Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Kejadian Sebenarnya


__ADS_3

Pagi hari semua sudah bersiap. Ken akan pergi ke perusahaan begitu juga dengan Tita. Rehan dan Gagah ke rumah sakit karena Gagah sudah mulai berdinas. Angga dan Gladys akan pulang ke rumah orang tua Angga karena besok Angga sudah kembali berdinas.


Menyisakan Tuan dan Nyonya Ito, Laras dan Keina di rumah karena Ayumi harus pergi ke butik menemui kliennya. Selesai sarapan semua pun berpamitan. Angga dan Gladys pun berpamitan pada Rehan,Gagah, Ken dan Tita jika nanti tidak sempat bertemu.


"Sayang, Mommy ke kantor sebentar ya. Nanti jam makan siang Mommy pulang." Pesan Tita pada Keina.


"Ote My." Jawab Keina.


"Nanti ada Opa, Oma sama Kakak di rumah." Tita.


"Opa, tita di lumah aja kan tidak temana-mana?" Tanya Keina tiba-tiba.


"Memangnya kenapa? Keina mau kemana?" Tanya Tuan Ito.


"Kei au di lumah aja Opa." Jawab Keina polos.


"Iya kita akan di rumah saja. Kasian Kakak sedang kurang enak badan." Jawab Tuan Ito.


"Tata atit ya?" Tanya Keina pada Laras.


"Nggak. Cuma agak pusing aja sedikit." Jawab Laras.


"Ote. Tata tidul di cini aja Kei ain." Titah Keina.


Semua merasa gemas dengan tingkahnya. Tita pun berpamitan begitu juga dengan Ken. Ken dan Tita menggunakan kendaraannya masing-masing karena Tita harus kembali saat jam makan siang. Sementara Ken tidak bisa.


Sampai di perusahaan miliknya Tita memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah di sediakan. Satpam yang melihat kedatangan Tita seketika wajahnya menegang.


"Ada apa?" Tanya temannya.


"Setahun belakangan gw ga buat kesalahan kan ya." Tanyanya.


"Apa sih Lu aneh." Ucap temannya lagi.


"Itu." Tunjuk satpam pada Tita.


"Astagfirullah... Semoga bukan kita." Ucap salah satu satpam dan di amini oleh semua rekannya.


Tita masuk ke dalam lobi perusahaan. Terlihat keramahan dari pancaran wajahnya namun, tak ada yang mengetahui setega apa Tita saat bertindak. Resepsionis segera berdiri dan menundukkan kepalanya dan di balas oleh Tita. Kemudian Tita segera memasuki lift khusus petinggi.

__ADS_1


"Ya Tuhan semoga bukan aku." Do'a setiap karyawan yang melihat Tita.


Tita menuju ruangannya di depan ruangannya terdapat meja Tari dan sudah ada Tari di sana. Tari bangkit dari duduknya ketika mendengar bunyi lift terbuka dan benar saja Tita keluar dari sana.


"Selamat pagi Bu." Sapa Tari.


"Pagi. Minta Arif ke ruangan saya." Tita.


"Baik Bu." Tari.


Tita memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya. Tita paling tidak suka jika harus mendatangi perusahaan. Tak lama terdengar pintu di ketuk dari luar dan munculah Arif bersama Tari.


"Pagi Bu." Sapa Arif.


"Pagi. Bagaimana sudah kamu siapkan?" Tita.


"Sudah Bu. Semua berkasnya ada di sini. Ibu tinggal cek. Pukul sembilan kita langsung ke ruang meeting." Jelas Arif.


"Baiklah. Saya cek ulang nanti beritahu saya lagi jika sudah mendekati waktunya." Tita.


"Baik Bu. Kami permisi." Pamit Arif.


Setelah keduanya berbincang di telfon keduanya pun segera bersiap untuk pergi ke ruang meeting. Langkah Tita di ikuti oleh Arif di belakangnya. Tita dan Tanio berpapasan saat akan masuk ruang meeting.


Meeting di mulai dengan santai. Tak ada sedikitpun kecurigaan dari para kepala divisi di sana. Semua melaporkan pekerjaannya seperti biasa dan berusaha tampil sesempurna mungkin karena meeting kali ini di hadiri oleh Tita.


Tita masih belum menunjukkan gelagat apapun dirinya masih tenang. Semua laporan sudah selesai di bacakan dan suasana berubah menjadi tegang. Karena Tita mulai mengeluarkan suaranya.


Ketegangan juga terjadi di rumah utama dimana Jessie datang bersama duo A ke rumah utama. Keina berteriak dan tidak mau bertemu dengan Duo A. Keina pun akan histeris ketika duo A mendekati mainannya apalagi memegangnya.


"Sayang, kenapa begitu? Ayo main bersama." Bujuk Nyonya Laura.


"No... No.." Teriak Keina.


"Apa Keina masih mengingat kejadian kemarin?" Bisik Jessie pada Laras.


"Laras rasa tidak Kak." Laras.


"Tapi, kenapa Keina masih seperti itu?" Jessie.

__ADS_1


"Laras juga ga ngerti." Ucap Laras bingung.


"Ada apa?" Tuan Ito.


"Apa Keina masih mengingat kejadian kemarin Opa?" Tanya Jessie.


"Seharusnya tidak. Tapi, jika seperti itu berarti ada sesuatu yang menbuatnya trauma dan takut jika melihat duo A." Tuan Ito.


"Maksud Opa?" Jessie.


"Anak kecil akan melupakan perkelahiannya dengan siapapun bahkan saat kita memarahinya maka mereka akan melupakan kemarahan kita beberapa saat kemudian. Tapi, jika itu terus berlangsung berarti ada sesuatu yang membuatnya trauma. Seperti kekerasan misalnya." Tuan Ito.


"Apa maksud Opa Dua A telah memukul Keina begitu?" Laras.


"Bisa jadi. Atau apapun yang membuatnya begitu takut." Tuan Ito.


"Sepertinya Jess harus melihat rekaman cctv di rumah." Jessie.


"Jangan memarahi Duo A jika itu terjadi Jess. Karena ada alasan mengapa mereka melakukannya. Bicarakan baik-baik karena mereka juga masih terlalu kecil." Tuan Ito.


"Ya. Opa benar." Jessie.


Tak lama Jessie pun berpamitan pulang bersama duo A. Keina tampak diam dalam pangkuan Nyonya Laura dan tak ingin melihat ke arah Dua A. Tapi, tidak terhadap Jessie. Keina masih bisa menampilkan senyumnya walaupun sedikit.


Sampai di rumah Jessie segera membuka aplikasi cctv yang dipasangnya beberapa bulan lalu karena khawatir jika anak-anaknya bermain sendiri atau hanya di temani bibi. Dan betapa terkejutnya Tita kedua anak kembarnya memperoleh perlakuan yang tidak baik dari suster yang di sewanya.


Jessie juga melihat hal yang sama di lakukan duo A terhadap Keina. Mereka mencontoh perlakuan suster terhadap mereka pada Keina. Jessie hanya diam menutup mulutnya. Air matanya luruh begitu saja melihat apa yang terjadi pada kedua anaknya.


Jessie segera menghubungi Aldi dan menceritakan apa yang di lihatnya. Aldi pun berjanji akan pulang lebih cepat dan membahas masalah ini secepatnya. Karena saat ini Aldi tengah berada di perusahaan orang tuanya.


Aldi tidak bisa langsung pulang karena harus menghadiri rapat penting. Karena Aldi akan berpindah memegang perusahaan mertuanya yang terbengkalai sejak Mami mertuanya sakit. Aldi pun memaksa sang adik untuk cepat menggantikan posisinya walaupun dia belum menyelesaikan kuliahnya.


Jessie maish bersikap biasa saja di rumah. Jessie tak ingin orang rumah merasa curiga. Apalagi kedua orang tuanya. Jessie tak ingin menambah fikiran keduanya. Jessie mengajak kedua anaknya bermain bersamanya sambil memantau Aiko.


Jessie berkilah agar Aiko merasa terhibur dengan adanya Duo A di sisinya. Artur pun bisa bermain dengan cucu-cucunya.


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2