Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Mengenang Ayah


__ADS_3

Hampir larut malam Ken dan Tita tiba di mansion. Dan betapa terkejutnya Tuta dan Ken mendapati Keina dan Daren tertidur di sofa dengan saling berpelukan. Marni keluar dari kamar menyambut Ken dan Tita.


"Bu, kenapa mereka tertidur di sini?" Tita.


"Keina tak bisa tidur. Daren sudah membujuknya bahkan Ibu menawarkan Keina tidur bersama Ibu tapi menolak hingga Keina tertidur di sofa." Jelas Marni.


"Astaga! Bagaimana ini Mas? Bangunkan atau gimana?" Tita.


"Bangunkan saja Daren." Ken.


"Ren, Daren." Panggil Tita pelan menepuk lengan Daren.


Daren mengerjap dan gerakan Daren mengusik tidur Keina. Keina pun ikut membuka matanya.


"Mommy, Daddy. Kalian sudah datang?" Ucap Keina dengan suara khas bangun tidur.


"Baru saja. Kenapa Kakak tidur di sini?" Tita.


"Daffin belum pulang Mom." Keina.


"Apa!"


Ken dan Tita kaget bersamaan. Bahkan saat mereka pergi ke rumah Aiko Daffin sudah pergi lebih dulu. Tita mulai panik. Ken menghubungi ponsel Daffin namun hanya suara operator yang menjawabnya.


"Gimana Mas?" Tanya Tita panik.


"Ponselnya tidak bisa di hubungi." Ken.


"Sejak sore tadi Kakak sudah menghubunginya Mom tapi ponselnya mati." Ucap Keina dan di angguki Daren.


"Terus kalian diam aja." Ucap Tita sedikit meninggikan suaranya.


"Abang sudah minta orang cari Daff Mom sesuai petunjuk Nenek yang pernah menemui Daff di jalan A." Daren.


"Jalan A! Kenapa begitu jauh?" Ken.


"Ya. Ibu pun tak tau kenapa Daff ada di sana Ken. Tapi, Laras pun pernah melihatnya sekali di sana." Marni.


"Sedang apa dia disana?" Tita.


"Ibu tidak tau Nak. Saat itu Ibu hanya melihatnya sendiri. Tapi Laras melihat Daff menuntun seorang wanita yang mungkin usianya sama dengan kamu." Marni.


"Apa dia melakukan kesalahan dan dia tengah bertanggung jawab atas apa yang di perbuatnya?!" Ken.

__ADS_1


"Daren juga berfikir seperti itu Dad." Daren.


Tepat saat mulut Daren baru saja selesai bicara ponselnya berbunyi. Daren melihat pada layar benda pipihnya dan ternyata orang suruhannya yang menghubunginya.


Daren segera menjawabnya kemudian menganggukkan kepalanya dan mengakhiri panggilannya.


"Bagimana?" Tanya Ken.


"Daff sedang menolong ibu dari seorang gadis Dad. Beliau sakit keras. Sekarang beliau di rawat di rumah sakit A." Daren.


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit keluarga?" Keina.


"Jika seperti itu sudah di pastikan kita akan mengetahuinya sayang." Daren.


"Siapa gadis itu? Kenapa dia begitu istimewa sehingga Daffin mau menolong ibunya." Gumam Ken yang masih bisa di dengar semuanya.


"Sebaiknya kalian istirahat saja dulu. Besok kita tanyakan langsung pada Daff saat dirinya pulang." Marni.


"Ibu benar. Ayo sayang." Ajak Ken.


Tita pun dengan gontai mengikuti langkah suami tercintanya menuju kamar. Keina pun dengan saling bergandengan berjalan menuju kamar mereka dan Marni melenggang menuju dapur sebelum dirinya masuk ke dalam kamar.


"Ren, apa orang suruhan mu tetap memantau Daff?" Tanya Ken saat baru saja sampai depan pintu kamarnya.


"Iya Dad. Abang khawatir jika Daff membutuhkan sesuatu." Daren.


"Baiklah. Segera beritau Daddy jika ada kabar dari Daff." Ken.


"Baik Dad." Daren.


Mereka pun kembali melangkahkan kaki mereka menuju kamar mereka.


Pagi hari Daffin tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya karena ada kuliah pagi. Tita yang sedang berkutat di dapur bersama Marni melihat kedatangan Daffin. Dan Tita pun segera memanggil putra bungsungya.


"Daffin.." Teriak Tita.


"Nanti saja Mom. Daff ada kuliah pagi dan akan sangat terlambat." Teriak Daffin juga.


"Astaga! Tita rasa Tita tidak pernah melakukan hal itu sejak dulu." Gumam Tita.


Marni hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tita dan Daffin. Tita dan Marni pun kembali berkutat dengan masakan mereka. Tita membuatkan sandwich dan memasukkannya kedalam kotak bekal. Tak lupa juga Tita menbuatkan jus jambu kesukaan Daffin.


"Nek, Mom. Daff pergi dulu. Daff tau ada yang ingin Mommy tanyakan tapi nanti saja ya Mom. Daff terburu-buru." Ucap Daffin memotong saat Tita membuka mulutnya.

__ADS_1


"Anak nakal. Nih bawa untuk sarapan." Tita mengulurkan paper bag pada Daffin.


"Baiklah. Terima kasih Mom. You'R the best. Muah .. Love you." Ucap Daffin melesat meninggalkan Marni dan Tita setelah mengecup pipi Marni juga.


"Untung saja Mas Ken belum keluar dari kamar. Jika sudah habislah dia." Gumam Tita.


"Ken melakukannya demi kebaikan Daffin sayang." Ucap Marni lembut.


"Iya Bu." Tita.


Tak lama Ken keluar dari kamar dengan sudah berpakaian rapih bersamaan dengan Keina dan juga Daren yang sudah sama rapihnya dengan Ken. Karena pagi ini Daren dan Ken akan menghadiri rapat di kantor mereka.


Sebenarnya Ken ingin Daffin hadir tapi sepertinya putra bungsunya belum siap terjun ke perusahaan. Jadi Ken dan Daren masih harus bekerja sama mengelola perusahaan.


"Kalian sudah siap. Ayo sarapan." Marni.


"Daffin belum datang juga Bu?"Ken.


"Sudah. Dan sudah kembali pergi karena ada kuliah pagi. Sabar. Tenangkan hati kalian dulu baru bicara padanya. Dari ucapannya tadi Daffin mengerti jika dirinya salah." Marni.


"Iya Bu. Ken pun tak akan membicarakannya sekarang karena Ken dan Daren harus menghadiri rapat pagi ini." Ken.


Mereka pun menikmati sarapan bersama. Setelah menyelesaikan sarapannya Ken dan Daren berpamitan kepada istri masing-masing dan juga Marni. Keina nampak berat di tinggal Daren tapi Daren berjanji akan segera pulang.


"Nanti Mami dan Zizi akan ke sini. Abang akan cepat pulang. Jangan nangis ya." Ucap Daren mengusap lembut kepala Keina.


"Iya. Jangan lama-lama ya. Ponselnya harus tetep aktif." Pesan Keina.


"Iya sayang. Abang berangkat dulu ya." Pamit Daren dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Keina.


Daren dan Ken pergi dengan menggunakan mobil masing-masing karena Daren harus kembali ke rumah setelah menyelesaikan rapatnya.


Setelah kepergian Ken dan Daren Keina menyibukkan dirinya sendiri dengan memberi makan ikan di kolam yang berada di taman belakang. Kolam yang di buat Burhan karena Keina senang bermain ikan.


Keina duduk di tepi kolam ingatannya menerawang saat dulu Burhan membuatkan kolam itu untuknya. Walaupun bukan Burhan sendiri yang turun tangan. Keina berada dalam gendongan Burhan jika Burhan memantau jalannya pembuatan kolam.


Burhan akan bercerita tentang semua apa yang di tanyakan Keina. Tanpa di sadari bulir bening menetes dari mata indah Keina. Tangannya di masukkan kedalam kolam untuk meraih ikan-ikan yang mendekatinya.


"Apa kita harus menghubungi Daren sayang?" Tanya Marni pada Tita yang melihat Keina seperti bersedih dan benar saja air matanya sudah turun.


"Tidak perlu Bu. Keina hanya mengingat Ayah." Tita.


"Ayah."

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2