
Sudah satu bulan berlalu tak ada perubahan dengan keadaan Tita. Ken tak pernah menyerah dirinya dengan setia menemani sang istri. Dan Ken pun harus rela bekerja dari rumah sakit demi terus menunggu sang istri.
Jika keadaan mengharuskannya untuk pergi meeting Ken akan meminta Olla untuk menemani sang istri. Ken benar-benar menutup akses bagi keluarganya yang akan menjenguk Ken. Semua keluarga hanya di ijinkan Ken untuk melihat keadaan Tit dari balik jendela kaca.
Bahkan kedua orang tuanya pun demikian. Kecewa. Sudah sangat pasti kecewa pasalnya keluarga besarnya yang notabene telah di beritahu tentang keadaan Tita seakan tak mengindahkan perkataan Ken bahkan seolah tak mendukung Ken untuk memulihkan Tita.
Penyesalan dari Tuan dan Nyonya Ito tak membuat Ken luluh. Ayumi yang selalu menguatkan keduanya untuk tetap bersabar dan berdo'a untuk kesembuhan Tita. Karena Ayumi yakin Tita anak yang kuat dan akan mampu melewatinya.
Setiap hari Tuan dan Nyonya Ito selalu datang ke rumah sakit dan keduanya akan dengan setia duduk di depan jendela kaca untuk melihat keadaan menantunya. Maksud hati ingin membuat Tita terbiasa dan melawan rasa traumanya namun Tuhan bekehendak lain yang membuat Tita justru kehilangan kesadarannya.
Tuan Ito berfikir jika Tita mampu melewati semuanya karena Tita sangat bisa menutupi perasaannya. Namun ternyata semua meledak dan disinilah Tita di ranjang pesakitan dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.
Dokter datang untuk memeriksakan keadaan Tita. Ken menyambutnya dan mempersilahkan dokter dan suster mendekati istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
Dokter pun tersenyum setelah memeriksa keadaan Tita. Kemudian mencatat hasil pemeriksaannya dan memberikan laporannya pada suster. Suster keluar lebih dulu dan Dokter masih di ruangan tersebut untuk berbicara dengan Ken. Tuan dan Nyonya Ito hanya bisa melihat interaksi mereka dari luar kaca jendela.
"Selamat Tuan. Istri Anda menunjukkan beberapa kemajuannya. Mungkin dalam beberapa hari atau bahkan beberapa jam kesadarannya akan muncul. Dan saya harap setelah kesadarannya kembali Tuan bisa menjaga emosinya." Dokter.
"Baik Dokter. Terima kasih Anda sudah banyak membantu istri saya." Ucap Ken tulus.
"Sama-sama Tuan. Terima kasih juga anda sudah mempercayakan saya untuk menangani istri Anda." Dokter.
Setelah berbincang Dokter pun keluar dan Ken mendekati Tita. Ken menciumi seluruh wajah Tita.
"Terima kasih sayang. Cepatlah bangun Mas merindukan kamu." Bisik Ken.
Ken benar-benar tak menyangka jika wanita di hadapannya bisa membuatnya begitu bucin. Bahkan Abimana dan Tanio tak pernah menyangka jika Ken begitu mencintai adik dari Tanio. Ken tak pernah memperlakukan wanita seperti yang Ken lakukan pada Tita.
Bahkan Ken rela kehilangan tender milyaran demi Tita. Tanio begitu salut pada sahabatnya itu. Bukan karena Tita adiknya tapi karena sikap Ken yang membuatnya begitu kagum terhadapnya begitu juga dengan Abimana.
"Ayah, Ibu. Kenapa disini? Ayo masuk.." Ajak Tanio yang melihat Tuan dan Nyonya Ito berada di luar melihat keduanya.
__ADS_1
Tanio memang tak mengetahui jika keluarga Ito tak di ijinkan masuk menemui adiknya.
"Masuklah Nak. Ayah dan Ibu akan pulang terlebih dahulu." Tuan Ito.
"Ayah dan Ibu sudah lama?" Tanio.
"Sudah. Dan kami akan pulang terlebih dahulu." Tuan Ito.
"Terima kasih Yah, Bu. Kalian selalu mendo'akan adik Nio." Ucap Tanio tulus.
"Tidak perlu berterima kasih Nak. Kalian anak kami juga." Tuan Ito.
"Baiklah. Kami permisi Nak." Nyonya Laura.
"Sama-sama Bu. Kalian hati-hati." Tanio.
Tuan dan Nyonya Ito pun pergi meninggalkan ruangan Tita. Tuan dan nyonya Ito masuk kedalam ruangan dokter yang merawat Tita. Dan dokter pun menjelaskan keadaan Tita pada Tuan dan Nyonya Ito karena dokter tau Ken tidak akan menjelaskan apapun pada keluarganya termasuk Dokter Rehan.
"Dek, abang datang. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Keina begitu merindukan kamu Dek. Setiap hari dia selalu menanyakan kamu. Bangunlah sayang. Kasihan suamimu. Penampilannya sudah sangat kacau." Ucap Tanio dan itu semua masih bisa di dengar oleh Ken.
Ken yang semula menampakkan wajah sendu seketika wajahnya berubah kesal ketika sahabat sekaligus kakak iparnya mengolok penampilannya.
"Bagaimana hasil pemeriksaan dokter Ken?" Tanya Tanio yang kini duduk di sofa bersama Ken.
"Menurut dokter Tita sudah menunjukkan beberapa berubahan. Dan bisa saja dalam beberapa hari bahkan jam Tita akan sadar." Ken.
"Syukurlah." Tanio.
"Pulanglah Ken sebentar untuk mengistirahatakan kamu dan bertemu Keina." Titah Tanio.
"Tidak. Gw ga mau saat Tita membuka matanya tidak ada gw di sisinya." Ken.
__ADS_1
"Huh... Baiklah. Semua gw serahin sama Lu. Terima kasih Lu udah memeperlakukan adik gw seperti ratu Ken." Tanio.
"Tidak perlu Nio. Gw melakukan ini semua karena gw sayang Tita dan tidak ada yang lebih berharga darinya." Ken.
"Mungkin Abi telah berbicara tapi gw atas nama Abi meminta maaf. Jika saja saat kemarin Gw bisa membantu Abi untuk mengurus perusahaannya mungkin kejadian ini tidak akan terjadi." Tanio.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Ni. Semua sudah kehendak Tuhan. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdo'a untuk kesembuhan Tita." Ken.
"Lu bener Ken. Gw benar-benar merasa bersalah sebagai Kakak yang tidak bisa melindungi adik perempuannya. Apa lagi Lu sebagai suaminya." Tanio.
"Semua kejadian atas kehendak Tuhan." Ken.
Gw balik ke kantor lagi. Lu jangan lupa makan." Pamit Tanio.
"Baiah. Terima masih." Ken.
Setelah kepergian Tanio Ken memakan makanannya. Walaupun tak berselera tapi Ken harus memakannya demi Tita. Walaupun hanya beberapa suap saja makanan yang memasuki mulutnya.
Hari berganti malam. Tak ada sedikitpun pergerakan dari Tita. Ken tak putus asa dirinya tetap menanti apa yang telah dokter katakan padanya. Jika beberapa jam berlalu makan beberapa hari kedepan Tita akan kembali sadar.
Dalam sebulan ini Ken hanya melakukan panggilan video dengan Keina untuk mengobati rasa rindunya kepada Keina. Keina masih berada di rumah Tanio dalam pengawasan Olla dan Ibu Olla.
Ya, setelah Keina di titipkan pada Olla Ibu Olla tinggal bersama mereka juga untuk membantu Olla mengurus Zio, Zayn dan Keina. Walaupun ada beberapa Bibi di rumah tapi Olla selalu meminta bantuan sang Mama dalam mengasuh anak-anaknya. Dan dengan senang hati sang Mama selalu membantunya.
Hingga larut malam Ken belum bisa memejamkan matanya Ken duduk di samping tempat tidur Tita. Tangannya terus memegang tangan Tita dan sesekali mengusapnya.
"Sayang, Mas tidur ya." Ucap Ken mengusap pipi Tita yang semakin mengurus.
Ken menundukkan kepalanya dengan tumpuan tangannya yang tak lepas menggenggam tangan Tita. Ken memejamkan matanya dengan harapan saat dirinya bangun Tita pun bangun dari tidur panjangnya.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏