
Olla pun merasa senang luar biasa mendengar kehamilan Sinta. Disaat dirinya akan melaksanakan acara tujuh bulanan menantu pertamanya Olla di berikan kepercayaan lagi menantu keduanya pun berbadan dua.
"Selamat ya sayang." Ucap Olla memeluk Sinta dan memberikan kecupan bertubi-tubi wujud rasa syukurnya.
"Makasih Bunda. Sinta akan tambah merepotkan Bunda." Ucap Sinta sedih.
"Ngga sayang. Kamu ga pernah merepotkan Bunda. Jaga kesehatan selalu ya sayang. Ingat ada yang harus kamu jaga juga di sini." Ucap Olla mengelus perut Sinta.
Akhirnya Olla pun memutuskan jika Zayn dan Sinta tidak perlu mengikuti rangakaian acaranya. Karena takut jika Sinta kelelahan. Olla pun hanya pergi bersama dengan Nio. Zio dan Raya sudah berada di hotel bersama kedua orang tua Raya.
Begitu juga dengan Tita dan Ken yang sudah di hotel menemani Keina. Melan, Abi, Andre dan Zizi pun baru saja sampai setelah drama Zizi yang tiba-tiba menangis. Sampai tiba di hotel Zizi baik-baik saja.
Rangkaian demi rangkaian acara tujuh bulanan di tutup dengan acara pengajian dengan anak-anak dari yayasan panti asuhan. Karena Olla belum memastikan kehamilan Sinta Olla pun hanya menyelipkan do'a untuk Sinta di hatinya.
Semua pun bertanya kemana Zayn dan Sinta. Olla hanya menjawa jika Sinta sakit dan memohon maaf tidak bisa mengikuti acara. Zio dan Raya pun khawatir dengan keadaan Sinta. Namun, Olla bisa meyakinkan mereka berdua yang ingin cepat pulang untuk menjenguk Sinta.
Akhirnya semua acara telah usai. Seperti keinginannya Keina pun di bawa Keina menuju kamar khusus untuknya di lantai atas. Sementara Ken dan Tita akan kembali pulang bersama Daffin. Begitu juga dengan yang lainnya.
Olla sangat tergesa karena mengkhawatirkan Sinta. Nio berulangkali menenangkan Olla jika Sinta baik-baik saja. Namun, sampai di rumah Olla tak menemukan Sinta dan Zayn.
"Dimana Sinta dan Zayn Bi?" Tanya Olla.
"Maaf Nyonya. Tuan Zayn membawa Nyonya Sinta ke rumah sakit." Jawab Bibi.
"Apa? Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya. Sejak kapan?" Ucap Olla kesal.
"Sudah sejak siang tadi Nyonya karena Nyonya Sinta terus mengeluarkan apa yang masuk ke dalam mulutnya." Bibi.
"Ayah, bagaimana ini?" Tanya Olla pada Nio semakin panik.
"Tenang dulu Bun. Zayn sepertinya tidak membawa ponselnya karena sudah Ayah hubungi tidak menjawab." Nio.
"Aduuh... Terus kalo ada apa-apa gimana ini. Bunda bilang juga tadi kita cepet pulang begini kan." Olla.
"Sayang, duduklah. Kamu jangan lupa. Acara tadi juga kan acara anak kita. Menantu kita juga. Bagaimana jika Raya tau kamu begitu mengkhawatirkan Sinta. Apa Raya juga tidak merasa cemburu hm? Tenanglah sayang. Ayah tau Zayn pasti merawat istrinya dengan baik." Ucap Nio menenangkan Olla.
"Maafin Bunda Yah." Ucap Olla memeluk Nio.
Tangis Olla pun pecah dalam pelukkan Nio. Karena terlalu mengkhawatirkan Sinta Olla melupakan jika Raya adalah menantunya juga. Karena Sinta datang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja membuat dirinya ekstra menjaga Sinta.
Olla mengingat Tita dulu yang selalu berusaha tegar padahal hatinya hancur. Karena itu juga yang membuat Olla begitu mengkhawatirkan Sinta yang nasibnya sama seperti Tita tak memiliki orang tua. Beruntung Tita masih memiliki Nio.
__ADS_1
Tak berselang Zayn dan Sinta datang dengan wajah Sinta yang begitu pucat. Zayn menggendongnya ala bridal.
"Zayn, Sinta. Kalian dari mana? Ada apa ini?" Tanya Olla panik.
"Sebentar Bun. Zayn bawa Sinta ke kamar dulu." Zayn.
Olla dan Nio pun mengekori Zayn menuju kamarnya. Zayn membaringkan Sinta dengan perlahan di atas tempat tidur lalu menyelimutinya. Olla dan Abi sudah berdiri di dekat tempat tidur menunggu penjelasan Zayn.
"Sinta tidak apa-apa Bun, Yah. Tadi karena Zayn khawatir Sinta terus mengeluarkan isi perutnya Zayn berinisiatif membawanya ke dokter kandungan." Jelas Zayn.
"Terus? Bener kan cucu Bunda ada di sini?" Tanya Olla mendekati Sinta dan memegang perut Sinta yang tertutup selimut.
"Bunda,, dengarkan Zayn bicara dulu." Nio.
"Alhamdulillah sudah Bun Yah. Usianya sekarang lima minggu." Zayn.
"Alhamdulillah... Sekali lagi selamat ya sayang. Bunda akan masakin makanan sehat untuk kamu. Atau kamu ingin makan sesuatu biar Bunda buatkan." Olla.
"Terima kasih Bunda. Hmm.. Klo Bunda tidak capek Sinta mau sup iga." Ucap Sinta malu-malu.
"Boleh sayang. Bunda tidak capek. Bunda buatkan sebentar ya. Kamu istirahat dulu." Pamit Olla.
"Kamu jangan jauh-jauh Zayn. Bila perlu kamu kerja dari rumah saja. Jaga Sinta dengan baik. Jangan lupakan ponselmu juga." Nio.
"Istirahatlah nak. Nanti Bunda ke mari lagi membawakan sop nya." Nio.
"Terima kasih Yah." Sinta.
Tiba-tiba tanpa aba-aba bulir bening mengalir di pipi Sinta. Nio yang masih melihatnya mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Nio duduk di sofa tunggal dekat tempat tidur.
"Tidak ada Yah. Sinta sangat berterima kasih pada Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda begitu menyayangi Sinta." Ucap Sinta terisak.
"Sayang, kamu dan Raya adalah anak Ayah dan Bunda juga. Sudah seharusnya Ayah dan Bunda menyayangi kalian. Ayah dan Bunda tidak pernah membedakan kalian dengan Zizi yang sudah di ambil tetangga kita." Ucap Nio sedikit menghibur Sinta.
"Astaga! Ayah. Sempet-sempetnya lagi." Zayn.
"Hahaha... Sudah jangan sedih ya sayang. Kasian cucu Ayah ikut sedih juga." Ucap Nio bangkit dari duduknya mengusap puncak kepala Sinta kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zayn dan Sinta.
Sementara Andre di buat kelimpungan saat Zizi tiba-tiba menangis sepanjang pulang dari hotel. Andre tidak tau apa yang di inginkan Zizi. Karena Zizi yang terus menangis.
__ADS_1
"Huaa.... Huaa...."
Tangis Zizi saat dirinya keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju rumah.
"Sayang, ada apa? Kenapa menangis?" Sambut Abi melihat menantunya yang menangis histeris.
"Abang jahat Pi. Abang ga mau beliin Zizi gula kapas di jalan tadi huaaa...." Lapor Zizi pada Abi.
"Hah!" Andre.
"Sayang, kesayangan Papi mau gula kapas?" Tanya Abi.
Zizi menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Abi.
"Tapi, kamu ga ada bilang Abang sayang." Andre.
"Huaa.... Papi... Padahal Zizi udah liatin terus orang penjual gula kapasnya." Ucap Zizi di sela tangisnya.
"Baiklah sayang. Ayo kita cari penjual gula kapasnya ya." Ajak Abi.
"Mau sama Papi aja ga mau Abang huhuhuu.." Zizi.
"Iya sayang. Ayo sama Papi ya. Tapi, jangan menangis oke." Ucap Abi.
"Oke.." Zizi.
Abi pun membawa Zizi keluar mencari penjual gula kapas yang diinginkan Zizi. Andre duduk di sofa ruang utama.
"Kemana Papi Dre?" Melan.
"Zizi tiba-tiba menangis di mobil tadi dan ternyata Zizi ingin gula kapas." Andre.
"Kenapa kamu ga beliin sih." Kesal Melan.
"Zizi ga bilang Mi. Jadi Zizi cuma liatin penjualnya ya Andre mana tau." Andre.
"Kamu harus lebih peka lagi." Melan.
"Kenapa?" Andre.
"Begitu seharusnya." Melan.
__ADS_1
🌻🌻🌻