Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Selamat


__ADS_3

Setelah berkeliling akhirnya Abi dan Zizi pulang dengan membawa beberapa plastik jajanan Zizi. Melan dan Andre diam terpaku dengan beberapa jajanan yang di bawa Zizi dan Abi. Zizi meminta Bibi untuk menyajikannya di piring.


Setelah jajanan tersaji Zizi pun melahap semuanya hingga tandas. Tak tersisa sedikit pun bahkan Zizi tak menawarkan jajanannya pada Melan dan Andre. Abi hanya tersenyum melihat Zizi memakan jajanannya.


"Ah,, kenyang Bang. Ke kamar yuk." Ajak Zizi pada Andre.


Andre hanya diam menatap Zizi.


"Abang... Iiih ... Denger ga sih." Protes Zizi.


"Eh, iya sayang. Ayo kita ke kamar." Andre.


Zizi pun bergelayut manja di lengan Andre berjalan beriringan menuju kamar. Melan masih menatap anak menantunya meninggalkan ruang utama. Setelah keduanya hilang dari pandangannya barulah Melan mendekati Abi.


"Papi yakin ga ada yang aneh sama Zizi?" Melan.


"Ngga ada Mam. Udah yuk ke kamar." Abi.


"Iiih... Bentar Mami mau siapin makan malam dulu." Melan.


"Udah biar Bibi aja sayang. Ayo.." Ajak Abi.


Abi dan Melan pun masuk kedalam kamar mereka namun Melan masih saja mendesak Abi tetang perubahan yang terjadi dengan menantu mereka.


"Sayang,,, Kenapa ga di jawab sih. Katanya mau di jelasin sepulang dari acara. Ayo sekarang." Rajuk Melan.


"Papi takut salah Mi. Tapi, gejalanya sih kayanya iya." Abi.


"Apa? Jangan bikin penasaran deh Pi." Melan.


"Mami ingat ngga pas hamil Andre mau apa?" Abi.


"Mami ngidam jajanan pasar Indonesia." Jawab Melan.


"Sebentar, jangan bilang kalo Zizi." Ucap Melan menggantung.


Abi pun hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Papi yakin?" Melan.


"Ya itu dia Mam. Kita harus memastikan dengan cek ke dokter Mi." Abi.


"Besok Mami minta Zizi antar ke poli kandungan. Terus Mami sekalian periksa Zizi." Ucap Melan antusias.


"Pinter." Abi.


Di dalam kamar Zizi melarang Andre mandi. Dirinya ingin terus memeluk Andre dan mencium aroma Andre. Andre berulang kali membujuknya tapi Zizi tak mau. Sampai Zizi tertidur dalam pelukkannya.


Ketika Andre bergerak maka pelukkan Zizi bertambah erat. Seolah tau jika Andre akan meninggalkannya. Hingga jam makan malam Andre masih memejamkan matanya bersama dengan Zizi.

__ADS_1


"Pi, gimana ini. Anak-anak masih belum turun juga." Melan.


"Biarkan saja. Nanti mereka turun sendiri. kita makan saja dulu." Abi.


"Beneran ga apa-apa? Nanti kita makan duluan salah lagi." Melan.


"Ngga. Ayo Papi sudah laper." Abi.


Akhirnya Melan dan Abi menyantap makan malamnya hanya berdua tanpa Andre dan Zizi. Saat mereka makan terdengar suara tangisan Zizi dari dalam kamar.


"Pi, kenapa lagi tuh?" Melan.


"Biarkan saja dulu. Ayo Mami lanjutkan makannya." Abi.


"Iih, tapi itu kasian Zizi Pi." Melan.


"Ga apa-apa sayang. Ada Andre di dalam." Abi.


"Papi yakin?" Melan.


"Yakin sayang. Nah, udah ga nangis lagi kan." Ucap Abi saat suara tangis Zizi berhenti.


Mereka pun kembali menyantap makan malamnya. Tak lama saat baru saja Melan dan Abi menyelesaikan makannya Andre keluar bersama Zizi dalam gendongannya.


"Malam Pi, Mi." Sapa Andre.


"Malam sayang. Ayo makan." Melan.


"Mau makan apa sayang?" Tanya Andre pada Zizi.


"Mau itu." Tunjuk Zizi pada udang goreng tepung.


"Oke." Andre.


Andre pun menyuapi Zizi udang goreng tepung dan nasi hanya itu yang di inginkan Zizi. Andre masih fokus pada Zizi sedang dirinya belum satu sendok pun makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Kok Abang ga makan?" Zizi.


"Biar kamu aja dulu nanti Abang belakangan." Andre.


"Tapi, Zi mau tambah lagi." Ucap Zizi menunduk.


"Boleh sayang." Andre.


Entah mengapa Zizi makan hingga menghabiskan tiga porsi nasi dan udang goreng tepung nya. Setelah selesai menyuapi Zizi Andre pun makan dan Zizi menunggu Andre duduk di samping Andre dengan menyandarkan kepalanya di bahu Andre.


Walaupun sedikit kesulitan Andre tetap membiarkan Zizi bergelayut di bahunya. Sedikit heran tapi tak ingin menanyakan lebih jauh karena tak ingin menyinggung perasaan Zizi. Andre senang jika Zizi senang.


Saat Andre menyuapkan suapan terakhirnya terdengar dengkuran halus dari Zizi yang menandakan jika Zizi telah tertidur. Dengan sigap Andre menggendong Zizi ala bridal menuju kamar mereka. Andre merebahkan Zizi dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Setelah di rasa nyaman Andre pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat keluar dari kamar mandi Andre melihat Zizi yang masih tertidur dengan pulas membuat hatinya semakin menghangat.


"Tidak terbangun lagi Nak?" Tanya Melan saat melihat Andre berjalan menuju dapur.


"Tidak Mi." Andre.


"Kamu mau apa ke dapur?" Melan.


"Mau ambil minum Mi. Botol Adek kosong." Andre.


"Jangan terlalu lama meninggalkan Zizi takut dia terbangun dan kamu tidak ada di dalam." Melan.


"Iya Mami ku sayang." Andre.


Andre pun segera masuk kembali kedalam kamar. Sebelum ikut bergabung bersama Zizi memejamkan matanya Andre menyempatkan diri membalas email-email yang masuk dari asistennya.


Cukup lama Andre menyelesaikan pekerjaannya. Setelah semua selesai Andre pun merebahkan dirinya di samping Keina tak lupa untuk memeluknya dan Zizi pun menyusupkan kepalanya ke dada Andre.


Pagi hari saat sarapan Melan mengutarakan rencananya pada Zizi dan Andre. Tanpa banyak bertanya Zizi pun bersedia mengantarkan Melan ke klinik. Mereka berdua pun pergi ke klinik sementara Andre dan Abi pergi ke kantor.


Sampai di klinik Dokter Rini, Melan mendaftarkan hanya nama Zizi. Mereka berdua duduk di bangku tunggu. Tak lama nama Zizi di panggil masuk.


"Loh, kok Zizi Mam?" Tanya Zizi heran.


"Nanti Mami jelasin. Kita masuk dulu aja ya." Ajak Melan.


Zizi pun hanya menuruti saja apa kata mertuanya. Mereka berdua di sapa hangat oleh Dokter Rini. Apalagi Dokter Rini tau siapa Melan dan Zizi.


"Kapan terakhir datang bulan Zi?" Tanya Dokter Rini.


"Hah! Datang bulan. Aduh... Kapan ya." Jawab Zizi bingung.


Pasalnya Zizi tak pernah mengingat kapan dirinya datang bulan.


"Iya sayang. Kamu lupa?" Tanya Melan.


"Iya Mam." Ucap Zizi berkaca-kaca.


"Ngga apa-apa sayang. Dokter Rini akan membantu. Ngga usah khawatir ya." Ucap Melan mengusap lembut rambut Zizi.


"Yuk berbaring di sana. Suster akan membantu." Dokter Rini.


Zizi menoleh pada Melan dan Melan pun menganggukkan kepalanya. Zizi pun akhirnya mengikuti perawat dan berbaring pada bed yang tersedia di sana. Melan mengikutinya dari belakang. Dokter Rini pun memulai pemeriksaannya.


Dokter Rini mengulas senyumnya setelah menyelesaikan pemeriksaannya. Kemudian mereka pun kembali duduk di tempat semula. Dokter Rini menuliskan resep untuk Zizi.


"Selamat ya Sayang...." Dokter Rini.


"Selamat untuk apa Dokter?" Zizi.

__ADS_1


"Selamat untuk kehamilannya sayang..."


🌻🌻🌻


__ADS_2