
Laras dan Marni menghambur kedalam pelukkan pria yang begitu mereka rindukan. Tangisan bahagia pun tak terbendung lagi. Bergantian Burhan melabuhkan ciuman hangatnya untuk putri dan istrinya.
Gagah mendekati ketiganya dan berdiri di belakang Laras. Burhan menyadari kehadirannya kemudian melerai pelukannya pada Laras dan Marni. Burhan menatap sendu Gagah.
"Perkenalkan Yah. Saya Gagah suami dari putri Ayah Laras. Maaf saat kami menikah tidak memberitahu Ayah." Gagah.
Tanpa menjawab Burhan menghambur ke dalam pelukan Gagah. Burhan tak kuasa menahan harunya. Gagah mengelus punggung Burhan lembut.
"Terima kasih Nak." Ucap Burhan lirih.
"Untuk apa Yah?" Tanya Gagah melerai pelukannya.
Laras dan Marni saling berpelukkan dengan air mata yang terus mengalir di pipi mereka berdua.
"Karena kamu mau menerima putri Ayah dengan baik." Burhan.
"Kami saling mencintai Ayah. Apapun akan Gagah lakukan untuk kebahagiaan Laras." Gagah.
"Hm..." Tuan Ito.
Semua menoleh padanya. Tuan Ito menampakkan wajah seriusnya.
"Apa kalian akan terus berdiri disana?" Tuan Ito.
"Ah, iya. Mari duduklah Yah." Gagah.
Semua pun duduk. Burhan duduk dengan di apit oleh Marni dan Laras di sofa panjang. Gagah di samping Laras. Jangan tanyakan Keina yang sudah pergi bermain di ajak bibik.
"Ayah, selama ini Ayah kemana?" Laras.
Burhan terdiam begitu juga dengan Tita. Tita tak ingin ikut campur dengan alasan Burhan meninggalkan anak dan istrinya. Burhan menatap Tita dan Ken. Tita dan Ken pun mengangukkan kepalanya.
"Maafkan Ayah Nak. Ayah memang sangat pengecut. Ayah tidak berani menemui kalian. Bukan tanpa sebab. Ayah pun harus berjuang hidup selama dua tahun pertama kepergian Ayah." Ucap Burhan terjeda.
Burhan menarik nafas dalam dan memejamkan matanya mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Setelah kejadian yang hampir menghilangkan nyawa Ayah. Ayah beruntung bertemu dengan Tita. Tanpa rasa takut sedikit pun Tita mendekati Ayah yang tergolek tak berdaya di tanah. Dengan sisa tenaga Ayah berteriak meminta tolong dan beruntung Tita melewati jalan dimana Ayah berada."
"Tita membawa Ayah ke rumah sakit. Jujur Ayah sedikit takut ketika Tita membawa Ayah ke rumah sakit. Ayah takut jika ada orang Hanan yang mengenali Ayah dan mengatakannya pada Hanan jika Ayah masih hidup." Burhan.
__ADS_1
Marni terus terisak mendengar penuturan suami tercintanya. Marni tak menyangka jika Hanan begitu tega melakukan itu demi kekuasaan yang dia inginkan.
"Entah siapa yang menghasut Hanan bisa menjadi seliar itu. Hanan yang Ayah kenal begitu baik dan tulus berubah menjadi Hanan seperti itu." Burhan.
"Setelah Ayah di tolong Tita dan Dokter Rehan Ayah meminta Tita dan Dokter Rehan merahasiakan keberadaanya. Ayah tidak ingin kalian terluka. Karena sepertinya Hanan tidak main-main dengan semua ucapannya."
"Ayah di rawat selama tiga tahun di rumah sakit karena Ayah tidak bisa melakukan apapun. Hanya berbaring di atas tempat tidur. Bersyukur Tita merawat Ayah dengan baik. Dan ada satu perawat lelaki yang selalu membantu Tita memandikan Ayah dan keperluan Ayah lainnya. Dia Bruder Joko." Burhan.
"Ayah di rawat di rumah sakit Keluarga?" Laras.
"Ya." Jawab Burhan singkat.
"Apa Ayah tau siapa Dokter Rehan?" Laras.
"Bukankah dia mertuamu?" Burhan.
"Ya. Itu beliau Yah. Dan itu Bunda Ayumi istrinya." Laras.
"Salam kenal Nyonya. Dokter, terima kasih." Burhan.
"Tidak perlu berterima kasih Pak. Kita semua keluarga sudah sepatutnya saling tolong menolong." Rehan.
"Ya. Saya adalah adik dari istri dokter Rehan Pak." Ken.
"Astaga!" Burhan.
"Dunia memang sesempit ini Pak. Bahkan Bapak yang berada dekat dengan kami pun kami tak pernah tau. Bahkan Laras pernah praktik di rumah sakit dimana Bapak di rawat." Rehan.
"Benarkah?" Burhan.
"Ya. Putri Bapak sangat pintar. Hanya saja karena suatu kesalahan membuatnya di keluarkan dari kampus seperti yang sudah saya jelaskan tempo hari. Dan naasnya anak nakal saya malah menikahinya dan belum mengijinkan Laras kembali menempuh sekolahnya." Rehan.
"Maafkan Gagah Yah. Gagah tidak melarang jika Laras ingin melanjutkan kembali kuliahnya yang tertunda. Semua Gagah serahkan pada Laras." Gagah.
Burhan menatap putri nya mencari jawaban dari putri semata wayangnya.
"Sekarang ini yang Laras inginkan Ibu dan Ayah bersama lagi. Dan Laras ingin berbakti pada suami Laras. Jika ada kesempatan untuk Laras kembali berkuliah maka Laras akan membicarakannya kembali pada suami Laras. Sementara Laras menikmati peran Laras sebagai Ibu dokter tanpa bergelar dokter." Jelas Laras panjang lebar.
Gagah mengusap lembut tangan Laras dan genggamannya.
__ADS_1
"Ayah serahkan semuanya padamu Nak. Karena sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Tapi, jangan pernah merasa Ayah membuang mu. Kamu tetap putri kecil Ayah." Burhan.
Laras memeluk Burhan dari samping.
"Untuk Ayah dan Ibumu sepertinya Opa harus turun tangan." Tuan Ito.
"Sayang, biarkan mereka menyelesaikan semuanya." Nyonya Laura.
"Sayang, karena Nak Burhan dan Nak Marni sudah lama berpisah dan Nak Marni juga telah melakukan pernikahan dengan Hanan walaupun secara agama. Maka, mereka harus melakukan pernikahan ulang." Tuan Ito.
"Wah, Ibu jadi pengantin baru lagi dong." Goda Gladys yang sejak tadi diam tak bersuara.
"Hus kamu ini." Ayumi.
"Owh! Iya Yah. Laras belum memperkenalkan keluarga Kakak semuanya." Ucap Laras.
"Itu Opa dan Oma Kakak. Orang tua dari Bunda. Dan yang ini adik dari Kakak Gladys namanya. Itu Oncle dan Onty Kakak yang sudah Ayah kenal sebelumnya. Dan ini Opa dan Oma Kakak juga adik dari Oma Laura." Jelas Laras.
"Ayah mengenal merek berdua Nak. Hena adalah sahabat baik Ibumu. Kami dulu berencana menjodohkan kamu dengan anak tunggal mereka tapi jodoh berkata lain. Kamu malah berjodoh dengan keponakan dari lelaki yang ingin kami jodohkan." Burhan.
"Hah! Apa Om Angga tau Opa?" Gagah.
"Tidak. Karena kami belum membicarakannya lagi." Bagas.
"Tenanglah Nak. Semua masih dalam batas candaan kami. Karena kebetulan Hena memiliki satu putra tunggal dan kami memiliki satu putri tunggal." Marni.
"Syukurlah." Gagah.
"Kau sangat cemburuan Kak." Gladys.
"Hei, bagaimana tidak memiliki istri seperti ini perlu penjagaan yang ketat." Gagah.
Laras mencubit pinggang Gagah malu. Rehan dan Ayumi begitu bahagia karena putra pertamanya begitu menyayangi istrinya. Rehan dan Ayumk sempat ragu Gagah akan menerima Laras dengan cepat karena pernikahan mereka yang begitu mendadak bahkan mungkin belum ada benih cinta diantara keduanya.
Tapi, Rehan dan Ayumi bangga pada keduanya yang mau mencoba saling terbuka dengan cepat menerima pernikahan mereka berdua. Begitu pun dengan Tuan dan Nyonya Ito yang merasa lega cucunya mampu menerima pernikahannya.
Walaupun Marni dan Burhan tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa Laras dan Gagah bisa menikah. Yang mereka tau bahwa Laras dan Gagah saling mencintai. Dan keduanya berharap Laras akan bahagia bersama Gagah.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏