
Malam ini Daren dan Zio di buat panik oleh istri mereka. Keina yang terbangun karena merasakan mulas yang luar biasa begitu juga dengan Raya yang tiba-tiba saja merasa basah bagian intinya dan rasa mulas yang datang tanpa henti.
Zio dan orang tua Raya segera membawa Raya ke rumah sakit keluarga. Begitu juga dengan Daren yang segera membawa Keina ke rumah sakit. Daren di temani Tita dan Ken. Kedua mobil melaju menuju tempat yang sama.
Dokter Rini yang mendapatkan kabar dari Zio dan Daren di buat kalang kabut. Empat orang perawat dan dua orang bidan segera bersiap menyambut kedatangan Raya dan Keina. Keduanya akan di tempatkan di tempat yang sama dengan penghalang sampiran tentu saja untuk menjaga privasi antara Raya dan Keina.
Mereka semua sampai bersamaan. Mobil Daren di belakang mobil Zio. Raya segera di bawa bersama Zio yang dengan setia menemani Raya begitu pun dengan Keina yang di temani oleh Daren.
Dokter Rini memeriksa Raya terlebih dahulu mengingat ketuban Raya telah pecah sejak di rumah. Sementara Keina menunggu dengan mulas yang luar biasa. Setelah selesai memeriksa Raya yang di pastikan masih memiliki waktu bersalin karena pembukaan masih tujuh.
Dokter Rini pun bersiap akan memeriksa Keina namun baru saja Dokter Rini akan memeriksanya Keina sudah ingin mengedan. Dokter Rini pun mengingatkan Keina untuk tidak mengedan terlebih dulu sebelum dirinya memeriksa pembukaan jalan lahirnya.
Dan ternyata pembukaan sudah lengkap untuk Keina Dokter Rini pun meminta dua perawat dan satu orang bidan untuk menyiapkan perlengkapannya. Kemudian Dokter Rini pun memberi aba-aba pada Keina dan mengajarkan cara mengedan yang benar.
Keina pun menurutinya dirinya mengambil nafas dalam mengontrol laju nafasnya agar bisa mengedan dengan baik sesuai petunjuk dokter Rini. Daren memberikannya minum terlebih dahulu untuk menbasahi tenggorokan Keina.
Oeeekk.... Ooooeeeekk...
Tangisan bayi pun terdengar nyaring dari bilik Daren dan Keina. Hanya tiga kali mengedan bayi perempuan Keina lahir kedunia dengan selamat. Daren mendaratkan ciuman ke seluruh wajah Keina tanpa peduli wajah Keina yang di penuhi keringat.
"Selamat Tuan Nyonya bayi kalian Perempuan sangat cantik." Ucap Dokter Rini.
"Terima kasih Dok." Ucap Daren dan Keina hanya tersenyum menjawab ucapan Dokter Rini.
Keina terlalu lelah setelah berjuang mengeluarkan putri pertamanya. Baru saja Dokter Rini melepaskan sarung tangannya teriakan Raya mengejutkannya. Dan Bidan yang menemaninya memberitahukan jika pembukaan lengkap.
Dokter Rini pun segera mengenakan sarung tanganya kembali dan menuju bilik Raya dan Ken. Raya sedikit kesulitan untuk mengeluarkan bayinya. Butuh berkali-kali mengedan hingga akhirnya bayi laki-laki keluar dengan tangisan yang tak kalah nyaring.
Ooeeekkk.... Oooeeeekkk ...
Tangisan bayi Raya dan Keina pun saling bersahutan. Berbeda dengan Keina yang tak memiliki luka jahitan. Raya sebaliknya perlu beberapa jahitan untuk menutup luka robekan akibat tangan putra pertamanya yang ingin keluar bersamaan dengan kepalanya.
Setelah semua beres Keina dan Raya pun d pindahkan keruangan khusus keluarga yang berada di lantai tiga. Kamar mereka berdampingan dengan ruang keluarga yang menyatu. Membuat semua keluarga bisa berkumpul di sana.
__ADS_1
"Selamat sayang. Sekarang kamu sudah menjadi Ibu." Ucap Tita mengecup kening Keina.
"Makasih Mom. Berkat Mommy Kein bisa melewatinya."Ucap Keina yang selalu mendapatkan arahan dari Tita agar proses persalinannya lancar dan Keina pun mengikutinya.
Satu persatu keluarga mengucapkan selamat padanya dan juga pada Raya. Raya tampak protes pada Daren saat Daren mengunjunginya. Karena Keina melahirkan lebih dulu bahkan tanpa robekan.
"Kalian curang. Bagaimana mungkin Keina bisa melahirkan lebih dulu padahal aku lebih dulu dinyatakan hamil dan aku juga Kakak." Ucap Raya yang walaupun itu hanya gurauan saja.
"Hahaha... Mana aku tau. Tanyakan saja pada putra kalian." Daren.
"Ceh, kau ini. Sudahlah sayang. Percuma juga kamu protes sama adik sepupu kita ini." Zio.
Karena tak ada masalah dengan ibu dan bayi mereka pun sudah di perbolehkan pulang setelah satu hari menginap. Zio memboyong Raya dan Putra mereka ke rumahnya beserta orang tua Raya dan juga orang tuannya.
Begitu juga dengan Daren yang membawa Keina dan putri pertamanya pulang ke mansion bersama Ken,Tita, Abi dan Melan. Tak lupa juga Oncle mereka Daffin. Daffin begitu mengagumi putri pertama sang Kakak yang begitu cantik dan menggemaskan.
Putri Keina dan Daren lahir dengan berat 3200 gram dan panjang 50 cm. Sedang Putra Zio dan Raya lahir dengan berat 3500 gram dan memiliki panjang 50 cm juga. Hanya berbeda 300 gram saja.
Di mansion Zizi dan Andre sudah menunggu kedatangan Keina dan putri kecilnya. Ayumi dan keluarganya pun ikut hadir menyambut kedatangan Keina dan putrinya. Hadir pula Intan bersama Ayumi.
Tita membiarkan Melan yang menggendong cucu pertama mereka karena tentu saja setiap harinya dirinyalah yang akan selalu ada buat cucu mereka sedang Melan tinggal berjauhan. Tita dan Ken akan selalu memberi ruang bagi Melan dan Abi.
"Aduuh... Cantiknya cucu ku." Puji Ayumi.
"Siapa dulu Mamanya Buna." Keina.
"Haish... Neneknya dong." Bela Ayumi.
"Tita dong Kak." Tita.
"Dih, gw kali Ta." Melan.
"Haish... Tentu Tantenya dong." Ucap Gladys menimpali.
__ADS_1
"Jangan lupakan nenek buyutnya ini." Ucap Marni tak mau kalah.
"Hahahaa...."
Semua pun tertawa dengan celotehan mereka sendiri. Karena semua berebut ingin dekat Putri Keina dan Daren. Ken pun menyiapkan boks bayi di tengah-tengah ruang utama agar semua bisa melihat cucu pertamanya.
"Begitulah perempuan Ren. Jika yang bagus ya mirip mereka jika kejelekan jangan kaget itu dari kita para lelaki." Ken.
"Hahaha... Iya Dad." Daren.
"Siapa namanya Ren?" Abi.
"Reina Putri."
"Tidak ada nama mu masuk?" Ken.
"Tidak ada Dad. Biar lebih adil. Tak ada nama keluarga Daren ataupun Keina." Daren.
"Daddy tak masalah sayang jika namamu yang kamu cantumkan. Daddy dan Mommy saja hanya mencantumkan nama Daddy di kedua anak kami." Ken.
"Iya Dad. Tapi itu sudah menjadi keputusan Daren dan Keina." Daren.
"Sudahlah tak jadi masalah. Reina tetap cucu kita Ken." Abi.
"Kau benar. Darah kita tetap mengalir di tubuhnya." Ken.
"Terima kasih Dad, Pi." Daren.
"Daddy, Papi. Kalian ingin di panggil apa?" Keina.
"Jangan membuat putri kalian bingung cukup panggil kami dengan panggilan Opa saja. Kau setuju kan Ken?" Abi.
"Ya setuju. Itu akan adil tentunya." Ken.
__ADS_1
🌻🌻🌻