
Setelah pergulatan panjang berakhir berujung terlewatinya makan siang. Setelah merasakan kenikmatan yang tak pernah di rasakannya Andre mengulang lagi dan lagi hingga petang membuat Zizi terkapar tak berdaya.
Jam sudah jam makan malam sedang makan siang saja masih teronggok di meja begitu saja. Zizi terbangun karena rasa lapar menderanya. Zizi melihat Andre yang masih setia memejamkan matanya.
"Bang,," Panggil Zizi membangunkan Andre.
"Hm.. Kenapa sayang?" Tanya Andre dengan suara khas bangun tidurnya.
"Lapar.." Rengek Zizi.
"Astaga! Maaf sayang. Kita belum sempat memakan makan siang tadi dan sekarang sudah.... Hah! Sudah jam makan malam." Ucap Andre yang panik hingga duduk di atas tempat tidur.
Melihat Andre yang tak menggunakan pakaian membuat Zizi teringat akan pergulatan mereka siang tadi. Wajah Zizi memerah hanya dengan mengingatnya saja.
"Sayang, kamu lapar banget ya? Sebentar ya Abang sudah memesannya." Ucap Andre melihat wajah Zizi yang memerah.
Zizi menganggukkan kepalanya kemudian menundukkan kepalanya malu. Kemudian Zizi pun berniat bangun untuk membersihka dirinya ke kamar mandi namun saat dirinya hendak mengangkat kakinya rasa nyeri dari pusat intinya terasa begitu menyayat.
"Au... ssshhh..." Rintih Zizi.
"Sayang... Masih sakit ya?" Tanya Andre mendekati Zizi yang mencoba berdiri.
Zizi hanya menganggukkan kepalanya dantanpa terasa bulir bening mengalir di pipinya. Andre merasa bersalah melihat Zizi menangis karena ulahnya.
"Sayang,, Maafkan Abang ya. Abang lupa diri setelah merasakan kenikmatan yang kamu berikan." Ucap Andre mengusap bulir bening yang membasahi pipi Zizi.
"Ngga apa-apa Bang. Sekarang atau nanti akan sama saja rasanya." Ucap Zizi menenangkan Andre.
"Terima kasih sayang. Terima kasih. Kamu telah menjaganya untuk Abang." Ucap Andre memeluk Zizi.
"Sudah kewajiban Zi Bang. Bang,,," Panggil Zizi...
"Ya sayang." Jawab Andre melepas pelukannya.
"Mau pipis..." Zizi.
"Abang gendong ya. Sekalian berendam sebentar sambil menunggu makanan datang." Andre.
Tanpa menunggu jawaban Zizi Andre pun mengangkat tubuh Zizi ala bridal ke dalam kamar mandi mendudukkan Zizi di toilet sementara Andre menyiapkan air hangat di dalam bathtub.
Setelah selesai membantu Zizi Andre pun keluar dari kamar mandi lalu membereskan tempat tidur berantakan karena ulah mereka tadi. Andre tersenyum melihat bercak merah sisa pergulatannya tadi.
__ADS_1
Baru saja Andre selesai mengganti seprei terdengar ketukan dari luar dan ternyata itu pengantar makanan. Andre memintanya untuk meletakkan makanannya di meja yang tersaji di sana.
"Sayang, ayo makan." Ajak Andre masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.
"Abang.." Rengek Zizi.
"Kenapa sayang? Masih sakit banget ya?" Tanya Andre.
"Ngga tapi ini." Tunjuk Zizi pada beberapa bagian tubuhnya yang penuh dengan tanda cinta yang di buat Andre.
"Maaf sayang. Abis Abang ga tahan. Kamu mengalihkan dunia Abang." Ucap Andre melayangkan ciuman di kening Zizi.
"Kamu makan dulu ya. Abang mandi dulu." Titah Andre.
"Zi tunggu Abang aja." Ucap Zizi manja.
"Baiklah." Andre.
Andre pun segera membersihkan dirinya. Setelah lebih segar mereka berdua pun makan siang sekaligus makan malam. Beruntung asam lambung Zizi tidak kumat karena telah makan. Mungkin karena Zizi baru saja memakan sarapannya beberapa jam sebelum mereka sampai di pulau.
Zizi juga memakan camilan yang di bawakan oleh Melan di dalam paper bagnya. Dan malam ini mereka habiskan hanya di dalam kamar. Zizi tak mau keluar kamar karena meresa jalannya begitu aneh. Andre pun memahaminya dan menyetujui saja mereka hanya di dalam kamar.
Dan kegelisahannya semakin bertambah kala Ayah mertuanya telah sampai petang tadi. Bahkan ponsel Zayn tak dapat di hubungi. Fikiran Sinta sudah berkelana entah kemana membuatnya frustasi. Padahal di dalam ponsel Sinta terdapat nomer Ruli asisten Zayn hanya Sinta belum mengetahuinya.
"Maaf Nyonya. Nona Sinta masih di samping kolam dan menangis." Lapor salah satu Bibi.
"Astaga! Ayah. Tolong hubungi Zayn dan minta segera pulang. Tinggalkan saja pekerjaannya. Sinta sudah menanyakannya sejak sore tadi." Titah Olla pada Nio.
"Apa Zayn tidak memberi kabar Bun?" Tanya Nio.
"Zayn hanya mengatakan akan pulang terlambat. Tapi ini sudah malam. Bahkan Sinta tidak memakan makan malamnya." Jawab Olla panik.
"Astaga! Ponselnya tidak bisa di hubungi. Pantas saja Sinta sampai menangis. Kamu tenangkan dulu menantu kita sayang. Mas akan menghubungi Ruli." Nio.
Olla pun segera menghampiri Sinta yang berada di pinggir kolam.
"Sayang,," Panggil Olla mengusap bahu Sinta.
"Bunda huaaa.... Abang ninggalin Sinta.." Tangis Sinta pecah dan memilukan membaut siapa saja yang mendengarnya ikut menitikan air matanya.
Olla hanya bisa memeluknya dan mengusap punggungnya. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hatinya begitu sakit melihat menantunya menangisi putra keduanya.
__ADS_1
Setelah Nio berhasil menghubungi Ruli dan ternyata Zayn tengah dalam perjalanan pulang bersama dengan dirinya. Nio pun bernafas lega. Nio menunggu kedatangan putranya di depan teras.
Sesampainya Zayn di depan rumahnya Zayn segera turun dari mobil Ruli dan menghampiri Ayahnya.
"Ada apa Yah?" Tanya Zayn tak berdosa.
"Kemana ponselmu? Ayah menghubungi kami berkali-kali tapi tak bisa." Nio.
"Maaf Yah. Ponsel Zayn mati. Zayn tidak sempat menambahkan dayanya." Zayn.
"Istrimu menangisi mu sejak tadi." Nio.
"Astaga! Maafkan Zayn Yah." Ucap Zayn kemudian berlari masuk ke dalam.
"Dimana Sinta Bi?" Tanya Zayn pada Bibi.
"Di samping kolam Den bersama Nyonya." Bibi.
Zayn segera menuju kolam renang. Dilihatnya Sinta yang tengah menangis dalam pelukkan Olla.
"Sayang.." Panggil Zayn.
Olla dan Sinta menoleh pada sumber suara. Manik mata Sinta yang di penuhi air mata menatap kedatangan Zayn.
"Abang Huaaa...." Tangis Sinta semakin menjadi.
"Sssttt... Maafkan Abang. Ponsel Abang mati jadi Abang tidak bisa mengabari kamu sayang." Ucap Zayn memeluk Sinta dan mengusap rambutnya yang tergerai.
"Masuklah. Kamu mandi kemudian ajak istri kamu makan malam." Ucap Olla menepuk bahu Zayn.
"Kamu belum makan?" Tanya Zayn pada Sinta.
Sinta menggelengkan kepalanya.
"Astaga! Kenapa kamu ga makan sayang. Nanti kamu sakit sayang. Ayo Abang temani kamu makan." Ajak Zayn.
Dengan penuh kelembutan Zayn membantu Sinta bangkit dari duduknya. Zayn memapah Sinta dengan penuh kasih sayang. Olla meminta Bibi menyiapkan makan malam untuk Sinta walau sudah melewati jam makan malam.
Tapi, karena Sinta belum makan dan Olla takut Sinta sakit jadilah Olla meminta Bibi kembali menyiapkan makan malam untuk Sinta dan Zayn. Namun, Zayn sudah makan malam bersama Ruli. Jadilah hanya Sinta saja yang makan dengan di suapi oleh Zayn.
🌻🌻🌻
__ADS_1