ini menjadi supir mu?" Tanya Abi.
"Ayolah Pi. Sesekali menyupiri anak sendiri." Zayn.
"Ceh, kau ini." Abi.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan kantor menuju rumah berbeda dengan Zio yang menjemput Raya terlebih dahulu. Sampai di rumah terdapat Damar dan Zizi tengah berbincang di ruang utama.
"Papi..." Panggil Zizi saat melihat Abi masuk.
Zizi bangkit dan menghambur kedalam pelukkan Abi seperti biasanya. Damar hanya tersenyum melihat kekasihnya bersikap manja pada Abi.
"Zi, kau tidak malu di liat Damar?" Zayn.
"Kenapa harus malu. Kan Papi ku sendiri." Jawab zizi melerai pelukkannya.
"Kau ini." Zayn.
"Abang..." Rengek Zizi.
Zayn menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Zizi. Direntangkannya kedua tangannya Zizi pun menghambur kedalam pelukkannya. Begitulah Zizi saat para Pria di rumah itu datang. Zizi selalu menghambur kedalam pelukan mereka dan bermanja. Tapi, iti tak membuatnya manja.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏