
Ayumi menatap Daffin yang tertidur di pangkuan Marni. Terselip rasa cemburu di hatinya karena sebelumnya hal itu selalu Daffin lakukan dengannya. Daffin akan pergi ke pangkuannya ketika merajuk terhadap Ken dan Tita. Tapi, kali ini kedekatan Daffin dan Marni membuatnya sedikit cemburu.
"Astaga! Cepat sekali anak ini besar." Ucap Ayumi mengusap kaki Daffin.
"Kau cemburu besan?" Tanya Marni yang menangkap kecemburuan di wajah Ayumi.
"Sedikit." Jawab Ayumi jujur.
"Tidak perlu khawatir. Yakinlah kita memiliki tempat tersendiri di hatinya." Marni.
"Ya kau benar." Ayumi.
"Aku tau perasaan mu Kak. Itulah yang aku rasakan saat kedua anakku bermanja dengan mu." Tita.
"Hahahaa... Kalian ini. Sudah ah... Sama saudara sendiri iri-irian." Mega.
"Bukan iri Tan. Hanya cemburu sedikit saja." Ayumi.
"Ceh, sudahlah. Kau punya Galuh,Galih, Gean dan Gea masih saja merebutkan Keina dan Daffin." Mega.
"Mereka cucu ku sedang Keina dan Daffin anak-anak ku Tan." Elak Ayumi.
"Ya terserah kau sajalah." Mega.
Suasana sore penuh kehangatan yang tercipta di mansion harus segera berakhir karena Marni, Ayumi dan Mega harus kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka harus pulang sebelum jam makan malam tiba.
Daffin pun bangun saat Marni harus pulang. Kemudian Daffin merengek meminta Marni untuk tetap di mansion bersamanya. Daffin merengek seperti anak kecil di rebut mainannya.
"Ayolah Nek. Di rumah sepi nih." Daffin.
"Iya Nanti Nenek aja Kakek dulu ya." Bujuk Marni.
"Bener ya Nek." Daffin.
"Iya." Marni.
"Maaf merepotkan Bu." Ucap Tita tak enak hati.
"Tidak Nak. Daffin pun sama cucu Ibu. Nanti Ibu kembali lagi ya." Marni.
"Iya Bu." Tita.
Setelah Marni, Ayumi dan Mega pulang Ken, Tita dan Daffin pun menikmati makan malam bersama. Hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di meja makan. Semua diam menikmati makan malam mereka.
Pagi hari seperti biasa Daffin akan pergi ke kampus baru setelah itu ke kantor. Daffin pamit pada Tita dengan lunglai karena merindukan Keina Kakaknya yang selalu ada setiap saat untuknya. Ini kali pertama Keina pergi jauh dan meninggalkannya.
Seperti biasa Daffin mengendarai motor besarnya. Daffin melajukan motornya sedikit melambat karena dirinya begitu tak bersemangat. Tiba-tiba...
Cekiiiiiittttt....
Brakkk....
"Aduuuh..."
"Astaga! Kamu ga apa-apa?" Tanya Daffin yang langsung turun dari motornya menghampiri orang tersebut yang menggunakan seragam sekolah.
"Ga apa-apa." Jawab orang itu mengangkat wajahnya.
Deg...
Deg...
"Ma.. Maaf saya melamun." Ucap Daffin.
"Hah! Eh, iya ga apa-apa Kak. Saya ga apa-apa kok. Terima kasih Kak." Jawab gadis berseragam SMA itu.
__ADS_1
Namun, saat Daffin membantunya bangun gadis yang tertabraknya tidak bisa berdiri di atas kakinya.
"Aww .." Ucap Gadis berseragam meringis.
"Ma mana yang sakit?" Tanya Daffin panik.
Kemudian Daffin dan gadis tersebut pun menoleh ke bawah. Gadis tersebut menyingkap sedikit rok panjangnya dan ternyata lututnya berdarah.
"Kita harus kerumah sakit." Daffin.
"Jangan." Ucap gadis berseragam itu.
"Tapi, kaki kamu harus di obati." Daffin.
"Jangan Kak. Biar saya obati sendiri saja. Saya tidak punya uang untuk berobat." Kilah Gadis tersebut.
"Saya yang akan bertanggung jawab." Jawab Daffin lagi.
"Jangan." Ucap gadis itu lagi.
"Astaga! Tapi nanti akan infeksi." Daffin.
Tiba-tiba Daffin melihat gadis tersebut berkeringat dingin wajahnya memucat. Daffin semakin panik di buatnya.
"Astaga! Kamu kenapa?" Tanya Daffin panik.
"Ti.. Tidak apa-apa." Jawab gadis itu.
Daffin membantunya duduk di tepi jalan kemudian Daffin menghubungi seseorang. Tak lama orang tersebut datang menggunakan mobilnya. Dan ternyata orang tersebut adalah supir pribadi keluarganya.
"Pak, tolong bawa motor saya ya." Pinta Daffin.
Supir Daffin hanya mengangguk patuh memberikan kunci mobilnya kemudian melirik ke arah gadis yang menggunakan seragam sekolah. Gadis itu pun hanya melihat interaksi keduanya. Tanpa basa-basi Daffin menggendong gadis tersebut dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Aaa..." Teriak gadis itu.
Kemudian Daffin mendudukkan gadis tersebut di kursi penumpang samping kemudi. Setelah dirasa nyaman Daffin pun segera memutari mobilnya dan masuk di pintu kemudi. Daffin menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mansion.
Gadis berseragam itu terkejut ketika melihat mansion keluarga Durant yang begitu megah. Bahkan besar rumahnya saja mungkin tak akan sama dengan besar kamar mandinya. Gadis itupun hanya bisa diam.
Daffin memarkirkan mobilnya kemudian keluar dan membawa gadis tersebut dalam gendongannya. Gadis tersebut pun hanya diam karena takut.
"Daff,," Panggil Tita.
"Mom, kebetulan sekali. Tolong Daff Mom." Pinta Daffin seraya mendudukkan gadis itu di sofa ruang utama.
Lagi-lagi hadis itu terpesona dengan kelembutan sofa yang di dudukinya.
"Siapa dia?" Tanya Tita.
"Nanti saja bertanyanya Mom. Sekarang tolonglah dulu dia." Pinta Daffin.
"Hm... Baiklah. Kau ambilkan kotak obat dan perlengkapan lainnya.
Tita mulai melihat luka di lutut gadis itu. Kemudian tatapannya beralih pada wajah gadis sekolah itu.
"Astaga! Apakah Mom itu berarti Mommy? Tapi kenapa dia cantik sekali. Apa benar dia ibunya." Batin gadis tersebut.
"Cantik. Wajahnya masih polos." Batin Tita.
"Siapa namamu?" Tanya Tita.
"Sa... saya Intan Tante." Jawab gadis yang bernama Intan tersebut.
"Sekolah dimana?" Tita.
__ADS_1
"Di SMA Bangsa Tante." Intan.
"Kelas?" Tita.
"Kelas dua belas Tan." Intan.
"Hmm..." Tita.
Tak lama Daffin datang membawa kotak obatnya.
"Ini Mom." Daffin.
Daffin melihat wajah Intan menegang.
"Tenanglah. Mommy seorang perawat. Dia akan bisa membantu kamu." Ucap Daffin berdiri di dekat Intan.
Tita memperhatikan cara Daffin memperlakukan Intan. Hal yang baru bagi Tita. Karena baru pertama kali juga Daffin membawa seorang perempuan pulang ke rumah.
Tita mulai membersihkan luka di lutut Intan yang cukup serius. Intan meringis menahan sakit. Spontan Daffin memegang tangan Intan seolah memberi kekuatan padanya. Kemudian Intan spontan juga memeluk pinggang Daffin.
"Kenapa lukanya bisa seperti ini. Kamu jatih dimana?" Tanya Tita sambil mengobati lukanya.
"Daffin ga sengaja nambrak dia Mom." Daffin.
"Apa??!!!??" Tita.
"Stop! Nanti aja marahnya Mom. Tolong obati dia dulu." Ucap Daffin sebelum Tita memarahinya.
Tita menatap tajam putra kesayangannya. Kemudian Tita melanjutkan mengobati luka Intan. Intan hanya diam memeluk pinggang Daffin. Daffin mengusap lembut bahu Intan.
"Sudah selesai. Kamu sudah sarapan?" Tanya Tita lembut.
Intan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bawa dia ke meja makan. Beri dia makanan kemudian berikan dia obat ini." Titah Tita memberikan obat pada Daffin.
"Thanks Mom." Daffin.
"Hubungi sekolahnya untuk meminta ijin dia tidak sekolah." Tita.
"Hah! Ya Mom." Jawab Daffin kemudian.
Daffin membawa Intan ke meja makan dan meminta bibi membawakan makan untuk Intan. Kemudian Daffin meminta Intan untuk makan terlebih dahulu. Intan merasa canggung sebenarnya hanya saja dirinya tak bisa menolak.
"Dimana sekolah mu?" Daffin.
"SMA Bangsa." Intan.
"Kelas?" Daffin.
"Dua belas A." Intan.
"Namamu?" Daffin.
"Intan Putri." Intan.
Kemudian Daffin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sekolah Intan. Intan tertegun melihat Daffin begitu santai meminta ijin dan sekolahnya mengijinkan begitu saja.
🌻🌻🌻
Alhamdulillah bisa up dengan kehebohan hari raya....
Mohon maaf lahir batin Riders semuanya 🙏🙏🙏🙏
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏🙏